Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Tangerang, perwakilan Agung Sedayu Group, dan staf Kantor Desa Pagedangan Udik datang berkunjung ke rumah Tamhuri yang telah selesai direnovasi.
Di antara hamparan sawah di Kelurahan Pagedangan Udik, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, berdiri sebuah rumah bercat cokelat muda dengan atap berwarna biru. Rumah itu tampak berbeda dari rumah-rumah sederhana di sekitarnya. Bagi Istiana (35) dan suaminya, Tamhuri (50), rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh, melainkan tempat yang aman dan nyaman bagi mereka serta ketiga anaknya untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Pagi itu, Istiana terlihat sibuk memberi pakan bebek milik tetangganya di sebuah kandang yang berada di samping rumah. Sementara itu, Tamhuri sedang membersihkan pelataran depan rumahnya. Di samping rumah mereka, terbentang hamparan sawah yang baru saja selesai dipanen. Tanah kecokelatan tampak mengering dan retak-retak, menandai berakhirnya musim panen padi.
Di tengah suasana pedesaan itu, kehidupan Tamhuri dan Istiana berjalan seperti biasa. Tamhuri bekerja menggarap sawah milik orang lain, sedangkan Istiana mengurus rumah tangga dan seminggu sekali bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di rumah tetangganya. Keduanya berusaha saling membantu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Istiana memperoleh upah Rp30.000 setiap kali mendapat pekerjaan mencuci dan menyetrika. Meski penghasilannya tidak seberapa, uang tersebut cukup membantu meringankan beban suaminya.
“Saya seminggu sekali mencuci dan menyetrika di rumah tetangga. Lumayan bantu-bantu suami. Dulu saya sempat jualan kecil-kecilan, jualan gorengan. Pengen jualan lagi. Nanti kalau sudah ada modal, saya mau jualan lagi. Kan tempatnya udah enak, itu depan rumah bisa, dapur udah enak buat masak,” ucap Istiana penuh semangat.

Kondisi rumah Tamhuri sebelum direnovasi dengan kondisi miring dan tiang penyangga teras yang sudah mulai rapuh. Pada beberapa bagian atap juga tampak ditambal dengan material kayu serta triplek untuk menutup lubang.
Sementara itu, Tamhuri menjalani pekerjaan serabutan sebagai buruh tani dan pekerja tambak. Jika bekerja di sawah, ia bisa memperoleh upah Rp50.000 hingga Rp70.000 sehari. Namun, penghasilan dari pekerjaan di tambak tidak menentu. Besarnya pendapatan bergantung pada pekerjaan dan hasil yang diperoleh. Ada kalanya Tamhuri mendapatkan upah sekitar Rp30.000, tetapi tidak jarang pula ia pulang tanpa membawa penghasilan.
Dengan penghasilan yang terbatas dan tidak menentu, pasangan suami istri ini harus memenuhi kebutuhan hidup ketiga anak mereka yang masih kecil dan bersekolah. Anak tertua mereka berusia 13 tahun, sedangkan yang paling kecil berusia empat tahun. Di tengah kebutuhan keluarga yang terus berjalan, memiliki rumah yang aman dan nyaman menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi mereka.
Sebelum rumahnya direnovasi melalui program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, kondisi tempat tinggal Istiana dan Tamhuri jauh dari kata layak. Rumah lama mereka sudah tidak layak huni, atapnya bocor di sana-sini, dan tiang-tiang kayu penyangganya sudah miring. Setiap kali hujan turun disertai angin kencang, Istiana diliputi kecemasan karena khawatir rumah mereka roboh dan menimpa anak-anaknya.
“Dulu, kalau ada angin, saya takut, Pak. Saya langsung lari sama anak-anak, ngungsi ke rumah saudara di depan. Kalau malam hujan pun, saya terpaksa mengungsi, tidak berani tidur di rumah,” kenang Istiana.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Kondisi rumah yang semakin rapuh membuat Istiana dan keluarganya tidak merasa aman berada di dalam rumah sendiri. Tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk beristirahat dan berlindung justru menghadirkan rasa cemas, terutama ketika hujan turun dan angin bertiup kencang.
Harapan untuk memiliki rumah yang lebih layak akhirnya datang melalui program RTLH yang dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Agung Sedayu Group (ASG). Istiana mengetahui program tersebut melalui Kepala Desa Pagedangan Udik, Astri Apriyanti, S.Pd., S.IP., M.H., yang kemudian mengarahkan warga untuk mengikuti proses survei dan melengkapi dokumen yang diperlukan.
Kondisi di atap di dalam rumah Tamhuri sebelum direnovasi. Jika hujan turun, Tamhuri dan keluarga harus mengungsi karena rumahnya bocor disana-sini.
Ketika rumah mereka mulai direnovasi, Istiana dan keluarganya harus tinggal sementara di rumah saudara yang berada tepat di seberang rumah mereka. Mereka menempati rumah tersebut selama lebih dari satu bulan sembari menunggu proses pembangunan selesai. Meski harus menyesuaikan diri dengan tempat tinggal sementara, mereka tetap menyimpan harapan agar segera dapat kembali ke rumah sendiri yang lebih aman dan nyaman.
Kini, rumah yang dahulu miring dan bocor telah berubah menjadi bangunan yang kokoh dan lebih layak huni. Istiana tidak lagi harus mengungsi setiap kali hujan dan angin datang. Rumah hasil renovasi tersebut kini dilengkapi dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, ruang tamu, serta teras di depan rumah.
Bagi Tamhuri dan Istiana, perubahan ini bukan hanya tentang kondisi bangunan yang lebih baik. Rumah yang nyaman memberikan ketenangan bagi mereka dalam membesarkan anak-anak, sekaligus menjadi tempat untuk merencanakan masa depan keluarga. Dengan kondisi rumah yang lebih layak, Istiana pun kembali memiliki keinginan berjualan untuk membantu menambah penghasilan keluarga.
“Ya, saya sangat bersyukur. Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Alhamdulillah, sekarang rumah saya sudah nyaman untuk anak-anak saya. Terima kasih banyak, Pak,” ungkap Istiana penuh rasa syukur.
Membangun Harapan Bersama Warga
Renovasi rumah Istiana dan Tamhuri merupakan bagian dari program RTLH di Kelurahan Pagedangan Udik. Sebanyak 21 unit rumah warga telah selesai direnovasi melalui kerja sama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Agung Sedayu Group. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hunian agar lebih sehat dan nyaman bagi keluarga prasejahtera, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan tempat tinggal yang lebih baik di Kelurahan Pagedangan Udik.
Setelah direnovasi, atapnya pun kini sudah bersih, rapi, dan bebas bocor karena materialnya sudah diganti. Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Tangerang, Aan Christian juga tampak memeriksa langit-langit rumah saat berkunjung ke rumah Tamhuri.
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Tangerang, Aan Christian dan Joni Yu yang datang berkunjung ke rumah Tamhuri dan Istiana bersama staf ASG dan staf Kelurahan Pagedangan Udik pada Kamis, 22 Oktober 2026 juga turut berbahagia melihat rumah baru pasutri ini. Bagi relawan Tzu Chi, program renovasi rumah ini merupakan kelanjutan dari jalinan kepedulian yang telah terbangun beberapa tahun sebelumnya melalui berbagai kegiatan sosial, seperti penyaluran paket sembako dan bakti sosial kesehatan bagi warga di wilayah tersebut.
“Hubungan jodoh Tzu Chi dengan warga di sini sudah dimulai sejak adanya penyaluran sembako dan bakti sosial kesehatan sekitar tahun 2019. Kali ini, kami ingin mempererat jalinan itu dengan merenovasi 21 unit rumah warga yang sangat tidak layak huni. Program ini untuk meningkatkan kualitas hunian yang sehat bagi keluarga dan lingkungan mereka,” ujar Aan Christian.
Aan juga mengingatkan Tamhuri dan keluarganya agar menjaga kebersihan serta merawat rumah yang telah direnovasi dengan baik. Menurutnya, rumah yang bersih dan rapi dapat menciptakan suasana yang nyaman bagi seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak.
“Kalau rumah bersih dan rapi, bapak dan ibu juga nyaman beristirahat di rumah, anak-anak juga tidak sakit-sakitan yaaa,” pesan Aan, yang sejak awal turut mengikuti survei program RTLH di Kampung Pagedangan Udik.
Istiana, yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga, juga bekerja merawat bebek milik tetangganya. Istiana memberi pakan bebek, memanen telur bebek, dan menjaga kawanan bebek mencari makan di area persawahan untuk menambah penghasilan keluarga.
Kepala Desa Pagedangan Udik, Astri Apriyanti, menjelaskan bahwa penjajakan program dimulai pada akhir 2025. Relawan Tzu Chi bersama tim dari Agung Sedayu Group beberapa kali datang ke wilayah tersebut untuk melakukan survei kondisi rumah warga. Proses itu dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen dan pendataan untuk memastikan calon penerima bantuan memenuhi kriteria yang ditetapkan.
“Pada tahap awal itu sebenarnya ada 30 rumah yang didata. Setelah melalui proses survei, 23 rumah dinilai memenuhi kriteria layak untuk dibantu. Namun, ada dua keluarga yang mengundurkan diri karena ukuran rumah yang direncanakan tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga mereka. Akhirnya, ada 21 rumah yang ditetapkan sebagai penerima manfaat,” ungkap Astri.
Astri juga menjelaskan bahwa rumah-rumah penerima bantuan tersebar di berbagai wilayah Kelurahan Pagedangan Udik. Menurutnya, program ini menjadi kesempatan yang sangat berharga baginya sebagai kepala desa untuk membantu warga yang selama ini tinggal di rumah dengan kondisi yang sangat tidak layak huni.
Proses renovasi berlangsung sekitar dua bulan. Pelaksanaannya menghadapi sejumlah kendala karena berlangsung pada musim hujan, ditambah banjir yang melanda wilayah Pagedangan Udik. Banjir tersebut menjadi salah satu banjir terbesar yang dialami warga dalam kurun waktu sekitar lima tahun terakhir. Meski menghadapi berbagai tantangan, pembangunan akhirnya dapat diselesaikan sebelum Hari Raya Idul Fitri 2026. Dengan demikian, keluarga penerima manfaat dapat merayakan Lebaran di rumah yang lebih layak dan nyaman.
Kepala Desa Pagedangan Udik, Astri Apriyanti, S.Pd., S.IP., M.H., menerima kunjungan relawan Tzu Chi, Aan Christian, Joni Yu dan Bapak Sigit (ASG) di Kantor Kepala Desa Pagedangan Udik.
Astri mengungkapkan bahwa sebelum program renovasi rumah ini berjalan, warga Pagedangan Udik juga telah beberapa kali menerima bantuan sembako dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, termasuk menjelang Idul Fitri. Bantuan tersebut menjadi salah satu awal terjalinnya hubungan yang baik antara warga dan relawan Tzu Chi. “Iya, warga kami itu sudah beberapa kali menerima bantuan sembako dari Yayasan Tzu Chi. Saya ingat waktu itu menjelang Lebaran,” ucap Astri.
Sebagai Kepala Desa Pagedangan Udik, Astri mengaku terus berupaya mencari cara untuk membantu warganya agar dapat hidup lebih sejahtera. Ia ingin menghubungkan warga yang membutuhkan dengan pihak-pihak yang bersedia memberikan bantuan, sehingga lebih banyak keluarga prasejahtera di Pagedangan Udik dapat merasakan manfaatnya.
“Saya berterima kasih banyak kepada Yayasan Buddha Tzu Chi, terutama relawannya, Pak Aan dan timnya, Pak Restu, Pak Sigit dari ASG. Terima kasih sekali, bantuan ini sangat membantu warga kami,” ucap Astri.
Bagi Tamhuri dan Istiana, manfaat program RTLH yang dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama ASG terasa nyata dalam kehidupan keluarga mereka. Rumah yang dahulu rapuh kini menjadi tempat berlindung yang lebih aman bagi Tamhuri, Istiana, dan anak-anak mereka. Di balik dinding yang lebih kokoh dan atap yang tak lagi bocor, tumbuh harapan baru untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang, merintis usaha kecil, dan membangun masa depan keluarga yang lebih baik.
Editor: Arimami Suryo A.