Getar haru menyelimuti Mikeuh dan Deddy Karnadi saat kembali bertemu dengan Ayen Rita di Tzu Chi Center, pada Minggu, 1 Maret 2026. Setelah delapan tahun, mereka dipertemukan kembali oleh ikatan ketulusan yang terjalin sejak masa perjuangan kesembuhan putra mereka, Renaldy.
Ada getar yang tak mampu disembunyikan Mikeuh dan Deddy Karnadi saat berjumpa kembali dengan Ayen Rita setelah hampir delapan tahun tak bersua. Di tengah keriuhan gathering penerima bantuan Tzu Chi di Tzu Chi Center pada Minggu 1 Maret 2026, keduanya menemui sosok yang turut menemani perjuangan berdarah-darah mereka dalam mengupayakan kesembuhan putra mereka, Renaldy dari leukimia, yakni kanker jaringan pembentuk darah delapan tahun yang lalu.
“Sampai Aldi mendekati tidak ada, Tzu Chi terus mendampingi kami, bukan hanya nominalnya tapi juga ketulusannya,” tutur Mikeuh dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih banyak kepada Tzu Chi atas bantuannya waktu itu,” sambung Deddy.
“Kalau dikabari Renaldy masuk rumah sakit sini, kalau saya sempat ya ke sana,” ujar Ayen.
Baru dua pekan bersekolah di SMA Citra Kasih, Kalideres, Renaldy yang dikenal bugar dan ceria tiba-tiba jatuh sakit. Ia mengeluhkan nyeri perut hebat yang rasanya seperti ditendang.
Dibawalah Renaldy ke Rumah Sakit PIK, dan rupanya di sekujur perutnya terdapat lebam-lebam kebiruan. Dokter menduga ada kelainan darah sehingga harus dilakukan pemeriksaan darah. Ternyata benar, kadar leukosit atau sel darah putihnya tinggi yang berarti ada peradangan, infeksi, atau penyakit serius sehingga perlu dilakukan tindakan biopsi untuk diagnosis definitif.
Agar mendapat hasil biopsi yang cepat, dokter menyarankan untuk membawa Renaldy ke Singapura, dan nanti kemoterapinya dapat dilakukan di Jakarta. Dari dua rumah sakit di Singapura, hasilnya positif. Renaldy mengidap leukimia myeloid akut atau AML, jenis leukimia yang paling berbahaya dan agresif.
Dari hasil diskusi, termasuk biaya dan pengeluaran, Mikeu dan Deddy memutuskan untuk membawa anak yang sangat dikasihinya itu langsung ke Kota Melaka, Malaysia. Renaldy melakukan kemoterapi pertama dan tinggal selama 28 hari di sana.
Pulang dari Melaka, kondisinya sempat membaik. Namun pada kemoterapi kedua dokter menyarankan agar Renaldy dilakukan transplantasi sumsum tulang di Kuala Lumpur. Kedua orang tua ini terhenyak, karena biaya yang dibutuhkan sangat besar.
“Waktu itu kami hanya pegang uang tak sampai 100 juta rupiah, itu pun sebagian pinjam dari keluarga,” kata Deddy.
Singkat cerita, setelah melewati beberapa upaya, mereka pun mendapatkan bantuan dari sebuah yayasan kanker anak di Singapura. Namun Renaldy justru kemudian menolak menjalani transplantasi karena tidak mau sesuatu terjadi pada adiknya sebagai donor.
Meski sang putra telah berpulang pada 2018 setelah berjuang melawan leukimia agresif (AML), Mikeuh dan Deddy terus merawat memori indah dan semangat keberanian putra mereka.
Keluarga ini pun kembali ke Jakarta dan bersandar pada upaya kemoterapi saja di Jakarta. Setelah menjual mobil dan apartemen, biaya berobat Aldy masih kurang. Atas saran dari atasannya, Deddy pun mengajukan bantuan ke Tzu Chi.
Setelah proses survei yang mendalam oleh Ayen Rita, tak sampai satu bulan, pengajuan bantuan tersebut dikabulkan. Tzu Chi membayar biaya pengobatan Renaldy yang terbilang mahal. Tzu Chi juga memberikan bantuan berupa diapers karena Renaldy mengalami pendarahan.
“Bantuan Tzu Chi sangat berarti bagi kami. Jadi ada yang memperhatikan selain keluarga, kami jadi semangat,” ujar Mieke.
Dari uang pribadi, Mieke dan Deddy menghabiskan biaya lebih dari 1 miliar rupiah, yang sebagian meminjam dari kerabat, serta menjual mobil dan unit apartemen. Meski segala upaya telah dikerahkan selama dua tahun setengah itu, takdir berkata lain. Renaldy menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Medistra pada 19 November 2018.
Walau telah berlalu hampir delapan tahun, Mikeuh dan Deddy terus menguatkan diri. Mereka juga merawat memori indah tentang anaknya yang sangat baik hati itu, di antaranya menyimpan dengan rapi mainan Renaldy dan menjadikannya pajangan di rumah.
Reuni yang Mengharukan
Mikeuh dan Deddy menyerahkan donasi atas nama mendiang Nyonya Lia melalui Tzu Chi. Donasi ini merupakan bentuk penyelesaian amanah pinjaman biaya pengobatan masa lalu yang dialihkan menjadi amal.
Setelah delapan tahun tak berjumpa dengan Ayen, Mikeuh meneleponnya dan mengabarkan jika ia hendak berdonasi ke Tzu Chi. Ceritanya, saat biaya pengobatan Renaldy kala itu masih kurang banyak, Mikeuh meminjam uang dari kerabatnya dan mereka cicil setiap kali Deddy mendapatkan THR dari tempatnya bekerja.
Waktu itu, mendiang Nyonya Lia, begitu nama panggilannya berpesan pada Miekuh dan Deddy agar tidak menceritakan perihal pinjaman ini kepada suami dan anaknya atau kerabat lainnya, karena uang yang dipinjamkan adalah miliknya pribadi. Saat cicilan tinggal sekali lagi yang akan dibayarkan pada bulan Februari 2026, mendiang Nyonya Lia lebih dulu meninggal dunia pada Desember 2025.
Karena ada amanat agar tak memberitahu keluarganya. Kedunya pun berdiskusi dengan beberapa orang yang dianggap bijaksana. Hampir semua menyarankan; jika anggota keluarga mendiang Nyonya Lia ada yang kesusahan, maka uang itu harus diberikan supaya dapat membantu. Namun keluarga yang ditinggalkan terbilang sangat berada, karena itu lebih baik jika disumbangkan ke sebuah yayasan kemanusiaan.
Keduanya pun menghubungi Ayen dan menyerahkan donasi sebesar lima juta rupiah atas nama mendiang Nyonya Lia. Begitulah pertemuan berwujud reuni itu terjadi. Tak lupa keduanya mendoakan Ayen agar dapat segera pulih dari sakit stroke yang dideritanya.
“Supaya bisa segera aktif lagi ya Ci Ayen seperti dulu,” tutur Mikeuh dan Deddy, yang disambut Aamiin dan terima kasih oleh Ayen.
Editor: Fikhri Fathoni