PAT 2025: Tzu Chi Dumai Hadirkan Harapan dan Cinta Kasih bagi Sesama

Jurnalis : Kho Ki Ho (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Kho Ki Ho, Dea Paramita (Tzu Chi Pekanbaru)

Hong Thay memberikan angpau “Berkah dan Kebijaksanaan” sebagai doa dari Master bagi para hadirin.

Yayasan Buddha Tzu Chi kembali menggelar Acara Pemberkahan Akhir Tahun di Kota Dumai yang berlangsung di Aula Kelenteng Hock Long Kiong pada 10 Januari 2026 yang dihadiri 400 orang. Para tamu yang hadir mulai dari relawan, donatur, penerima bantuan (Gan En Hu), serta masyarakat umum yang bersama-sama menutup tahun dengan doa bersama, bersyukur dan cinta kasih.

Sejak pukul 17.00 WIB, para tamu undangan di suguhi dengan makan bersama vegetarian dan menikmati berbagai stand interaktif yang disiapkan panitia. Beragam aktivitas seperti memilih kata perenungan secara acak, permainan melengkapi kata perenungan, melempar bola ke dalam keranjang, kerajinan tangan, Photobooth hingga aneka produk Jing Si, menjadi sarana refleksi sekaligus mempererat kebersamaan antar peserta.

Acara diawali dengan tayangan video kilas balik Tzu Chi Indonesia dan Tzu Chi Internasional. Kemudian, dilanjutkan dengan penampilan isyarat tangan relawan muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching) dengan lagu “Sekaranglah Saatnya” yang bermakna sekaranglah saatnya untuk kita bersumbangsih bagi mereka yang membutuhkan, genggam waktu dengan baik.

Para tamu yang hadir mulai dari relawan, donatur, penerima bantuan (Gan En Hu), serta masyarakat umum bersama-sama memanjatkan doa bersama agar dunia bebas dari bencana.

Jeffry Enderson Wakil Ketua Komunitas Tzu Chi Dumai menyampaikan laporan tahunan kegiatan komunitas. Jeffry Enderson menyampaikan sepanjang tahun 2025 Tzu Chi Dumai telah menjalankan lima misi kemanusiaan, meliputi Misi Amal, Misi Kesehatan, Misi Budaya Humanis, Pelestarian Lingkungan, dan relawan komunitas.

“Sebanyak 577 paket sembako disalurkan dalam tiga momen besar keagamaan, serta bantuan diberikan kepada 15 penerima bantuan bulanan, termasuk tujuh korban kebakaran di Kota Dumai. Selain itu, kegiatan donor darah rutin dan pemilahan sampah,” jelas Jeffry.

Jeffry menegaskan seluruh kegiatan Tzu Chi dilandasi nilai welas asih tanpa membeda-bedakan latar belakang seraya mengutip pesan Master Cheng Yen, “Genggamlah kesempatan untuk berbuat kebajikan. Jangan menunggu hingga terlambat untuk melakukannya.”

Di stan Kata Perenungan Master Cheng Yen, para hadirin boleh mengambil secara acak angka yang menunjukkan kata perenungan setelah itu merenungkan isi dari kata perenungan Master Cheng Yen ini.

Pada acara pemberkahan ini Chetrin Vaulina (30), salah satu tamu yang hadir penerima bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi berbagi kisah selama menjalani pengobatan penyakit langka yang dideritanya. Chetrin menceritakan kondisi kesehatannya sempat memburuk akibat gangguan otot langka hingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada tahun 2024. Namun, keterbatasan biaya membuat pengobatan terhenti dan ia kembali ke Riau dalam kondisi lemah.

Melalui informasi dari dokter di RSCM, Cetrin kemudian mengajukan permohonan bantuan ke Yayasan Buddha Tzu Chi. Setelah melalui proses survei dan evaluasi, Yayasan Tzu Chi memberikan pendampingan penuh, mulai dari biaya transportasi, tiket pesawat, tempat tinggal di Rumah Susun Cinta Kasih, biaya pengobatan hingga dukungan nutrisi sesuai anjuran dokter.

Chetrin mengungkapkan bantuan dari Yayasan Tzu Chi sangat berarti bagi kelangsungan hidup dan pemulihannya. “Arti bantuan yang saya terima dari Yayasan Buddha Tzu Chi itu sangat berarti. Saya tidak pernah membayangkan jika pengobatan saya terputus waktu itu, apakah saya masih bisa berdiri dan bertemu Bapak Ibu seperti sekarang ini,” ujar Chetrin dengan haru. Ia juga menambahkan bahwa pendampingan relawan selama menjalani pengobatan di Jakarta hingga terapi lanjutan di Pekanbaru sangat penuh perhatian dan perlindungan.

Ayah dari M. Gumilang, sebagai keluarga penerima bantuan Tzu Chi merasa terbantu dan perhatian dari para relawan sehingga anaknya saat ini telah sembuh.

Selain Chetrin, Yayasan Buddha Tzu Chi juga membantu Ananda M. Gumilang (14), seorang anak yang menderita kelainan jantung sejak umur satu tahun setengah. Ayah Gumilang yang Ketua RT di Kelurahan Ratu Sima menceritakan pertemuannya dengan relawan Tzu Chi pada saat kegiatan baksos kesehatan menjelang Idulfitri. Tanpa diminta, relawan dan dokter datang berkunjung ke rumahnya untuk melihat kondisi anaknya waktu itu.

Saat Ananda Gumilang dirujuk untuk menjalani operasi jantung bypass di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, banyak cinta kasih yang mengalir untuk membantu M. Gumilang  dari warga, seperti untuk tiket pesawatnya. Namun, ada kekhawatiran jika pengobatan membutuhkan waktu yang lama di Jakarta sehingga membutuhkan biaya untuk kehidupan di sana. Tzu Chi pun hadir memberikan bantuan biaya tersebut. Ayah Gumilang mengungkapkan bantuan dari Yayasan Tzu Chi  sangat berarti bagi M. Gumilang, terutama di tengah keterbatasan ekonomi.

Meliyana relawan Tzu Chi Dumai menjelaskan setiap permohonan bantuan dari masyarakat diproses melalui tahapan yang jelas dan bertanggung jawab. Pengajuan bantuan dapat disampaikan melalui kontak resmi komunitas Tzu Chi Dumai yang tersedia di media sosial, kemudian relawan akan turun langsung melakukan survei ke rumah pemohon. Hasil survei tersebut dibahas dalam rapat koordinasi di Pekanbaru. “Penyaluran bantuan kita tepat sasaran, tidak sembarangan. Setelah kita survei, di meetingkan, misalnya diterima kita langsung turun menyalurkan bantuan,” jelas Meliyana.

Meliyana berbagi pelajaran berharga yang diperoleh selama mendampingi penerima bantuan seperti Chetrin dan Ananda Gumilang. Meliyana merasa sukacita ketika melihat kondisi penerima bantuan membaik meski tidak jarang harus menghadapi fase surut yang membawa kesedihan. Menurutnya, keistimewaan misi amal Tzu Chi terletak pada pendampingan berkelanjutan.

Stan aneka produk Jing Si yang memperkenalkan produk-produk sehat alami yang dibuat oleh para biksuni di griya jingsi dan buku-buku tulisan Master Cheng Yen.

Salah satu relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Dumai, Tan Chong Yee, membagikan kisah perjalanannya mengenal dan bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Relawan asal Malaysia ini mengenal Tzu Chi pada tahun 2000 saat masih sekolah di Pulau Pinang. Ketertarikannya bermula dari kisah nyata kegiatan kemanusiaan yang ia saksikan melalui tayangan Tzu Chi hingga tahun 2011 mengikutkan anaknya ikut kelas Budi Pekerti dan Tan Chong Yee menjadi relawan Tzu Chi pada tahun 2012.

Saat pindah bekerja ke Dumai pada tahun 2016, Tan Chong Yee tetap berupaya mencari keberadaan Tzu Chi meski saat itu komunitas belum terbentuk. “Saya cari Tzu Chi karena kan lihat orang yang membutuhkan tapi saya tak bisa buat apa-apa dengan sendiri,” ungkap Tan Chong Yee yang rela menempuh perjalanan lima jam dari Dumai–Pekanbaru untuk mengikuti kegiatan Tzu Chi.

Keterlibatannya makin mendalam seiring waktu. “Kalau di Malaysia saya seorang relawan sukacita, saya tidak memikul tanggung jawab,” ungkap Tan Chong Yee. Sementara di Dumai, ia belajar tentang komitmen dan tanggung jawab dalam organisasi. Setelah beberapa tahun bergabung dan berproses, Tan Chong Yee akhirnya dilantik sebagai relawan komite dan menyampaikan harapannya, “Saya berharap Tzu Chi di Dumai semakin berkembang dan relawan semakin bertambah dan bisa membantu lebih banyak orang yang membutuhkan,” ujar Tan Chong Yee.

Para tamu menuangkan celengan cinta kasih, suara koin berdering menandakan suara cinta kasih terus ada selamanya.

Pada acara pemberkahan ini hadir pula Hong Thay Ketua Tzu Chi Pekanbaru. Hong Thay sangat mengapresiasi kepada seluruh relawan dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan pemberkahan akhir tahun di Kota Dumai. Hong Thay mengungkapkan kegiatan pemberkahan ini sudah yang keempat kali dilaksanakan di Dumai serta menjadi wujud rasa syukur atas dukungan para donatur dan relawan Tzu Chi yang telah mendukung kegiatan-kegiatan Tzu Ch Dumai. “Sepanjang tahun 2025, kami telah membantu 407 keluarga penerima bantuan,” ungkap Hong Thay, diantaranya adalah keluarga Chetrin dan M. Gumilang sebagai salah satu penerima manfaat.

Hong Thay juga menjelaskan bahwa dana cinta kasih yang dihimpun melalui celengan bambu dan daur ulang akan terus disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. “Cinta kasih dari Bapak Ibu semua akan kami salurkan kepada seluruh saudara-saudara kita yang membutuhkan baik di Kota Dumai maupun di kota-kota lain,” jelas Hong Thay.

Para tamu meninggalkan aula dengan menuangkan celengan cinta kasih, suara koin berdering menandakan cinta kasih terus ada selamanya dan diberikan angpau “Berkah dan Kebijaksanaan” sebagai doa dari Master Cheng Yen untuk para tamu undangan sebagai wujud rasa terima kasih Master Cheng Yen kepada para donatur, relawan tzu Chi, dan masyarakat yang terus mendukung kegiatan-kegiatan Yayasan Tzu Chi.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Semangat dan Keteguhan Hati Para Relawan

Semangat dan Keteguhan Hati Para Relawan

23 Februari 2025

Anak-anak dari Da Ai Mama yang bergabung dalam Tzu Chi Next Generation ikut meramaikan Pemberkahan Awal Tahun He Qi Muara Karang dan He Qi PIK yang diselengggarakan di Tzu Chi Center pada Minggu, 16 Februari 2025.

"Menyebar Kebajikan, Merangkai Kebahagiaan di Awal Tahun"

16 Januari 2025

Relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun menyambut tahun baru dengan semangat kebajikan, membagikan undangan digital untuk acara Pemberkahan Akhir Tahun. Sebuah ide yang unik sekaligus menarik perhatian.

PAT 2025: Wujud Cinta dan Penghormatan kepada yang Terkasih

PAT 2025: Wujud Cinta dan Penghormatan kepada yang Terkasih

10 Februari 2025

Pada Pemberkahan Awal Tahun 2025 ini, terdapat 13 orang yang dilantik menjadi komisaris kehormatan Tzu Chi (rong dong). Kisah Elisa Tsai dan juga Budiankes dapat menjadi refleksi tentang arti sebuah dedikasi.

Luangkan sedikit ruang bagi diri sendiri dan orang lain, jangan selalu bersikukuh pada pendapat diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -