Menumbuhkan Welas Asih dan Semangat Kebajikan dalam Kebersamaan

Jurnalis : ChaCha Yin (Tzu Chi Palembang), Fotografer : ChaCha Yin, Alex Lim, Lusia Yuliana, Ivan Agustinus, Marcello Ryandi (Tzu Chi Palembang)
Setiap peserta diberikan kesempatan untuk ikut serta dalam pemandian rupang Buddha, sebuah ritual penghormatan dan rasa syukur, termasuk komunitas KMBP.

Waisak merupakan momen penting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Di Tzu Chi, perayaan Waisak tidak hanya memperingati Hari Raya Waisak, tetapi juga Hari Ibu Internasional dan Hari Tzu Chi Sedunia.

Pada Minggu, 10 Mei 2026, pukul 14.30–17.00 WIB, Yayasan Buddha Tzu Chi Palembang menggelar perayaan Waisak di Ballroom Selebriti Entertainment Center Palembang. Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Tzu Chi ke-60 dan Hari Ibu Internasional.

Phoebe Chandra, koordinator kegiatan Waisak, menyampaikan bahwa perayaan tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan 60 tahun Tzu Chi. Selain itu, berdasarkan penanggalan lunar, usia Master Cheng Yen tahun ini telah mencapai 90 tahun.

Master Cheng Yen senantiasa mengingatkan agar setiap orang menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan Dharma sebagai pedoman dalam bertindak, sekaligus terus mengembangkan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Khusyuk dan Penuh Makna
Perayaan Waisak Tzu Chi Palembang tahun ini dihadiri enam anggota Sangha, Pembimas Buddha Provinsi Sumatra Selatan, organisasi dan tokoh masyarakat, 106 relawan Tzu Chi, umat Buddha, serta masyarakat non-Buddhis. Total kehadiran mencapai 711 orang.

Acara diawali dengan Gatha Pendupaan (Lu Xiang Zhan). Selanjutnya, barisan relawan yang dipimpin relawan komite dan senior berjalan perlahan menuju meja persembahan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan persembahan pelita, air wangi, dan bunga sebagai wujud balas budi kepada Buddha, orang tua, serta semua makhluk.

Para relawan Tzu Chi membawa persembahan bunga dalam acara perayaan Waisak di Ballroom Selebriti Entertainment Center Palembang. Suasana khidmat saat persembahan bunga.

Persembahan pelita melambangkan harapan agar cahaya kebijaksanaan dapat menerangi kegelapan dunia. Persembahan air menjadi simbol penyucian noda batin, sedangkan persembahan bunga melambangkan keharuman kebajikan Buddha dan Dharma yang menyebar ke segala penjuru.

Setelah prosesi persembahan, acara dilanjutkan dengan pemandian rupang Buddha yang dipimpin para anggota Sangha, Pembimas Buddha, tokoh masyarakat, relawan komite, serta diikuti oleh seluruh tamu undangan.

Melalui prosesi ini, peserta diajak untuk senantiasa bersyukur atas budi luhur Buddha, Bodhisattva, orang tua, dan semua makhluk yang telah tulus memberi manfaat bagi kehidupan. Dengan hati yang jernih, seluruh peserta memuliakan Buddha dan Bodhisattva seraya memanjatkan harapan agar welas asih terus berkembang serta keberkahan dan ketenteraman selalu hadir dalam kehidupan.

Prosesi berlangsung khidmat hingga akhir acara dan ditutup dengan pelimpahan jasa serta doa bersama yang diiringi penyalaan pelita. Pelimpahan jasa dimaknai sebagai ungkapan syukur sekaligus pengingat untuk membagikan jasa kebajikan kepada leluhur, keluarga, dan seluruh makhluk.

Suasana pembacaan doa bersama yang diiringi dengan penyalaan pelita. Pelimpahan jasa dimaknai sebagai ungkapan syukur sekaligus pengingat untuk membagikan jasa kebajikan kepada leluhur, keluarga, dan seluruh makhluk.

Harapan Baik dan Berkah Kebajikan
Peringatan Waisak Tzu Chi Palembang juga diisi ceramah Dharma oleh Bhante Atimedho Mahathera. Dalam ceramahnya, beliau mengajak umat untuk kembali merenungkan tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan parinibbana.

Beliau juga mengingatkan pentingnya mempraktikkan Dharma dan Vinaya dalam kehidupan sehari-hari agar setiap insan dapat menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran, ketulusan, dan cinta kasih.

“Dunia ini sangat memerlukan cinta kasih. Jika semua manusia dapat mengembangkan niat baik yang dilandasi cinta kasih, maka dunia akan menjadi damai dan tenteram,” pesan beliau.

Para anggota Sangha menghadiri kegiatan doa bersama Waisak dengan penuh rasa syukur. Perayaan Waisak ini dihadiri enam anggota Sangha, Pembimas Buddha Provinsi Sumatra Selatan, organisasi dan tokoh masyarakat.

Hal senada juga disampaikan Y.M. Bhiksu Pradipa Kusala (Suhu Geng Shan). Ia mengungkapkan kebahagiaannya dapat kembali hadir dalam kegiatan Waisak Tzu Chi.

“Semoga setiap insan yang mengikuti Waisak ini senantiasa mengingat Guru Agung kita dan semangat membabarkan Dharma demi semua makhluk. Semoga Tzu Chi semakin maju dan anggotanya terus bertambah,” ungkap beliau.

Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Palembang, Heko Viryanadi (37), juga berharap peringatan Waisak ini dapat memperkuat keyakinan umat Buddha di Sumatra Selatan sekaligus membawa lebih banyak kebermanfaatan melalui misi kemanusiaan Tzu Chi.

“Harapan khusus untuk Tzu Chi, semoga pelaksanaan Waisak ini semakin meningkatkan misi kemanusiaan yang lebih besar dan bermanfaat bagi semua,” ujarnya.

Satu Keluarga dalam Perbedaan
Siti Nurshanti (54) mengaku baru pertama kali menghadiri perayaan Waisak Tzu Chi. Ia merasa bahwa Tzu Chi mengajarkan kebaikan tanpa memandang perbedaan, menghargai semua makhluk, dan mengajak semua orang bersatu dalam kebajikan. Karena itu, ia bahkan mengundang 15 orang teman dan kerabatnya untuk hadir bersama.

“Selama berada di Tzu Chi, saya merasa seperti satu keluarga walaupun berbeda keyakinan,” ungkapnya.

Ia berharap Tzu Chi terus berkembang dan dirinya masih dapat kembali menghadiri kegiatan serupa di tahun-tahun mendatang.

Suasana doa bersama berlangsung dengan penuh kekhusyukan diikuti oleh ratusan peserta. Total ada 711 orang yang menghadiri perayaan tiga hari besar ini yaitu Hari Raya Waisak, Hari Ibu Internasional dan Hari Tzu Chi Sedunia.  

Kesan serupa juga disampaikan Davinco, Ketua Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang. Menurutnya, perayaan Waisak Tzu Chi tahun ini terasa lebih meriah, megah, namun tetap hening dan khidmat.

“Perayaan Waisak di Tzu Chi sudah menjadi agenda tahunan bagi saya. Ini adalah kali ketiga saya hadir. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Peringatan Waisak Tzu Chi Palembang tahun ini memang terasa istimewa. Tidak hanya dihadiri umat Buddha, tetapi juga berbagai elemen masyarakat yang turut merasakan semangat kebersamaan dan kebajikan.

Semangat Waisak diharapkan dapat menjadi pengingat bagi semua orang untuk terus menebarkan cinta kasih dan memberikan manfaat secara tulus kepada siapa pun yang membutuhkan.

Semoga hati setiap manusia tersucikan, masyarakat hidup damai dan harmonis, serta dunia terbebas dari bencana.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Menjaga Cahaya Ketulusan Dalam Peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi

Menjaga Cahaya Ketulusan Dalam Peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi

18 Mei 2026

Tzu Chi Batam mengadakan perayaan Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia di Aula Jing Si Batam. Sebanyak 613 orang menyatukan hati dalam kehangatan perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi ini.

Waisak Tzu Chi 2018: Merayakan Waisak Dalam Kesederhanaan

Waisak Tzu Chi 2018: Merayakan Waisak Dalam Kesederhanaan

14 Mei 2018
Peringatan Hari Waisak, Hari Tzu Chi Internasional, dan Hari Ibu Sedunia di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun berjalan dengan baik dan lancar. Semoga doa yang tulus yang telah dipanjatan oleh setiap orang yang hadir dapat menjadikan dunia bebas dari bencana, masyarakat aman dan damai, serta hati manusia dapat tersucikan.
Waisak Tzu Chi 2018: Doa Jutaan Insan Untuk Kedamaian dan Keamanan Surabaya

Waisak Tzu Chi 2018: Doa Jutaan Insan Untuk Kedamaian dan Keamanan Surabaya

14 Mei 2018
Kabar duka datang di pagi hari saat relawan Tzu Chi Surabaya mempersiapkan kegiatan Waisak. Di sejumlah titik di Gereja Surabaya terjadi serangan bom yang memporak-porandakan ketenangan warga Surabaya. Dalam prosesi kali ini, insan Tzu Chi menyelipkan sesi berdoa, semoga masyarakat Surabaya, korban dan keluarga yang ditinggalkan bisa ditenteramkan batinnya agar senantiasa damai dan sentosa.
Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -