Pimpinan Cabang Permata Bank, Medan beserta seluruh staf menyumbangkan barang daur ulang dan memasukkan ke dalam titik Green Point daur ulang Tzu Chi ke-80 sebagai sarana edukasi dan pengelolaan sampah berkelanjutan melalui penerapan konsep 5R di lingkungan kerja.
Menjaga kelestarian bumi tidak selalu harus dimulai dari langkah yang besar. Berangkat dari kesadaran bahwa perubahan dapat tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, Tzu Chi Medan bersama Permata Bank menghadirkan titik Green Point daur ulang ke-80 sebagai sarana edukasi dan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di lingkungan kerja. Kehadiran Green Point yang diresmkan pada Selasa 26, Mei 2026 ini menjadi simbol kolaborasi dalam membangun budaya peduli lingkungan, sekaligus mengajak setiap individu untuk mengambil bagian dalam upaya menjaga bumi melalui tindakan nyata yang sederhana.
Melalui titik Green Point, karyawan diajak untuk menerapkan konsep 5R, yaitu Rethink (memikirkan kembali kebutuhan dan dampak konsumsi), Reduce (mengurangi penggunaan yang tidak perlu), Reuse (menggunakan kembali barang yang masih layak), Repair (memperbaiki barang agar dapat digunakan lebih lama), dan Recycle (mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai). Prinsip ini menjadi pengingat bahwa setiap barang yang digunakan memiliki jejak lingkungan, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Salah satu relawan Tzu Chi memperkenalkan Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen dan sejarah berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi kepada staf Permata Bank.
Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata tentang makna Recycle, di tengah pemaparan materi pelestarian lingkungan, dua relawan Tzu Chi maju ke depan mengenakan busana yang seluruhnya dibuat dari bahan hasil daur ulang. Kehadiran mereka menarik perhatian para staf dan menghadirkan suasana yang inspiratif. Melalui peragaan sederhana tersebut, para peserta diajak melihat secara langsung bahwa barang yang telah didaur ulang tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga dapat diolah menjadi sesuatu yang indah, kreatif, dan layak digunakan layaknya busana baru. Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap barang yang dianggap tidak terpakai, terdapat potensi untuk diubah menjadi karya yang bernilai serta memberikan manfaat bagi lingkungan.
Selain memilah sampah untuk didaur ulang, Green Point juga mendorong perubahan kebiasaan sehari-hari yang lebih ramah lingkungan. Karyawan diajak membiasakan diri membawa tas belanja ramah lingkungan dan alat makan pribadi guna mengurangi penggunaan kantong plastik, kotak makan berbahan Styrofoam, serta sumpit sekali pakai yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam. Kepedulian terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui efisiensi penggunaan fasilitas kantor seperti AC, lampu, dan lift seperlunya, sehingga konsumsi energi dapat lebih diminimalisir. Upaya ini bukan semata-mata tentang penghematan biaya, melainkan bentuk kepedulian bersama dalam menjaga sumber daya alam dan mendukung terciptanya lingkungan kerja yang lebih berkelanjutan.
Dua relawan Tzu Chi memperagakan busana dari barang daur ulang yang dibuat menggunakan DAAI Technology di hadapan staf Permata Bank.
Koordinator kegiatan Green Point, Aristo, berharap kehadiran titik daur ulang ini dapat menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sisa sayur dan buah dari rumah maupun memisahkan kertas yang sudah tidak digunakan.
“Sampah organik dapat diolah menjadi eco enzyme yang bermanfaat, sementara kertas dapat didaur ulang menjadi berbagai produk baru yang bernilai guna. Harapan saya Green Point di Permata Bank ini dapat menginspirasi lebih banyak pelaku usaha dan institusi perbankan untuk turut bergerak bersama membangun lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas,” ungkap Aristo.
Para karyawan dan staf Permata Bank juga melakukan sesi tanya jawab kepada relawan Tzu Chi terkait kegiatan pelestarian lingkungan.
Harapan serupa disampaikan oleh Hendrawaty, salah satu perwakilan Permata Bank. Menurutnya, sampah kertas merupakan salah satu jenis sampah yang cukup banyak dihasilkan di lingkungan kerja dan selama ini sebagian besar belum dimanfaatkan kembali. “Dengan adanya titik Green Point di Permata Bank ini, kertas-kertas yang sudah tidak terpakai tersebut nantinya dapat didaur ulang kembali dan bermanfaat,” ungkap Hendrawaty.
Kehadiran titik Green Point Tzu Chi ke-80 ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Saat satu lembar kertas dipilah untuk didaur ulang, saat sisa sayur dan buah diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, atau ketika seseorang memilih membawa tas dan alat makan sendiri, sesungguhnya benih-benih perubahan sedang ditanam. Melalui semangat kebersamaan dan kepedulian, setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi warisan kebaikan bagi bumi yang lebih bersih, lebih hijau, dan lebih lestari bagi generasi yang akan datang.
Editor: Arimami Suryo A.