Mawie Shi Xiong menceritakan pengalaman ketika hampir terjerat kembali ke dunia sebelumnya. Namun, ada karma baik yang menariknya sehingga kini Mawie telah bergabung menjadi relawan Tzu Chi.
Tidak terasa tahun 2026 telah memasuki semester kedua. Enam bulan pertama telah dilalui dengan aman dan penuh rasa syukur. Kini saatnya melanjutkan perjalanan enam bulan berikutnya dengan tekad yang semakin kuat untuk memupuk berkah, menumbuhkan kebijaksanaan, serta terus melangkah di Jalan Bodhisatwa.
Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Belajar Bersama Jejak Langkah Master Cheng Yen yang diselenggarakan Xie Li Tirta Siak pada Jumat, 3 Juli 2026. Sejak pukul 19.00 WIB, sebanyak 25 relawan Tzu Chi berkumpul di kediaman Aminah Shi Jie untuk mengikuti pembelajaran yang rutin dilaksanakan setiap bulan.
Ada satu pemandangan yang selalu menghadirkan rasa haru setiap kali kelas ini berlangsung. Beberapa bodhisatwa lansia senantiasa datang lebih awal dengan semangat yang tidak pernah surut. Mereka mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian dan ketulusan.
Kehadiran Wismina Shi Jie yang secara konsisten merangkum seluruh materi dan sharing ke dalam bahasa Mandarin dan Hokkien menjadi jembatan yang sangat berarti bagi para laopusha. Berkat pendampingan tersebut, mereka dapat memahami ajaran yang disampaikan dengan lebih baik dan mengikuti setiap pembelajaran dengan sukacita.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh Aminah Shi Jie. Rumah baru yang baru saja ia tempati kini menjadi tempat berkumpulnya para relawan untuk belajar Dharma bersama. Baginya, rumah yang dipenuhi suara pembelajaran dan semangat kebajikan merupakan berkah tersendiri yang patut disyukuri.

Bersyukur adanya Wismina Shi Jie yang setiap pertemuannya membantu merangkum keseluruhan sharing dan materi dalam bahasa Mandarin & Hokkien untuk membantu pemahaman laopusha.
Pada pertemuan kali ini, materi yang dipelajari bertajuk "Meyakini Hukum Karma atau Sebab-Akibat." Meiliana Shi Jie membuka sesi dengan membacakan materi yang dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari para Shi Xiong dan Shi Jie.
Materi tersebut mengingatkan bahwa nafsu dan keinginan manusia pada hakikatnya tidak pernah memiliki batas. Ketika satu niat pikiran mulai menyimpang dari jalan yang benar, penyimpangan tersebut dapat melahirkan berbagai penderitaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. Dalam kondisi masyarakat yang penuh gejolak, keselamatan jiwa pun tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang pasti.
Berbagai bencana, yang disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, terus terjadi di berbagai belahan dunia. Semua itu menjadi pengingat agar manusia tidak terlena oleh rasa aman yang bersifat sementara. Keadaan yang damai hari ini bukanlah jaminan bahwa masa depan akan selalu berjalan dengan baik. Bahkan ketika kehidupan saat ini dapat dilalui dengan selamat, kerusakan Bumi yang terus terjadi akan menjadi warisan yang harus dihadapi oleh generasi berikutnya. Pada akhirnya, setiap makhluk tetap harus memikul buah karma dari sebab-sebab yang pernah diciptakannya.
Hukum karma merupakan prinsip kebenaran yang sejati. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya memiliki keyakinan terhadap hukum sebab-akibat. Kehidupan manusia tidak pernah diketahui panjang maupun pendeknya. Suatu saat nanti setiap orang akan meninggalkan kehidupan ini. Namun, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ketika jalinan sebab dan kondisi telah matang, kesadaran karma akan kembali membawa seseorang menuju kelahiran berikutnya.
Karena itu, apabila selama kehidupan ini seseorang tidak menanam berkah dan tidak menjalin jodoh baik dengan sesama, maka sebab dan kondisi yang telah diciptakan itulah yang akan menentukan perjalanan kehidupan berikutnya. Benih buruk akan menghasilkan buah yang buruk, sedangkan benih kebajikan akan melahirkan buah kebajikan. Oleh sebab itu, setiap insan hendaknya senantiasa mawas diri agar pikiran, ucapan, maupun perbuatannya tidak menyimpang dari jalan yang benar.
Materi yang dikutip dari Buletin Tzu Chi Edisi 659 dalam rubrik Jejak Langkah Master Cheng Yen tersebut kemudian diperdalam melalui sharing pengalaman nyata dari para relawan.

Aminah Shi Jie merasakan sukacita karena rumah idaman yang baru ia peroleh dapat digunakan untuk kegiatan Tzu Chi.
