Meringankan Derita Korban Banjir

Jurnalis : Sinta Febriyani (Tzu Chi Bandung), Fotografer : Sinta Febriyani, Ali Handisanjaya (Tzu Chi Bandung)
 
 

fotoMelihat penderitaan dan khawatir akan kondisi kesehatan para korban banjir di Dayeuh Kolot dan Baleendah yang semakin menurun, Tzu Chi Kantor Perwakilan Bandung bekerja sama dengan Kodam III Siliwangi mengadakan baksos pengobatan.

Musim penghujan yang diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga Maret  2010, mengukir cerita tidak menyenangkan bagi warga yang tinggal di Kabupaten Bandung, terutama bagi masyarakat yang tinggal di dekat sungai Citarum dan Cikapundung. Salah satunya adalah warga Baleendah dan Dayeuh Kolot.

Ketika curah hujan tinggi, dipastikan air sungai meluap hingga membanjiri rumah-rumah warga. Daerah yang mengalami banjir yang parah diantaranya adalah Cieunteung dan Andir yang berada di kawasan Baleendah.

Ketinggian banjir pun dapat berubah seiring dengan tingginya curah hujan, yakni antara 30cm-2m. Akibat banjir tersebut, selain merendam rumah-rumah warga juga membuat sekitar 15 ribu jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang tidak terjangkau oleh luapan air sungai.

Mengungsi Karena Banjir
Melihat derita yang mendera masyarakat Dayeuh Kolot dan Baleendah yang sampai saat ini masih dilanda bencana, dan dikhawatirkan kondisi kesehatan para warganya semakin menurun karena tinggal di lingkungan yang tidak sehat, maka relawan Tzu Chi terus memantau keadaan dengan rutin mengirimkan bantuan, serta merasa perlu mengadakan baksos pengobatan bagi para korban banjir.

Minggu, 21 Februari 2010, akhirnya Tzu Chi Bandung memutuskan untuk mengadakan baksos pengobatan umum yang dilaksanakan di lapangan Zipur B, Kecamatan Dayeuh Kolot pada pukul 08.00-13.00.

Baksos  pengobatan yang melibatkan 98 relawan Tzu Chi serta 27 tenaga medis dari Tzu Chi dan Kodam III/ Siliwangi ini menangani 1.059 pasien yang merupakan korban banjir dari daerah Dayeuh Kolot dan Baleendah. Mereka yang berobat, ada yang datang dari sekitar Batalion Zipur B yang juga dijadikan tempat pengungsian, pengungsian di luar Zipur, serta ada pula yang datang langsung dari tempat tinggalnya yang terendam air.

Meringankan Derita Korban Banjir
Hari itu, Sri Amiati (37), Warga Bojong Asih, Desa Dayeuh Kolot, Kec. Dayeuh Kolot Rt 1/ Rw 4  datang ke tempat baksos Tzu Chi diajak oleh para tetangganya yang juga datang untuk berobat gratis. Berbeda dengan warga lain yang setuju untuk direlokasi sementara ke tempat pengungsian, keluarga Sri memilih untuk tetap bertahan di rumah mereka. “Kami sudah tiga minggu kebanjiran. Kalau ngungsi harus banyak duit,” jelas Sri yang membawa serta 3 dari 4 anaknya untuk berobat.

Untuk datang ke tempat pelaksanaan baksos, Sri dan para tetangganya itu, menaiki perahu sewaan yang dibayar secara patungan. ”Di rumah saya banjirnya setinggi dada orang dewasa, jadi kalau mau keluar harus pakai perahu, tadi juga ke sini naik perahu ramai-ramai, kasihan anak-anak saya, sudah beberapa hari demam, tadinya cuma satu orang yang sakit, lama-lama semua ketularan, suami saya juga nggak bisa datang berobat ke sini karena tidak kuat pergi,” keluh Sri yang terus meninabobokan Satria, putra bungsunya dalam pangkuannya.

foto  foto

Ket : - Setelah diperiksa, ternyata salah satu anak didiagnosa terjangkit demam berdarah dan disarankan               untuk segera berobat ke rumah sakit. (kiri)
          - Dengan penuh perhatian, para relawan Tzu Chi dan Kodam III/ Siliwangi membantu dan mendampingi             para pasien menjalani pengobatan. (kanan)

Setelah diperiksa, ternyata salah satu dari anak Sri terjangkit demam berdarah. Dikarenakan trombositnya turun, si anak pun menderita mimisan. Dokter yang menangani, menganjurkan Sri dan keluarganya untuk segera berobat ke rumah sakit karena dikhawatirkan, anggota yang lain pun terjangkit penyakit yang sama. “Pulang dari sini saya mau ke rumah dulu, ajak suami periksa ke rumah sakit. Saya sangat berterima kasih kepada semuanya,” ujarnya dengan penuh haru.

Sama halnya dengan keluarga Sri, pasangan suami istri M. Saleh dan Entin, warga Deyeuh Kolot Rt 1/ Rw 6, membawa serta keluarga kecil mereka untuk berobat. Saleh yang mengetahui baksos karena mengungsi di Zipur, langsung berinisiatif membawa keluarganya, apalagi kedua putra kembar mereka yang masih berusia 18 bulan, yakni Raflan dan Rahli, sudah seminggu ini menderita batuk dan pilek. Keluarga ini begitu bersyukur karena bisa mendapat pertolongan pengobatan dari Tzu Chi.

Pasien yang telah diperiksa, selain mendapatkan obat secara gratis, mereka pun dibekali dengan roti dan air mineral. Bagi anak-anak balita para relawan Tzu Chi juga sudah menyiapkan biskuit untuk mereka, agar tidak kekurangan makanan. Bentuk perhatian ini, ternyata membuat para pasien yang datang tersenyum bahagia, karena di tengah bencana ini, masih ada orang-orang yang memperhatikan mereka.

foto  foto

Ket : - Anak-anak, orang dewasa, dan lansia yang datang berobat diterima dengan hangat dan baik. (kiri)                  - Pasien yang telah diperiksa, selain mendapat obat secara gratis, mereka pun mendapatkan makanan             dan minuman.  (kanan)       

Saran Berharga Bagi Para Pasien
Dokter Yanti, tenaga medis yang membantu pelaksanaan baksos berujar, hal pertama yang harus diperhatikan oleh para pengungsi adalah bagaimana menjaga kesehatannya  saat bencana seperti ini, terlebih banyak penyakit yang bermunculan di saat banjir. Umumnya, pasien yang berobat menderita batuk dan pilek. Dokter yang rutin membantu kegiatan baksos Tzu Chi ini pun memberi saran-saran positif kepada para pasien yang ditanganinya agar lebih peduli pada lingkungan.

Selain menangani pasien dengan kasus umum seperti menderita demam, batuk-pilek, gatal-gatal, dan diare, pada baksos ini pun terdapat 6 kasus khusus yang mendapatkan tindakan bedah lokal dari para dokter TIMA. Pada umumnya mereka menderita luka akibat tersangkut benda tajam saat membereskan rumah. 

Kita hendaknya bersyukur meskipun berhadapan dengan kondisi yang buruk, sebab kondisi seperti itu tidak kita temui setiap saat. Bagi relawan Tzu Chi, bencana kali ini membuka mata untuk senantiasa berbagi dengan yang membutuhkan sebagai ungkapan syukur karena telah terhindar dari bencana. Sementara bagi mereka yang dilanda bencana, hal ini dapat dijadikan ladang untuk bersabar dan belajar untuk lebih peduli kepada lingkungan. Semoga cinta kasih kepada sesama manusia dan bumi ini terus menyebar agar kehidupan kita di dunia menjadi lebih bermakna.

  
 
 

Artikel Terkait

Bersatu Hati Mengikuti Jejak Langkah Master

Bersatu Hati Mengikuti Jejak Langkah Master

01 April 2014 Pada tanggal 9 Maret 2014, relawan Tzu Chi Medan mengadakan pelatihan relawan abu putih yang pertama di tahun 2014. Peserta pelatihan dengan serius mengikuti acara demi acara, dari ceramah Master Cheng Yen, sampai ke sharing setiap misi Tzu Chi dan juga tata krama Tzu Chi.
Berbagi tentang Pendidikan Budaya Humanis di Pesantren Syubbanul Wathon Magelang

Berbagi tentang Pendidikan Budaya Humanis di Pesantren Syubbanul Wathon Magelang

28 Mei 2024

Pengasuh Yayasan Syubbanul Wathon, K.H Ahmad Izzuddin Abdurahman terlihat semringah menyaksikan 30 guru yang ia tugaskan mengikuti workshop pendidikan budaya humanis Tzu Chi, semuanya bersemangat. Semuanya antusias.

Rasa Takut Kini Menjadi Senyum Kebahagiaan

Rasa Takut Kini Menjadi Senyum Kebahagiaan

31 Juli 2025

Keluarga Agus Herman akhirnya mendapat rumah layak huni. Bantuan datang melalui program Renovasi Rumah Tak Layak Huni masih terus berjalan dan menargetkan renovasi 500 rumah bagi warga berpenghasilan rendah.

Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -