Teratai Cup 2026: Mengembangkan Potensi, Menanamkan Nilai Kebajikan

Jurnalis : Emelia Dominica (Tzu Chi Medan), Fotografer : Sari Zhan (Tzu Chi Medan)

Relawan Tzu Chi mendampingi anak-anak asuh penerima beasiswa dalam sesi belajar cerdas cermat sebagai persiapan mengikuti Teratai Cup 2026 mendatang. Kegiatan ini merupakan bagian dari pertemuan anak asuh dan Gan En Hu yang berlangsung pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Medan, Kompleks Cemara Asri. Kegiatan ini diikuti oleh 26 anak asuh, 7 Gan En Hu (GEH), dan 15 pendamping.

Kebersamaan dan perhatian terhadap anak-anak asuh penerima beasiswa Tzu Chi serta Gan En Hu (penerima bantuan khusus) terus terjalin melalui kegiatan Kepulangan Anak Asuh dan Gan En Hu yang diadakan oleh relawan Tzu Chi Komunitas Hu Ai Petisah, Medan.

Pada Minggu, 4 Oktober 2026, para relawan, anak asuh, dan penerima bantuan kembali berkumpul di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Cabang Medan, Kompleks Cemara Asri. Pertemuan ini diisi dengan kegiatan persiapan Teratai Cup 2026 yang telah dimulai sejak Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat, potensi, dan karakter positif.

Efina, pemandu acara, mengawali pertemuan dengan mengajak peserta menyaksikan tayangan video Master Cheng Yen berjudul “Angsa Emas”. Kisah tersebut mengandung pesan kebijaksanaan tentang pentingnya rasa syukur dan kepuasan batin dalam menjalani kehidupan.

Relawan Tzu Chi mengajarkan anak-anak asuh cara menyusun artikel yang baik dan benar dengan menerapkan nilai-nilai Budaya Humanis Tzu Chi. Pembelajaran ini menjadi bagian dari persiapan kategori penulisan artikel dalam Teratai Cup 2026.

Kebahagiaan sejati tidak semata-mata berasal dari banyaknya hal yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan untuk merasa cukup dan menghargai apa yang telah diterima. Dengan bersyukur atas segala sesuatu dalam kehidupan, termasuk alam, sesama manusia, dan seluruh makhluk hidup, seseorang dapat menumbuhkan ketenangan serta kedamaian batin.

Batin yang kaya membuat seseorang mampu merasa bahagia dan bersedia bersumbangsih bagi dunia. Sebaliknya, batin yang miskin dapat membuat seseorang terus diliputi kekhawatiran akan kehilangan sesuatu.

Setelah menyimak kisah tersebut, peserta diajak mengikuti sesi berbagi untuk menyampaikan pelajaran dan nilai-nilai yang mereka peroleh. Melalui kesempatan ini, anak-anak dapat merenungkan makna cerita “Angsa Emas” dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa rasa syukur dan kemampuan untuk merasa cukup dapat membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Dengan batin yang kaya, seseorang tidak hanya mampu menghargai apa yang dimiliki, tetapi juga lebih terbuka untuk berbagi dan memberi manfaat bagi orang lain. Rasa syukur membantu seseorang menyadari betapa banyak berkah yang telah diterimanya.

Teratai Cup, Kesempatan Mengembangkan Potensi Diri
Teratai Cup 2026 merupakan perlombaan yang diselenggarakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Cabang Medan bagi anak-anak asuh penerima beasiswa. Perlombaan ini dijadwalkan berlangsung pada 19 Desember 2026 dan memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berkreasi serta mengembangkan kemampuan masing-masing.

Anak-anak asuh Tzu Chi berlatih menggambar dengan tema “Pelestarian Lingkungan” sebagai persiapan untuk mengikuti Teratai Cup 2026. Melalui kegiatan ini, mereka diajak mengembangkan kreativitas serta menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap alam dan seluruh makhluk hidup. Latihan berlangsung pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Medan, Kompleks Cemara Asri.

Dalam Teratai Cup 2026, anak-anak asuh dapat mengikuti beberapa kategori perlombaan, yaitu menggambar dengan tema “Pelestarian Lingkungan”, memperagakan isyarat tangan (Shou Yu), mendalami kata-kata perenungan Master Cheng Yen melalui lomba cerdas cermat, menulis indah kata-kata perenungan Master Cheng Yen, serta mendokumentasikan foto, membuat video, dan menulis artikel melalui kategori Zhen Shan Mei.

Siswanto Tam, penanggung jawab Teratai Cup 2026 dari komunitas Hu Ai Petisah, menyampaikan harapannya agar anak-anak asuh tidak hanya berprestasi secara akademis, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, semoga mereka bisa berprestasi secara akademis dan menanamkan nilai-nilai kebajikan dari Yayasan Buddha Tzu Chi yang bisa mereka praktikkan di masyarakat ke depannya,” ujar Siswanto.

Nilai kebajikan merupakan landasan moral yang membimbing seseorang dalam berperilaku dan mengambil keputusan. Nilai-nilai ini dapat diwujudkan melalui kejujuran, kasih sayang, keadilan, kedermawanan, kesabaran, dan ketabahan. Melalui proses pembelajaran dan perlombaan, anak-anak diharapkan tidak hanya mengembangkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan karakter positif dalam diri mereka.

Liong Jen Lie, mentor bahasa isyarat tangan, mendampingi anak-anak asuh Tzu Chi berlatih peragaan bahasa isyarat tangan (Shou Yu) sebagai persiapan Teratai Cup 2026. Anak-anak belajar menyelaraskan gerakan agar terlihat indah dan serasi sekaligus memahami makna yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini dihadiri oleh 26 anak asuh dan 7 Gan En Hu.

Liong Jen Lie, mentor peragaan isyarat tangan (Shou Yu), turut bersumbangsih dengan membimbing anak-anak asuh mempelajari gerakan sekaligus memahami makna di baliknya.

“Saya ingin mengajak anak-anak untuk lebih mengenal isyarat tangan Tzu Chi, yang lebih dikenal dengan nama Shou Yu. Saya berharap mereka tidak hanya mempelajari gerakannya, tetapi juga memahami makna dari isyarat tangan ini. Shou Yu dapat melatih kesabaran, ketekunan, dan ketulusan hati anak-anak,” ujar Liong Jen Lie.

Persiapan Teratai Cup 2026 telah berlangsung sejak Agustus 2026. Selama kurang lebih dua bulan, para mentor dengan tekun membagikan pengetahuan dan keterampilan yang mereka kuasai. Di sisi lain, para peserta juga menunjukkan antusiasme dengan terus hadir dan mengikuti proses pembelajaran.

Dame, salah seorang anak asuh yang mengikuti kategori menulis artikel, bersyukur atas ilmu yang diperolehnya selama proses belajar tersebut. Ia mempelajari cara menyusun artikel dengan baik dan benar, mulai dari tata cara penulisan, urutan penyajian, hingga menghindari pengulangan kata yang tidak diperlukan.

“Ilmu yang saya dapatkan adalah tentang bagaimana cara menyusun artikel yang baik dan benar, tata caranya, urutan dan penyusunan artikel yang baik, serta bagaimana cara menghindari pengulangan kata yang tidak diperbolehkan dalam artikel,” ungkap Dame.

Bagi Dame, proses belajar ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk terus berkembang. Ia menyadari bahwa pencapaian tidak semata-mata diukur dari keberhasilan meraih juara, tetapi juga dari keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk belajar.

“Bagi saya, bukan hanya tentang bagaimana menjadi juara, tetapi lebih kepada bagaimana saya mampu mencoba dan belajar menyusun artikel,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan harapan Siswanto Tam. Menurutnya, Teratai Cup 2026 bukan semata-mata perlombaan untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak asuh untuk berani mencoba, tampil, dan mempelajari keterampilan baru yang berguna bagi masa depan mereka.

“Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang menang ataupun siapa yang kalah, tetapi bagaimana agar anak asuh berani melalui proses. Mereka berani tampil dan bersedia belajar keahlian-keahlian lain yang akan mereka asah di kemudian hari,” tutur Siswanto.

Para pendamping menyaksikan tayangan Master Bercerita berjudul “Angsa Emas” dalam rangkaian pertemuan anak asuh penerima beasiswa dan Gan En Hu. Kisah tersebut menyampaikan pesan kebijaksanaan tentang pentingnya rasa syukur dan kepuasan batin dalam menjalani kehidupan.

Melalui Teratai Cup 2026, para relawan Tzu Chi Medan berharap anak-anak asuh dapat tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi, tekun, dan berani mengembangkan potensi diri. Proses belajar ini juga diharapkan menanamkan nilai-nilai kebajikan yang menjadi bekal mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagaimana sering ditekankan oleh Master Cheng Yen, pendidikan dan pembentukan karakter berjalan beriringan dalam menumbuhkan pribadi yang baik. Dengan semangat tersebut, Teratai Cup 2026 diharapkan menjadi awal bagi tumbuhnya potensi, kebijaksanaan, dan cinta kasih anak-anak asuh, yang kelak dapat mereka bagikan kepada masyarakat.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Teratai Cup 2024: Saling Mengenal dan Menggali Potensi

Teratai Cup 2024: Saling Mengenal dan Menggali Potensi

25 Juni 2024

Tzu Chi Indonesia mengadakan perlombaan Teratai Cup 2024 bagi anak-anak asuh yang dibantu Tzu Chi pada Sabtu, 22 Juni 2024 dengan tajuk “Menggali Potensi Menggapai Masa Depan”.

Teratai Cup 2026: Kuat Bersama, Anak-Anak Teratai Maju Berkarya

Teratai Cup 2026: Kuat Bersama, Anak-Anak Teratai Maju Berkarya

13 Juli 2026

Sebanyak 233 Anak Teratai dari 11 komunitas relawan Tzu Chi mengikuti Teratai Cup 2026 di Tzu Chi Center, Jakarta Utara. Melalui berbagai permainan kelompok, anak-anak belajar beradaptasi, berkomunikasi dan bekerja sama.

Super Meriah, Pengumuman Juara Teratai Cup Diwarnai Keceriaan dan Sukacita

Super Meriah, Pengumuman Juara Teratai Cup Diwarnai Keceriaan dan Sukacita

23 Juli 2024

Rangkaian perlombaan Teratai Cup 2024 akhirnya sudah menemukan juaranya. Tak hanya juara, Teratai Cup ternyata telah menumbuhkan bakat-bakat luar biasa dari Anak Teratai.

Walau berada di pihak yang benar, hendaknya tetap bersikap ramah dan bisa memaafkan orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -