Rokhudin bersama istri dan anaknya tampak tersenyum bahagia setelah menerima kunci rumah sebagai simbol selesainya renovasi rumah melalui Program Bebenah Kampung RTLH di Banyumas.
Di suasana siang hari, ketika matahari meninggi, aroma kuah mi mulai mengepul dari teras sederhana milik Rokhudin (43) di Desa Kaliwangi, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas. Dengan gerobak bewarna biru yang telah menemaninya bertahun-tahun, ia dengan cekatan menata dagangannya untuk bersiap menjual mi kepada warga sekitar.
Lewat tanganya yang terampil, Rokhudin (43) memasukkan mi ke dalam wajan untuk segera diraciknya menjadi sajian hangat bagi para pelanggannya. Dari hasil jualannya itu Rokhudin bersama sang istri, Siti Maryati (31), dengan penuh semangat berjuang menafkahi kedua buah hati mereka yaitu Azzahra Asyila Rahma (10) dan Muhammad Rayyan (1), walaupun hasilnya sering kali bergantung pada ramainya pembeli dan cuaca yang bersahabat.
“Ya, namanya juga jualan di kampung, harga enggak bisa dinaikin. Paling banyak sehari saya cuma bisa jual sekitar 40 porsi,” ujarnya.
Di balik kesederhanaan mereka menjalani hari, mereka menyimpan perjuangan yang sama sekali tidak sederhana untuk keluarganya. Penghasilan yang sering kali pas-pasan membuatnya harus mengutamakan kebutuhan harian dibandingkan memperbaiki rumah yang semakin rapuh dimakan usia.
Gerobak mi milik Rokhudin kini berdiri di teras depan rumahnya yang telah direnovasi, menjadi saksi semangatnya dalam menata kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
Sejak menikah 11 tahun yang lalu, Rokhudin bersama istrinya menempati rumah peninggalan orang tua yang kondisinya sudah tidak layak. Atap yang kerap kali bocor saat hujan turun telah menjadi pemandangan sehari-hari, juga dinding kayu yang mulai lapuk dan lantainya yang hanya diplester semen. Seiring waktu berjalan, rumah tersebut tak lagi mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarganya.
“Dulu, tiap kalau ninggalin rumah buat bekerja, saya khawatir banget kalau tiba-tiba turun hujan gede, apalagi anginnya juga kenceng. Saya takut rumah ini roboh nimpa istri dan anak saya,” ucap Rokhudin lirih.
Namun hidup dalam keterbatasan, tak membuat Rokhudin kehilangan semangat, ia juga tetap mendorong gerobaknya mi-nya setiap hari. Bagi Rokhudin, rezeki bukan hanya tentang banyaknya hasil dagangan, tetapi juga tentang kesempatan untuk tetap berkumpul dan saling menjaga.
“Kalau hujan turun, atap rumah sering bocor. Saya dan anak langsung ambil ember buat nampung air biar enggak banjir ke mana-mana,” tambah Siti Maryati.
Rumah Rokhudin sebelum direnovasi dengan dindingnya terbuat dari kayu yang sudah rapuh.
Keinginan untuk merenovasi rumah agar lebih layak huni telah lama mereka impikan. Namun, keterbatasan ekonomi menjadi hambatan yang sulit mereka atasi hingga membuat harapan itu hanya tersimpan dalam doa dan penantian yang panjang.
“Sebenarnya kami ada kepikiran buat memperbaiki rumah ini, tetapi kondisi ekonomi terbatas dan penghasilan pun tidak menentu, yang ada hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan aja udah bersyukur,” ujar Siti Maryati.
Rumah Layak jadi Semangat Baru
Harapan itu perlahan menemukan jalannya ketika keluarga ini terpilih sebagai penerima bantuan renovasi rumah. Sebelum pembangunan dimulai, tim relawan melakukan survei untuk melihat langsung kondisi tempat tinggal mereka dan memastikan bantuan diberikan kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan.
“Awal di survei, rasanya seneng banget karena katanya akan dapat bantuan dari Tzu Chi. Saya langsung hubungi suami, kasih tahu ke dia kalau rumahnya bakal diperbaiki,” tutur Maryati.
Rokhudin dengan cekatan membuat sajian mi yang akan disajikan untuk pelanggannya.
Renovasi rumah menjadi titik balik yang menghadirkan secercah harapan baru bagi Rokhudin dan Siti Maryati. Mereka merupakan salah satu keluarga penerima bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Program Bebenah Kampung yang telah dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) di Kabupaten Banyumas.
Di Desa Kaliwangi, sebanyak 42 rumah telah direnovasi dan kini sudah menjadi hunian yang layak, aman, dan sehat bagi keluarga penerima manfaat untuk menata masa depan yang lebih baik. Begitu pula rumah Rokhudin yang telah berdiri kokoh. Dinding yang dahulu hanya terbuat dari papan kayu sekarang telah berganti menjadi tembok yang kuat, atap yang selama bertahun-tahun membiarkan air hujan masuk telah berganti menjadi pelindung yang aman.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dapat bantuan renovasi rumah ini. Terima kasih Yayasan Buddha Tzu Chi, semoga bisa terus menebarkan kebaikan dan membantu sesama yang membutuhkan,” ucap Rokhudin penuh syukur.
Siti Maryati sedang menemani putrinya Azzahra belajar, ia pun senang kini rumahnya sudah rapi dan nyaman.
Bagi keluarga Rokhudin, perubahan tersebut jauh melampaui bentuk fisik rumah. Kini mereka dapat beristirahat tanpa rasa cemas saat hujan turun. Anak-anak memiliki tempat yang lebih nyaman untuk belajar dan bertumbuh. Hal itu dirasakan putri pertamanya, Azzahra yang merasa kebahagiaan setelah menempati rumahnya yang telah direnovasi, “Rasanya senang rumahnya jadi bagus, sekarang udah bisa punya kamar sendiri,” ucapnya tersenyum ceria.
Tak hanya itu, ia juga merasa lebih nyaman dengan kondisi rumahnya yang kini membuatnya dapat belajar dan bermain dengan lebih leluasa. “Sekarang aku udah bisa belajar dan bermain dengan nyaman di rumah,” tambahnya.
Saat ini, dengan rumah yang telah layak huni, Rokhudin tidak lagi harus mendorong gerobak mi-nya menyusuri jalan. Ia kini berjualan di teras rumahnya dengan semangat baru. Di penghujung hari, tak lagi ada rasa khawatir yang menyelimuti pikirannya ketika hujan turun ataupun saat meninggalkan rumah untuk mencari nafkah.
Editor: Metta Wulandari