Para Tzu Shao dengan khidmat menyimak filosofi tentang Celengan Bambu Tzu Chi disampaikan oleh Tjoeng Mi bersama berdampingan dengan Andrew Ng.
Pertemuan kelas budi pekerti yang di gelar oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 mempertemukan para Tzu Shao pada 27 September 2026, salah satu peserta, Neo Maximus yang menggenggam selembar poster bertajuk “ I Will… But…” memiliki pertanyaan sederhana yang terlintas dibenaknya yaitu “Aku ingin berdonasi, tetapi apakah donasiku berarti?” dan juga relate untuk banyak orang.
“Kelompok kami memilih C. Menurut kami, hal terpenting bukan seberapa banyak uang yang kita berikan, tapi konsistensinya. Lebih baik memberi sedikit tapi rutin dan tulus setiap hari seperti celengan bambu, daripada menunggu punya banyak uang baru mau berbagi.” ucap Neo Maximus Tanran dalam diskusi kelompoknya di depan kelas.
Rasa ragu sering kali muncul saat kita merasa apa yang kita miliki terlalu sedikit untuk membawa perubahan. Namun, melalui pemikiran bersama, Neo dan rekan sekelompoknya mematahkan anggapan umum. Bagi mereka, keraguan tidak semestinya dijawab dengan menunggu donasi bernominal besar, melainkan dengan keberanian memberi secara tulus dan rutin.
Menempa Tekad dan Aksi Nyata
Sejak pagi semangat berpikir sudah tampak dari para Tzu Shao. Naramedhaka Citta Abhimanggala sebagai pemandu acara membuka kelas dengan pembawaan hangat. Sebelum menyelami materi, para Tzu Shao diajak menenangkan batin melalui sesi meditasi bersama Ang It Nio. Dalam keheningan sejenak, mereka diajak memusatkan perhatian agar pikiran jernih dan siap menyerap nilai-nilai kebajikan.
Ketenangan batin kemudian diwujudkan melalui keindahan gerak. Berdiri di depan kelas, Tjoeng Mi Mi memperagakan gerakan Shou Yu lagu “Di Yi Dao Shu Guang” (Menyingsing Fajar Pertama). Melalui liriknya, para Tzu Shao diajak memahami bahwa setiap niat baik ibarat cahaya pertama yang mampu menerangi kegelapan.
Dengan penuh keindahan, para Tzu Shao bersama-sama memperagakan Shou Yu dengan lagu “Di Yi Dao Shu Guang,” dengan di dampingi relawan senior Tzu Chi.
Sesi selanjutnya beralih ke materi “Mengalami” yang disampaikan oleh Andrew Ng dan Gege Sean Philemon Savelie Yap, yang memandu jalannya permainan, para Tzu Shao diajak mendiskusikan situasi nyata melalui kartu simulasi “I Will… But…”, beberapa situasi yang dibahas antara lain menepati janji belajar bersama saat rasa malas melanda, atau merawat lingkungan di tengah perasaan bahwa diri sendiri terlalu kecil untuk membawa perubahan.
Salah satu peserta, Kerensa Gracia menceritakan bagaimana kelompoknya sempat berdiskusi seru saat membaca skenario tentang rasa malas.
“Tadi pas diskusi, sempat ada teman yang bilang wajar aja kalau janji dibatalkan gara-gara capek, rasa malas itu pasti ada, cuma kitanya aja yang harus bisa ngelawan. Akhirnya kelompok kami sepakat, janji belajar bareng tetap harus ditepati dan enggak boleh gampang ditunda cuma karena malas.” Tutur Karensa Gracia.
Pemahaman tentang pentingnya melangkah tanpa ragu kian diperdalam melalui sesi cerita, para Tzu Shao menonton tayangan DAAI TV “Tekad Besar Si Budi Kecil” yang mengisahkan perjuangan Budi, penerima bantuan Tzu Chi yang berhasil sembuh dari tumor rahang. Ia tergerak untuk membalas kebaikan yang diterimanya, dengan menabung melalui celengan bambu dari hasil penjualan kue tiap pulang sekolah.
Kerensa Gracia (tengah) bersama anggota kelompoknya melakukan diskusi untuk membahas dilema moral yang mereka hadapi.
Selain itu, pesan kebajikan juga ditayangkan melalui kilas balik sejarah Celengan Bambu Tzu Chi, yang berawal dari 30 ibu rumah tangga menyisihkan 50 sen uang belanja setiap hari, hingga berkembang menjadi gerakan cinta kasih global.
Keteladanan tersebut membuka cara pandang Davina Jolyne Lim tentang makna bersumbangsih. “Habis nonton videonya sama dengar cerita celengan bambu, aku jadi kepikiran ternyata kalau mau bantu orang lain nggak harus nunggu sampai kita punya banyak uang dulu, yang penting niatnya dan mau rutin menyisihkan uang jajan setiap hari. Kelihatannya memang sedikit, tapi kalau dikumpulkan terus, ternyata bisa menolong banyak orang,” ungkap Davina.
Pembelajaran kelas Tzu Shao akhirnya menyadari tekad baik harus berbuah nyata, para Tzu Shao duduk tekun mengisi lembar komitmen bertajuk “I Will… I Can… Real Action”.
Salah satu Tzu Shao, Davina Jolyne Lim tampak fokus menuliskan rencana tindakan, berbekal pemahaman dari kisah inspiratif yang ia simak sebelumnya, ia bertekad membiasakan kepedulian kecil secara rutin agar membawa manfaat baik bagi orang-orang di sekitarnya.
Di barisan peserta, Metta Kimberly, yang juga merasa akan bersungguh hati menimbang langkah sederhana yang sanggup ia jalankan setiap hari. “Awalnya sempat bingung mau menulis apa karena kepikiran hal-hal yang besar, tapi Shigu mengingatkan kalau tekad itu mulainya dari apa yang bisa kita lakukan saat ini. Akhirnya aku menulis mau belajar lebih sabar sama adik di rumah dan enggak gampang kesal kalau lagi diganggu pas belajar.” ucapnya.
Komitmen serupa diungkapkan Gabriella Teza Tjahyono saat memperlihatkan catatannya di meja sebelah. “Kalau aku menulis hal yang gampang dilakukan dulu, seperti menyapa orang tua pas bangun pagi sama langsung cuci piring sendiri sehabis makan, jujur hal kayak gini sering terlewat karena malas atau kadang gengsi. Padahal kalau mau belajar bertanggung jawab, ya harus dimulai dari rumah dulu.” kata Gabriella.
Menyemai Benih Kebajikan
Pemandu acara Paramitha mengawal kegiatan Qin Zi Ban dengan ceria, mengajak para Xiao Pu Sa membentuk lingkaran rapi. Di tengah lingkaran, Triana Putri memimpin latihan isyarat tangan lagu “Kuai Le De Peng You” (Sahabat yang berbahagia). Keceriaan mereka kian lepas saat Juztin bersama para Gege dan Jiejie mengajak memainkan permainan edukatif yang merekatkan kebersamaan.
Kekompakan itu berlanjut ke sesi inti “Mengalami” melalui permainan “Estafet Benih Kebaikan”. Para Xiao Pu Sa berbaris mengoper bola kertas kecil yang diletakkan di atas punggung tangan tanpa boleh terjatuh. Permainan sederhana sarat makna ini mengajarkan bahwa menjaga tekad baik memerlukan kesabaran, kehati-hatian, serta keteguhan hati agar niat mulia tidak goyah saat menghadapi rintangan.
Sementara para orang tua mengikuti sesi pembekalan keluarga (parenting) di ruangan terpisah. Salah satau peserta orang tua murid, Jok Khian memaparkan pentingnya sinergi antara keluarga dan relawan. Orang tua diajak menyadari bahwa pendidikan budi pekerti tidak akan berakar kuat jika hanya mengandalkan pertemuan bulanan di kelas, melainkan keteladanan orang tua di rumahlah yang menjadi tanah subur bagi bertumbuhnya karakter anak.
Para Xiao Pu Sa juga diberikan materi Celengan Bambu Tzu Chi di kelas Qin Zi Ban Besar yang disampaikan oleh Triana Putri dengan penuh semangat mengajarkan kebajikan.
Di sisi lain para Xiao Pu Sa juga diberikan materi oleh Triana Putri tentang Celengan Bambu yang mengajarkan ketulusan untuk berbagi. Saat diajak berdialog seputar kebiasaan menabung untuk menolong sesama, Felix Giovanno mengutarakan pemikirannya dengan lugas di hadapan teman-teman.
“Kalau mau berbuat baik itu nggak perlu nunggu sampai kita kaya atau nunggu dewasa dulu, kita bisa mulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan sekarang,” ,” ujar Felix.
Pembelajaran kelas Qin Zi Ban Besar juga dirangkum melalui pembagian lembar kerja “Pohon Tekad” dan “Aksi Nyataku”. Melalui panduan ini, anak-anak diajak merawat lima kebiasaan baik, seperti menabung di celengan bambu, membereskan perlengkapan sekolah sendiri, hingga membatasi penggunaan handphone, yang akan dipantau bersama orang tua di rumah selama sebulan penuh.
Editor : Nur Al Fajar Rumsari