Endang Suriani Situmeang mengucapkan terima kasih kepada Mujianto Ketua Yayasan Tzu Chi Sumatera Utara yang telah memberikan bangunan rumah dan perabotan rumah tangga. Mujianto dan Wakil Wali Kota Sibolga melihat langsung salah satu rumah yang terdiri dari 2 kamar tidur satu ruang tamu, 1 ruang makan, satu toilet, dan satu dapur.
Suasana haru dan bahagia menyelimuti kawasan hunian baru di GOR Aek Parombunan, Kota Sibolga, Sumatra Utara, saat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melalui Tzu Chi Medan menyerahkan 114 unit rumah kepada warga terdampak bencana tanah longsor, Selasa (9/6/2026).
Penyerahan ini merupakan bagian dari pembangunan 200 unit rumah yang dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia sebagai upaya membantu masyarakat Sibolga untuk bangkit setelah kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Acara serah terima yang berlangsung penuh sukacita tersebut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Sibolga Pantas M.L. Tobing, S.Sos., M.I.Kom., Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatra Utara Mujianto, jajaran TNI dan Polri Kota Sibolga, perwakilan Kantor Pertanahan Kota Sibolga, serta perwakilan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia wilayah Sumatra Utara.

Mujianto mengalungkan selimut Tzu Chi secara seremoni kepada salah satu lansia yang menerima perumahan Tzu Chi Sibolga.
Pada kesempatan itu, warga tidak hanya menerima kunci rumah, tetapi juga sertifikat hak milik sebagai jaminan kepastian hukum atas tempat tinggal mereka. Selain itu, setiap rumah telah dilengkapi dengan berbagai perabot dan perlengkapan rumah tangga, mulai dari 2 springbed, 1 sofa, 1 set meja makan, 2 bantal, hingga 2 selimut Tzu Chi yang didatangkan langsung dari Taiwan sehingga penerima manfaat dapat langsung mendapatkan kehangatan dalam menempati rumah baru mereka dengan nyaman.
Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada 10 kepala keluarga. Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatra Utara Mujianto turut menyerahkan selimut Tzu Chi kepada para penerima sebagai simbol kasih sayang dan perhatian kepada warga yang selama ini berjuang menghadapi dampak bencana.
Program pembangunan rumah tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi kemanusiaan antara Yayasan Buddha Tzu Chi, Kementrian PKP RI, Pemda Sibolga dan TNI/Polri dalam membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana tanah longsor dan banjir bandang November 2025.
Bencana tersebut menyebabkan ratusan kepala keluarga kehilangan rumah dan harus menjalani kehidupan yang sulit berbulan-bulan.

Mujianto memberi pesan kepada warga penerima perumahan Sibolga agar rumah ini dirawat dengan baik kebersihannya, dan semoga dapat di nikmati hingga anak cucu kedepannya.
Di antara ratusan penerima manfaat, Ibu Endang Suriani Situmeang (59) dan suaminya, Sawal Sagala (60), menjadi gambaran nyata perjuangan sebuah keluarga yang terdampak bencana.
Endang menangis haru yang tak mampu disembunyikan ketika relawan Tzu Chi memberikan kunci rumah barunya. Perempuan yang sehari-hari berjualan ikan keliling ini mengaku tidak pernah membayangkan dapat memiliki rumah yang layak dan bagus setelah rumahnya tertimbun tanah longsor.
Rumah yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat berteduh bagi keluarga Sawal Sagala hancur tertimbun material longsor. Tanah, batu, dan batang-batang pohon yang terbawa air dari perbukitan menimbun rumah mereka hingga tak meninggalkan bekas.
Musibah tanah longsor ini menjadi pukulan berat bagi keluarga sederhana itu. Dengan penghasilan yang pas-pasan, Endang dan Sawal nyaris tidak memiliki kemampuan untuk membangun kembali rumah yang hilang.
Relawan Tzu Chi Medan bersama Andre Zulman membawakan bahasa isyarat tangan dengan judul Satu Keluarga. Makna yang terkandung dalam lagu Satu Keluarga ini menurut Wakil Wali Kota Pantas M.L. Tobing, S.Sos., syarat penuh makna bahwa manusia harus saling mendukung dan saling percaya dalam kehidupan.
Sawal Sagala bekerja sebagai pengemudi ojek sepeda di pasar mengandalkan pendapatan harian yang tidak menentu. Sementara Endang harus berkeliling menjajakan ikan basah demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah keterbatasan ekonomi, dan kehilangan rumah menjadi beban yang terasa begitu berat. Namun, harapan itu akhirnya datang melalui bantuan pembangunan perumahan yang dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
"Saya sangat berterima kasih kepada bapak-bapak dari Tzu Chi dan Pemerintah Kota Sibolga yang telah membantu kami memiliki rumah ini," ujar Endang dengan mata berkaca-kaca saat menyambut kunjungan Wakil Wali Kota Sibolga dan Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatra Utara ke rumah barunya.
Rumah bernomor B-4 yang kini ditempati Ibu Endang dan Sawal ini menjadi awal baru dalam kehidupan keluarga mereka.
Rumah yang dibangun Tzu Chi telah dilengkapi fasilitas dasar dan perabot rumah tangga yang memadai. Kehadiran pembangunan rumah ini memberikan rasa aman yang selama ini mereka rindukan, sekaligus menghapus kekhawatiran tentang masa depan keluarga mereka.
Mujianto menyerahkan sertifikat Hak Milik Rumah dengan persyaratan selama 10 tahun tidak diperjualbelikan atau digadaikan.
Wakil Wali Kota Sibolga Pantas M.L. Tobing menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia atas kepeduliannya terhadap masyarakat terdampak bencana di Kota Sibolga. Menurutnya, pembangunan 200 unit rumah tersebut merupakan wujud nyata gotong royong dan kepedulian sosial yang memberikan dampak langsung bagi kehidupan masyarakat.
"Atas nama Pemerintah Kota Sibolga, saya mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah menunjukkan dedikasi dan kepedulian yang luar biasa melalui pembangunan 200 unit rumah bagi masyarakat terdampak bencana," ujarnya.
Pantas juga mengajak seluruh warga penerima manfaat untuk menjaga dan merawat lingkungan hunian yang baru agar tetap bersih, nyaman, dan menjadi kawasan yang harmonis. "Tolong perumahan ini dijaga kebersihannya dan dirawat bersama. Kita bersyukur karena rumah yang diberikan tidak hanya bangunannya saja, tetapi juga sudah dilengkapi dengan berbagai kebutuhan rumah tangga, listrik, dan air bersih sehingga warga dapat tinggal dengan nyaman," katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatra Utara Mujianto mengatakan bahwa pembangunan hunian tetap ini merupakan bagian dari misi kemanusiaan Tzu Chi untuk mendampingi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan akibat bencana.
Menurutnya, rumah bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga fondasi bagi keluarga untuk membangun kembali kehidupan yang lebih baik. "Kami berharap rumah-rumah ini dapat menjadi tempat bertumbuhnya harapan baru bagi setiap keluarga. Semoga warga dapat hidup dengan lebih aman, nyaman, dan memiliki semangat untuk menata masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Warga penerima perumahan Tzu Chi Sibolga mendapatkan dari 2 springbed, 1 sofa, 1 set meja makan, 2 bantal, hingga 2 selimut Tzu Chi.
Program pembangunan 200 unit rumah di Aek Parombunan menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya dilakukan melalui bantuan darurat, tetapi juga melalui upaya jangka panjang yang mengembalikan martabat dan rasa aman masyarakat.
Bagi Endang dan Sawal, rumah baru yang kini mereka tempati menjadi saksi bahwa di balik musibah selalu ada kepedulian yang hadir. Setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian, mereka akhirnya kembali memiliki tempat untuk pulang, tempat untuk berkumpul bersama keluarga, dan tempat untuk menumbuhkan harapan baru.
Di tengah deretan rumah yang berdiri rapi di Aek Parombunan, tersimpan ratusan kisah perjuangan yang kini perlahan berubah menjadi cerita tentang kebangkitan. Bagi para penyintas bencana, rumah-rumah tersebut bukan hanya bangunan yang terbuat dari beton dan bata, melainkan simbol kasih sayang, gotong royong, dan semangat kemanusiaan yang membantu mereka bangkit kembali menatap masa depan.
Editor: Metta Wulandari