Pentingnya Berbakti Kepada Orang Tua dan Berbuat Kebajikan

Jurnalis : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun), Fotografer : Calvin, Jarren Daphne Austin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)

Dalam rangka memperingati Hari Ayah, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun menyelenggarakan kelas budi pekerti pada Minggu, 9 Juni 2024.

Hari Ayah adalah momen istimewa yang didedikasikan untuk menghormati dan merayakan peran ayah dalam kehidupan keluarga. Diperingati di berbagai negara pada tanggal yang berbeda, Hari Ayah merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan rasa terima kasih dan penghargaan mereka terhadap ayah. Pada momen tersebut, banyak orang memberikan hadiah, kartu ucapan, atau meluangkan waktu bersama ayah mereka, untuk mengungkapkan betapa pentingnya sosok ayah dalam keluarga.

Pada Minggu, 9 Juni 2024, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun merayakan Hari Ayah dalam kegiatan kelas budi pekerti yang diadakan di Kantor Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. Acara ini melibatkan para siswa-siswi yang mengajak ayah mereka untuk berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan yang tidak hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan bakti kepada orang tua.

Daai Mama Lissa sebagai pembawa materi menguraikan tentang makna “Bakti Kepada Orang Tua.”

Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB, dengan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha, dan Master Cheng Yen, dilanjutkan dengan pembacaan 10 Sila Tzu Chi dan isyarat tangan. Pertemuan kali ini dipandu oleh Daai Mama Lissa, yang membawakan materi bertemakan "Bakti Kepada Orang Tua." Sebelum memulai materinya, Lissa Mama mengajak siswa-siswi untuk bersama-sama membacakan Kata Perenungan Master Cheng Yen yang berbunyi, "Ada dua hal di dunia yang tidak bisa ditunda dalam kehidupan, berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan." Para siswa-siswi pun membacanya dengan lantang dan penuh semangat.

Lissa Mama kemudian berinteraksi dengan para siswa-siswi dengan menanyakan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membantu orang tua mereka. Salah satu siswi, Clorinda Virya Andreana, menjawab dengan menyebutkan ‘bantu cuci baju’. Jawaban ini diikuti dengan diskusi tentang berbagai cara lain yang bisa dilakukan untuk membantu orang tua, seperti membersihkan tempat tidur, mengembalikan barang pada tempatnya, menyapu lantai, melipat baju, dan mencuci piring.

Untuk menguatkan materi yang disampaikan, Lissa Mama mengajak siswa-siswi untuk mempraktikkan salah satu dari kegiatan tersebut, yaitu melipat selimut sendiri setelah bangun tidur. Ia juga meminta bantuan orang tua mereka untuk mengabadikan momen anak mereka saat melipat selimut dengan video, sebagai pengingat akan pentingnya kontribusi kecil dalam rumah tangga.

Untuk menambah keceriaan, para siswa-siswi kelas budi pekerti dengan semangat memperagakan isyarat tangan yang berjudul “A Ba Gan Cui Gu.

Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan kue Hari Ayah. Para ayah dipersilakan maju ke depan ruang kegiatan untuk bersama-sama merayakan momen istimewa ini. Diiringi lagu selamat Hari Ayah yang dinyanyikan oleh para relawan dan siswa-siswi, suasana menjadi sangat hangat dan penuh kebersamaan. Pemotongan kue ini bukan hanya simbol perayaan, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi kepada para ayah atas dedikasi dan kasih sayang mereka.

Selanjutnya pada acara puncak, para siswa-siswi membasuh kaki ayah mereka sebagai tanda terima kasih atas dedikasi dan pengorbanan mereka. Momen ini sangat mengharukan, memperlihatkan betapa dalamnya kasih sayang dan penghargaan anak-anak terhadap ayah mereka. Setelah itu, ada juga penyuguhan teh dan Namaskara sebanyak tiga kali kepada ayah, yang semakin memperkuat makna dari acara tersebut.

Untuk membuat suasana semakin hangat dan menyenangkan, diadakan permainan yang mengharuskan kerja sama antara ayah dan anak.

Untuk membuat suasana semakin hangat dan menyenangkan, diadakan permainan yang mengharuskan kerja sama antara ayah dan anak. Dalam permainan ini, mata ayah ditutup dengan kain sehingga mereka tidak bisa melihat, dan anak-anak bertugas mengarahkan ayah mereka melewati rintangan menuju tujuan yang telah ditentukan. Dengan arahan kiri dan kanan dari anak-anak, mereka harus bekerja sama untuk tidak menyentuh rintangan yang ada. Keceriaan dan tawa terdengar saat mereka bersama-sama menyelesaikan permainan ini, menunjukkan kekompakan dan kerja sama yang erat antara ayah dan anak.

Andri Purwanto (33), ayah dari Clorinda Virya Andreana, merasa sangat terharu ketika anaknya membasuh kakinya. Ia berharap anaknya bisa menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi bangsa dan negara. Ia juga sangat mengapresiasi kegiatan Kelas Budi Pekerti Tzu Chi yang mampu membentuk karakter anak menjadi lebih baik. Andri mencatat perubahan positif pada anaknya setelah mengikuti kegiatan ini, seperti kebiasaan memberi salam dan meminta izin, serta keinginan untuk membantu orang tua.

"Tentunya saya terharu, bangga, dan senang karena anak dilatih memiliki karakter yang baik, menghormati orang tua sebagai wujud rasa syukur, dan tentu berbakti kepada orang tua. Kegiatan ini sangat positif karena perkembangan anak dimulai dari dasar, yang sangat penting untuk membentuk karakter saat dewasa," ungkap Andri Purwanto dengan penuh rasa syukur.

Clorinda Virya Andreana mencium pipi ayahnya Andri Purwanto. Andri merasa sangat terharu ketika anaknya membasuh kakinya. Ia berharap anaknya bisa menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi bangsa dan negara.

Andri juga menambahkan bahwa perubahan positif yang ia lihat pada anaknya setelah mengikuti kegiatan ini sangat signifikan. "Sebelum mengikuti kegiatan ini, mungkin ketika pulang atau pergi anak belum mau memberi salam. Setelah mengikuti kegiatan ini, ia mulai memberi salam dan meminta izin, kemudian juga membantu orang tua meskipun pekerjaan itu sudah dikerjakan orang tua. Ini menunjukkan bahwa anak mulai memahami pentingnya membantu dan berbakti kepada orang tua," ungkapnya.

Kegiatan Hari Ayah yang diadakan oleh Tzu Chi Tanjung Balai Karimun ini tidak hanya merayakan peran ayah, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebajikan dan bakti dalam keluarga. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajarkan untuk menghormati dan mencintai orang tua mereka dengan tulus, serta memahami pentingnya kontribusi kecil dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kegiatan seperti ini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter anak-anak di masa depan.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Melepas Rindu di Udara

Melepas Rindu di Udara

17 Juli 2020

Sekitar lima bulan tidak bertemu membuat murid-murid dan para dui fu (mentor) saling memendam kerinduan, kerinduan bisa berkumpul bersama, kerinduan merasakan kebersamaan dan kehangatan dalam kegiatan kelas Budi Pekerti. Ketika kelas online dimulai, hati para mentor begitu bahagia melihat para murid dengan kepolosan duduk manis didampingi orang tua di depan telepon seluler atau komputer mengikuti kegiatan.  Dalam sekejap, kerinduan serasa terobati.

Menghindarkan Diri dari Pencurian Sejak Dini

Menghindarkan Diri dari Pencurian Sejak Dini

30 Maret 2016
Pada tanggal 13 Maret 2016, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan Kelas Budi Pekerti dengan mengambil pokok bahasan tentang, “Bertekad tidak mengambil  barang  yang tidak diberikan”.
Mendidik Anak Berbudi Pekerti Sejak Dini

Mendidik Anak Berbudi Pekerti Sejak Dini

24 Juli 2018
Memasuki tahun ajaran baru periode 2018-2019, Kelas Budi Pekerti di Tzu Chi Tanjung Balai Karimun kembali membuka pendaftaran untuk kelas Xiao Tai Yang, Minggu, 22 Juli 2018. Kelas Budi Pekerti yang rutin diadakan setiap bulan sekali ini bertujuan untuk mendidik anak-anak berbudi pekerti baik, bermoral, dan berakhlak. 
Cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -