Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh: Tim Konsumsi, Jantungnya Kegiatan Tzu Chi

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Arimami Suryo A, Metta Wulandari

Tim konsumsi bekerja sama menyiapkan bahan masakan di dapur relawan di Tzu Chi Center PIK untuk menyukseskan Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh tahap ketiga.

Sudah lebih dari dua pekan, dapur relawan Tzu Chi di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara selalu “gaduh” sejak pagi buta. Pukul 5 pagi, adalah batasan waktu mereka untuk mulai memasak, artinya, aktivitas memasak boleh dimulai sebelum pukul 5, tapi tidak boleh lebih. “Kalau kesiangan, bisa nggak makan nanti para peserta,” kata Lynda Suparto, Wakil Ketua Koordinator He Xin Bidang Konsumsi Tzu Chi dari He Qi Timur bergurau.

Sejak subuh itu pula, belasan relawan yang ada di dalam dapur relawan sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang memasak air, menanak nasi, memotong sayur, menyiapkan berbagai bumbu, dan lain sebagainya. Walaupun ada beberapa bahan masakan yang sudah disiapkan sebelum hari - H, tapi tetap saja, tak ada relawan yang bersantai ria.

Tap tap tap tap.. sigap dan siap.

Kata Lynda, itulah cara kerja tim konsumsi. Seakan-akan, di masing-masing kepala para ibu-ibu ini, sudah ada rincian dan daftar pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan sehingga bisa menyajikan makanan secara tepat waktu. Memang layaknya kompetisi memasak di televisi, dalam waktu yang singkat, tim konsumsi menyiapkan setidaknya 5 hingga 7 atau 8 masakan yang divariasikan setiap harinya. Masakan ini terbagi untuk menu makan siang dan malam yang diperuntukkan bagi 125 peserta, artinya ada 250 boks makanan yang harus terisi di waktu yang telah ditentukan.

“Jadi di jam 8.30 itu setidaknya sudah ada beberapa masakan yang matang, lalu bisa ditata untuk packing, dan di jam 10 semua menu untuk makan siang dan malam harus sudah bisa diambil oleh jasa kirim ojek online,” jelas Lynda.

Menyajikan Makanan Vegan yang Enak dan Sehat

Pada tahap ketiga ini, relawan tim konsumsi Tzu Chi mendapatkan tugas untuk menyediakan masakan untuk Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh.

Kesibukan tim konsumsi belakangan ini bukan tanpa sebab, mereka adalah tim inti yang menyediakan seluruh menu masakan dalam Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh tahap ketiga. Untuk itu, belasan relawan tim konsumsi dan seng hou zhu (pelayanan) dari tujuh He Qi (Pusat, Barat 1, Barat 2, Timur, Utara 1, Utara 2, dan Tangerang) bergantian memasak di dapur relawan Tzu Chi PIK. Total selama 21 hari itu, masing-masing He Qi menerima tugas tiga hari memasak.

Nah, untuk mengakomodir program ini, tim konsumsi mengaku mempunyai berbagai tantangan. Salah satunya adalah mereka harus memasak makanan yang jauh berbeda dari menu-menu andalan mereka sebelumnya. Jadi kalau sebelumnya mereka dituntut untuk memasak makanan vegetaris yang enak dengan kaya rasa, sekarang lain lagi ceritanya.

Dalam program ini, tim konsumsi harus membuat makanan vegan – tanpa telur dan olahan turunannya, rendah garam, rendah gula, juga rendah penyedap dan lainnya. Tak hanya itu, olahan masakan vegan ini pun tidak boleh menggunakan berbagai produk tepung dan olahannya, daging palsu dan produk-produk olahan lainnya, serta harus mengurangi penggunaan minyak goreng maupun mengolah makanan dengan cara digoreng. Tapi, dari semua batasan itu, yang penting mereka dituntut untuk menghasilkan makanan yang enak dan sehat.

Belajar dari Dapur
“Jujur kreativitas kita perlu bermain di sini ya,” begitu kata Widyanti Tjasnadi, Wakil Ketua Koordinator He Xin Bidang Konsumsi Tzu Chi dari He Qi Barat 2 sambil tertawa. “Nah kebetulan saya juga ikut menjadi peserta di program yang tahap 1 waktu itu, jadi bisa merasakan bagaimana sih makanannya. Sehingga ketika menerima tanggung jawab menyediakan masakan ini, ya timbul ide-ide,” katanya.

Tim konsumsi dan tim seng huo zhu bersatu hati menyiapkan seluruh pesanan makanan dalam 21 hari bagi 125 peserta yang ikut dalam Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh.

Selain berbagai batasan dalam bahan masakan, jumlah relawan di hari-H memasak juga menjadi kendala. Pasalnya, program 21 hari makan sehat ini berlangsung secara kontinyu, Senin hingga Minggu dan tak ada hari libur. Makanya tim konsumsi harus meluangkan waktu di hari kerja untuk bisa membantu memasak bersama relawan lainnya. Bisa izin dari kantor maupun menutup tokonya.

Seperti tim konsumsi dari He Qi Barat 2 yang mendapatkan jadwal hari Senin di hari ketiga mereka memasak. Dengan kondisi relawan yang jumlahnya tidak seperti hari sebelumnya, di jam 7.30 itu tim konsumsi belum selesai memasak ditambah harus ada makanan yang diolah dengan cara khusus. Di waktu yang mepet itu, Widyanti merasa tertekan, tapi ia tetap harus tenang.

“Makanya saya bilang di Tzu Chi itu setiap kegiatan, termasuk menjadi tim konsumsi adalah tempat kita melatih diri. Kalau kita tertekan lalu stres, pasti akan buyar. Tapi kalau kita tertekan tapi belajar untuk tenang, kita bisa mengatur pikiran kita, kita bisa berpikir jelas, apa dulu yang harus diselesaikan,” terang Widyanti.

Menu Low Calorie Cantonese Noodle disajikan dengan menggunakan mi shirataki lengkap dengan topping tahu jamur serta sayuran dan kuah yang segar. Menu ini dibuat untuk mengobati kerinduan para peserta akan bakmi yang akrab dalam keseharian mereka.

Dalam hal ini, Widyanti juga menambahkan bahwa urusan memasak bukanlah urusan bisa atau tidak karena kalaupun tidak tahu resep masakan, saat ini sudah banyak sekali informasi dari berbagai media yang sangat mudah diakses. Untuk itu, bagi Widyanti, memasak ada suatu tanggung jawab sekaligus tantangan. Dirinya pun belajar dari berbagai kesempatan memasak, baru bisa tahu berbagai hal yang tertulis dalam teori.

“Kalau dibilang ‘kamu mah pinter masak’, lah saya dulu kacang panjang sekilo buat berapa orang aja nggak tahu. Tapi seiring kemauan untuk belajar, sekarang jadi tahu perhitungan bahan,” tukasnya, “seperti misalnya, jumlah beras yang dimasak untuk baksos seniman bangunan dan training relawan itu beda walaupun jumlah kepalanya sama, karena porsi makannya berbeda. Itu semua kita dapatkan dari pengalaman, bukan teori.”

Tantangan Membuat Berkembang
Dalam proses tahap ketiga yang hampir selesai ini, Lynda salut sekali dengan kerja keras dan ketulusan dari tim konsumsi. Mulai dari proses pengenalan program, pembahasan menu, persiapan, hingga memasak dan pendistribusian makanan, seluruhnya dilakukan dengan lancar.

“Senang sekali. Saya sangat excited melihat relawan begitu bersemangat dan sepenuh hati. Mereka begini (bekerja keras), gimana kita nggak gan en sekali ya,” kata Lynda.

Selain mi rendah kalori, ada pula kreasi menu Nasi Hainam lengkap dengan lauk pauk yang semuanya diolah sesuai dengan paten Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh.

Tak hanya sekali dua kali, ungkapan syukur selalu diungkapkan Lynda ketika berbagai kabar baik masuk lewat grup WhatsApp yang isinya seluruh panitia dan peserta diet vegan ini.

“Saya sangat salut dengan seluruh tim konsumsi dan seng huo zu,” aku Lynda. “Kita boleh bilang, punya rencana kalau teamwork tidak jalan, tidak akan bisa. Sebagus apapun rencana, tapi tidak ada teamwork, pendukung, supporter untuk jalanin, mana bisa?” imbuhnya begitu berterima kasih kepada relawan.

Lynda juga setuju pada Widyanti bahwa, memasak memang bukan hanya sekadar bisa, tapi yang harus ada adalah kemauan, baru semua bisa berjalan lancar. Mau belajar, mau menerima tugas, mau menyelesaikan tanggung jawab, dan mau menerima tantangan. Kata Lynda, dengan adanya tantangan, seseorang baru bisa berkembang. “Kalau kita nggak jalanin, kita nggak tahu loh kalau tujuh He Qi ini bisa jalanin program ini,” ucapnya.

Karena menurut Lynda, memasak dalam tuntutan program 21 hari diet ini memang tidak terlalu mudah dan perlu kecerdikan untuk mengolah bahan masakan. Dengan banyaknya batasan, tim konsumsi harus berpikir untuk substitusi bahan A menjadi bahan B. Seperti contohnya apabila ingin menyajikan menu bakmi, Lynda menjelaskan, mereka harus menggantikan mi tepung menjadi mi shirataki. Lalu karena vegan, topping bakmi pun diganti dengan tahu dan jamur. Sementara kuahnya dari lobak dan sayuran lain sehingga ada rasa manis alami. Setelah dijadikan satu rasanya pun ternyata enak padahal sangat minim bahan penyedap dan lainnya.

Dua menu untuk makan siang dan malam siap didistribusikan kepada 125 peserta Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh. Artinya dalam sehari, relawan memasak 250 boks menu.

Hal yang sama juga dilakukan untuk menu-menu lainnya, seperti rendang menggunakan kentang karena tidak diperbolehkan menggunakan daging palsu dan olahan lainnya. Nasi merah pun bisa dikreasikan menjadi nasi merah liwet dan olahan nasi merah lainnya. Intinya, sebisa mungkin tim konsumsi berusaha maksimal untuk menyajikan makanan yang bisa diterima dengan baik oleh para peserta.

“Seperti layaknya kita memesan makanan dari luar ya, kita ingin yang enak. Nah sama, begitu mereka menerima paket makanan dari kita, jangan sampai kita mengecewakan ekspektasi mereka,” tutur Lynda.

Siap untuk Tahap 4
Terhitung sejak 11 Juni hingga 1 Juli 2022, 21 hari tak lama lagi akan dilalui oleh para peserta Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh tahap ketiga. Dalam setiap kesempatan sharing atau ketika tengah menjawab pertanyaan para peserta, Lynda selalu menyinggung bahwa memasak makanan vegan dan sehat itu mudah.

Lynda pun berharap nantinya peserta tidak tergantung dengan program ini, jadi jangan sampai ketika program telah berakhir, para peserta kembali ke pola makan sebelumnya yang tidak ramah pada kesehatan tubuh.

“Kalau gorengan lagi, terlalu asin-asin lagi, kolesterol lagi. Akan sia-sia hasilnya,” katanya sambil tertawa. “Kalau kami mengharapnya mereka bisa melanjutkan untuk bervegetaris sehingga bisa mengasihi Bumi dan diri sendiri. Tapi itu kembali lagi ke kemauan diri masing-masing ya,” imbuhnya.

Agar tiba di lokasi tepat waktu, relawan mendistribusikan makanan tersebut melalui jasa ojek online. Relawan juga dituntut untuk bisa menyelesaikan semua masakan dan mengemasnya sebelum pukul 10 pagi.

Namun begitu, Lynda tetap mengedukasi bahwa setelah selesai programnya, peserta masih bisa menjalani pola makan ini sepanjang waktu yang mereka mau. Resep dan pedomannya pun bisa dibagikan kepada keluarga sehingga bisa menjalankan pola makan sehat bersama-sama. Kata Lynda, mereka juga bisa menggunakan buku 62 Resep Vegan Favorit Nusantara (Bisa diperoleh/beli di Jing Si Books & Café) yang telah diproduksi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia sebagai acuan. “Tinggal ambil saja satu menu dari buku itu, rasa bisa disesuaikan sesuai dengan pedoman diet vegan ini,” jelas Lynda.

Apabila banyak permintaan, ke depannya, Lynda tidak menutup kemungkinan akan membuka Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh tahap keempat. Apalagi melihat kesiapan relawan yang pastinya akan semakin matang setelah bisa dengan lancar melalui 21 hari pada tahap ketiga ini.

Jia you tim konsumsi!! Kalau tidak dari tim konsumsi yang berkreasi seperti ini, menyiapkan, dan mengajak orang untuk bervegetaris, siapa lagi? Kitalah yang harus menjalankan misi ini, karena kita punya teamwork yang kuat,” pungkas Lynda penuh semangat.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh: Menuju Sehat Batin dan Jasmani

Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh: Menuju Sehat Batin dan Jasmani

22 Juni 2022

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kembali menggelar Program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Utuh putaran ke-3. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 11 Juni 2022 hingga 1 Juli 2022.

Program 21 Hari Diet Wholefood Vegan Putaran Ke Empat di Tzu Chi Medan

Program 21 Hari Diet Wholefood Vegan Putaran Ke Empat di Tzu Chi Medan

13 Januari 2022

Minggu, 2 Januari 2022 relawan Tzu Chi Medan kembali menggelar program Tantangan 21 Hari Diet Vegan Nabati Utuh (Wholefood Vegan) untuk putaran ke empat (2-22 Januari 2022).

Berpola Hidup Sehat Lewat Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh

Berpola Hidup Sehat Lewat Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh

08 November 2021

Program Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh (Wholefood Vegan Diet) periode ke-2 (6 - 26 Nov 2021) dimulai 6 November 2021. Sebanyak 71 peserta mengawali program dengan Medical Check Up (MCU) di Tzu Chi Hospital.

Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -