Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai, Bakti Jangan Ditunda

Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Pusat), Fotografer : Rosy Velly Salim, Susi C (He Qi Pusat)

Rholea Phiartiany (paling kanan) dan Willani Oktaviyani (tengah) mengikuti kegiatan menyalin Sutra Bakti Seorang Anak. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para relawan untuk mengenang orang tua sekaligus merenungkan kembali makna bakti dalam kehidupan.

Menyalin Sutra Bakti Seorang Anak menjadi sarana bagi relawan Tzu Chi He Qi Jakarta Pusat untuk kembali merenungkan arti bakti kepada orang tua. Kegiatan yang digelar dalam dua sesi pada 16 dan 22 Agustus 2026 ini diikuti total 109 relawan di Ruangan Fu Hui, Depo Pelestarian Lingkungan Pangeran Jayakarta.

Sesi pertama diikuti 62 relawan, sedangkan sesi kedua diikuti 47 relawan. Selain menyalin Sutra, para relawan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengenang orang tua, mengingat kembali nasihat yang pernah diterima, serta merefleksikan hubungan dengan keluarga.

Bagi Willani Oktaviyani, kegiatan ini memiliki arti khusus karena pelaksanaannya bertepatan dengan tanggal wafat sang ibu. Mengikuti kelas menyalin Sutra Bakti Seorang Anak menjadi salah satu caranya untuk mengenang sosok yang memiliki peran besar dalam kehidupannya.

“Kasih sayang orang tua seluas samudra, seluas dunia,” demikian pemahaman yang ia rasakan dari Sutra Bakti Seorang Anak.

Sebagai anak kelima sekaligus bungsu, Willani memiliki kedekatan yang kuat dengan ibunya. Sejak kecil hingga sang ibu berpulang, ia terbiasa tidur bersama ibunya. Sang ibu juga menjadi sosok yang banyak mengajarinya tentang spiritualitas, kehidupan, keuangan, dan cara memandang dunia.

Salah satu pesan ibunya yang masih diingat Willani hingga kini adalah, “Kamu boleh terbang ke mana pun, belajar apa pun, sebebas-bebasnya. Yang penting kamu tetap tahu akarmu di mana.”

Nilai tersebut kemudian ia terapkan dalam kehidupannya, termasuk melalui kegiatan kebajikan di Tzu Chi. Membantu di dapur, bersumbangsih, melayani sesama, dan mengikuti kegiatan menyalin Sutra Bakti Seorang Anak menjadi bagian dari upayanya melanjutkan nilai baik yang diajarkan sang ibu.

Suasana kegiatan menyalin Sutra Bakti Seorang Anak yang berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Para relawan mengikuti proses menyalin sutra dengan tenang sambil merenungkan kembali kasih, pengorbanan, dan nilai-nilai yang telah diajarkan orang tua.

Pengalaman kehilangan juga membuat Willani menyadari pentingnya menghargai orang tua ketika masih memiliki kesempatan. Ia mengingat sebuah kejadian ketika masih duduk di sekolah dasar, saat perkataannya membuat sang ibu menangis. Sejak saat itu, ia berusaha lebih menjaga ucapan hingga akhir hayat ibunya. “Berbakti kepada orang tua selagi masih ada jangan disia-siakan,” ungkapnya.

Setelah ibunya meninggal, Willani sempat larut dalam kesedihan hingga pekerjaan dan kuliahnya terhenti. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun, ia merasa terlalu fokus pada kerinduannya kepada ibu hingga kurang memperhatikan ayah yang masih berada di sisinya. Beberapa waktu lalu, ia pulang dan meminta maaf kepada ayahnya. Pengalaman tersebut menjadi pengingat baginya untuk lebih hadir dan memberikan perhatian kepada orang tua selama masih ada kesempatan.

Kasih kepada Orang Tua Diteruskan melalui Kebajikan
Pengalaman kehilangan ibu juga dirasakan Rholea Phiartiany. Melalui kegiatan menyalin Sutra Bakti Seorang Anak, ia kembali memahami bahwa kasih kepada orang tua tidak berhenti pada hubungan darah. Ketika orang tua kandung telah tiada, menurutnya, perhatian dan kasih sayang tetap dapat diberikan kepada orang tua lain di sekitar.

“Kasih sayang orang tua tidak akan berhenti kepada anaknya. Meskipun mereka sudah tidak ada, kasih sayang mereka tetap ada dan kita bisa mengenangnya dengan berbuat kebajikan,” tuturnya.

Rholea juga melihat kesibukan sebagai orang dewasa dapat mengurangi waktu bersama keluarga. Karena itu, ia berusaha menjaga komunikasi dengan keluarga melalui telepon dan meluangkan waktu untuk berkumpul pada akhir pekan. Baginya, bakti tidak selalu diwujudkan melalui hal besar. Meluangkan waktu, menelepon, mendengarkan, dan hadir ketika keluarga membutuhkan merupakan bentuk perhatian yang dapat dilakukan sehari-hari.

Fawwaz Diva Qatarino (Tzu Ching; paling kiri) mengikuti kegiatan menyalin Sutra Bakti Seorang Anak. Melalui kegiatan ini, ia kembali merenungkan cara menunjukkan bakti kepada orang tua meskipun sedang berada jauh dari keluarga.

Sementara itu, Fawwaz Diva Qatarino mengikuti kegiatan ini sebagai cara untuk mengungkapkan kerinduannya kepada orang tua yang berada di Medan. Sebagai mahasiswa yang sedang merantau, ia tidak dapat selalu hadir secara langsung bersama keluarga. Namun, jarak tidak membuatnya berhenti menunjukkan bakti. Ia belajar bahwa perhatian kepada orang tua dapat diwujudkan melalui perbuatan dan cara berkomunikasi.

Fawwaz menyadari bahwa perbedaan sudut pandang antara anak dan orang tua terkadang dapat menimbulkan perdebatan. Karena itu, ia berusaha untuk tidak langsung membantah, melainkan mendengarkan terlebih dahulu, memahami maksud orang tua, kemudian menyampaikan pendapat dengan lebih tenang.

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia juga berusaha menjadi penghubung antara orang tua dan adik-adiknya. Ketika sang ibu khawatir karena adiknya pulang sore setelah mengikuti kegiatan sekolah, misalnya, Fawwaz berusaha memahami kekhawatiran ibunya sekaligus mendengarkan kondisi sang adik.

Baginya, menjadi kakak yang mau mendengarkan, mengayomi, dan menjadi tempat berbagi cerita juga merupakan bentuk bakti. Nasihat orang tuanya untuk tidak berbuat buruk kepada orang lain dan tetap berbuat baik juga terus ia pegang.

Sepuluh Tahun Merawat Ibu
Pengalaman berbeda dialami Fennela Nalasetya. Selama sekitar sepuluh tahun merawat ibunya yang sakit, ia mendapatkan banyak pelajaran mengenai kesabaran dan kepedulian.

Sebagai PIC kegiatan Sutra Bakti Seorang Anak, Fennela bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut sekaligus kembali mengingat perjalanan bersama kedua orang tuanya. Ketika sang ibu sakit hingga akhirnya berpulang, delapan bersaudara berbagi tugas untuk memenuhi berbagai kebutuhan sang ibu, mulai dari menyiapkan konsumsi, mencuci, menemani, hingga merawatnya.

Fennela Nalasetya memandu para peserta Kelas Menyalin Sutra Bakti Seorang Anak membacakan secara serempak kata perenungan Master Cheng Yen, “Ada dua hal yang tidak dapat ditunda, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebaikan”. Kata perenungan tersebut menjadi pengingat bagi para peserta untuk menghargai kesempatan berbakti dan terus melakukan kebajikan.

Menurut Fennela, kekompakan dalam keluarga tersebut merupakan hasil dari teladan kedua orang tua. Ayahnya pernah menempuh perjalanan jauh ketika orang tuanya sakit, sementara ibunya juga menunjukkan kepedulian kepada keluarga, termasuk keluarga dari pihak suami.

Selama merawat ibunya, Fennela merasa mendapatkan pelajaran yang lebih berharga daripada materi. Ia belajar menjadi lebih sabar, telaten, penuh kasih, memahami kebutuhan orang lain, serta mengendalikan ucapan, pikiran, dan ekspresi wajah. Duo yong xin (menggunakan hati dengan sungguh-sungguh) menjadi salah satu pembelajaran yang ia rasakan dalam merawat ibunya.

Pengalaman tersebut juga mengajarkannya untuk tidak membiarkan persoalan dalam keluarga berlarut-larut. Ketika ada masalah yang perlu dibicarakan, komunikasi perlu dibuka. Begitu pula ketika orang tua membutuhkan, kehadiran anak menjadi hal yang penting.

Kisah para relawan menunjukkan beragam cara memaknai bakti, mulai dari mengenang orang tua yang telah tiada, memperbaiki penyesalan, memahami orang tua, hingga tetap menunjukkan perhatian meski berjauhan.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai, Bakti Jangan Ditunda

Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai, Bakti Jangan Ditunda

27 Agustus 2026

Relawan Tzu Chi He Qi Jakarta Pusat mengikuti Kelas Menyalin Sutra Bakti Seorang Anak. Kegiatan ini menjadi ruang bagi relawan untuk mengenang orang tua, memahami makna bakti, dan meneruskan kasih melalui kebajikan.

Melawan Kesulitan Menyalin Sutra

Melawan Kesulitan Menyalin Sutra

09 November 2023

Tzu Chi Batam mengajak para relawan untuk menyelami Sutra Makna Tanpa Batas yang merupakan intisari dari Ajaran Jing Si dan Mazhab Tzu Chi, salah satunya melalui kelas menyalin Sutra. 

Mengukir Makna Bakti dalam Goresan Pena

Mengukir Makna Bakti dalam Goresan Pena

20 Agustus 2026

Melalui kegiatan menyalin sutra, 29 peserta dari relawan Tzu Chi dan masyarakat umum diajak merenungkan kembali besarnya pengorbanan orang tua, khususnya perjuangan seorang ibu sejak mengandung hingga membesarkan anak.

Beramal bukanlah hak khusus orang kaya, melainkan wujud kasih sayang semua orang yang penuh ketulusan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -