Sebanyak 29 peserta mengawali rangkaian kegiatan dengan bermeditasi sejenak untuk menjernihkan batin, sebagai bentuk persiapan diri sebelum menyelami makna balas budi yang akan dituangkan melalui tulisan tangan mereka.
"Memberi orang tua uang atau makanan enak itu sudah biasa, tapi meluangkan waktu untuk benar-benar menemani mereka mengobrol adalah wujud bakti yang paling berharga."
Pesan sederhana dari Hok Lay tersebut merangkum alasan kehadiran 29 orang yang berkumpul di Ruang Kaligrafi Gedung Gan En pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Sebagian besar merupakan wajah baru yang bergabung di sesi kedua Menyalin Sutra Bakti Seorang Anak, membawa energi segar dalam perenungan bakti siang itu.
Bagi mereka yang masih memiliki orang tua, pertemuan tersebut menjadi dorongan untuk lebih sering hadir mendampingi. Sedangkan bagi yang telah kehilangan, momen ini menjadi sarana berbakti melalui doa dan kebajikan, membuktikan bahwa kasih sayang seorang anak tetap bisa mengalir melampaui batas waktu.
Memahami Kasih Sayang Universal melalui Hakikat Ullambana
Rangkaian kegiatan diawali dengan meditasi selama lima menit untuk menjernihkan batin. Keheningan ini menjadi jeda yang sangat berharga bagi para peserta untuk melepas sejenak segala beban pikiran. Begitu suasana ruangan terasa teduh, pemahaman mengenai bakti pun mulai diperdalam melalui tayangan video Master Cheng Yen Bercerita yang mengisahkan perjuangan Maha Maudgalyayana saat menolong ibunya di alam penderitaan. Kisah murid Buddha yang paling sakti ini menyadarkan setiap orang bahwa materi maupun kesaktian sekalipun tidak akan mampu menghapus hutang karma seseorang secara instan.

Melalui kisah Maudgalyayana, peserta belajar memaknai bulan ketujuh sebagai waktu penuh sukacita dan menyadari bahwa kekuatan doa serta ketulusan batin merupakan kunci utama dalam upaya memuliakan orang tua.
Hok Lay menguraikan bahwa tragedi yang dialami ibu Maudgalyayana merupakan pengingat tentang hukum sebab akibat yang nyata. Saat Maudgalyayana mencoba memberikan nasi namun makanan itu justru berubah menjadi arang, ia tersadar bahwa hanya kekuatan ketulusan kolektif yang mampu membebaskan jiwa dari belenggu karma buruk.
"Kekuatan batin atau materi tidak bisa menghapus hutang karma seseorang. Dibutuhkan ketulusan dari banyak orang yang sungguh-sungguh memperbaiki diri untuk benar-benar bisa menolong," ungkap Hok Lay saat merangkum inti sari video tersebut.
Hok Lay pun mengajak peserta meneladani kerendahan hati Maudgalyayana yang bersedia menanggalkan status agungnya demi melayani sesama guna memohon doa bagi sang ibu.
Pelajaran berharga tersebut berlanjut saat Hok Lay meluruskan pandangan yang sering keliru mengenai bulan ketujuh Imlek. Secara spiritual, bulan ini justru penuh sukacita karena lahir dari kasih sayang Buddha yang ingin melindungi semua makhluk. Hok Lay menekankan bahwa makna sejati dari Ullambana adalah menolong mereka yang menderita, namun hal itu tidak boleh dilakukan dengan cara menyakiti makhluk hidup lain melalui penyembelihan hewan.
"Kita ingin menolong yang menderita, namun kita justru membeli hewan untuk disembelih. Ini bukan menolong, melainkan sebuah bentuk penyiksaan yang kejam," tutur Hok Lay.

Hok Lay mengajak setiap peserta untuk memiliki pandangan kasih sayang universal dengan meyakini bahwa semua orang adalah keluarga kita, sehingga wujud bakti dapat dilakukan melalui kebajikan kepada sesama.
