Merajut Cinta Kasih, Mewujudkan Tzu Chi School Batam

Jurnalis : Rizky Afifah (Tzu Chi Batam), Fotografer : Andy Tan, Jenny Agusri, Supardi (Tzu Chi Batam)

Dalam perayaan festival tersebut, kebahagiaan terpancar dari salah satu customer yang mengunjungi booth Tzu Chi untuk membeli Kue Bulan.

Festival Kue Bulan atau Mid-Autumn bukan hanya sekadar perayaan budaya. Dalam tradisi Tionghoa, bentuk bulan yang bulat melambangkan arti berkumpul dan bersatunya keluarga. Momen ini, menjadi waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menikmati hasil panen, serta mengungkapkan rasa syukur atas berkah yang diterima. Di dalamnya juga terdapat doa dan harapan akan kehidupan yang lebih baik, kesejahteraan, dan keharmonisan keluarga.

Setiap tahun, para relawan Tzu Chi Batam turut merayakan Festival Kue Bulan melalui Pekan Amal Kue BulanCinta Kasih. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan budaya tradisional Tionghoa kepada generasi muda, tetapi juga menjadi bagian dari Misi Budaya dan Misi Pendidikan Tzu Chi.

Tim Kerajinan Tangan Tzu Chi Batam juga tampak semangat memeriahkan pekan amal dengan memasarkan produk dari limbah tekstil.

Tahun ini, perayaan tersebut memiliki makna yang semakin khusus. Di tengah upaya penggalangan dana yang dilakukan relawan Tzu Chi untuk pembangunan Tzu Chi School Batam di kawasan Tanjung Uma, Festival Kue Bulan menjadi momentum untuk merajut kebersamaan menjadi cinta kasih dan harapan bagi pendidikan generasi mendatang.

Mewariskan Festival Kue Bulan
Pekan Amal Kue Bulan Cinta Kasih diselenggarakan relawan Tzu Chi di dua pusat perbelanjaan yaitu Batam City Square (BCS) Mall pada 17–24 September 2026 dan Grand Batam (GB) Mall pada 21–24 September 2026. Selain menjual berbagai varian kue bulan, masyarakat juga dapat menemukan berbagai produk hasil daur ulang yang dilakukan oleh relawan Tzu Chi, buku-buku Jing Si, serta produk Daai Tech. Suasana dalam festival tersebut semakin meriah, dengan beragam pertunjukan bernuansa Tionghoa, seperti isyarat tangan, nyanyian, tarian tradisional, Tai Chi/Qi Gong/Wu Shu, kaligralif dan permainan Guzheng.

Bagi sebagian masyarakat, membeli kue bulan Tzu Chi telah menjadi tradisi tahunan. Salah satunya Ibu Rina, yang setiap tahun selalu menyempatkan diri membeli kue bulan Tzu Chi. “Mooncake di Tzu Chi itu jauh lebih enak, lebih bersih, dan karena variannya vegetarian, jadi semuanya enak. Yang paling best itu rasa durian, karena Queena bilang rasa durian enak banget,” tuturnya.

Saji teh juga ditampilkan dalam Festival Kue Bulan tersebut oleh salah satu relawan Tzu Chi, Hellen Iskandar lewat kelembutannya dalam menjelaskan dan mempraktikannya kepada para pengunjung.

Bersatu Hati Mewujudkan Tzu Chi School Batam
Di tengah suasana yang hangat, para relawan tidak hanya bertugas di stan penjualan. Sebagian dari mereka turut menggalang dana untuk pembangunan Tzu Chi School melalui stan donasi maupun dengan berkeliling membawa celengan bambu.

Alexis, salah satu Tzu Shao (siswa kelas Budi Pekerti) yang ikut berkeliling, pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus pembelajaran. Rasa takutnya perlahan berkurang karena ia berkeliling bersama relawan lainnya.

“Awalnya saya malu saat harus berkeliling karena saya memang orangnya introvert, Tapi karena ditemani, jadi tidak terlalu malu,” ungkap Alexis.

Ada satu kejadian yang kemudian membekas dalam ingatannya. Saat sedang berkeliling, tiba-tiba seorang bapak datang menghampirinyadari belakang dan memasukkan uang ke dalam celengan bambu yang dibawanya. Hal tersebut sontak membuat Alexis terkejut sekaligus terharu. Baginya, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa cinta kasih dapat hadir melalui berbagai cara.

“Terima kasih banyak kepada mereka yang sudah menyumbang untuk pembangunan Tzu Chi School. Sekecil apa pun yang disumbangkan sangat berarti. Semoga dengan pembangunan Tzu Chi School dapat tercipta banyak anak yang hebat dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

Dengan cinta kasih, relawan Tzu Chi, Lindawaty (kiri dua) dan Alexis (kanan satu) mengelilingi pusat pembelajanaan melakukan penggalangan dana untuk pembangunan Tzu Chi School Batam.


Semangat serupa juga dirasakan salah satu relawan Tzu Chi, Lindawaty yang mendampingi dan memberikan keteladan bagi para murid saat menggalang dana. Bagi relawan yang bertugas di stan penggalangan dana, mengajak masyarakat ikut berdonasi memberikan kebahagiaan tersendiri.

“Senang sekali karena kita bisa melakukan kebaikan dengan menggalang dana untuk pembangunan sekolah. Rasanya bahagia banget karena untuk membangun sebuah sekolah dibutuhkan hati yang baik dari semua orang,” ucap Lindawaty.

Bebagai penampilan dengan nuansa Tionghoa hadir memeriahkan acara itu, diantaranya Kaligrafi, Wu Shu, tarian tradisional dan Guzheng.

Kegiatan ini, bukan hanya wadah bagi masyarakat untuk bersumbangsih lewat pembelian kue bulan dan produk lainnya, tetapi juga momen untuk menanam sebuah harapan untuk tumbuhnya sebuah sarana pendidikan yang nantinya kelak menjadi tempat untuk anak-anak belajar, berkembang, dan membangun karakter.

Pembangunan Tzu Chi School menunjukkan bahwa sebuah sekolah bukan hanya dibangun dengan batu dan semen, tetapi juga dengan kepedulian, ketulusan, dan cinta kasih banyak orang. Seperti semangat yang terus diwariskan dalam pendidikan Tzu Chi, pendidikan memiliki awal, tetapi tidak memiliki akhir. Selama masih ada generasi muda yang perlu dibimbing, cinta kasih dan pendidikan akan terus menjadi benih yang ditanam untuk masa depan yang lebih baik.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Festival Kue Bulan

Festival Kue Bulan

23 September 2011 Pembuatan kue bulan yang diolah di tempat tersebut dapat menjadi tontonan para pengunjung Mal. Di angkat menjadi event pariwisata Batam tentu sangat membanggakan Tzu Chi Batam, namun ini juga sebenarnya menjadi tantangan untuk berbuat lebih baik.
Kerinduan Akan Bazar Kue Bulan yang Terobati

Kerinduan Akan Bazar Kue Bulan yang Terobati

21 September 2021

Bazar Kue Bulan Cinta Kasih yang sudah terlewatkan satu tahun karena pandemi, tahun ini kembali diadakan di Aula Jing Si Batam, 16 - 20 September 2021.

Kue Bulan Cinta Kasih

Kue Bulan Cinta Kasih

01 Oktober 2012 Dengan semangat para relawan, kue bulan yang di bazaar terjual habis dan keesokan harinya juga terjual habis. Pada hari ketiga dan keempat relawan hanya menerima pesanaan dari relawan dan donatur-donatur yang sudah dipesan hari sebelumnya.
Saat membantu orang lain, yang paling banyak memperoleh keuntungan abadi adalah diri kita sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -