Di atas terpal sederhana, 116 peserta Tzu Ching dan relawan kembang menjalin kebersamaan dengan 56 murid Sekolah Pondok Domba, menghadirkan ruang belajar yang tumbuh dari perhatian dan kasih sayang.
“Kalau cuci tangan pakai sanitizer, digosok sampai kering ya, Kak? biar kumannya hilang.” Ucapan polos itu terlontar spontan di sela kegiatan, saat anak-anak mulai mempraktikkan cara membersihkan tangan. Tangan-tangan kecil saling bergantian meniru arahan kakak pendamping, menggosok telapak tangan dengan serius, sesekali diselingi tawa ringan.
Sejak pagi, ritme kegiatan memang dibiarkan mengalir perlahan. Anak-anak diberi ruang untuk bergerak, saling mengenal, dan merasa nyaman lebih dulu. Dalam suasana yang tumbuh alami, 116 relawan Tzu Ching dan relawan kembang hadir mendampingi 56 murid Sekolah Pondok Domba, membangun kedekatan lewat duduk bersebelahan, bermain, dan obrolan ringan yang perlahan mencairkan jarak.
Minggu, 11 Januari 2026, pagi mulai menghangat di bawah Jembatan Tol Gedong Panjang, Penjaringan, Jakarta Utara. Cahaya matahari merayap di sela beton, menyentuh sebidang tanah tak rata yang pagi itu beralih fungsi. Di tempat sederhana inilah pelajaran tentang kesehatan, kebersihan, dan kasih sayang tidak sekadar disampaikan, melainkan dialami bersama melalui perjumpaan yang hidup dan membekas.
Senyum ceria mengiringi momen kebersamaan saat sekelompok Tzu Ching berfoto bersama murid-murid setelah berbagi waktu, belajar, dan bermain.
Edukasi kebersihan dilakukan secara interaktif saat seorang Tzu Ching memperagakan penggunaan hand sanitizer dan murid mengikuti langkah demi langkah.
Ruang belajar tersebut sepenuhnya terbuka, tanpa dinding dan tanpa lantai yang rata. Sisa sampah masih tampak di sekeliling area. Para relawan membentangkan terpal di atas tanah sebagai alas sederhana agar anak-anak bisa duduk berdekatan. Tempat ini memang jauh dari kata ideal, namun cukup untuk menghadirkan rasa aman, kebersamaan, dan kesempatan belajar. Di tengah hiruk-pikuk kota, kesederhanaan justru membuka ruang bagi mimpi-mimpi kecil untuk terus bertumbuh.
Sekolah Pondok Domba selama ini menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak usia TK hingga SD yang hidup dalam keterbatasan. Akses air bersih yang terbatas, kondisi sanitasi yang belum memadai, serta persoalan kesehatan seperti gigi berlubang, rambut berkutu, hingga risiko cacingan kerap dijumpai. Sebagian anak tumbuh tanpa pendampingan orang tua, sebagian lainnya hidup dalam bayang-bayang stigma sosial dan minimnya akses pendidikan formal. Namun di balik semua itu, semangat belajar mereka tak pernah benar-benar padam.
Erika, kakak pembimbing Tzu Ching, menyapa seluruh peserta yang duduk di atas terpal, membuka momen belajar dan kebersamaan.
Kehadiran para relawan pun tidak berhenti pada aktivitas bersama anak-anak. Di sela-sela kegiatan, Erika, kakak pembimbing yang mendampingi Tzu Ching, memperhatikan bagaimana perjumpaan pagi tersebut juga memberi dampak bagi para relawan muda.
Ia bercerita bahwa banyak relawan datang dengan latar belakang yang beragam, membawa sudut pandang masing-masing. “Relawan datang dari berbagai kalangan, dan itu membuka jendela baru buat mereka,” tuturnya. Erika mengaku sempat berbincang dengan beberapa peserta. Tidak sedikit yang terkejut dan prihatin ketika pertama kali melihat langsung kehidupan di kolong jembatan.
“Mereka bilang, ternyata masih ada kondisi hidup yang jauh di bawah kata layak. Tapi di saat yang sama, mereka juga merasa kegiatan ini seru dan bermakna. Ada harapan supaya kegiatan seperti ini bisa terus diadakan,” ujarnya.
Jefferson (kanan), koordinator acara Bridge of Hope, menyerahkan piagam penghargaan kepada perwakilan Sekolah Pondok Domba sebagai tanda apresiasi atas partisipasi mereka.
Kebersamaan pagi itu kemudian dirangkai secara sederhana oleh MC, Damica. Dengan suara yang lembut namun penuh semangat, ia mengajak anak-anak duduk lebih rapat dan menenangkan diri sebelum kegiatan dimulai.
“Hari ini kita belajar sambil bermain, ya. Tidak perlu takut salah. Kita di sini sama-sama belajar dan bersenang-senang,” ucapnya.
Kalimat sederhana tersebut perlahan mencairkan suasana. Anak-anak yang semula masih malu-malu mulai berani tersenyum, sebagian saling melirik teman di sebelahnya, lalu ikut bergerak saat sesi senam pagi dimulai. Gerakan ringan diiringi musik membuat tubuh-tubuh kecil bergerak serempak. Tidak ada jarak antara mentor dan peserta. Semua berbaur, tertawa, dan bergerak bersama.
Sesi berikutnya berlanjut pada kegiatan Check Kesehatan Fun. Nisya, salah satu pemateri kesehatan, menyampaikan materi dengan bahasa yang dekat dengan dunia anak-anak. Ia tidak hanya berbicara, tetapi mengajak mereka memperagakan langsung.
“Menjaga kesehatan itu bentuk sayang sama diri sendiri,” ucapnya sambil tersenyum, memperlihatkan kembali gerakan membersihkan tangan dengan benar. Anak-anak mengikuti dengan antusias, sebagian mengangguk kecil seolah sedang menyimpan pesan itu di ingatan mereka.
Di tengah rangkaian kegiatan, Anggiat, Koordinator Sekolah Pondok Domba, memandang suasana itu dengan perasaan yang bercampur hangat dan haru. Baginya, kehadiran para relawan membawa arti lebih dari sekadar kunjungan. “Anak-anak di sini butuh kehadiran yang konsisten,” katanya. “Bukan hanya bantuan, tapi perhatian dan teladan. Saat relawan datang dan berinteraksi langsung, anak-anak merasa mereka berharga.”

Suara riang murid-murid Sekolah Pondok Domba mengalun saat mereka menyanyikan lagu “Laskar Pelangi”, menambah keceriaan kegiatan Bridge of Hope.
Makna serupa dirasakan Jefferson, koordinator acara hari itu. Ia berdiri sejenak di pinggir terpal, memperhatikan anak-anak yang masih tertawa dan bernyanyi bersama para mentor. “Aku senang melihat anak-anak di Sekolah Pondok Domba menikmati semua aktivitas yang kita siapkan, sambil belajar bersama tentang kebersihan lingkungan,” ujarnya. “Paling menyentuh buatku adalah saat para Tzu Ching, guru-guru, dan anak-anak bisa bernyanyi dan bermain bersama. Kita datang dari latar yang berbeda, tapi hari ini kita merayakan kebersamaan.”
Momen kebersamaan itu juga dirasakan langsung oleh para peserta Tzu Ching. Zenny Aryaeny, salah satunya, duduk sejenak memegang tas kecilnya. Wajahnya menyimpan lelah yang bercampur senyum setelah seharian bergerak bersama anak-anak.
“Aku senang hari ini,” katanya. “Bisa turun langsung, main bareng adik-adik, dan belajar melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.”

Tzu Ching dan kakak pembimbing memperagakan isyarat tangan “Satu Keluarga”, menanamkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan.
Menjelang akhir kegiatan, anak-anak dan relawan bergerak bersama membersihkan area sekitar. Sapu dan kantong sampah berpindah tangan. Gerakan kecil itu menjadi penutup yang sederhana, sekaligus latihan tentang tanggung jawab terhadap ruang hidup bersama.
Saat terpal mulai digulung dan anak-anak berpamitan satu per satu, suasana tidak diakhiri dengan sorak-sorai. Namun di balik kesederhanaan itu, tema Bridge of Hope menemukan maknanya. Bukan sebagai simbol yang megah, melainkan sebagai pengalaman yang tumbuh dari perhatian, kehadiran, dan kebersamaan.
Di kolong jembatan yang riuh oleh lalu lintas kota, sebuah jembatan tak kasatmata pun terbangun. Jembatan yang menghubungkan keterbatasan dengan harapan, kesederhanaan dengan kepedulian, dan perbedaan dengan rasa saling menguatkan.
Pagi itu mungkin akan berlalu, tetapi benih yang ditanam lewat perhatian dan kebersamaan diharapkan terus tumbuh, menuntun langkah-langkah kecil menuju masa depan yang lebih terang.
Editor: Metta Wulandari