Hok Lay mengajak setiap orang untuk mulai bervegetaris sebagai wujud kasih sayang yang nyata. Baginya, bakti seorang anak tidak boleh berhenti hanya pada orang tua di rumah, melainkan harus diperluas kepada seluruh makhluk hidup. Ia meyakini bahwa setiap nyawa yang kita temui mungkin saja adalah sosok orang tua kita di kehidupan yang lalu.
"Pandanglah bahwa semua orang bisa menjadi orang tua saya dan semua orang bisa menjadi anak-anak saya. Dengan perasaan seperti itu, kita tidak akan lagi tega menyakiti makhluk hidup mana pun," tambahnya.
Kesadaran akan kasih sayang universal ini kemudian dibawa ke dalam sesi utama menyalin Sutra. Di sini, Hok Lay mengingatkan para peserta agar tidak terburu-buru dalam menulis. Baginya, setiap tarikan garis pena adalah sebuah perjalanan ke dalam batin untuk menghayati setiap barisnya ke dalam sanubari.
"Tujuannya bukan supaya cepat selesai menulis, tapi bagaimana kita meresapi isi sutra tersebut ke dalam hati kita," pesannya.
Hok Lay juga menyentuh sisi kemanusiaan para peserta dengan mengingatkan siklus kehidupan manusia, di mana seorang anak yang sering membantah, kelak akan merasakan posisi yang sama saat menjadi orang tua nanti. "Kita sebagai anak mungkin pernah membantah orang tua, tapi setelah menjadi orang tua kita juga akan mengalami hal yang sama. Apa yang kita inginkan terhadap anak belum tentu terjadi karena setiap anak memiliki jalannya sendiri," jelasnya.
Sejalan dengan pesan Hok Lay, para peserta menyalin Sutra secara perlahan guna menghayati dan mendalami setiap baris maknanya ke dalam sanubari sebagai bekal dalam mempraktikkan bakti secara nyata.
Menutup paparannya, Hok Lay berpesan bahwa bakti sejati melampaui urusan materi. Ia mengingatkan bahwa kemewahan apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan waktu yang kita luangkan untuk berada di sisi orang tua secara fisik.
"Hadir seutuhnya dan mau mendengarkan keluh kesah mereka dengan sabar adalah bentuk penghormatan yang paling dirindukan oleh orang tua di usia senja," tutur Hok Lay.
Meskipun jalan menuju kebajikan menuntut ketabahan yang luar biasa, Hok Lay meyakinkan para peserta bahwa setiap niat tulus untuk menemani orang tua adalah sebuah langkah mulia menuju pencerahan batin. "Jalan Kebuddhaan memang susah dijalani, tetapi saat ini kita semua sedang berusaha menapakinya bersama-sama," tutupnya.
Mengukir Ketulusan Hati dalam Perilaku Nyata
Keheningan di Ruang Kaligrafi perlahan berganti dengan suasana yang lebih hangat saat para peserta mulai berbagi isi hati. Troy, salah satu peserta muda yang hadir, mengawali sesi ini dengan sebuah pengakuan tulus mengenai hubungannya dengan orang tua selama ini. Ia menyadari bahwa sebagai anak, adakalanya sikap maupun perkataannya mungkin pernah melukai hati orang tua tanpa ia sengaja.
"Tadi waktu menyalin Sutra, saya jadi kepikiran. Mungkin selama ini saya sering tanpa sengaja bikin mama atau papa sakit hati, entah dari omongan yang kasar atau sikap saya," cerita Troy. Momen perenungan siang itu membuatnya sadar bahwa ia ingin memperbaiki diri. "Rasanya saya mau belajar lebih nurut sekarang. Nggak mau lagi bikin mereka sedih karena perbuatan saya," tambahnya.
Melalui goresan pena yang perlahan, seorang peserta menyalin Sutra guna mendalami setiap pesan luhur yang tertulis agar nilai kebajikan tersebut dapat meresap ke sanubari.
Tekad tulus untuk berubah tersebut bersambut dengan perasaan haru yang dirasakan oleh Dimitri. Di usianya saat ini, Dimitri merasa sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mendampingi kedua orang tuanya yang kini telah menginjak usia 80 tahun. Baginya, setiap baris aksara yang ia salin siang itu adalah pengingat bahwa waktu berjalan sangat cepat dan tidak akan pernah menunggu siapa pun.
"Kedua orang tua saya saat ini sudah berusia 80 tahun. Menulis Sutra tadi benar-benar menjadi pengingat bahwa waktu itu sangat berharga. Saya berjanji akan terus mengurus mereka dengan sebaik-baiknya selagi mereka masih ada di sisi saya," ungkap Dimitri.
Landasan untuk menjaga komitmen tersebut kemudian diperkuat oleh Youmi yang menekankan pentingnya menjaga sumber dari segala tindakan, yaitu pikiran. Melalui pemahaman sepuluh pantangan, Youmi mengajak setiap orang untuk menjaga kejernihan batin agar perilaku tetap terjaga dalam kebajikan.
"Bakti itu harus dimulai dari batin yang bersih. Saya berusaha memegang teguh sepuluh pantangan agar pikiran saya terhindar dari sifat serakah atau benci. Karena jika pikiran kotor, ucapan kita pasti kasar dan bisa melukai orang tua. Saya selalu ingat pesan Master untuk terus berbuat kebajikan agar berkah bagi keluarga tetap mengalir," tutur Youmi.
Puncak perenungan siang itu terasa semakin mendalam saat Melliza Suhartono membagikan refleksinya mengenai beratnya budi orang tua yang tidak akan pernah sanggup terbayar tuntas.
"Kalimat di Sutra tadi membuat saya merinding. Walaupun kita memikul ayah di pundak kiri dan ibu di pundak kanan sampai kulit sobek dan darah mengalir sekalipun, itu tetap belum cukup untuk membalas jasa mereka," ungkap Melliza. Meski saat ini orang tua kandungnya telah tiada, Melliza tidak membiarkan baktinya terhenti. "Meskipun papa dan mama sudah tidak ada, saya masih memiliki mertua yang akan saya urus dan sayangi sepenuh hati sebagai wujud bakti saya," tambahnya.
Bersama Auliani Gunawan, Melliza Suhartono (kanan) meresapi setiap aksara dalam naskah sutra demi memahami bahwa kesempatan untuk berbakti tetap terbuka lebar melalui ketulusan hati dalam merawat orang tua maupun mertua.
Penuturan tulus dari Melliza ini seolah merangkum seluruh pelajaran hidup yang didapatkan para peserta selama dua kali pertemuan pada tanggal 15 dan 22 Agustus 2026. Jika pada pertemuan pertama mereka diajak memahami pedihnya pengorbanan seorang ibu saat melahirkan, maka pertemuan kedua ini memberikan tuntunan tentang bagaimana cara membalas budi tersebut melalui kehadiran, perhatian, dan perubahan sikap menjadi lebih lembut di rumah.
Meskipun rangkaian kegiatan di Ruang Kaligrafi telah berakhir, praktik bakti yang sesungguhnya justru baru dimulai saat para peserta kembali ke keluarga masing-masing. Kesadaran untuk lebih peduli dan menghargai orang tua diharapkan dapat terus tumbuh dalam setiap tindakan sehari-hari. Momen ini sekaligus menjadi pengingat akan pesan bijak Master Cheng Yen, bahwa berbuat kebaikan dan memuliakan orang tua adalah dua hal utama yang tidak boleh ditunda selagi napas masih ada dan kesempatan masih terbuka luas.
Editor: Metta Wulandari