Hendri Chayady mengajak peserta pelatihan Abu Putih untuk tidak menaburkan benih penderitaan dengan menaati Sila dari melakukan hal-hal kecil dari kehidupan.
Pada Minggu, 23 Agustus 2026, relawan Tzu Chi Batam menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Abu Putih ke-4 di Aula Jing Si Tang, Batam. Sebanyak 79 peserta hadir dalam kegiatan ini, sembilan peserta dari Tanjung Balai Karimun yang sejak pagi menyeberang ke Batam untuk mengikuti pelatihan secara langsung. Selain itu, peserta dari Selatpanjang turut mengikuti pelatihan secara daring melalui Zoom.
Pelatihan diawali dengan Pradaksina di Auditorium Pembabaran Sutra dengan segmen yang dibawakan Relawan Komite Tzu Chi Batam, Susanto Chua. Para peserta mengikuti proses Pradaksina dengan tertib dan penuh khidmat. Langkah demi langkah dijalani dengan penuh kesadaran sambil melafalkan Sutra Buddha.
Berbeda dari Pelatihan Abu Putih sebelumnya, pelatihan yang bertajuk “Mewariskan Tanah Suci di Dunia dari Generasi ke Generasi” menghadirkan tiga pembicara dari Jakarta. Livia Tjin, Hendri Chayady, dan Sufei. Mereka terbang dari Jakarta ke Batam untuk memberikan pembelajaran dan berbagi pengalaman mereka kepada para peserta.
Megawati, salah satu relawan Tanjung Balai Karimun untuk pertama kalinya datang ke Batam untuk mengikuti pelatihan Tzu Chi. Ia telah mengenal dan menjalani kegiatan Tzu Chi selama sekitar tujuh tahun, sejak putrinya masih berusia sekitar dua setengah tahun, mengikuti kegiatan Budi Pekerti. Dari sanalah perlahan ia ikut mengenal Tzu Chi dan menemukan ladang untuk melatih diri.
“Semua yang disampaikan pembicara itu semua terjadi di diriku,” tutur Megawati. Bagi Megawati, materi yang disampaikan Livia tidak terasa sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan, tetapi justru berkaitan dengan proses dirinya di Tzu Chi selama bertahun-tahun, belajar mengendalikan diri, belajar berpuas diri, bersyukur, dan melapangkan hati.
Relawan Tzu Chi Batam, Livia Tjin sedang membawakan materi bertajuk “Mewariskan Tanah Suci di Dunia dari Generasi ke Generasi”.
Hendri mengingatkan bahwa apabila seseorang tidak ingin mendapatkan penderitaan, maka ia tidak seharusnya menanam benih penderitaan. Sila hadir bukan sekadar sebagai aturan, tetapi untuk mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan.
Faktor apa saja yang menjadi penyebab pelanggaran Sila dijelaskan dengan sangat detail. Penjelasan tersebut membawa para peserta untuk melihat kembali tindakan-tindakan kecil dalam kehidupan. Sebab, apa yang ditanam hari ini pada akhirnya akan menjadi buah di kemudian hari.
Satu Benih Kebajikan untuk Tzu Chi School Batam
Dalam sesi bersama Sufei, para peserta diajak kembali mengingat Masa Celengan Bambu. Mengapa Master Cheng Yen mengajak setiap orang menyisihkan satu koin setiap hari, bukan mengumpulkan dana dalam jumlah besar sekaligus? Karena yang ingin dibangun bukan hanya jumlah dana. Dengan mengajak orang berdana dapat bertambah orang baik.
Sufei menjelaskan lebih rinci Masa Celengan Bambu serta mengajak peserta untuk melakukan kebiasaan berbuat baik untuk berbagi terhadap sesama.
Ketika berbicara tentang pembangunan sekolah, yang dilihat bukan sekadar besi, semen, atap, dan dinding. Yang terlihat adalah anak-anak yang kelak belajar di sana, keluarga yang tumbuh, serta tawa dan masa depan yang akan hadir. “Yang dilihat adalah masa depan,” ujar Sufei.
Sama seperti semangat Master Cheng Yen dalam membangun rumah sakit pada 40 tahun yang lalu. Beliau tidak menunggu dana terkumpul baru bergerak, tetapi melihat masa depan pasien-pasien yang akan mendapatkan pelayanan terbaik dan disembuhkan penyakitnya di rumah sakit itu.
Di tengah kesibukan Megawati bekerja dan mengajar bimbingan belajar hingga malam hari, hari Sabtu dan Minggu menjadi sisa waktu yang dapat ia gunakan untuk kegiatan Tzu Chi. Ia mengaku lelah, tetapi merasa bahagia ketika menjalani kegiatan yang menurutnya bermakna.
Bahkan ketika datang ke Batam, seluruh biaya perjalanan ia tanggung sendiri. Bagi Megawati, hal tersebut bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Ia memahami bahwa dana Tzu Chi diperuntukkan bagi orang-orang yang membutuhkan. “Jadi ini kita jadi peserta ya harus kita rela. Kalau kita nggak rela, nggak ada niat pasti kita nggak bisa jalan juga sampai hari ini,” pungkasnya.
Relawan Tanjung Balai Karimun, Megawati menerangkan bagaimana materi pelatihan tersebut berkaitan dengan kehidupan yang dijalaninya.
Sebagai ketua pendidikan, ia selama ini rutin membantu kelas setiap Sabtu. Relawan di Tanjung Balai Karimun sangat terbatas. Dalam satu kelas, terkadang hanya ada dua atau tiga peserta yang membantu. Percakapan dengan Livia dalam pelatihan kali ini membuatnya berpikir untuk melakukan pembaruan dalam cara menjalankan perannya, agar apa yang dilakukan ke depan dapat menjadi lebih baik dan tetap berkelanjutan.
Baginya, menjadi relawan bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang dapat dilakukan, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menjaga diri agar dapat terus berjalan dalam jangka panjang.
Dua Bulan Mempersiapkan Satu Hari Pembelajaran
Koordinator pelatihan, Liliwaty, mengungkapkan bahwa persiapan AP ke-4 ini telah dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Salah satu tantangan yang dirasakan adalah mengajak relawan komite untuk terlibat sebagai panitia. Pelatihan ini diharapkan dapat diikuti oleh peserta berseragam, termasuk relawan Abu Putih dan Calon Komite, sehingga dalam kepanitiaan membutuhkan dukungan para komite.
Pelatihan AP Ke-4 tahun 2026 menghimpun 79 relawan Tzu Chi untuk mendalami Dharma Buddha dan semangat Tzu Chi.
Tantangan tersebut akhirnya terjawab melalui ketersediaan para relawan komite. “Syukurnya semua panitia hari ini komite, bagian-bagian penting seperti mentor, konsumsi, pelayanan, MC semuanya komite”, ujar Liliwaty lega.
Setelah seluruh rangkaian berjalan dengan lancar, Liliwaty mengungkapkan perasaannya dengan sederhana, “Very happy, semuanya lancar.” Kebahagiaan tersebut bukan hanya karena sebuah acara telah selesai, tetapi karena begitu banyak orang bersedia mengambil peran untuk memastikan pelatihan ini dapat terlaksana dengan baik dan membawa manfaat bagi para peserta.
Editor : Nur Al Fajar Rumsari