Nasi Hangat Bagi Korban Banjir di Makassar

Jurnalis : Surya Metal (Tzu Chi Makassar), Fotografer : Syanny Wijaya (Tzu Chi Makassar)

Sebanyak 20 relawan Tzu Chi Makassar turun ke lokasi yang terdampak banjir di Kecamatan Manggala, Kelurahan Manggala.

Curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem dari tanggal 10 Desember 2024 hingga 24 Desember 2024 yang terjadi di Kota Makassar mengakibatkan beberapa wilayah terendam banjir dan sebanyak 1.880 jiwa mengungsi. Terlebih lagi jalan raya lebih tinggi dibandingkan rumah penduduk sehingga debit air hujan meluap ke pemukiman warga. Ada 3 wilayah Kecamatan yang terdampak banjir yaitu kecamatan Manggala, Kecamatan Tamalanrea dan Kecamatan Birikanaya. Tetapi banjir yang terparah pada tahun 2024 ini ada di Kecamatan Manggala.

Di Kecamatan Manggala sendiri tercatat 1.133 jiwa dan 304 Kepala Keluarga yang terendam banjir dan mengungsi di 14 titik pengungsian Ketinggian air pun bervariasi yang menyebabkan sebagian warga kemudian mengungsi ke rumah ibadah atau masjid sebagai posko bencana di lingkungan setempat. Ada pula yang mengungsi di rumah kerabat atau tetangga.

Posko pengungsian warga yang terdampak banjir di Masjid Raya Jabal Nur, Kecamatan Manggala.

Turut Bersumbangsih Nasi Hangat
Setelah air mulai surut, untuk membantu warga terdampak banjir di Kecamatan Manggala, Kelurahan Manggala, 20 relawan Tzu Chi Makassar pada Jumat, 26 Desember 2024 turut hadir membagikan bantuan yang disalurkan berupa 300 nasi hangat kepada warga yang tertimpa musibah banjir. Informasi ini langsung disambut baik oleh Lurah setempat dan Babhikamtimas Manggala yang langsung mengarahkan relawan untuk menuju ke lokasi posko. Relawan yang berkumpul di posko pengungsian banjir, di Masjid Raya Jabal Nur, dibagi menjadi 5 baris. Setapak demi setapak relawan melangkah sambil menjinjing 5 kontainer plastik yang berisikan nasi hangat.

Fellyati Gozali dan Go Weng Ak yang memilih membagikan bantuan di lokasi banjir yang lebih parah.

Salah satu relawan, Fellyati Gozali yang memilih membagikan bantuan di lokasi banjir yang lebih parah. “Kami harus menerjang banjir membagikan nasi dan air mineral karena mobil tidak bisa masuk ke pemukiman warga dan rumah warga yang masih tergenang walaupun air sudah perlahan surut,” ujarnya menceritakan pengalamannya. Memilih memberikan bantuan di lokasi yang lebih parah dirasa merupakan suatu pembelajaran untuknya. “Saya merasakan penderitaan warga akibat bencana banjir yang menjadi langganan tiap tahun, tetapi kali ini merupakan banjir yang terparah,” kata Fellyati.

Salah satu relawan Tzu Chi, Maria yang turut memberikan bantuan langsung ke warga merasa prihatin karena banjir yang melanda mereka merupakan bencana tahunan yang selalu dirasakan. “Sangat prihatin sekali karena ini sudah menjadi bencana setiap tahun harus menghadapi banjir, sehingga aktivitas warga menjadi terganggu. Semoga banjir segera berlalu, segera surut, masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa,” ucap Maria.

Pembagian nasi hangat kepada warga yang mengungsi di Masjid Raya Jabal Nur, Kecamatan Manggala.

Berharap Lekas Surut
Mila, korban banjir yang berada di posko pengungsian, sudah 10 hari tinggal di sana bersama suami dan dua anak balitanya. Ia menceritakan kronologi banjir yang melanda kawasan tempat tinggalnya. "Kami sudah 10 hari di sini, berharap bantuan yang paling dibutuhkan, seperti nasi hangat dan susu bayi," ujar Mila.

Mila juga berharap adanya bantuan kasur dan popok untuk kedua balitanya. "Bantuan kasur sangat dibutuhkan karena ada dua balita, dan popok juga sangat penting," lanjutnya. Selain itu, ia berharap air cepat surut agar bisa membersihkan rumah dan kembali ke tempat tinggal. "Suami juga sudah tidak bekerja selama ini karena banjir, dan kami berharap ia bisa kembali bekerja sebagai sopir di perusahaan," tutup Mila.

Kebahagian Karmilawatti menerima paket nasi hangat dan air mineral yang dibagikan untuk keluarganya.

Selain Mila, ada juga Karmilawatti, salah satu korban banjir di Kecamatan Manggala Blok 8, yang keluar dari rumahnya begitu mendengar suara relawan yang memanggilnya. Ia tersenyum bahagia menerima paket nasi hangat dan air mineral untuk keluarganya. "Terima kasih banyak, bu," ucapnya setelah menerima bantuan.

Karmilawatti yang bekerja sebagai penjual gorengan keliling sempat menangis saat menceritakan kondisi rumahnya. Air banjir sudah mencapai atap, dan ia tidak dapat menyelamatkan barang-barangnya. "Waktu hujan malam itu, saya dan keluarga bertahan di rumah. Hujan semakin deras, dan air perlahan naik hingga 2 meter. Ketika air semakin tinggi, saya mengungsi ke rumah tetangga, tapi saya tak berani ke posko pengungsian, takut barang-barang saya terbawa arus. Namun, takdir berkata lain, semua barang, termasuk kasur dan surat-surat penting, ikut terbawa air. Yang bisa saya selamatkan hanya anak-anak saya," ungkap Karmilawatti.

Kebahagian dan kegembiraan warga yang telah menerima  nasi hangat dan air mineral dari relawan Tzu Chi ditempat pengungsian Masjid Raya Jabal Nur, Kecamatan Manggala.

Seperti warga lain, Karmilawatti juga ingin banjir lekas surut sehingga ia bisa merasa lebih aman untuk tinggal di rumahnya juga bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Melihat Perjuangan Distribusi Bantuan ke Lokasi Banjir di Kutai Timur

Melihat Perjuangan Distribusi Bantuan ke Lokasi Banjir di Kutai Timur

19 Desember 2025

Ini adalah cerita perjuangan relawan Tzu Chi kala mendistribusikan bantuan ke lokasi banjir yang menimpa tiga desa di Kutai Timur, Kalimantan Timur Sabtu, 13 Desember 2025.

Kekuatan Cinta Kasih di Tengah Bencana Banjir

Kekuatan Cinta Kasih di Tengah Bencana Banjir

22 September 2020
Relawan Tzu Chi Sinar Mas Xie Li Kalimantan Tengah 1 menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir di 7 desa di wilayah Seruyan, Kalimantan Tengah. 
Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Kembali Hadir Membantu Korban Bencana di Kabupaten Bireuen

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Kembali Hadir Membantu Korban Bencana di Kabupaten Bireuen

15 Desember 2025

Penyaluran kembali bantuan untuk bencana banjir Sumatera ke 10 Titik di Kabupaten Bireuen, Pada Tanggal 09 Desember 2025 oleh komunitas Tzu Chi Banda Aceh dan Bireuen.

Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -