Tak Kenal Maka Tak Sayang

Jurnalis : Veronika Usha, Fotografer : Veronika Usha
 
foto

Tidak hanya pameran poster, para relawan juga menjual alat makan ramah lingkungan, menggalang dana untuk korban bencana alam di China dan Myanmar, menjual buku kata perenungan, hingga menghimpun cinta kasih dengan menjaring para relawan baru.

Sejak pukul 09.00 pagi, lebih kurang 10 relawan Tzu Chi sudah terlihat sibuk mempersiapkan stand pameran poster dan pengenalan Tzu Chi yang berlokasi di Mal Mangga Dua Square, Jakarta.

Memasuki jam makan siang, mal yang awalnya sepi itu perlahan mulai dipadati oleh para pengunjung. Satu persatu para pengunjung mulai mendekati stand dan melihat-lihat beberapa koleksi poster yang telah dipajang.

Stand yang baru saja dibuka sejak hari Jum’at, 16 Mei 2008, rencananya akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut. ”Kegiatan pameran dan pengenalan Tzu Chi ini, kami buat dalam rangka menyambut Waisak,” ucap Rui Hua, salah satu relawan Tzu Chi.

Tidak hanya poster, para relawan Tzu Chi juga menjual peralatan makan (Huan-Bao), beberapa buku Master Cheng Yen edisi bahasa Indonesia, serta membuat kotak penggalangan dana untuk korban bencana alam di China dan Myanmar. Pada pameran poster dan pengenalan Tzu Chi, terdapat juga sebuah televisi, yang sengaja dipersiapkan untuk menayangkan DAAI TV Indonesia, kegiatan kemanusiaan yang dilaksanakan oleh Tzu Chi, serta ceramah Master Cheng Yen.

foto  foto

Ket : - Relawan Tzu Chi tengah memberikan pengarahan dan informasi kepada para pengunjung mengenai
           Tzu Chi dan kegiatan yang dilaksanakan Tzu Chi di Indonesia. (kiri)
         - Melalui informasi dari para relawan Tzu Chi yang menjaga Stand, Kim Kim dan Ling Ling, menjadi lebih ingin
           mengenal Tzu Chi dan ingin turut serta dalam berbuat kebajikan. Tak kenal maka tak sayang. (kanan)

Penayangan ceramah Master Cheng Yen mengenai bencana alam di China dan Myanmar ternyata telah menggugah banyak simpati dari masyarakat. Buktinya, para relawan bisa mendapatkan dana sebesar Rp. 19.157.500 (Sembilan Belas Juta Seratus Lima Puluh Tujuh Ribu Lima Ratus Rupiah) melalui kotak penggalangan dana untuk China dan Myanmar.

Dalam keterangannya, Rui Hua juga menjelaskan alasan mengapa He Qi Selatan memilih Mal Mangga Dua Square, sebagai tempat pelaksanaan pameran. ”Pada tanggal 11 Mei 2008 lalu, Tzu Chi baru saja mengadakan acara Waisak di Jakarta International Exhibition Centre (JITEC). Dan melalui acara itu, kami baru mengetahui ternyata masyrakat yang datang ke Mal Mangga Dua Square, belum mengenal Tzu Chi, padahal jarak kantor pusat kami tidak jauh dari sini. Oleh sebab itu akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan pameran poster dan pengenalan Tzu Chi di sini ,” jelas Rui Hua.

foto  foto

Ket : - Sebelum meninggalkan stand Tzu Chi, Kim Kim dan Ling Ling tidak lupa membeli buku kata-kata
           perenungan yang menurut mereka menenangkan batin. (kiri)
          - Di tengah hiruk-pikuknya pengunjung Mal Mangga Dua Square, relawan Tzu Chi mencoba menarik
           perhatian dengan mengadakan pameran poster, pengenalan Tzu Chi sekaligus menggalan dana untuk
           korban bencana alam di Myanmar dan China. (kanan)

Satu persatu pengunjung mulai memasuki area pameran. Melihat para pengunjung mulai melihat-lihat stand Tzu Chi, para relawan langsung mendekati dan memberikan penjelasan, pengarahan dan informasi mengenai kegiatan yang dilakukan oleh Tzu Chi. Paras wajah pengunjung pun mulai berubah ketika melihat tayangan kegiatan Tzu Chi maupun poster yang menampilkan keindahan, sentuhan cinta, dan kepedulian dalam setiap gambar.

”Saya mengetahui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melalui DAAI TV. Saya melihat, yayasan ini sering melaksanakan kegiatan kemanusiaan. Dan saya senang bisa bertemu langsung dengan para relawan Tzu Chi,” tutur Kim Kim yang mengaku sering terharu dan menangis ketika membaca pesan Master Cheng Yen di DAAI TV.

foto  

Ket : - Dengan ramah, para relawan Tzu Chi memberikan informasi dan menjelaskan kegiatan-kegiatan yang
           sudah ada, ataupun yang akan dilakukan oleh Tzu Chi dalam rangka meringankan beban mereka yang
           menderita.

Bagi Kim Kim menyaksikan DAAI TV telah memberikan kedamaian tersendiri di hatinya. Maka tidak heran, sebelum ia meninggalkan stand Tzu Chi, sebuah kata perenungan Master Cheng Yen sudah ada di genggamannya. ”Saya juga bersedia menjadi relawan Tzu Chi. Walaupun mungkin tidak bisa menyumbang dana dalam bentuk yang besar, setidaknya saya bisa membantu mereka dengan tenaga yang saya punya,” ungkapnya sambil tersenyum.

 

Artikel Terkait

Pemberkahan Awal Tahun 2017: Jangan Pernah Menunda untuk Berbakti

Pemberkahan Awal Tahun 2017: Jangan Pernah Menunda untuk Berbakti

11 Februari 2017 Drama Budi Luhur Orang Tua Seluas Samudra menjadi inti dalam Pemberkahan Awal Tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Tzu Chi Indonesia. Drama tentang kisah perjalanan cinta kasih orang tua yang tiada batasnya ini memukau peserta pemberkahan pada Sabtu, 11 Februari 2017 yang dihadiri oleh staf badan misi dan relawan Tzu Chi.

"Saya Harus Sembuh, Saya Harus Kuat"

03 Juli 2020

Wati Wahyuti (56), seorang ibu rumah tangga penderita kanker serviks asal Tanjung Balai Karimun menjalani pengobatan di RS Kanker Dharmais. Selama di Jakarta, Wati yang didampingi putranya tinggal di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi. Tzu Chi juga menyediakan kebutuhan sehari-hari dan transportasi untuknya. Telah 6 bulan lamanya ia berada di Jakarta dan menjalani terapi sinar, didampingi anak bungsunya, Chandra. 

Banjir Sumatera: Dari Lingkungan Perusahaan, dan Anak-Anak Bersatu untuk Aceh dan Sumatera

Banjir Sumatera: Dari Lingkungan Perusahaan, dan Anak-Anak Bersatu untuk Aceh dan Sumatera

07 Januari 2026

Kepedulian terhadap korban banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera, Tzu Chi Cabang Sinar Mas dari komunitas Xie Li Indragiri Hilir menggelar aksi penggalangan dana.

Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -