Menyelami Dharma Lewat Setiap Goresan Sutra

Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Jakarta Utara 4), Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Jakarta Utara 4)

Hendry Chayady menjelaskan bahwa setiap goresan tentunya akan mengingatkan kita kembali bahwa sebagai seorang anak, kita akan berusaha untuk berbakti dan selalu ada ruang untuk peningkatan diri, ruang untuk berkembang dan ruang untuk menjadi lebih baik.

Sejak zaman Tiongkok kuno, menyalin sutra telah menjadi salah satu bentuk praktik kebajikan. Ketika ajaran Buddha mulai masuk ke Tiongkok, masyarakat yang belum memiliki mesin fotokopi menyalin kitab-kitab Buddha secara manual.

Namun, praktik tersebut bukan sekadar cara memperbanyak kitab, melainkan juga sarana untuk menenangkan batin dan memahami ajaran Buddha. Sutra sendiri bukanlah kain sutra seperti yang dikenal sehari-hari. Sutra merupakan kitab yang berisi ajaran atau sabda Buddha.

Hendry Chayady, Komite Komunitas He Qi Jakarta Utara 4, menjelaskan bahwa menyalin sutra memiliki beberapa tujuan. Salah satunya adalah membantu seseorang menenangkan diri. “Dalam menyalin sutra, kita sedang berkompromi dengan diri sendiri. Kita mencari tempat yang damai dan tenang sehingga batin menjadi lebih tenang,” jelasnya.

Selain menenangkan batin, menyalin sutra juga memberikan kesempatan untuk meresapi isinya. Berbeda dengan melafalkan sutra yang terkadang dilakukan dengan ritme cepat, menyalin membuat seseorang membaca kembali setiap bagian secara perlahan sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami maknanya.

Sementara pada zaman dahulu, sutra yang selesai disalin dapat dibagikan kepada orang lain agar dapat dibaca dan dipelajari. Kini, tujuan tersebut tidak lagi menjadi kebutuhan utama karena kitab dapat diperbanyak dengan lebih cepat.

Namun, dua tujuan lainnya, menenangkan batin dan meresapi isi sutra, tetap relevan hingga saat ini. “Dua tujuan pertama, yaitu berkompromi dengan diri sendiri dan meresapi isi asli sutra, masih relevan dan dapat dilakukan hingga zaman sekarang,” ujar Hendry.

Dalam rangka Bulan Tujuh Lunar Penuh Berkah, insan Tzu Chi akan menyalin sutra bakti di tiga  bagian dari Sutra Sutra Bakti Seorang Anak, yang menggambarkan cinta kasih orang tua, kesalahan anak dan cara membalas budi luhur orang tua.

Mengingat Kembali Budi Orang Tua
Dalam rangkaian “Bulan Tujuh Lunar Penuh Berkah”, Tzu Chi Indonesia tahun ini lebih menekankan nilai bakti kepada orang tua. Salah satu bentuknya dilakukan melalui kegiatan menyalin tiga bagian dari Sutra Bakti Seorang Anak.

Bagi masyarakat Tionghoa, Sutra Bakti Seorang Anak memiliki kedekatan tersendiri karena nilai bakti juga menjadi bagian penting dalam budaya Tionghoa yang dipengaruhi ajaran Konfusianisme. Sutra tersebut mengingatkan manusia tentang besarnya kasih sayang dan budi orang tua.

Menurut Hendry, nilai bakti kepada orang tua semakin penting untuk direnungkan di tengah perubahan pola hubungan antara orang tua dan anak pada zaman sekarang. Ia menilai, pola pengasuhan masa kini memiliki banyak pendekatan positif, tetapi nilai penghormatan dan bakti kepada orang tua tetap perlu dijaga.

“Saya tidak bilang cara parenting zaman now itu salah. Tentu ada beberapa hal yang bisa kita ambil. Namun, Master Cheng Yen sangat menyayangkan apabila anak-anak zaman sekarang tidak memahami nilai berbakti,” ungkap Hendry.

Hendry Chayady mengungkapkan bahwa dengan memahami makna dari kegiatan menyalin sutra, tidak hanya sekadar menulis, tetapi juga dapat memberi manfaat bagi tua maupun muda, bagi anak maupun orang tua, juga menjadi ajang kesempatan bagi diri kita untuk melihat ke dalam diri.

Dalam ajaran Buddha, budi orang tua memiliki makna yang sangat dalam. Kehadiran seorang anak di dunia tidak terlepas dari jasa orang tua yang merawat dan membesarkannya dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki.

Buddha juga mengajarkan tentang hukum sebab-akibat dan pentingnya menghargai jalinan jodoh dalam kehidupan. Hubungan antara orang tua dan anak merupakan bagian dari rangkaian sebab dan akibat yang perlu dihargai dan dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Besarnya budi orang tua juga tidak mudah dibalas. Buddha menggambarkan bahwa meskipun seorang anak menggendong orang tuanya mengelilingi Gunung Semeru selama berkalpa-kalpa, hal tersebut belum tentu mampu membalas budi orang tua dalam satu kehidupan.

Lebih jauh, Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk memiliki jalinan kehidupan yang panjang. Dalam sebuah kisah, Sang Bhagava menunjukkan penghormatan kepada tumpukan tulang di jalan dan menjelaskan kepada Ananda bahwa tulang-tulang tersebut mungkin merupakan tulang orang tua pada kehidupan lampau.

Pesan itu mengingatkan bahwa semua makhluk memiliki hubungan yang saling berkaitan. Karena itu, rasa hormat, kasih sayang, dan kebajikan tidak seharusnya hanya diberikan kepada orang tua yang kita kenal, tetapi juga kepada seluruh makhluk.

Setiap Goresan dengan Kesadaran
Menyalin sutra menjadi salah satu aktivitas bajik yang dilakukan dalam rangka Bulan Tujuh Lunar. Tzu Chi Indonesia mengajak setiap komunitas untuk menyalin tiga bagian dari Sutra Bakti Seorang Anak, yang berisi tentang kasih sayang orang tua, kesalahan seorang anak, dan cara membalas budi orang tua.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 36 insan Tzu Chi dari Komunitas He Qi Jakarta Utara 4 di Kantor Sekretariat Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 15 dan 22 Agustus 2026.

Kegiatan menyalin sutra juga dapat diikuti oleh anak maupun orang tua. Peserta diajak benar-benar hadir pada saat itu, membaca, memahami, dan merenungkan makna sutra yang sedang ditulis.

Hendry menjelaskan, Sutra Bakti Seorang Anak sebenarnya hanya terdiri atas satu bab. Namun, karena keterbatasan waktu, tiga bagian utama dipilih agar peserta dapat lebih fokus memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

“Kita mau mengajak Shixiong dan Shijie untuk mengingat kasih sayang orang tua. Bagaimana kita mengintrospeksi diri sebagai seorang anak? Adakah kita melakukan kesalahan? Yang paling penting adalah bagaimana kita membalas budi orang tua dan sikap batin seperti apa yang kita miliki sebagai anak,” jelasnya.

Menyalin sutra bukan sekadar aktivitas menulis. Setiap goresan dilakukan perlahan dengan perhatian penuh. Peserta diajak benar-benar hadir pada saat itu, membaca, memahami, dan merenungkan makna yang sedang ditulis.

“Kita fokus pada isi sutra dan tulisan sutra. Kita menggores satu demi satu dengan penuh perhatian, sambil mengingat budi luhur orang tua dengan penuh kesadaran. Inilah praktik kesadaran, hadir di saat ini untuk kembali mengenal diri kita sendiri lewat goresan,” tutur Hendry.

Baginya, aktivitas menyalin sutra juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali ke dalam diri. Dalam keseharian, manusia lebih sering memperhatikan berbagai kondisi di luar dirinya. Kesibukan membuat seseorang jarang berhenti sejenak untuk menenangkan batin dan melakukan introspeksi.

“Ini adalah salah satu kesempatan yang sangat baik lewat tulisan sebagai metode terampil. Sesungguhnya, kita sedang mengembangkan perhatian benar,” tambahnya.

Setiap goresan pun menjadi pengingat bahwa sebagai anak, selalu ada ruang untuk memperbaiki diri, berkembang, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Mengukir Kata Bakti dengan Hati
Makna menyalin sutra dirasakan berbeda oleh setiap peserta. Bagi Angelia Octavia, kegiatan tersebut membawanya kembali pada pengalaman masa lalu.

“Setiap kali selesai menggores aksara ini, saya ikut membaca kembali arti dari sutra itu. Pada bagian penderitaan orang tua dan kesalahan seorang anak, saya menyadari bahwa hal-hal yang dulu pernah saya lakukan di masa muda, tanpa disadari, pernah melukai hati orang tua saya,” tutur Angelia. Bagi Angelia, setiap aksara menjadi pengingat untuk lebih menghargai pengorbanan orang tua.

Setiap kali selesai menggoreskan aksara ini,  Angelia Octavia (paling kiri) ikut membaca kembali arti dari sutra itu.

Hal serupa dirasakan Lifhi Joto (58). Saat menyalin dan memahami makna Sutra Bakti Seorang Anak, ia teringat akan berbagai kesalahan yang pernah dilakukan terhadap orang tuanya. “Pernah menjadi seorang anak, melakukan banyak kesalahan tanpa sengaja. Ingin lebih berbakti, tetapi sudah terlambat; orang tua sudah tiada,” ungkapnya.

Kini, setelah menjadi orang tua, Lifhi mulai memahami perasaan orang tua yang dahulu mungkin belum ia mengerti. “Betapa susahnya orang tua dulu membesarkan kita, tetapi kita suka membantah mereka. Sekarang kita telah menjadi orang tua. Terkadang dapat merasakan kesedihan orang tua ketika melihat anak saya membantah,” ujarnya.

Di antara kesunyian dan goresan aksara yang perlahan memenuhi kertas, para peserta tidak hanya sedang menyalin sebuah sutra. Mereka sedang membaca kembali perjalanan hidup, mengenang kasih sayang orang tua, sekaligus bercermin pada diri sendiri.

Sebab setiap goresan yang dilakukan dengan kesadaran dapat menjadi pengingat bahwa berbakti bukan hanya sebuah kewajiban, melainkan bentuk penghargaan atas kehidupan dan kasih yang telah lebih dahulu diberikan.

“Bulan ini kita juga menggaungkan pandangan yang benar dan keyakinan yang benar melalui pelestarian lingkungan serta pola hidup vegetarian. Namun, kalau berbakti adalah nilai yang ingin kita kedepankan di bulan ini,” tutup Hendry.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Polri dan Tzu Chi Peduli Sesama

Polri dan Tzu Chi Peduli Sesama

03 Juli 2018
Menyambut HUT Bhayangkara ke-72 yang jatuh pada 1 Juli 2018, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Kepri, Polri Satgas Nusantara dan TIMA (Tzu Chi Internasional Medical Association) Indonesia bekerja sama menyelenggarakan Baksos Kesehatan Operasi.
Bersungguh Hati Mendalami Ajaran Jing Si

Bersungguh Hati Mendalami Ajaran Jing Si

19 Juni 2018
Para relawan Tzu Chi Batam bersama-sama menyalin Sutra Makna Tanpa Batas yang merupakan sumber Ajaran Jing Si. Peserta yang ikut serta dalam Kelas Menyalin Sutra mencapai 95 orang.
Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai, Bakti Jangan Ditunda

Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai, Bakti Jangan Ditunda

27 Agustus 2026

Relawan Tzu Chi He Qi Jakarta Pusat mengikuti Kelas Menyalin Sutra Bakti Seorang Anak. Kegiatan ini menjadi ruang bagi relawan untuk mengenang orang tua, memahami makna bakti, dan meneruskan kasih melalui kebajikan.

Walau berada di pihak yang benar, hendaknya tetap bersikap ramah dan bisa memaafkan orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -