Sampah Plastik Menjadi Jembatan Lestari dan Literasi

Jurnalis : Arimami Suryo A, Fotografer : Arimami Suryo A

Tzu Ching Jakarta berkolaborasi dengan kegiatan Waste to Wisdom dengan membuat rak buku dari eco-brick, mengedukasi, dan meresmikan pojok literasi bersama anak-anak yang tinggal di sekitar Rumah Susun Barokah Palmerah.

Pagi itu, suasana lantai dasar Rumah Susun Barokah Palmerah mendadak penuh dengan keceriaan anak-anak. Gelak tawa riuh mereka bersama relawan Tzu Ching mengawali rangkaian kegiatan Waste to Wisdom di rumah susun dengan konsep Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) pertama yang dibangun Tzu Chi Indonesia ini.

Erika Aurelia, alumni Tzu Ching yang menjadi koordinator acara Waste to Wisdom hadir bersama dua rekannya Damar dan Rijal pada Rabu, 1 Juli 2026 ke Rusun Barokah. Sehari sebelumnya mereka telah berkegiatan di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi PIK, Mualim Teko untuk acara yang sama, yakni Waste to Wisdom.

Waste to Wisdom sendiri merupakan salah satu kegiatan yang masuk dalam program IYLP (International Youth Leadership Program) yang diadakan oleh Tzu Chi International Youth Association. “Jadi kami perwakilan dari Indonesia dan acara ini dimaksudkan agar program ini selaras dengan program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” jelas Erika. Di Rusun Barokah inilah, mereka juga berkolaborasi dengan Tzu Ching Jakarta untuk mengajarkan anak-anak membuat rak buku dari ecobrick, mengedukasi, dan meresmikan pojok literasi.

“Karena di sekitar Rusun Barokah banyak sekali anak kecil, jadi kami ingin mengadakan acara yang ramah untuk anak-anak dan juga bisa mengedukasi mereka agar semakin giat untuk membaca buku. Di sini juga kan pemukiman padat penduduk dimana sampah banyak sekali yang dibuang sembarangan. Kami mau mereka lebih peduli dan lebih berempati terhadap sampah di sekeliling mereka supaya mereka bisa menggunakan dengan sebaik-baiknya, di re-use dengan baik, bisa di re-imaging juga, dan bisa digunakan untuk kebutuhan mereka,” jelas Erika lebih lanjut.

Sebelum memulai kegiatan, anak-anak yang tinggal di sekitar Rumah Susun Barokah Palmerah diajak untuk mengikuti games dan mendengarkan penjelasan tentang kegiatan. Tampak Raisa sedang menunjuk tangan menjawab pertanyaan.

Ecobrick dibuat oleh anak-anak dengan memasukkan komponen sampah plastik kecil ke dalam botol plastik kemudian dipadatkan sampai tidak menyisakan oksigen dalam botol.

Sekitar 30 anak dari berbagai usia yang hari itu sudah hadir di lantai dasar Rusun Barokah langsung diajak bermain agar bisa saling mengenal satu sama lain. Setelah suasana cair, Erika bersama Damar dan Rijal kemudian menjelaskan maksud dan tujuan mereka dengan membawa buku-buku bacaan, contoh ecobrick, dan sampah daur ulang yang sebelumnya sudah dipersiapkan di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi PIK, Mualim Teko.

Setelah penjelasan singkat, anak-anak pun dibagi menjadi beberapa kelompok yang didampingi oleh Tzu Ching. Bahan-bahan yang telah disiapkan berupa botol bekas ukuran 1 liter, komponen sampah plastik berukuran kecil, dan sumpit sebagai alat bantu kemudian dibagikan ke tiap-tiap kelompok. Suasana pun kembali riuh saat anak-anak beserta Tzu Ching mulai memasukkan komponen sampah plastik berukuran kecil ke dalam botol-botol tersebut yang setidaknya harus diisi lebih dari 350 gram sampah plastik.

Karena kegiatan ini berbarengan dengan libur sekolah, maka anak-anak pun terlihat bersemangat. Raisa (9), salah satu anak yang kini naik ke kelas 4 SD tampak bersemangat ikut berkegiatan. Bersama dengan anak-anak lainnya yang tinggal di sekitar Rusun Barokah, ia pun mengikuti setiap rangkaian acara dengan antusias. “Senang, ada kegiatan daur ulang, menggambar, membaca, dan games,” ucapnya.

Di kelompoknya, Raisa terlihat paling bersemangat. Ia pun melempar senyum dan tos setelah bekerja sama bersama relawan Tzu Ching dan teman-temannya. Beberapa kali ia juga terlihat bolak-balik menimbang botol untuk memastikan ukurannya melebihi batas minimal yang telah ditentukan. “Tadi memasukkan sampah plastik ke botol dan di padatkan dapet 389 gram. Hari ini senang juga ditemani kakak-kakak Tzu Ching belajar dan bermain,” kata Raisa.

Dengan penuh semangat, Sanny (kacamata) mengajarkan anak-anak mendorong komponen sampah plastik kecil dengan menggunakan sumpit ke dalam botol plastik saat membuat ecobrick.

Setiap kelompok satu-persatu menimbang botol berisi komponen sampah plastik kecil sehingga mencapai berat minimal 350 gram untuk menjadi ecobrick yang ideal dalam botol ukuran 1 liter.

Tzu Ching yang hari itu membersamai anak-anak di dalam kelompok juga langsung membaur. Setelah saling kenal, Tzu Ching memandu anggota kelompok untuk membuat ecobrick. Sanny, Tzu Ching dari komunitas He Qi Jakarta Barat 1 juga menjelaskan cara membuat ecobrick untuk dijadikan rak buku.

“Cara membuatnya adalah kita masukkan komponen kecil sampah plastik ke dalam botol. Supaya padat kita dorong dengan sumpit, kemudian kita tekan lagi dengan batang besi atau kayu yang lebih kokoh agar semakin padat dan tidak ada udara yang tersisa,” jelas Sanny.

Saat mendampingi kelompoknya, Sanny membagi tugas anggota kelompok untuk memasukkan komponen sampah, mendorong dengan sumpit, memegang botol agar tidak jatuh, dan memberi tekanan lebih besar ke dalam botol dengan batang besi. Ia pun berharap agar kegiatan ini memberikan manfaat serta menimbulkan rasa kepedulian akan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.

“Harapannya supaya adik-adik lebih paham tentang pilah sampah, jadi nggak sembarangan buang sampah dan aware dengan lingkungan. Jadi bukan saat kita datang baru bikin, tapi di rumah mereka juga bisa bikin. Agar mereka nggak bermain gadget, tapi mereka punya aktivitas lain yang bermanfaat,” ungkap Sanny.

Setelah semua kelompok menyelesaikan ecobricknya, botol-botol yang telah terisi padat dengan sampah plastik disatukan dengan papan yang juga dibuat dari sampah plastik yang dilelehkan. Sambil menunggu rak buku dari ecobrick selesai dirangkai, anak-anak satu per satu juga diminta untuk mengambil buku-buku bacaan yang didonasikan, membacanya sambil didampingi Tzu Ching. “Tujuan kita bikin rak buku, tentu berkaitan juga donasi buku dan gemar membaca. Jadi dalam kegiatan ini, selain membawa budaya lestari kita juga membawa budaya literasi,” jelas Sanny.

Eco-brick yang sudah jadi kemudian disatukan dengan papan yang juga terbuat dari tutup botol plastik yang dilelehkan supaya menjadi rak buku dari bahan sampah plastik.

Erika Aurelia, koordinator acara Waste to Wisdom bersama dua rekannya Damar dan Rijal menyerahkan rak buku dan donasi buku sebagai pojok literasi anak-anak kepada Kartiwo (relawan sekaligus Pembina Rusun Barokah Palmerah) yang akan di tempatkan di salah satu sudut lantai dasar Rusun tesebut.

Rak buku dari ecobrick yang dibuat oleh anak-anak yang tinggal di sekitar Rusun Barokah pun selesai dibuat. Setelah selesai membaca, dengan tertib anak-anak menaruh buku-buku tersebut ke rak buku sambil dibantu oleh relawan Tzu Ching untuk merapikannya. Rak buku dan buku-buku yang didonasikan ini nantinya akan di tempatkan di salah satu sudut lantai dasar Rusun Barokah dengan harapan anak-anak lebih rajin membaca.

“Semoga hal-hal seperti ini bisa dilanjutkan oleh warga di sekitar KTV dan dilanjutkan juga oleh Tzu Ching. Karena kita sedang belajar menyelesaikan masalah sampah yang ada di Jakarta. Tentunya harapan kami semoga kegiatan ini bisa dikembangkan oleh komunitas-komunitas lainnya dan rak buku ini bisa digunakan sebaik-baiknya oleh anak-anak yang sudah membuatnya dengan penuh semangat,” ungkap Erika di akhir kegiatan.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Sampah Plastik Menjadi Jembatan Lestari dan Literasi

Sampah Plastik Menjadi Jembatan Lestari dan Literasi

02 Juli 2026

Tzu Ching Jakarta berkolaborasi dengan kegiatan Waste to Wisdom membuat ecobrick sebagai bahan untuk rak buku yang akan digunakan sebagai bagian dari pojok literasi anak-anak di Rumah Susun Barokah Palmerah.

Mengubah Sampah Plastik Menjadi Harapan bagi Lingkungan

Mengubah Sampah Plastik Menjadi Harapan bagi Lingkungan

01 Juli 2026

Relawan Tzu Ching dan mahasiswa BINUS mengolah sampah plastik menjadi ecobrick untuk mendukung pelestarian lingkungan serta pembangunan Pojok Literasi bagi anak-anak Rusun Barokah Palmerah.

Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -