Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Tangerang: Kolaborasi ASG dan Tzu Chi Wujudkan Rumah Layak Huni di Kosambi

Jurnalis : Anand Yahya, Fotografer : Anand Yahya
Ahmad Hayyadi dan istri tersenyum gembira setelah rumahnya selesai dibangun kembali oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan ASG. Program RTLH ini ada 22 unit rumah yang telah selesai pengerjaannya di Desa Belimbing, Kosambi, Tangerang.

Langit mendung yang seharusnya membawa kesejukan, dulu justru menghadirkan kecemasan bagi Ahmad Hayyadi (31). Setiap tetes hujan yang turun bukan sekadar air, melainkan ancaman yang perlahan meresap ke dalam rumahnya hingga membasahi lantai, merusak barang, dan mengusik ketenangan keluarganya.

Sudah lebih dari satu dekade Ahmad tinggal di Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Tangerang. Sebagai pedagang sempol ayam keliling, ia berjuang setiap hari untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Dua anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara si bungsu baru berusia tiga tahun.

Namun perjuangan hidup itu terasa semakin berat ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru tak mampu memberikan rasa aman.

Dinding rumahnya masih terbuat dari bilik bambu yang rapuh, serta atapnya banyak yang bocor di sudut-sudur ruang. Ketika hujan deras turun, air tak lagi bisa dibendung. Genangan air kerap masuk ke dalam rumah, bahkan berubah menjadi banjir kecil yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Malam hari, yang seharusnya menjadi waktu beristirahat, sering berubah menjadi waktu berjaga. Tidak ada pilihan selain bertahan. Hingga akhirnya, harapan yang selama ini terasa jauh perlahan mendekat.

Program renovasi rumah tidak layak huni yang dilaksanakan oleh Agung Sedayu Group (ASG) bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia hadir di Desa Belimbing, membawa perubahan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Rumah Ahmad menjadi salah satu dari 22 unit yang direnovasi.

Relawan Tzu Chi dari He Qi Barat 1 bersama staf Agung Sedayu Group foto bersama dengan Ibu Asan di depan rumah yang telah selesai ditempati.

Proses pembangunan berjalan sekitar dua bulan untuk satu unit. Di tengah kesibukannya berjualan, Ahmad tetap menyaksikan bagaimana rumahnya perlahan berubah dari bangunan rapuh menjadi hunian yang layak. Perubahan itu terasa begitu nyata, bahkan sulit ia percaya.

“Ya, sekarang Alhamdulillah sudah rapi, sudah adem, sudah tidak kebanjiran lagi, sudah tidak kebocoran lagi. Terima kasih banyak Agung Sedayu dan Yayasan Buddha Tzu Chi atas bantuannya,” ungkap Ahmad penuh syukur.

Meski rumahnya sudah siap lebih awal, Ahmad baru bisa menempatinya sekitar satu minggu setelah Lebaran. Kesibukan mencari nafkah dan memindahkan barang membuatnya harus menunda sejenak momen itu.

“Sebenarnya sudah bisa ditempati, tapi saya masih repot mindahin barang-barang, harus tetap jualan juga,” tuturnya.

Rumah Ibu Sa’iyah warga 022 Rw. 011, Kelurahan Belimbing, kini lebih rapih dan bersih. Selain itu ASG juga mendukung Ibu Sa’iyah yang berjualan nasi uduk, dan makanan ringan di depan rumahnya.

Kini, ketika hujan turun, suasana yang dulu dipenuhi kekhawatiran berubah menjadi ketenangan. Anak-anaknya dapat tidur nyenyak tanpa harus takut air menetes dari atap. Rumah yang dulu rapuh, kini menjadi tempat pulang yang sesungguhnya.

Cerita haru juga datang dari Sa’iyah (50), warga Rt. 022 Rw. 011, Kelurahan Belimbing, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Sa’iyah asli warga Desa Belimbing yang tinggal bersama enam anggota keluarganya. Di rumah sederhana itu, ia menjalani kehidupan penuh perjuangan bersama suami, anak, menantu, dan cucunya.

Suaminya bekerja sebagai penjual ikan, dan ketika penghasilan sepi, ia berkeliling menjajakan kopi dan panganan ringan. Sementara Sa’iyah setiap pagi berjualan nasi uduk di depan rumahnya yang dibantu oleh anaknya.

Anak-anak Asan sedang bermain di ruang tamu yang bersih dan nyaman. Pembangunan rumah di Desa Belimbing rata-rata memiliki dua kamar tidur berjendela (tegantung luas tanah), satu toilet, dapur, serta ada teras di depan rumah mereka.

Di tengah keterbatasan, bantuan yang datang bukan hanya memperbaiki rumahnya, tetapi juga menyentuh kehidupannya secara lebih luas.

“Senang lah, namanya kita ada yang nolong. Iya, senang, benar-benar senang,” ucapnya dengan wajah yang tak mampu menyembunyikan haru. Perhatian yang diberikan bahkan melampaui apa yang ia bayangkan.

Alhamdulillah saya diberi gerobak juga. Habis lihat saya pakai meja gotong-gotong, diganti sama gerobak. Saya senang sekali,” ungkap Sa’iyah dengan wajah tersenyum.

Kini, rumah keluarga Sa'iyah tempati telah berubah menjadi lebih bersih, rapi, lebih layak, dan lebih nyaman untuk dihuni bersama keluarganya.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada Agung Sedayu Group dan Yayasan Buddha Tzu Chi yang sudah membangun kembali rumah saya jadi rapi,” ujarnya.

Ibu Unah (kanan) bersama adiknya sangat bersyukur rumah yang dulunya berdinding bambu kini telah berganti berdinding bata. Unah lebih bersemangat mencari nafkah dengan menerima pekerjaan sebagai pemotong gambar-gambar yang penghasilannya dibayar mingguan.

Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Desa Belimbing  ada 22 unit rumah yang telah selesai direnovasi. Namun, angka tersebut hanyalah bagian kecil dari cerita besar tentang perubahan kehidupan.

Bagi Ahmad, Sa’iyah, dan keluarga lainnya, rumah yang layak bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah tempat bernaung, ruang untuk membangun mimpi, dan awal dari kehidupan yang lebih bermartabat.

Kini, hujan tidak lagi membawa kecemasan. Hujan datang sebagai berkah membasahi bumi, tanpa lagi meresahkan hati mereka yang kini telah memiliki rumah yang sehat dan nyaman.

Kondisi rumah Unah sebelum direnovasi (kiri). Saat itu relawan Tzu Chi dan lainnya mengunjungi langsung rumah Unah untuk menyurvei kondisi rumah dan kehidupannya. Unah bersama adiknya (kanan) di rumah baru yang telah direnovasi Tzu Chi.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Banyumas: Rumah Baru Tasiman, Simbol Harapan di Tengah Kesederhanaan

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Banyumas: Rumah Baru Tasiman, Simbol Harapan di Tengah Kesederhanaan

10 Oktober 2025

Tasiman, seorang petani di Desa Petarangan, Banyumas, akhirnya bisa tersenyum lega setelah rumah reyotnya berubah menjadi hunian layak.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Relawan Tzu Chi, Survei Rutilahu di Desa Hambalang

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Relawan Tzu Chi, Survei Rutilahu di Desa Hambalang

12 Maret 2026
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 dan Jakarta Barat 4 melakukan survei ke 37 rumah tidak layak huni di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.
Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Baru, Harapan Baru

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Baru, Harapan Baru

27 November 2025

Melalui Program Renovasi 5.020 Rumah Tidak Layak Huni, Sugeng kini memiliki rumah yang bersih, terang, sehat, dan nyaman untuk ditinggali bersama keluarga dan anak-anak.

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -