Ketua Harian TIMA Indonesia, drg. F.X. Ganny, memberikan sambutan dan penjelasan mengenai Seminar Nasional TIMA 2026, yang menjadi sarana pembelajaran bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat untuk meningkatkan kesiapan menghadapi kondisi gawat darurat.
Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia bersama Tzu Chi Hospital Training Center, dan Kementerian Kesehatan RI, menyelenggarakan Seminar Nasional TIMA 2026 bertema “Sigap dan Terampil Mengatasi Kegawatdaruratan Medis”.
Kegiatan ini diselenggarakan pada Minggu, 1 November 2026, di International Auditorium lantai 3, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta. Melalui seminar, diskusi, dan workshop, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat untuk meningkatkan kesiapan menghadapi kondisi gawat darurat dalam kehidupan sehari-hari serta situasi bencana.
“Bagi kita yang berkecimpung di dunia kesehatan, kita memahami bahwa dalam keadaan darurat setiap detik sangat berarti. Kita bisa saja memiliki ilmu yang tinggi, tetapi jika tidak memiliki kepedulian, kita mungkin tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Sebaiknya cinta kasih yang tulus harus disertai pengetahuan dan keterampilan,” tutur Ketua Harian TIMA Indonesia, drg. F.X. Ganny.
Acara ini dimulai dengan pembicara utama oleh Administrator Kesehatan Ahli Madya Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, dr. Eko Medistianto, M.Epid, yang salah satu temanya membahas penanganan medis di lokasi bencana.
Acara ini dimulai dengan pembicara utama oleh Administrator Kesehatan Ahli Madya Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, dr. Eko Medistianto, M.Epid, yang salah satu temanya membahas penanganan medis di lokasi bencana. Untuk sesi seminar menghadirkan dr. Adrianus Kanaris, Sp.Em., MARS., FICEP, yang membahas penanganan kegawatdaruratan medis secara cepat, tepat, dan terintegrasi dalam situasi sehari-hari maupun bencana.
“Kami di Pusat Krisis Kesehatan menyusun kebijakan nasional dalam respon kesehatan dalam penanggulangan bencana. Saya dibeberapa kejadian bencana, saya juga pernah ya bertemu dengan relawan tim kesehatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi,” ungkap dr. Eko Medistianto, M.Epid.
Lebih lanjut dr. Eko Medistianto, M.Epid, menjelaskan tentang undung-undang, peraturan, serta keputusan Kementrian Kesehatan RI mengenai respon kesehatan dan tindakan medis. Hal terebut sangat bermanfaat bagi peserta yang hadir baik dari tenaga medis ataupun masyarakat umum.
Dari kiri ke kanan yang memegang sertifikat penghargaan: Ns. Joko Jamaluddin, dr. Adrianus Kanaris, drg. Henri Mudjono, Ns. Hardono, menerima sertifikat penghargaan dari TIMA Indonesia setelah menjadi pemateri dan moderator di seminar TIMA.
Selanjutnya, dr. Adrianus Kanaris yang merupakan salah satu tim medis TIMA Indonesia, menjelaskan apa itu kegawatdaruratan? Bedasarkan PMK 47 2018: Kondisi klinis yang mengancam nyawa, membahayakan diri sendiri atau orang lain, dan membutuhkan tindakan medis segera di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menyelamatkan nyawa serta mencegah kecacatan.
“Penatalaksanaan kegawatdaruratan medis bukan hanya untuk tenaga medis tentunya, kita di Tzu Chi bergerak di kegawatdaruratan mulai dari relawan, kemudian dokter, perawat, dan juga ada bagian-bagian lain di dalam TIMA. Kita perlu untuk sama-sama mengetahui bagaimana penatalaksanaan penanganan kegawatdaruratan medis secara cepat, tepat, dan terintegrasi,” jelas dr. Adrianus Kanaris.
Penanganan pasien secara cepat dan tepat membutuhkan sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi tanpa hambatan. Dalam sesi ini, dr. Adrianus Kanaris menekankan pentingnya kesinambungan penanganan sejak pasien ditemukan, diberikan pertolongan pertama, hingga dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kita bisa melakukan Time Saving, Life Saving, and Limb Saving ini secara tepat membutuhkan satu sistem yang bebas hambatan istilahnya. Jadi terintegrasi mulai dari pada saat pasien tersebut ditemukan, kemudian dilakukan penanganan pertama kali, sampai pasien tersebut dibawa ke pusat kesehatan terdekat,” jelasnya.
Sesi seminar dilanjutkan oleh drg. Henri Mudjono, Sp.BMM, yang mengulas penanganan kegawatdaruratan gigi dan trauma wajah secara komprehensif; serta Ns. Joko Jamaluddin, S.Kep., CCCN, yang membahas peran perawat dalam penanganan kegawatdaruratan medis dan bencana. Rangkaian materi dilanjutkan dengan diskusi panel untuk memperdalam pemahaman mengenai pentingnya kesiapan, ketepatan tindakan, dan kerja sama antarprofesi dalam memberikan pertolongan.
Para peserta seminar yang terdiri dari relawan Tzu Chi, tenaga medis, dan masyarakat umum dengan seksama menyimak dan mencatat materi yang disampaikan.
Sesi seminar dilanjutkan oleh drg. Henri Mudjono, Sp.BMM, yang mengulas penanganan kegawatdaruratan gigi dan trauma wajah secara komprehensif; serta Ns. Joko Jamaluddin, S.Kep., CCCN, yang membahas peran perawat dalam penanganan kegawatdaruratan medis dan bencana. Rangkaian materi dilanjutkan dengan diskusi panel untuk memperdalam pemahaman mengenai pentingnya kesiapan, ketepatan tindakan, dan kerja sama antarprofesi dalam memberikan pertolongan.
Praktik Penanganan Bencana oleh Tim Medis dan Relawan
Setelah sesi seminar yang sangat bermanfaat, acara ini menghadirkan sesi talkshow “Dari Pengalaman Menjadi Pembelajaran: Praktik Penanganan Bencana oleh Tim Medis dan Relawan”. Dipandu oleh Ns. Novi Kartikasari, S.Kep., sesi ini menghadirkan dr. Subekti N. Kartasasmita, MPH, dan Weni Yunita, S.Kep., SKM (tim medis TIMA), serta Joe Riadi dan Ricky Budiman (relawan Tanggap Darurat Tzu Chi Indonesia) untuk berbagi pengalaman penanganan bencana.
Melalui perspektif tenaga medis dan relawan, talkshow ini menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai kesiapsiagaan dan kerja sama dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat terdampak bencana.
Dari kiri ke kanan: Joe Riadi, Ricky Budiman, dr. Subekti N. Kartasasmita, Weni Yunita, dan Novi Kartikasari, menghadirkan sesi talkshow bertema “Praktik Penanganan Bencana oleh Tim Medis dan Relawan”, dengan dimoderatori oleh Novi Kartikasari.
Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi, Joe Riadi (kiri), menceritakan pengalaman relawan dalam mempersiapkan keberangkatan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar tim serta bantuan dapat menjangkau wilayah terdampak bencana.
Dalam pemaparannya, dr. Subekti menjelaskan bahwa kesiapan tim medis mencakup penyiapan logistik, pengaturan personel, serta pengiriman tim awal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan kondisi fasilitas medis di lokasi bencana.
“TIMA itu sebagai tim tanggap darurat medis sudah menyiapkan diri, nanti ada penyiapan logistiknya. Selain itu kita menyiapkan personel, siapa saja yang siap untuk berangkat, kemudian siapa yang berangkat duluan. Tim medis yang awal ini hanya beberapa orang saja yang tugasnya pertama mengkoordinasikan. Melihat kebutuhaan medis seperti apa? Fasilitas medis yang ada seperti apa? Kemudian selanjutnya tim kedua datang,” jelas dr. Subekti N. Kartasasmita.
Melengkapi penjelasan tersebut, Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi Indonesia, Joe Riadi, membagikan pengalaman relawan dalam mempersiapkan keberangkatan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar tim serta bantuan dapat menjangkau wilayah terdampak bencana.
“Dimana ada bencana kita selalu meeting, dan tentukan kapan berangkat, kalau bencana nasional kita hubungi BNPB dan TNI. Kalau bencana nasional kita berangkat naik pesawat Hercules karena lebih mudah untuk membawa paket bantuan,” ungkap Joe Riadi.
Berbagai pengalaman yang dibagikan dalam sesi ini menegaskan pentingnya kesiapan, koordinasi, dan kerja sama antara tenaga medis, relawan, serta instansi terkait dalam penanganan bencana. Melalui pembelajaran bersama ini, para peserta diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan dan memberikan pertolongan yang cepat, tepat, serta penuh kepedulian kepada masyarakat terdampak.
Edi Sheen (tengah), relawan Tzu Chi yang menjadi peserta seminar mempraktikkan teknik resusitasi jantung paru (CPR) sebagai bekal untuk menolong sesama di lapangan.
Dari setiap rangkaian acara, kesempatan mempelajari keterampilan pertolongan pertama menjadi pengalaman berharga bagi para peserta. Melalui pelatihan ini, mereka dapat langsung mempraktikkan teknik resusitasi jantung paru (CPR) sebagai bekal untuk menolong sesama di lapangan. Antusiasme tersebut turut dirasakan oleh Edi Sheen, salah satu relawan Tzu Chi yang mengikuti kegiatan ini.
“Ini kesempatan belajar, memang saya pengen belajar tetapi belum ada kesempatan, dengan adanya kesempatan ini saya pikir kenapa tidak. Langsung praktek yang CPR (Cardiopulmonary Resuscitation), saya suka materi itu. Sangat berterima kasih kepada tim dokter, TIMA, dan panitia penyelengara pelatihan ini, karena ini salah satu modal kami untuk berbuat kebajikan di lapangan,” ungkap Edi Sheen, relawan Tzu Chi peserta seminar.
Semangat belajar yang ditunjukkan para peserta menjadi harapan agar pengetahuan dan keterampilan dari Seminar Nasional TIMA 2026 dapat diterapkan saat dibutuhkan. Dengan kesiapan, kerja sama, dan cinta kasih, tenaga kesehatan maupun relawan dapat mengambil peran dalam memberikan pertolongan yang cepat dan tepat. Setiap keterampilan yang dipelajari pun menjadi bekal berharga untuk melindungi kehidupan dan meringankan penderitaan sesama.
Editor: Arimami Suryo A.