Salah satunya disampaikan oleh Lutiana Shi Jie. Meski bukan anggota Xie Li Tirta Siak, ajakan dari para relawan mempertemukannya dengan kelas belajar bersama ini. Bagi Lutiana, kehadiran di tengah keluarga besar Tzu Chi menjadi salah satu jalinan jodoh terbaik dalam hidupnya.
"Setiap orang pasti mempercayai hukum sebab-akibat. Dengan kondisi kesehatan saya beberapa waktu lalu, saya percaya bahwa itu merupakan buah karma dari kehidupan lampau. Namun, saya sangat bersyukur karena semua itu terjadi ketika saya sudah memiliki keluarga Tzu Chi. Dalam masa-masa sulit tersebut, saya mendapatkan doa, perhatian, dan dukungan dari keluarga Tzu Chi," ungkap Lutiana Shi Jie.
Di tengah kondisi kesehatannya yang belum sepenuhnya pulih, Lutiana tetap membangun ikrar untuk terus menapaki Jalan Bodhisatwa dan menjalankan Misi-Misi Tzu Chi dengan sepenuh hati.
Peserta lainnya, Mawie Wijaya Shi Xiong, juga mengungkapkan perasaannya.
"Saya percaya bahwa ketika karma baik akan datang, karma buruk juga bisa muncul untuk menghalangi. Sebaliknya, ketika karma buruk datang, karma baik juga dapat menjadi pelindung," tutur Mawie Wijaya.
Mawie menceritakan pengalaman hidupnya ketika hampir kembali terjerumus ke lingkungan kurang baik. Namun, berkat jalinan karma baik yang telah ditanam, ia memperoleh kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. Kini dirinya bersyukur dapat menjadi murid Master Cheng Yen dan terus melangkah di jalan kebajikan.
Suryanti dalam sharing-nya menyimpulkan bahwa hukum sebab-akibat bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk mengingatkan kita agar lebih sadar dalam setiap pikiran, ucapan, dan tindakan.
Suryanti Shi Jie juga membagikan refleksi yang menyentuh. Baginya, dapat terlahir sebagai manusia merupakan kesempatan yang sangat langka. Karena itu, ia bersyukur dapat bertemu dengan lingkungan yang baik serta memiliki jalinan jodoh dengan ajaran Master Cheng Yen.
"Tidak mudah dilahirkan sebagai manusia. Oleh sebab itu, saya sangat bersyukur berada di lingkungan yang baik dan memiliki jodoh dengan ajaran Master. Kita harus terus membangun kesadaran untuk melakukan kebajikan. Dengan kesadaran yang benar, kita dapat menanam sebab-sebab baik sehingga kelak dapat menikmati buah karma baik yang kita tanam pada kehidupan ini," ujar Suryanti Shi Jie.
Ia menambahkan bahwa hukum sebab-akibat bukanlah ajaran yang bertujuan menakut-nakuti manusia, melainkan pengingat agar setiap orang lebih berhati-hati dalam setiap pikiran, ucapan, maupun tindakan. Meskipun buah karma tidak selalu tampak secara langsung, setiap kebajikan yang dilakukan tidak akan pernah sia-sia.
"Marilah kita memulai dari hal-hal sederhana, seperti berkata dengan lembut, memiliki niat baik, dan selalu bersedia membantu sesama. Semoga kita semua dapat terus berjalan di Jalan Tzu Chi mengikuti ajaran Master Cheng Yen," ajak Suryanti Shi Jie.
Materi bulan ini adalah keyakinan akan hukum karma atau sebab-akibat. Meiliana Shi Jie memulai membacakan isi materi dan kemudian dilanjutkan dengan sharing pengalaman oleh shixiong-shijie.
Kelas Belajar Bersama Jejak Langkah Master Cheng Yen malam itu terasa begitu hangat dan penuh makna. Seluruh sharing yang disampaikan lahir dari pengalaman hidup para relawan, sehingga pembahasan mengenai hukum sebab-akibat tidak hanya dipahami sebagai sebuah teori, tetapi benar-benar dirasakan sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Menutup rangkaian pembelajaran, Kiho Shi Xiong mengajak seluruh relawan untuk terus memupuk berkah sekaligus mengembangkan kebijaksanaan. Menurutnya, setiap perbuatan baik akan menghasilkan manfaat yang lebih besar apabila dijalankan dengan kebijaksanaan. Sebaliknya, niat baik sekalipun dapat kehilangan maknanya apabila tidak disertai kebijaksanaan dalam bertindak.
Karena itu, ia mengajak seluruh relawan untuk senantiasa bersungguh hati dalam membangun ikrar, menjaga ucapan, memperbaiki pikiran, serta terus melakukan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, setiap langkah yang ditempuh akan menjadi bekal berharga untuk terus menapaki Jalan Bodhisatwa, sekaligus menghadirkan manfaat bagi diri sendiri maupun bagi semua makhluk.
Editor: Anand Yahya