Peduli Merapi : Nasi Bungkus di Posko Terpencil

Jurnalis : Riani Purnamasari (He Qi Utara), Fotografer : Riani Purnamasari (He Qi Utara)
 
 

fotoTawang Shixiong, relawan Tzu Chi, memimpin tim survei bersama relawan Yogyakarta ke Posko Kadirejo.

Satu tim relawan Tzu Chi Jakarta yang dipimpin Tawang Sotya Djati mencapai kota Yogyakarta dengan penuh perjuangan. Melewati beberapa kawasan yang telah mendapat hujan abu selama berhari-hari. Tanggal 6 November 2010, kami menuju posko pengungsian di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Bersama Gunawan, Dekan Fakultas Pertanian Instiper Yogyakarta, kami mendapatkan 3 informasi adanya posko kecil di daerah Magelang dan Sleman.

Posko Desa Salam
Setelah menempuh satu jam perjalanan dari kota Yogyakarta, akhirnya kami sampai di posko pengungsian Desa Salam. Hujan abu vulkanik terus turun dengan lebatnya dan membuat jarak pandang kami hanya sejauh 5 meter. Sesampainya di balai desa, kami diterima oleh Suwardji yang merupakan koordinator posko pengungsian yang secara swadaya telah membuat dapur umum agar para pengungsi dapat tetap mendapatkan makanan.

Tak begitu terjamah bantuan, posko ini menampung 350 orang pengungsi pada siang hari. Namun pada malam hari, pengungsi di posko ini mencapai 2.000 orang. Relawan Tzu Chi yang dibantu relawan Yogyakarta (Instiper Yogyakarta) kemudian membawa dan membagikan 350 kotak makan siang untuk para pengungsi yang ada. Banyak orang tua dan anak-anak yang mengeluhkan gatal-gatal akibat kurangnya air bersih di posko pengungsian. Setelah pemberian kotak makan siang, kami langsung menuju posko pengungsian berikutnya yang masih terletak di kota Muntilan. Merapi yang sedang menghembuskan wedhus gembelnya pun terlihat saat kami akan beranjak dari Posko Desa Salam.

Posko Desa Remame
Hanya beberapa kilometer dari Posko Desa Salam, kami pun menuju petunjuk berikutnya, yaitu Desa Remame, Desa yang terletak di samping kuburan masyarakat etnis Tionghoa. Perjalanan kali ini hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki menuju posko dari jalan raya. Jalan yang sempit, berlumpur, dan licin, membuat kami harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Hujan debu yang selalu turun dengan lebatnya sepanjang minggu, membuat ratusan hektar tanaman mati. Pohon salak, pisang, cabai, dan jenis pohon lainnya, tak kuasa menahan debu yang begitu tebal. Alhasil, Desa Remame bagaikan kota mati. Tak sedikit pula rumah yang hancur akibat hujan debu vulkanik.

Disambut dengan harapan yang besar terhadap kami, Sofyan sebagai koordinator Posko Pengungsian Desa Remame berharap agar bantuan dari berbagai pihak pun menjamah mereka. Banyak pengungsi yang kehilangan keluarganya. Tangis dan air mata pun membasahi wajah para pengungsi dan relawan Tzu Chi. Dengan 90 paket makan siang, posko kecil ini dapat sedikit lega bahwa kiranya mereka dapat menikmati makan siang dengan tenang. Dan seperti posko sebelumnya, Posko Desa Remame pun akan lebih meningkat jumlah pengungsinya di malam hari.

foto  foto

Keterangan :

  • Kondisi Merapi pada tanggal 6 November 2010. Letusan yang semakin besar membuat banyak warga mengungsi jauh dari tempat tinggalnya. (kiri)
  • Para relawan Tzu Chi menyurvei tempat pengungsian di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). (kanan)

Tak banyak yang dapat dilakukan selain mengerti kesulitan mereka dan memeluk mereka dengan tulus. Doa pun turut diucapkan sebelum kami menjamah posko berikutnya. ”Semoga selamat ya, Bu. Yang sabar,” ujar Nadya Iva, relawan Tzu Chi menghibur. Dengan hangat, Nadya juga memeluk Mbah Ami, sehingga membuat nenek ini merasa terharu dan berat hati melepas kepergian para relawan.

Posko Kadirejo
Memasuki Kabupaten Sleman, kami meluncur untuk menghampiri posko pengungsi berikutnya, Posko Kadirejo. Berbeda dengan dua posko sebelumnya yang mengambil tempat di balai desa, Posko Kadirejo bertempat di sebuah musala dalam kawasan rumah salah seorang warga. Mulyono, Koordinator Posko Pengungsian Kadirejo ini pun berkoordinasi dengan koordinator di Posko Stadion Maguwo, karena sebagian besar pengungsi yang ada di Posko Desa Kadirejo merupakan pengungsi dari Desa Cangkringan.

Mulyono melakukan pendataan agar para pengungsi yang terpisah dari keluarganya dapat bertemu kembali. Di Posko Kadirejo, 360 kotak makan siang diberikan agar para pengungsi dapat dengan tenang melewati hari-hari mereka di pengungsian. Para wanita dan anak-anak dikelompokkan agar dapat terjaga keselamatannya dengan baik. Para wanita bergantian memasak di dapur umum yang dibuat secara swadaya. Para anak-anak dengan umur yang bervariasi dikelompokkan dan diajarkan mengaji bersama.

Banyak cerita yang didengar dari para pengungsi kepada para relawan. Leisna Sussaltina, relawan Tzu Chi mendengarkan dengan seksama cerita dari seorang pengungsi dari Cangkringan di mana saat ia berusaha menyelamatkan nyawanya, ia berlari tanpa mempedulikan kakinya yang menginjak lahar panas. Setelah bertemu suaminya, barulah ia menyadari bahwa seluruh telapak kakinya telah melepuh. Ibu yang sedang hamil 3 bulan ini pun bersyukur dengan penuh rahmat kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa ia dapat selamat dengan janin bayi yang kuat. ”Mungkin nanti saya namakan dia Merapika atau Merapiko,” candanya sebelum kami meninggalkan posko Kadirejo tersebut.

foto  foto

Keterangan :

  • Para relawan melakukan survei di Desa Remame. Desa itu lumpuh akibat hujan abu yang sangat parah.  (kiri)
  • Tawang Shixiong bersama relawan Yogyakarta (Instiper Yogyakarta) mengunjungi Posko Kadirejo untuk memberi bantuan berupa 360 kotak makan siang. (kanan)

Harapan dan Cinta Kasih
Merapi adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Dengan meletusnya Merapi, tak sedikit korban luka atau korban meninggal yang tetap berada di rumah masing-masing. Banyak posko pengungsian yang dibangun secara mendadak dan berswadaya. Posko besar di gelanggang olahraga kerap mendapat perhatian yang penuh, namun posko-posko pengungsian yang kecil kebanyakan tak tersentuh oleh bantuan maupun terekspos media. Sedikitnya barang kebutuhan poko di posko kecil membuat para pengungsi harus sering berpindah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Banyak pengungsi yang terpisah dari keluarganya. Kesadaran akan adanya alam yang bergejolak sudah seharusnya dibina sejak dahulu. Ketika alam menangis, manusia tak kuasa menahannya. Harapan dari para pengungsi tak muluk-muluk, mereka hanya ingin pulang dan hidup dengan aman seperti biasanya. Cinta kasihlah yang akan meredakan semua kegelisahan dan kekhawatiran. Hanya dengan menyayangi bumi maka manusia akan memiliki harapan di masa depan.

  
 

Artikel Terkait

Tzu Chi Indonesia Dukung Produk Inovasi Karya Anak Bangsa

Tzu Chi Indonesia Dukung Produk Inovasi Karya Anak Bangsa

17 Juni 2020

Tzu Chi Indonesia mendukung bermunculannya produk-produk riset, teknologi, dan inovasi karya anak bangsa terkait penanganan wabah Covid-19. Kemarin, Selasa 16 Juni 2020, Tzu Chi Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang pemanfaatan produk-produk tersebut bersama Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), perwakilan enam BUMN, swasta, dan filantropi.

Bersama-sama Menggarap Ladang Berkah

Bersama-sama Menggarap Ladang Berkah

12 Juni 2019
Tzu Chi Batam mengadakan Pelatihan Relawan Abu Putih yang ke-2 (26/5/2019) di tahun 2019. Pelatihan yang dimulai sejak pukul 09.00 hingga 16.00 WIB itu diharapkan bisa membangkitkan semangat relawan dalam menjalani misi Tzu Chi dengan kesatuan hati dan langkah.
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -