Relawan Tzu Chi menyambut penerima bantuan dengan penuh kehangatan dan sukacita.
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Tidak terasa, satu bulan telah dilewati dan tiba saatnya para penerima bantuan kembali berkumpul bersama relawan. Dengan penuh sukacita, relawan Tzu Chi Medan Komunitas Hu Ai Petisah mengadakan kegiatan menyambut kepulangan penerima bantuan Tzu Chi (Gan En Hu), pada Minggu, 1 November 2026 yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Medan.
Sebanyak 59 peserta yang terdiri dari penerima bantuan rutin serta bantuan pendidikan, dan para pendamping turut hadir dalam kegiatan tersebut yang langsung mendapat sambutan hangat dari para relawan Tzu Chi.
Acara dipandu oleh Julya selaku pembawa acara (MC), diawali dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen. Selanjutnya, seluruh peserta menyaksikan video Master Cheng Yen Bercerita berjudul Pria Miskin dan Permatanya.
Dari kisah itu mengingatkan bahwa setiap manusia sesungguhnya memiliki permata berharga di dalam dirinya, yaitu kebijaksanaan, hati nurani, dan hakikat kebuddhaan. Namun, karena tidak menyadari potensi yang dimiliki, manusia sering kali sibuk mencari kebahagiaan dan kekayaan dari luar dirinya.

Salah satu orang tua penerima bantuan Pendidikan, Widiyanto. Ia menceritakan kesan batin nyayang dirasakannya setelah melihat tayangan ceramah Master Cheng Yen.
Salah satu orang tua anak asuh Tzu Chi, Widiyanto, tergerak untuk berbagi pengalaman setelah menyaksikan video Master Cheng Yen Bercerita. Dengan penuh ketulusan, ia menyampaikan bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun, terkadang manusia belum menyadari potensi yang dimilikinya.
“Setelah melihat video tersebut, saya merasa bahwa setelah anak saya mendapatkan bantuan pendidikan dari Tzu Chi, saya sebagai orang tua juga tidak boleh bermalas-malasan. Justru sebaliknya, setelah mendapatkan bantuan, saya harus lebih giat lagi bekerja agar dapat mencukupi kebutuhan keluarga,” ungkap Widiyanto.
Setelah itu, para peserta diberikan kesempatan untuk memilih kegiatan sesuai minat masing-masing. Sebagian mengikuti kegiatan pemilahan barang daur ulang di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, dan mengikuti kelas merajut.
Kebahagiaan serupa juga dirasakan oleh Lely, salah seorang penerima bantuan Tzu Chi yang mengikuti kelas merajut. Ia merasa senang dan bangga karena mendapatkan kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru.
“Saya merasa bersyukur karena masih bisa memperoleh keterampilan di usia lanjut. Saya akan terus bersemangat untuk belajar meskipun banyak hal sulit yang saya hadapi. Harapan saya, keterampilan ini kelak dapat menghasilkan karya yang bernilai ekonomi dan bisa saya bagikan kepada orang lain,” tutur Lely dengan penuh semangat.
Kepulangan Para GEH
Kepulangan penerima bantuan rutin dilaksanakan setiap bulan, hal ini bukan sekadar agenda pertemuan, melainkan menjadi kesempatan bagi relawan untuk terus menjalin jodoh baik serta mempererat hubungan kekeluargaan dengan para penerima bantuan.
Ketika seseorang menerima bantuan, bukan berarti perhatian berhenti sampai di situ. Justru setelah bantuan diberikan, hubungan kemanusiaan perlu terus dijaga dan dipupuk. Melalui pertemuan ini, para penerima bantuan memiliki kesempatan untuk berkumpul, berbagi cerita, mendapatkan perhatian, serta merasakan bahwa masih ada orang-orang yang peduli dan bersedia berjalan bersama mereka.
Ryan Reynaldi Limawan dan Yutanni didampingi relawan senior Tzu Chi membagikan makan siang kepada penerima bantuan.
Sejalan dengan Misi Amal Tzu Chi, membantu bukan hanya memberikan sesuatu yang dibutuhkan secara materi, tetapi juga menghadirkan perhatian, kehangatan, dan kekuatan batin bagi sesama.
Makna tersebut turut dirasakan oleh relawan Tzu Chi, Ryan Reynaldi Limawan dan Yutanni, untuk pertama kalinya mereka mengikuti kegiatan kepulangan penerima bantuan. Bagi mereka, pengalaman ini menjadi kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat kehidupan para penerima bantuan sekaligus memahami makna bersumbangsih dalam keluarga besar Tzu Chi.
Rasa senang dalam mengikuti kegiatan itu juga dirasakan relawan Tzu Chi, Baginya, momen yang paling menyentuh hati adalah ketika melihat ketegaran para penerima bantuan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Momen yang paling menyentuh hati saya adalah ketika melihat ketegaran para penerima bantuan dalam menghadapi kehidupan. Di tengah berbagai tantangan yang mungkin mereka alami, masih terpancar senyuman dan semangat untuk menjalani hari. Pengalaman mereka menjadi pembelajaran berharga bagi saya untuk lebih peduli dan peka terhadap keadaan sesama,” ungkap Yutanni dengan tulus.
Lely salah satu penerima bantuan tzu chi dengan penuh semangat mengikuti kelas merajut.
Sementara itu, Ryan Reynaldi Limawan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat para penerima bantuan berkumpul dan berinteraksi satu sama lain. Ia menyadari bahwa kegiatan ini bukan sekadar tempat untuk berkumpul, melainkan telah menjadi ruang kebersamaan.
“Melalui beberapa rangkaian acara, mereka diberikan ruang untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang mungkin selama ini belum disadari. Bagi saya, hal ini sangat luar biasa. Mereka tidak hanya memperoleh keterampilan dan pengetahuan baru, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menyadari bahwa diri mereka tetap memiliki kemampuan, potensi, dan peran dalam kehidupan bermasyarakat,” tutur Ryan.
Koordinator kegiatan, Siswanto Tam, menyampaikan harapannya agar kepulangan penerima bantuan yang rutin dilaksanakan setiap bulan dapat terus menjadi jembatan untuk menjalin hubungan yang lebih erat antara relawan dan penerima bantuan.
“Ada satu hal yang juga sangat relawan harapkan, yaitu ketika suatu hari kondisi kehidupan mereka sudah lebih baik, mereka dapat meneruskan cinta kasih yang pernah diterima kepada orang lain yang membutuhkan. Tidak harus dalam bentuk materi. Bisa melalui perhatian, kepedulian, tenaga, ataupun hal-hal sederhana yang dapat dilakukan sesuai kemampuannya masing-masing,” ungkap Siswanto dengan penuh harapan.
Relawan dengan penuh perhatian mendampingi penerima bantuan untuk melakukan pemilahan daur ulang di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan.
Pada akhirnya, kepulangan penerima bantuan diharapkan bukan hanya menjadi kegiatan yang dinantikan setiap bulan, tetapi juga menjadi tempat setiap orang merasakan bahwa dirinya berharga, diperhatikan, dan tidak pernah kehilangan harapan. Sebab, dalam kehidupan ini, mungkin tidak semua kesulitan dapat kita selesaikan. Namun, setidaknya kita dapat memilih untuk tidak membiarkan seseorang menghadapi kesulitannya seorang diri.
Seperti Kata Perenungan Master Cheng Yen, “Cinta kasih tidak cukup hanya ada di dalam hati saja, tetapi juga harus diwujudkan dalam perilaku.” Melalui pertemuan sederhana yang dipenuhi perhatian dan kebersamaan ini, cinta kasih tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari