Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni Palembang: 27 Keluarga Sambut Sukacita Program Renovasi Rumah Tzu Chi Palembang

Jurnalis : Phoebe Chandra (Tzu Chi Palembang), Fotografer : Phoebe Chandra, Windy, Hendra Gunawan (Tzu Chi Palembang)

Relawan Tzu Chi mendampingi warga lansia saat penandatanganan Surat Kesepakatan Bersama (SKB) antara Yayasan Tzu Chi dan pemilik rumah. Salah satunya adalah rumah tidak boleh dijual, dikontrakkan atau dipindahtangankan kepada orang lain selama 10 tahun.

Terik matahari siang itu tidak mengurangi semangat dan harapan yang terpancar dari wajah-wajah warga yang berkumpul di Kantor Kelurahan 13 Ilir, Palembang. Pada Rabu, 10 Juni 2026, sebanyak 27 kepala keluarga hadir untuk mengikuti Penandatanganan Surat Kesepakatan Bersama Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Kota Palembang.

Bagi para penerima manfaat, momen ini bukan sekadar penandatanganan dokumen. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi titik awal terwujudnya harapan untuk memiliki rumah yang lebih aman, sehat, dan layak huni. Program renovasi rumah ini menjadi wujud nyata cinta kasih Yayasan Buddha Tzu Chi dalam membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri oleh sembilan relawan Tzu Chi serta berbagai pihak dari Pemerintah Kota Palembang, di antaranya perwakilan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan), pihak kecamatan, kelurahan, serta masyarakat setempat yang turut menyambut program ini dengan penuh antusiasme.

Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Melalui program renovasi rumah tidak layak huni ini, masyarakat diharapkan dapat menikmati lingkungan tempat tinggal yang lebih sehat, aman, dan nyaman.

Dr. H. Bambang Wicaksono, S.T., M.T., Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Palembang, menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi Yayasan Buddha Tzu Chi dalam membantu masyarakat.

Warga penerima manfaat program renovasi rumah mendapat penjelasan dari relawan Tzu Chi dan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Palembang sebelum menandatangani Surat Kesepakatan Bersama (SKB).

“Saya sudah cukup familiar dengan Yayasan Buddha Tzu Chi karena selama ini kita melihat kepedulian yang sangat besar terhadap masyarakat Kota Palembang. Rumah merupakan kebutuhan pokok selain sandang dan pangan. Rumah juga menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan pemerintah. Saya berharap masyarakat dapat tinggal di rumah yang lebih layak sehingga hidup lebih sehat, aman, dan terhindar dari risiko bangunan yang tidak layak,” ujarnya.

Menurut Bambang, Tzu Chi juga dikenal sebagai organisasi kemanusiaan yang terbuka dan inklusif.

“Yayasan Buddha Tzu Chi hadir hampir di seluruh daerah di Indonesia. Yang diperjuangkan adalah nilai kemanusiaan tanpa memandang suku, agama, maupun ras. Itulah yang membuat kehadiran Tzu Chi sangat berarti bagi masyarakat,” tambahnya.

Syukur yang Mengalir dari Rumah-Rumah Sederhana
Bagi M. Iskandar (59), program ini menjadi jawaban atas harapan yang selama ini ia pendam. Rumah sederhana berukuran 8 x 5 meter yang ditempatinya bersama delapan anggota keluarga telah lama mengalami kerusakan. Atap rumah bocor, dinding mulai rapuh, dan bagian beranda kayu sudah keropos dimakan usia.

Sebagai guru mengaji, Iskandar dan istrinya memiliki keterbatasan untuk memperbaiki rumah mereka secara mandiri.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Dengan adanya program ini, bagian rumah yang rusak, terutama atap yang bocor, dapat diperbaiki. Kami berdoa semoga program ini berjalan lancar dan membawa manfaat bagi banyak orang,” tutur Iskandar.

Yunus, PJS Kelurahan 13 Ilir, memberikan sambutan dan pengarahan kepada warga Kel. 13 Ilir dan warga Kel. 14 Ilir.

Rasa syukur yang sama juga dirasakan oleh Ibu Abi (55). Selama lebih dari 30 tahun ia tinggal di rumah panggung bersama dua anaknya. Kondisi rumah yang ditempati sudah cukup memprihatinkan. Lantai bagian belakang amblas, sementara dinding rumah mulai rapuh.

Dengan penghasilan keluarga sekitar tiga juta rupiah per bulan, renovasi rumah menjadi impian yang sulit diwujudkan.

“Setelah ditetapkan sebagai penerima bantuan, kami sangat senang dan benar-benar berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi,” ujar Ibu Abi dengan mata berbinar.

Ia mengaku selama ini ingin memperbaiki rumahnya sendiri, tetapi dana yang dimiliki belum mencukupi.

“Kami sebenarnya ingin merenovasi rumah sendiri, tetapi tabungan yang kami kumpulkan belum cukup. Kami merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Yayasan Buddha Tzu Chi. Semoga semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan bantuan seperti ini,” tambahnya.

Antusiasme warga dalam mendengarkan pesan-pesan penuh kasih dari relawan Tzu Chi Kota Palembang.

Jalinan Kasih yang Menghadirkan Harapan
Kebahagiaan juga dirasakan oleh Anita (55) dan adiknya, Faisal (50). Rumah yang mereka tempati bersama lima anggota keluarga lainnya sering bocor saat hujan turun. Dinding yang mulai berlubang juga membuat tikus kerap masuk ke dalam rumah, bahkan hingga ke ruang tamu.

Selama hampir 20 tahun, Anita dan keluarganya bertahan hidup dari berjualan batu akik di kaki lima. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka kesulitan memperbaiki rumah yang semakin menua.

Selain bantuan renovasi rumah, keluarga Anita juga selama ini mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar Rp250.000 per bulan, beras 20 kilogram, serta minyak goreng 2 liter dari Yayasan Buddha Tzu Chi.

“Kami sangat bahagia dan merasa terbantu dengan adanya program ini. Semoga setelah direnovasi nanti kami bisa tidur lebih nyaman tanpa khawatir kebocoran atau tikus yang masuk ke rumah,” ungkap Anita.

Ia juga berharap semakin banyak warga yang dapat merasakan manfaat serupa.

“Semoga Tzu Chi terus membantu masyarakat yang membutuhkan agar rumah-rumah yang rusak dapat diperbaiki dan tidak ada lagi rumah yang tidak layak huni di tengah masyarakat Kota Palembang,” ujarnya.

Suharjo, relawan Tzu Chi Palembang, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi, memberikan pesan-pesan kepada warga untuk mendukung program renovasi rumah ini agar proses pembangunannya.

Beragam kisah yang mengalir dari para penerima manfaat menunjukkan bahwa sebuah perubahan besar sering kali berawal dari kepedulian sederhana. Uluran tangan yang tulus tidak hanya memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Melalui Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni, cinta kasih diwujudkan dalam bentuk nyata. Sebab bagi banyak keluarga, rumah yang aman dan layak bukan hanya tempat berteduh, melainkan juga tempat tumbuhnya harapan, kebahagiaan, dan masa depan yang lebih baik.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Palembang: Kabar Bahagia Bagi Warga Palembang yang Rumahnya Tak Lama Lagi Direnovasi

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Palembang: Kabar Bahagia Bagi Warga Palembang yang Rumahnya Tak Lama Lagi Direnovasi

13 November 2025

Tzu Chi Palembang menyurvei 52 rumah sebagai persiapan awal berjalannya program renovasi rumah di wilayah Palembang.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni Di Palembang: Mengukir Sejarah Penuh Cinta di Bumi Sriwijaya

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni Di Palembang: Mengukir Sejarah Penuh Cinta di Bumi Sriwijaya

05 Desember 2025

Tzu Chi Palembang resmi memulai Program Bebenah Kampung dengan menandatangani SKB bersama pemerintah dan warga di 13 Ilir. Empat rumah tidak layak huni akan direnovasi tahap 1.

Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni Palembang: 27 Keluarga Sambut Sukacita Program Renovasi Rumah Tzu Chi Palembang

Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni Palembang: 27 Keluarga Sambut Sukacita Program Renovasi Rumah Tzu Chi Palembang

22 Juni 2026

Sebanyak 27 keluarga di Kota Palembang mengikuti penandatanganan kesepakatan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni.

Umur kita akan terus berkurang, sedangkan jiwa kebijaksanaan kita justru akan terus bertambah seiring perjalanan waktu.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -