Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Relawan Tzu Chi, Survei Rutilahu di Desa Hambalang

Jurnalis : Fikhri Fathoni , Fotografer : Fikhri Fathoni

Tzu Chi Indonesia Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor melakukan survei rumah-rumah tidak layak huni di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, KAbupaten Bogor.

Kabupaten Bogor adalah salah satu kabupaten yang menerima bantuan renovasi rumah tidak layak huni dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Pada Rabu, 11 Maret 2026, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 dan Jakarta Barat 4 melakukan survei ke 37 rumah tidak layak huni di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup. Nantinya setelah disurvei dan diverifikasi,  rumah-rumah tidak layak huni tersebut akan direnovasi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Selain relawan Tzu Chi, turut hadir juga jajaran staf Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor. Kepala Bidang Kawasan Permukiman di DPKPP, Ricky Setiadi SE, M.Si, mengapresiasi langkah Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk merenovasi rumah-rumah tidak layak huni yang berada di Kabupaten Bogor.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas kehadirannya di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, dalam rangka program bebenah kampung. Semoga kegiatan ini berjalan lancar, dan bantuan yang diberikan dari Yayasan Buddha Tzu Chi semoga bermanfaat,” tutur Ricky Setiadi.

Salah satu relawan Tzu Chi, Mok Tjun Sin, yang akrab disapa Acun, menyapa Ating salah satu warga Lansia calon penerima bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi Indonesia.

Kondisi rumah Ating, salah satu warga Lansia yang merupakan calon penerima bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi Indonesia.

Salah satu relawan Tzu Chi, Mok Tjun Sin, yang akrab disapa Acun, mengaku hatinya terenyuh saat melihat langsung kondisi rumah warga dalam kegiatan survei. Bagi Acun, survei bukan sekadar mendata kondisi bangunan, melainkan juga menyaksikan secara nyata bagaimana sebagian masyarakat masih harus bertahan hidup di hunian yang jauh dari kata layak. Pemandangan itu meninggalkan kesan mendalam baginya, terlebih ketika ia melihat rumah- rapuh dan kurang tertata, yang setiap hari tetap menjadi tempat berlindung bagi sebuah keluarga.

Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah saat mengunjungi rumah Ibu Ating. Kondisi rumah yang sangat kecil dan berantakan membuat Acun merasa prihatin. Baginya, rumah dengan kondisi seperti itu sudah sangat layak untuk mendapatkan perhatian dan dukungan, agar penghuninya dapat menjalani kehidupan dengan lebih aman dan bermartabat.

Saat survei dilakukan, relawan Tzu Chi mencatat kondisi rumah warga, menanyakan keluhan, keadaan ekonomi, serta mendokumentasikan keadaan rumah calon penerima bantuan.

Melalui program renovasi rumah ini, Acun berharap para penerima manfaat tidak hanya memperoleh tempat tinggal yang lebih kokoh, tetapi juga merasakan tumbuhnya harapan baru dalam kehidupan mereka. Sebab, rumah yang layak bukan sekadar bangunan untuk berteduh, melainkan juga menjadi ruang bagi keluarga untuk hidup dengan rasa aman dan nyaman.

“Saya paling terharu ketika datang ke rumah Ibu Ating. Rumahnya sangat kecil dan berantakan. Kondisi seperti itu sangat layak untuk dibantu. Semoga nantinya beliau bisa tinggal dengan lebih aman,” ujar Acun.

Dengan kondisi rumah yang semakin memprihatinkan, Sanah, anak dari Ating, menyimpan harapan besar agar tempat tinggal orang tuanya dapat segera direnovasi melalui bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Di tengah keterbatasan yang ada, ia hanya bisa memanjatkan doa dan berharap agar upaya renovasi tersebut benar-benar dapat terwujud.

“Atapnya bocor, temboknya juga mau rubuh, kayu pintu juga sudah rusak. Alhamdulillah, mudah-mudahan tercapai renovasinya,” ucap Sanah.

Salah satu relawan Tzu Chi memeriksa keadaan rumah Aros, calon penerima bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi Indonesia.

Harapan serupa juga terpancar dari Aros, salah satu calon penerima bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi Indonesia. Saat relawan datang berkunjung, Aros menyambut mereka dengan hangat dan terbuka menceritakan kondisi rumah yang selama ini ia tempati bersama keluarganya.

Baginya, musim hujan bukan hanya tentang cuaca, melainkan juga tentang kecemasan yang terus berulang. Air yang merembes dari atap dan masuk ke dalam rumah sudah menjadi persoalan yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Dalam keadaan seperti itu, kenyamanan keluarga pun ikut terusik, bahkan anak-anak ikut merasakan dampaknya. Kunjungan relawan menjadi secercah harapan baru bagi Aros, bahwa mungkin dalam waktu dekat rumahnya bisa menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan layak.

“Kalau bocor mah setiap ujan pasti bocor, ke dalem juga sampai banjir kalau hujan gede. Sedih kalau hujan mah. Anak-anak pernah mengeluh, Bu di sini bocor banjr, saya jawab ya mau gimana lagi. Seneng, saya sampai terharu rumah saya mau direnovasi,” ujar Aros.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Relawan Tzu Chi, Survei Rutilahu di Desa Hambalang

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Relawan Tzu Chi, Survei Rutilahu di Desa Hambalang

12 Maret 2026
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 dan Jakarta Barat 4 melakukan survei ke 37 rumah tidak layak huni di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.
Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Menyusuri Gang Sempit, Menjemput Harapan Warga Babakan Pasar

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Menyusuri Gang Sempit, Menjemput Harapan Warga Babakan Pasar

06 Februari 2026

Sebanyak 35 Relawan Tzu Chi komunitas Jakarta Barat 3 (Xie Li Bogor) menyurvei 60 RTLH di Kelurahan Babakan Pasar.

Kekuatan akan menjadi besar bila kebajikan dilakukan bersama-sama; berkah yang diperoleh akan menjadi besar pula.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -