Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan pemerintah, yang dihadiri oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Maruarar Sirait, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dan Bupati Tapanuli Selatam, Gus Irawan Pasaribu, menyerahkan 120 unit hunian tetap untuk warga penyintas bencana di Tapanuli Selatan.
Pagi itu, cahaya matahari perlahan menyinari Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Udara terasa segar, seolah membawa kabar baik yang telah lama dinantikan. Di antara deretan rumah yang berdiri rapi, senyum mulai merekah di wajah-wajah warga. Hari itu bukan sekadar hari biasa, melainkan awal baru bagi mereka yang pernah kehilangan segalanya.
Setelah melewati masa sulit akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor, sebanyak 120 keluarga akhirnya menerima hunian tetap yang layak dan nyaman pada Jumat, 27 Maret 2026. Luka akibat bencana memang belum sepenuhnya hilang, tetapi harapan kini tumbuh perlahan, seiring berdirinya rumah-rumah baru yang kokoh.
Sejak pagi, warga mulai berdatangan. Beberapa mengenakan pakaian terbaik mereka, sebagian lainnya menggandeng anggota keluarga, seakan ingin memastikan bahwa momen ini benar-benar nyata. Di lokasi acara, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia tampak sibuk namun tetap hangat. Mereka menyapa satu per satu warga yang hadir, menanyakan kabar, dan sesekali berbagi tawa ringan.
Relawan Tzu Chi mengunjungi hunian tetap warga penerima bantuan, yang disambut dengan penuh kehangatan.
Suasana penuh kehangatan dan kebahagiaan terlihat jelas dari wajah para warga yang telah siap menerima hunian baru mereka. Tak ada lagi raut cemas seperti saat bencana melanda. Yang ada kini adalah rasa lega dan mungkin ada sedikit rasa tak percaya bahwa mereka bisa sampai di titik ini.
Penyerahan 120 unit hunian tetap di Desa Hapesong Baru, menjadi tahap pertama dari total 2.603 huntap yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebuah langkah besar dalam upaya pemulihan pascabencana yang masih terus berjalan. Hingga kini, pengerjaan hunian tetap lainnya terus ditinjau agar dapat segera diserahterimakan kepada warga yang membutuhkan.
Di balik berdirinya rumah-rumah ini, ada kolaborasi panjang yang melibatkan banyak pihak. Penyerahan hunian ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan pemerintah, yang dihadiri oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Maruarar Sirait, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dan Bupati Tapanuli Selatam, Gus Irawan Pasaribu.
Program ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong lintas sektor. Lahan disediakan oleh PTP, listrik didukung oleh PLN, pembangunan infrastruktur jalan oleh Pemerintah Daerah Tapanuli Selatan, serta penyediaan air oleh PDAM. Sementara itu, pembangunan rumah hingga pengisian fasilitas dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Setiap elemen berperan, saling melengkapi, hingga akhirnya terwujud hunian yang kini ditempati warga.
Warga beserta keluarganya dengan penuh antusias menghadiri acara serah terima hunian tetap dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Maruarar Sirait pun mengapresiasi sinergi tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran negara dalam membantu masyarakat terdampak bencana terwujud melalui kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak.
“Ini kerja sama semua dan gotong royong, jadi ini kolaborsi yang bagus,” terang Maruarar Sirait.
Bagi Yayasan Buddha Tzu Chi, pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik. Lebih dari itu, ada nilai kemanusiaan yang ingin dihadirkan dalam setiap rumah yang dibangun. Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto, menyampaikan harapannya agar hunian ini menjadi berkah bagi para penerima manfaat. Ia menuturkan bahwa rumah yang dibangun bukan sekadar tempat tinggal, melainkan “rumah cinta kasih” yang lahir dari doa dan kepedulian banyak orang.
“Karena cinta kasih itu, semua donatur berdoa tolong sampaikan bantuan kami cepat diselesaikan untuk para korban bencana. Jadi artinya rumah ini adalah rumah berkah karena banyak orang yang doa,” ungkap Mujianto.
Komitmen Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk meringakan beban para penyintas bencana terlihat nyata. Tidak hanya menghadirkan bangunan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan harapan baru bagi mereka yang sempat kehilangan arah.
Penyerahan 120 unit hunian tetap dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Desa Hapesong Baru, menjadi tahap pertama dari total 2.603 huntap yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Senyum dan Tawa Warga
Di salah satu sudut permukiman, Tuti Harahap berdiri di depan rumah barunya. Ia memandang dinding yang kini kokoh berdiri, sesuatu yang dulu sempat ia pikir tak akan bisa dimilikinya kembali. Ingatannya melayang pada hari ketika rumah lamanya tertimbun tanah longsor, membawa serta rasa takut dan ketidakpastian.
Kini, perasaan itu perlahan tergantikan oleh rasa syukur.
“Rumahnya bagus, saya suka dan bahagia di sini. Dulu rumah kami dari papan, sekarang besar, bersih, dan berkeramik. Kalau kami sendiri, mungkin tidak mampu membangun rumah seperti ini. Alhamdulillah, terima kasih untuk Yayasan Buddha Tzu Chi,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.
Salah satu penerima bantuan hunian tetap, Tuti Harahap, merasa bersyukur mendapat hunian tetap yang layak untuk ditempati.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Maruarar Sirait, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dan Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto mengunjungi hunian tetap milik Mayasari.
Tak jauh dari sana, Mayasari juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Baginya, bantuan yang diterima bukan hanya rumah, tetapi juga perlengkapan yang membuat rumah itu benar-benar terasa hidup.
“Bahagia sekali. Bahagia plus plus haha (tawa Mayasari). Luar biasa, walaupun lintas agama tapi mereka (Tzu Chi) mau membantu. Dari kasur, sofa, sama meja makan ini semuanya bagus-bagus. Semuanya top lah,” ungkap Mayasari, salah satu penerima huntap.
Kebahagiaan warga terasa begitu nyata, terlihat dari tawa yang lebih lepas, obrolan yang lebih ringan, dan langkah yang kini terasa lebih mantap. Mereka tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai kembali menjalani kehidupan.
Program hunian tetap ini bukan hanya tentang membangun rumah, tetapi juga membangun kembali harapan. Di atas fondasi beton dan dinding yang kokoh, tersimpan cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan kebangkitan.
Di Desa Hapesong Baru, kehidupan memang sempat runtuh. Namun kini, perlahan tapi pasti, kehidupan itu sedang dibangun kembali dengan cinta kasih, gotong royong, dan harapan yang tak lagi padam.
Editor: Metta Wulandari