Para relawan Tzu Chi senior mempersembahkan pelita, air, dan bunga sebagai simbol penghormatan dan ungkapan ketulusan hati sebelum prosesi Waisak dimulai di Lapangan Teratai, Tzu Chi Center, pada 10 Mei 2026. Suasana khidmat begitu terasa ketika para peserta mengikuti jalannya prosesi dengan penuh kekhusyukan.
Sejak pagi buta, dapur relawan di Tzu Chi Center telah dipenuhi kesibukan. Di tengah kepulan uap hangat dan deretan relawan yang menyiapkan makanan, ada di antaranya Anne Djasa bersama tim Relawan Sheng Huo Zhu (Tim Pelayanan/Konsumsi) menyiapkan ribuan porsi hidangan untuk para peserta perayaan Hari Waisak 2570 BE, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia, 10 Mei 2026. Tahun ini, sebanyak 3.500 porsi nasi hainam dan pekcam kembang tahu disiapkan untuk menjamu seluruh peserta yang hadir dalam prosesi waisak.
“Tahun ini terasa sangat istimewa karena kita bisa kembali merayakan tiga momen besar sekaligus. Lalu bagi keluarga saya pribadi, momen ini pun adalah sukacita yang sulit diungkapkan dengan kata-kata,” tutur Anne.
Kebahagiaan Anne itu terasa lengkap karena seluruh anggota keluarganya dapat ikut berpartisipasi dalam formasi Waisak. Selain membantu di konsumsi, ia juga turut ikut dalam formasi. Memang sebelumnya Anne sempat merasa khawatir karena suaminya sedang berada di luar kota dan hampir membatalkan keikutsertaan mereka. Namun berkat tekad yang kuat, sang suami akhirnya dapat kembali tepat waktu untuk mengikuti gladi resik sehari sebelum acara berlangsung.
“Hadir bersama keluarga untuk berdoa dengan tulus adalah berkah yang sangat kami syukuri,” ungkapnya bahagia.
Dalam prosesi Waisak tahun ini, ribuan peserta membentuk formasi tulisan Mo Wang Chu Xin yang berarti Jangan Melupakan Tekad Awal. Bagi Anne, momen itu menjadi pengalaman yang sangat menyentuh batin.
Di tengah suasana yang khidmat, formasi yang rapi, serta dekorasi yang penuh keagungan, kalimat tersebut terasa seperti pengingat langsung bagi perjalanan spiritual setiap insan. Sebuah ajakan untuk kembali mengingat niat awal saat melangkah di jalan Bodhisatwa, jalan yang dipenuhi welas asih dan pengabdian bagi sesama.
“Kita beruntung berjodoh dengan Master Cheng Yen, dimana Master menjadi guru yang membimbing dengan kebijaksanaan, juga memiliki teman-teman bajik yang selalu menuntun dengan cinta kasih. Tekad awal inilah yang ingin kami teruskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Anne Djasa bersama Rusli Chan dan putra mereka, Kenneth, turut ambil bagian dalam formasi “Mo Wang Chu Xin” pada prosesi Waisak. Kehadiran mereka menjadi wujud kebersamaan keluarga dalam menapaki jalan kebajikan serta menjaga ketulusan hati dalam kehidupan sehari-hari.
Hal serupa juga dirasakan oleh suaminya, Rusli Chan, yang tahun ini kembali mengikuti prosesi Waisak bersama keluarga. Jika tahun lalu kegiatan dilaksanakan di dalam ruangan, tahun ini seluruh rangkaian acara berlangsung di ruang terbuka dengan dihadiri 1.500 peserta formasi ditambah 1.535 masyarakat umum yang turut serta prosesi di Aula Jing Si lantai 4, dengan suasana yang terasa begitu damai.
“Walaupun diadakan di lapangan terbuka, cuaca sangat bersahabat dengan angin sepoi-sepoi sehingga seluruh acara berjalan lancar. Rasanya seperti alam semesta turut mendukung,” ujar Rusli.
Baginya, mengikuti prosesi Waisak adalah sebuah perayaan sekaligus momen syukur. Bersyukur karena dapat terlahir sebagai manusia, bertemu dengan ajaran Buddha, dan berjodoh dengan Master Cheng Yen sebagai guru yang membimbing kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.
Salah satu prosesi yang paling membekas di hati Rusli adalah Prosesi Memandikan Rupang Buddha. Dalam prosesi tersebut, peserta meletakkan tangan di atas piring berisi air sebagai simbol membasuh kaki Buddha, lalu menerima sekuntum bunga sebagai lambang membawa pulang keharuman Dharma dan kebajikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Prosesi ini menjadi pengingat untuk terus menyucikan batin dan menebarkan kebaikan, seperti harum bunga yang menyebar ke segala arah,” katanya hangat.

Anne Djasa bersukacita dapat mengajak keluarganya ikut serta menanam benih kebajikan melalui prosesi Waisak yang berlangsung khidmat dan penuh makna. Bagi Anne, momen ini juga menjadi pengingat untuk terus menjaga tekad awal dalam melangkah di jalan kebajikan bersama keluarga.
Di tengah ribuan peserta dari berbagai latar belakang yang berkumpul dalam satu hati, keluarga ini merasakan kekuatan besar dari kebersamaan dan cinta kasih universal. Seluruh prosesi berlangsung tertib, khidmat, dan harmonis, mencerminkan semangat toleransi serta kekompakan para relawan dan peserta Tzu Chi.
Tak hanya dirasakan oleh orang tua, makna mendalam dari perayaan ini juga menyentuh hati putra mereka, Kenneth, yang masih duduk di bangku kelas 8 Tzu Chi School.
“Mengikuti Waisak membuat saya merasa damai dan bersyukur. Saya jadi lebih menghargai kasih sayang seorang ibu dan ingin menjadi pribadi yang lebih peduli kepada sesama,” ujar Kenneth polos.
Tergerak oleh Semangat Para Relawan Senior
Semangat yang sama juga dirasakan oleh Pui Sik Jung, yang untuk pertama kalinya turut membawa persembahan Waisak tahun ini. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga baginya.
“Sejak awal latihan, hati saya dipenuhi rasa syukur dan sukacita karena dapat terlibat dalam kegiatan yang penuh makna ini,” tuturnya.
Pui Sik Jung (kedua dari kanan) bersama para relawan pembawa persembahan mengikuti prosesi Waisak dengan penuh fokus dan ketulusan. Dengan langkah yang tertata rapi, mereka membawa persembahan sebagai simbol penghormatan sekaligus ungkapan syukur dalam perayaan Waisak.
Di tengah proses latihan, Pui Sik Jung melihat begitu banyak relawan senior yang tetap berpartisipasi dengan penuh semangat meski harus melalui jalur latihan yang cukup menantang. Ia sempat merasa khawatir ketika harus melewati jalur menurun yang cukup berbahaya. Namun kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi rasa kagum saat melihat para relawan senior tetap teguh berdiri dalam waktu lama tanpa mengeluh sedikit pun.
“Melalui kegiatan ini saya merasa seperti sedang melatih diri. Saya belajar dari kesungguhan hati para relawan senior yang begitu fokus mendengarkan setiap arahan dan panduan,” ungkapnya.
Baginya, semangat para relawan senior menjadi sumber inspirasi yang mengubah rasa lelah menjadi kekuatan batin. Dari sana ia menyadari bahwa setiap langkah di Tzu Chi bukan hanya tentang melayani, tetapi juga tentang membina hati dan menumbuhkan ketulusan dalam diri.
Tak hanya berlangsung di Lapangan Teratai, prosesi Waisak juga diikuti oleh peserta yang memenuhi Aula Jing Si lantai 4 dengan suasana yang khidmat. Ribuan peserta bersama-sama mengikuti rangkaian acara dengan tertib dan penuh kekhusyukan, menciptakan suasana yang harmonis dan penuh kehangatan.
Setelah mengikuti seluruh rangkaian acara Waisak, Pui Sik Jung merasa semakin terdorong untuk terus menapaki jalan kebajikan bersama Tzu Chi.
“Saya merasa semakin termotivasi untuk terus semangat melayani dan mengajak lebih banyak teman bergabung dalam barisan relawan, agar semakin banyak hati yang dapat berjalan bersama di jalan kebajikan. Pengalaman ini juga menjadi pengingat mendalam bagi saya untuk selalu menjaga ketulusan hati dan tidak melupakan tekad awal dalam menapaki jalan kebajikan,” katanya penuh semangat.
Editor: Arimami Suryo A.