Qiona Odlyquinn Senjaya (15) memaparkan hasil peta metamorfosis karakter yang menggambarkan proses pengembangan diri serta tekadnya untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Pada Minggu, 11 Oktober 2026, sebanyak 15 murid Tzu Shao mengikuti kelas bimbingan budi pekerti bersama para relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat yang berlangsung di Fu Hui Ting, Aula Jing Si lantai dua, Tzu Chi Center, PIK. Melalui pembelajaran bertema Metamorfosis Karakter, para murid diajak memahami bahwa perubahan besar tidak terjadi dalam sekejap, melainkan tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan ketekunan.
Diibaratkan seperti kupu-kupu yang melalui tahapan kehidupan, mulai dari telur, ulat, kepompong, hingga akhirnya mengepakkan sayap, tiap proses selalu membawa perubahan dan membuka jalan menuju kehidupan yang baru. Begitu pula dalam pembentukan karakter tiap anak tentunya juga membutuhkan waktu. Setiap orang memiliki nilai-nilai kebaikan yang perlu terus dipupuk, kebiasaan kurang baik yang perlu diperbaiki, serta kesempatan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam pembelajaran tersebut, para murid juga diperkenalkan dengan kata perenungan Master Cheng Yen, “Sertakan saya dalam perbuatan baik, jangan libatkan saya dalam perbuatan jahat.” Pesan tersebut mengajak mereka untuk berani memilih tindakan yang benar, turut mengambil bagian dalam kebaikan, serta tidak terbawa arus perilaku negatif.
Melalui kegiatan peta metamorfosis, setiap murid yang hadir diminta membagi selembar kertas menjadi empat bagian yaitu bagian pertama ada telur mereka menuliskan nilai baik yang telah dimiliki, kemudian bagian kedua ulat yang berisi kebiasaan buruk yang ingin diubah, bagian kepompong berisi langkah nyata untuk memperbaiki diri, dan bagian keempat kupu-kupu menggambarkan pribadi yang ingin mereka wujudkan.
Dari kegiatan yang sudah mereka lakukan itu, para peserta saling memberikan apresiasi dan mempresentasikan hasil refleksi masing-masing. Kegiatan ini membantu para murid mengenali potensi diri sekaligus menyadari bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk memulai.
Menanam Kebaikan dari Hal Sederhana
Salah satu murid, Richie Siddhar Halim (12), menunjukkan bahwa kepedulian dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Ia mengumpulkan uang koin dari sisa uang belanjanya untuk dimasukkan ke dalam celengan cinta kasih yang dibagikan pada kelas budi pekerti bulan sebelumnya.
“Kadang kalau ingat, bisa setiap hari. Kalau lupa, paling dua atau tiga hari sekali,” tuturnya. Meski jumlahnya kecil dan tidak selalu terkumpul setiap hari, Richie merasa bahagia karena uang tersebut nantinya dapat membantu orang yang membutuhkan.
Ia juga akan berusaha mengingat untuk berdoa, dengan mengucapkan “Semoga semua makhluk berbahagia,” setiap kali memasukkan uang ke dalam celengan Bambu Tzu Chi. Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar menabung, melainkan kesempatan untuk mendoakan kebahagiaan semua makhluk sekaligus mempraktikkan perbuatan baik.
Richie Siddhar Halim (12) mempresentasikan hasil refleksi dirinya melalui peta metamorfosis karakter, sebagai langkah mengenali nilai-nilai baik dan hal-hal yang ingin diperbaiki dalam dirinya.
Selain itu, keberanian untuk menolong sesama juga dipelajarinya melalui permainan drama dengan isyarat gerakan tubuh. Bersama teman-teman kelompoknya, Richie memperagakan situasi perselisihan ketika seseorang terjatuh dan teman lainnya berusaha melerai serta membantu. Didalam permainan tersebut mengajarkannya bahwa menolong tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar, tetapi dapat dimulai dengan keberanian untuk peduli dan bertindak.
Pengalaman tersebut tentu bukan hal yang asing baginya. Richie juga menceritakan bahwa ia pernah membantu seorang teman yang terjatuh saat bermain bola di kompleks perumahannya. Ia merasa senang setelah membantu temannya itu, seusai kegiatan kelas, semangat untuk membantu juga terlihat ketika ia menawarkan diri kepada salah satu Daai Mama untuk melakukan pekerjaan lain setelah mendengar arahan shigu agar para murid merapikan kursi kelompok mereka.
Dari pengalaman-pengalaman sederhana ini, Richie belajar bahwa kebaikan tidak cukup hanya dipahami, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Belajar Memahami
Sementara itu, Qiona Odlyquinn Senjaya (15), peserta yang mendapatkan pembelajaran tentang empati, kesabaran, dan pentingnya memahami persoalan dari berbagai sisi. Dalam permainan drama kelompok, ia berperan sebagai penengah dalam sebuah situasi perundungan. Kisah yang mereka peragakan menggambarkan seseorang yang ingin bergabung dengan kelompok, tetapi ditolak dan diperlakukan tidak baik oleh teman-temannya.
Menurut Qiona, perundungan merupakan tindakan negatif yang dapat menyakiti perasaan orang lain. Hal tersebut juga dapat terjadi di media sosial, misalnya melalui komentar yang merendahkan atau sengaja menjatuhkan seseorang. Karena itu, ia memandang pentingnya menghentikan perilaku tersebut dan membantu pihak-pihak yang terlibat untuk menyadari kesalahannya serta saling meminta maaf.
Namun, menjadi penengah juga mengajarkannya bahwa seseorang perlu memahami persoalan terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan. Setiap orang mungkin memiliki cerita dan sudut pandang yang berbeda. Karena itu, mendengarkan dengan sabar menjadi langkah penting agar kita tidak terburu-buru menghakimi.
“Dari permainan ini saya belajar bahwa kita memerlukan kesabaran dan perlu lebih banyak mendengar. Kita juga harus saling menghormati karena belum tentu orang lain langsung memahami apa yang ingin kita sampaikan,” ucap Qiona.
Dalam proses metamorfosis dirinya, Qiona ingin terus mengembangkan kemampuan belajar, menjadi pendengar yang baik, serta memberikan motivasi dan inspirasi kepada orang lain. Ia juga bersyukur ketika mendapat kepercayaan untuk bergabung dalam organisasi di sekolahnya, meskipun ada mata pelajaran yang dirasakannya cukup sulit, yaitu IPS. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa usaha untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya merupakan hal yang berarti.
Richie (kanan) bersama teman-teman kelompoknya menuangkan uang koin hasil tabungan ke dalam celengan cinta kasih sebagai wujud kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama.
Melalui kelas budi pekerti ini, para murid belajar bahwa metamorfosis karakter bukan sekadar mengenali kekurangan atau membayangkan pribadi ideal, melainkan berani mengambil langkah nyata untuk berubah. Menolong teman, menghindari perundungan, belajar mendengarkan, menyisihkan uang untuk membantu sesama, hingga bersedia melakukan pekerjaan sederhana merupakan benih-benih kebaikan yang dapat ditanam setiap hari.
Sebab, seperti seekor kupu-kupu yang membutuhkan proses sebelum mampu mengepakkan sayapnya, karakter yang baik juga tumbuh melalui latihan dan pembiasaan. Satu tindakan baik mungkin terlihat kecil, tetapi ketika menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, kebaikan itu akan terus menyebar. Dari diri sendiri, keluarga, sekolah, hingga masyarakat, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi awal dari sebuah lingkaran kebaikan yang membawa kebahagiaan bagi sesama.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari