Lasmini (kanan), saat mengikuti proses penandatanganan SKB antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan calon penerima rumah. Sebagai perjanjian dan kesepakatan, nantinya rumah yang diterima tidak boleh diperjualbelikan, disewakan, digadaikan dan dipindahtangankan, selama sepuluh tahun.
Pagi itu, Kamis, 11 Juni 2026, suasana di hunian sementara (huntara) Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, tampak berbeda dari biasanya. Sejak pagi, warga yang menjadi penyintas banjir bandang dan tanah longsor mulai berdatangan menuju tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berdiri di sisi kanan huntara Simatohir.
Mereka datang dengan membawa secarik harapan yang telah dinantikan selama berbulan-bulan. Hari itu, sebanyak 108 Kepala Keluarga mengikuti proses verifikasi data sebagai tahapan menuju kepemilikan rumah yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Di lapangan Huntara Simatohir, relawan Tzu Chi dari Medan dan Tebing Tinggi telah bersiap menyambut warga. Meja dan kursi ditata rapi, sementara beberapa relawan mempersiapkan dokumen administrasi yang akan diperiksa satu per satu. Meski kegiatan tersebut merupakan proses administrasi, suasananya terasa hangat. Relawan menyambut setiap warga dengan senyum dan sapaan, membantu mereka melalui setiap tahapan dengan penuh kesabaran.
Suasana hunian sementara warga yang berlokasi Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Para relawan juga mendengarkan kisah hidup para penyintas. Di sela-sela kegiatan, relawan memberikan dukungan dan semangat agar mereka tetap tabah menjalani kehidupan, serta percaya bahwa masa depan yang lebih baik sedang menanti.
Proses verifikasi diawali dengan pemeriksaan identitas dan pencocokan data pribadi. Selanjutnya, warga menandatangani Surat Kesepakatan Bersama (SKB) sebagai bentuk komitmen dalam menerima bantuan rumah. Dalam perjanjian tersebut dijelaskan bahwa rumah yang diterima tidak boleh diperjualbelikan, disewakan, digadaikan dan dipindahtangankan selama sepuluh tahun. Ketentuan itu dibuat agar bantuan yang diberikan benar-benar dapat menjadi tempat tinggal yang layak bagi keluarga penerima.
Selain itu, lebih dari sekadar memeriksa dokumen, para relawan juga mendengarkan kisah hidup para penyintas. Satu per satu warga menceritakan bagaimana rumah mereka diterjang banjir bandang. Ada yang rumahnya hanyut tanpa meninggalkan jejak, ada pula yang hanya menyisakan pondasi dan lantai bangunan. Di sela-sela wawancara, relawan memberikan dukungan dan semangat agar mereka tetap tabah menjalani kehidupan serta percaya bahwa masa depan yang lebih baik sedang menanti.
Usai verifikasi, warga diarahkan mengikuti pengundian nomor rumah. Ketika nomor unit diumumkan, senyum dan rasa lega tampak menghiasi wajah mereka. Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Tapanuli Selatan, Jafar Syahbuddin Ritonga, yang memberikan dukungan kepada warga dalam proses verifikasi dan pengundian nomor rumah.
Wakil Bupati Tapanuli Selatan, Jafar Syahbuddin Ritonga, turut hadir dalam kegiatan verifikasi ini, serta menyaksikan langsung pengundian nomor rumah warga yang berlangsung dengan rasa bahagia.
Di antara para penyintas yang hadir, Lasmini (68), salah satu sosok yang menyimpan kisah kehilangan sekaligus harapan. Sejak rumahnya hilang diterjang banjir bandang, ia tinggal di huntara satu bulan pascabencana sambil menunggu kepastian kapan dapat kembali memiliki rumah.
Hari itu, penantian panjangnya akhirnya menemukan jawaban. Setelah mengikuti seluruh proses verifikasi, Lasmini mengetahui dirinya memperoleh rumah dengan nomor 2 C. "Senang sekali. Dulu kami sudah putus asa karena belum ada kepastian. Sekarang akhirnya jelas, kami benar-benar akan punya rumah lagi," tuturnya dengan mata yang berbinar.
Lasmini mengenang masa-masa setelah bencana sebagai waktu yang paling berat dalam hidupnya. Selama tinggal di pengungsian, ia tidak mengetahui ke mana harus melangkah. Rumah beserta seluruh harta benda yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun hilang dalam hitungan menit. Kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Dengan rumah yang akan diterimananya nanti dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, perempuan yang hampir berusia 70 tahun itu, merasa bahagia dan penuh rasa syukur. "Saya menerima saja. Yang penting sekarang sudah punya rumah sendiri dan nanti ada sertifikatnya. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Lasmini.
Baginya, rumah baru bukan sekadar bangunan, melainkan tempat untuk menjalani hari tua dengan lebih tenang. "Sekarang saya ingin menikmati hidup saja. Kalau ada rezeki ya disyukuri, yang penting bisa hidup tenang,” tambahnya.
Salah satu calon penerima bantuan rumah dari Tzu Chi Indonesia, Andri Hilaluddin Harahap, menunjukan nomor rumah hasil pengundian yang telah dilakukan.
Harapan serupa dirasakan Andri Hilaluddin Harahap (37). Ia mengaku informasi mengenai pembangunan perumahan Tzu Chi unruk warga terdampak diterimanya tidak lama setelah bencana, ketika pemerintah desa mendata seluruh warga terdampak. Sejak saat itu, ia terus menunggu perkembangan hingga akhirnya mengikuti proses verifikasi.
"Cukup senang. Jujur saya tidak menyangka akhirnya sampai di tahap ini," ucap Andri dengan raut wajah tersenyum.
Andri telah melihat rumah temannya yang di bangun Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Desa Batangtoru, dengan jarak lebih kurang 5 km dari Desa Simatohir. Di sana para warga mendapat rumah beserta furnitur dasar seperti tempat tidur, sofa, meja makan, dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Gambaran itu membuatnya semakin optimistis untuk segera memulai kehidupan baru bersama keluarga dengan rumah yang akan didaptkannya nanti.
Rasa terima kasih kepada seluruh relawan Tzu Chi dan para donatur yang telah membantu para penyintas untuk bisa bangkit dari musibah, tak lupa diucapkan oleh Andri. "Terima kasih kepada seluruh donatur dan para dermawan (relawan Tzu Chi) yang telah membantu kami. Semoga rezekinya semakin lancar, usahanya semakin sukses, dan semua urusannya dipermudah," ucapnya.
Lokasi lahan yang akan dibangun perumahan untuk para warga penyintas bencana di Tapanuli Selatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Bagi para penyintas di Desa Simatohir, hari itu menjadi titik balik yang mengubah kecemasan menjadi harapan. Setelah berbulan-bulan bertahan di hunian sementara, mereka kini dapat mulai membayangkan kehidupan yang lebih layak di rumah baru yang akan dibangun. Rumah yang akan mereka tempati kelak bukan hanya menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan. Lebih dari itu, rumah tersebut menjadi simbol bangkitnya harapan, kepedulian yang menyatukan banyak hati, serta semangat untuk kembali menata kehidupan setelah bencana.
Editor: Fikhri Fathoni