Menumbuhkan Cinta Alam dan Budaya Lewat Outdoor Class

Jurnalis : Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Robby Mulia Halim, Synhanny, Julin (Tzu Chi Medan)

Mengenal tanaman padi secara langsung. Murid Kelas Kata Perenungan berkesempatan melihat dan memegang tanaman padi dengan didampingi relawan saat mengikuti outdoor class di Sawah Lukis, Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai, Minggu, 13 September 2026.

“Pelestarian lingkungan yang sesungguhnya adalah mencintai gunung, laut, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini.” Kata perenungan Master Cheng Yen ini mengajarkan bahwa menjaga alam bukan sekadar mendaur ulang sampah, melainkan lahir dari rasa hormat dan kasih sayang kepada alam semesta serta seluruh makhluk hidup.

Semangat tersebut diwujudkan oleh Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen (Jing Si Ban) melalui outdoor class di Sawah Lukis, Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai, Minggu, 13 September 2026.

Kegiatan yang diikuti 19 relawan dan 21 murid ini mengajak peserta belajar mencintai alam sekaligus mengenal budaya Indonesia melalui pengalaman langsung. “Tujuannya mengajak anak-anak dan relawan kembali ke alam, belajar mencintai dan menghargai alam dengan menanam bibit sayuran dan edukasi tentang padi mulai dari penanaman hingga panen dan tersaji di atas meja makan. Hal ini mengajarkan mereka untuk tidak menyia-nyiakan bahan makanan yang disediakan oleh alam dan mengenalkan budaya Indonesia berupa tarian adat dan permainan tradisional,” jelas Tony Honkley, koordinator kegiatan.

Pukul 07.00, relawan dan murid telah berkumpul di titik yang disepakati. Cuaca cerah menambah semangat mereka. Setengah jam kemudian, rombongan berangkat menggunakan bus dan tiba di Sawah Lukis sekitar satu jam setelah perjalanan. Sesaat setelah tiba, peserta berfoto bersama sebelum memulai rangkaian kegiatan.

Belajar Merawat Alam
Berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Medan, Sawah Lukis merupakan area persawahan seluas dua hektare yang dikembangkan sebagai tempat ekowisata. Hamparan padi dengan warna hijau, kuning, dan cokelat menciptakan suasana pedesaan yang asri sekaligus menjadi ruang belajar bagi pencinta alam, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Menanam dan merawat kehidupan dengan penuh semangat, murid Kelas Kata Perenungan menanam bibit kangkung bersama relawan. Mereka menggali lubang, memasukkan tiga bibit ke setiap lubang, lalu menutupnya dengan tanah sebagai bagian dari pembelajaran mencintai dan merawat alam.

Di tempat ini, peserta tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga terlibat langsung dalam pelestarian lingkungan. Puluhan bibit kangkung yang disiapkan pengelola Sawah Lukis ditanam bersama. Sebelum praktik, Sigit, petani Sawah Lukis, memberikan pengarahan mengenai cara menanam.

Murid dibagi menjadi lima kelompok dan didampingi relawan sebagai mentor. Dengan penuh semangat, mereka menggali lubang, memasukkan tiga bibit kangkung ke setiap lubang, kemudian menutupnya dengan tanah. Doa pun dipanjatkan agar tanaman tumbuh subur dan dapat dipanen sekitar 30 hari kemudian.

Bagi sebagian anak, pengalaman sederhana ini menjadi sesuatu yang istimewa. Mereka dapat merasakan secara langsung bagaimana proses menanam bahan pangan yang selama ini hanya mereka jumpai di meja makan.

Peserta juga mendapat edukasi mengenai perjalanan padi, mulai dari penanaman hingga menjadi beras. Anak-anak diberi kesempatan melihat dan memegang tanaman padi dengan didampingi relawan. Dari kegiatan tersebut, mereka belajar bahwa nasi dan sayuran yang dikonsumsi setiap hari membutuhkan tenaga, waktu, dan ketekunan para petani.

Mengenal Budaya dan Belajar Bekerja Sama
Pembelajaran berlanjut dengan pengenalan budaya Indonesia. Sanggar Wahyu Satrio Putro menampilkan tarian adat Jawa, yakni Nyi Roro Kidul dan Barongan, serta tarian adat Batak, Gale-gale. Anak-anak tampak menikmati pertunjukan dan beberapa di antaranya ikut menari mengikuti irama musik yang ceria.

Mengenal kekayaan budaya Indonesia. Murid Kelas Kata Perenungan menyaksikan pertunjukan tarian adat yang dibawakan Sanggar Wahyu Satrio Putro di Sawah Lukis. Selain belajar tentang alam, mereka diajak mengenal dan menghargai keberagaman budaya Indonesia melalui seni tari.

Mereka kemudian diperkenalkan dengan permainan tradisional seperti engklek, egrang batok kelapa, dan congklak. Di tengah keseharian generasi muda yang akrab dengan gawai, permainan tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus pengingat akan kekayaan budaya lokal.

Setelah mendapat penjelasan dari relawan, anak-anak bermain dengan antusias. Selain mengenalkan budaya, permainan tradisional melatih kebersamaan, kekompakan, dan sportivitas.

Kegiatan dilanjutkan dengan Game Lilitan Tangan yang dipandu relawan Sherly. Para peserta harus saling bergandengan tangan dan melewati jalur sesuai urutan nomor tanpa melepaskan tangan hingga seluruh jalur selesai. Mereka pun belajar bekerja sama dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi rintangan.

Mengenal permainan tradisional. Murid Kelas Kata Perenungan mencoba permainan tradisional engklek dalam kegiatan outdoor class di Sawah Lukis. Permainan yang mulai jarang dimainkan anak-anak di tengah perkembangan teknologi ini berlangsung meriah dan melatih kekompakan serta sportivitas.

Rangkaian outdoor class berlangsung meriah berkat kesungguhan relawan pendidikan, murid-murid Kelas Kata Perenungan, dan dukungan pengelola Sawah Lukis. Sebelum kembali ke Medan setelah makan siang bersama, setiap peserta menerima suvenir berupa bibit cabai untuk ditanam di rumah.

Dari Pengalaman Menjadi Kesadaran
Bagi Shelvania (10), murid Kids Class, pengalaman menanam bibit dan belajar tentang padi memberikan pemahaman baru tentang makanan yang setiap hari dikonsumsi.

“Saya menanam cukup banyak bibit kangkung dengan petunjuk dari petani dan Shigu, juga mendapat penjelasan tentang padi mulai dari ditanam sampai menjadi beras. Ternyata nasi yang dimakan setiap hari adalah hasil jerih payah petani, mengajarkan kita untuk tidak menyisakan nasi dan makanan apa pun,” ungkapnya. “Semoga bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik sehingga alam terawat dan terjaga dengan baik pula,” harap Shelvania.

Belajar lebih dekat dengan alam. Levancio (Kanan), murid Teen Class, mengaku bersyukur dapat mengikuti outdoor class di Sawah Lukis. Selain memperoleh pengalaman baru, kegiatan ini membuatnya semakin dekat dengan alam dan mengenal pembelajaran yang tidak didapatkan di sekolah.

Pengalaman serupa dirasakan Levancio (14) dari Teen Class. Ia bersyukur dapat belajar di alam terbuka dan memperoleh pengetahuan yang tidak didapatkan di sekolah. “Saya sangat bersyukur karena belajar banyak hal baru sekaligus mendekatkan diri dengan alam. Menanam bibit sayuran dan penjelasan tentang padi merupakan pengetahuan baru yang tidak didapatkan di sekolah. Gan en kepada Shigu dan Shibo yang telah memberikan pelajaran berharga dari outdoor class ini,” tutur Levancio.

Lebih dari sekadar mengurangi kejenuhan, outdoor class menjadi ruang belajar nyata yang merangsang kreativitas dan rasa ingin tahu, sekaligus melatih kemampuan sosial. Anak-anak belajar berbagi tugas, berkomunikasi, bekerja sama, serta memahami hubungan antara manusia, alam, dan budaya.

Xiao pu sa sangat senang di outdoor class ini. Semoga mereka tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan penuh cinta kasih akan lingkungan, menghargai kehidupan dan segala sesuatu yang ada di alam semesta serta kebudayaan Indonesia. Jika setiap orang dapat menerapkan hal ini, tentu akan bertambah satu karma kebajikan dalam kehidupan,” tutup Tony Honkley.

Dari sebidang sawah, sebatang bibit kangkung, hingga permainan tradisional, anak-anak belajar bahwa mencintai Bumi bukan sekadar memahami teori. Cinta kepada alam dan budaya tumbuh ketika mereka menyentuh, merawat, mengalami, dan menghargai langsung apa yang ada di sekeliling mereka.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Melatih Batin dan Pikiran Lewat Seni

Melatih Batin dan Pikiran Lewat Seni

03 September 2024

Kelas Kata Perenungan (Jing Si Ban) Mandala (Tzu Chi Medan) mengadakan outdoor class ke Yayasan Wisma Remaja Indonesia pada Minggu, 18 Agustus 2024. Kelas seni yang diikuti anak-anak Kelas Budi Pekerti Tzu Chi ini connect dengan prinsip budaya humanis Tzu Chi.  

Bakti Kecil untuk Orang Tua

Bakti Kecil untuk Orang Tua

07 Januari 2016

Pada tgl 20 Desember 2015, kelas kata perenungan Tzu Chi Medan mengadakan gathering bersama orang tua murid di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Mandala, Jalan Pukat VII Gang Indah, Medan. Acara ini merupakan momentum pertanggungjawaban relawan pendidik kepada orang tua.

Perubahan-Perubahan Positif Lewat Pembelajaran Kata Perenungan

Perubahan-Perubahan Positif Lewat Pembelajaran Kata Perenungan

13 Februari 2020

Penutupan Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen Tzu Chi Medan diadakan pada 24 November 2019.  Acara ini diikuti oleh 91 orang peserta, diantaranya 39 relawan, 30 murid dan 23 orang tua murid. Banyak perubahan-perubahan positif yang terjadi dalam diri anak-anak ini.

Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -