Sutrisno dan Rumah yang Tak Pernah Ia Bayangkan

Jurnalis : Anand Yahya, Fotografer : Anand Yahya

Sutrisno Lumban Tobing mengikuti verifikasi rumah yang diberikan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Desa Asian Koting. Sutrisno tak menyangka Tzu Chi juga memberikan 1 set meja makan, 2 spring bed, 2 bantal, 1 meja buffet, dan 2 helai selimut Tzu Chi Taiwan.

Pagi itu, Sutrisno Lumban Tobing (38) tak henti-hentinya menatap setiap sudut rumah barunya di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara. Sesekali ia memegang sofa yang baru saja diterimanya, lalu menoleh ke arah kasur yang masih terbungkus rapi.

Di sampingnya, sang istri, Jessy Kusniata Silitonga (37), tersenyum bahagia. Keduanya masih sulit mempercayai bahwa rumah yang kini berdiri kokoh di hadapan mereka adalah milik keluarganya.

"Tak menyangka juga, Pak. Kami kira dulu bantuannya paling sembako, selimut, atau kebutuhan darurat saja. Tak tahunya dibuatkan rumah seperti ini. Senang sekali rasanya," ujar Sutrisno dengan mata berbinar.

Rumah itu menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga kecil mereka setelah bencana tanah longsor merenggut tempat tinggal yang selama ini mereka huni.

Malam yang Mengubah Segalanya
Pada bulan November dan Desember 2025, hujan deras terus mengguyur wilayah Desa Adian Koting. Intensitas hujan yang tinggi membuat warga mulai khawatir karena permukiman mereka berada di perbukitan. Sutrisno dan keluarganya pun merasakan kegelisahan yang sama. Malam itu, hujan tak kunjung reda.

Sejak sore, Sutrisno sudah memperhatikan aliran air yang semakin deras turun dari perbukitan di depan dan di belakang rumah mereka. Ia bahkan berusaha membuat saluran air agar air tidak mengarah ke rumah.

"Saya cangkul (buat aliran) supaya airnya mengalir ke bawah, jangan masuk ke rumah," kenangnya.

Jessy Kusniata Silitonga tersenyum gembira penuh rasa syukur ketika perabotan rumah satu per satu masuk ke dalam rumahnya yang bernomor blok A-8.

Namun, situasi semakin mengkhawatirkan ketika beberapa rumah di sekitar mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran tanah. Rumah tetangga yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka mulai bergeser. Melihat kondisi itu, keluarga Sutrisno memutuskan untuk mengungsi ke rumah orang tuanya. Keputusan itu menjadi penyelamat bagi mereka.

"Kami memang sudah was-was. Malam itu kami tidak berani pulang lagi ke rumah," ujar Jessy.

Keesokan paginya, kekhawatiran mereka menjadi kenyataan. Saat kembali ke lokasi, rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh bagi keluarga mereka sudah hancur. Longsoran tanah dari bukit menimbun dan menyeret rumah Sutrisno hingga ambruk ke jurang.

"Pas pagi kami lihat, rumah itu sudah hancur semua," kata Jessy pelan. Tidak ada lagi tempat untuk pulang.

Menumpang di Rumah Orang Tua
Sejak kejadian itu, Sutrisno, Jessy, dan kedua anak mereka, Alvaro Lumban Tobing (10) yang duduk di kelas 4 SD dan Nikolas Lumban Tobing (7), tinggal sementara di rumah orang tua. Hari-hari mereka jalani dengan berbagai keterbatasan. Meski bersyukur masih memiliki keluarga yang membantu, mereka tetap memendam kerinduan untuk kembali memiliki rumah sendiri.

Harapan itu mulai muncul ketika pemerintah daerah mendata para korban bencana. Suatu hari, Kepala Desa mengumpulkan warga terdampak longsor dan menjelaskan rencana bantuan hunian bagi para korban.

"Kami diberi dua pilihan. Mau membangun rumah secara mandiri atau ikut program hunian tetap. Saya langsung mendaftar ke hunian tetap," tutur Sutrisno.

Sejak saat itu, Sutrisno mengikuti setiap perkembangan pembangunan hunian tetap yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Ia bahkan hadir saat peletakan batu pertama dan menyaksikan langsung dimulainya pembangunan perumahan di Desa Dolok Nauli tersebut.

Di Desa 2 Adian Koting ini, rumah-rumah warga terdampak tanah longsor dan banjir bandang, termasuk rumah Sutrisno yang tertimbun tanah dan longsor ke dalam jurang.

Sutrisno bersama tetangganya, Gaya Luba Tobing, di Desa 2 berjalan menyusuri tebing yang longsor dan jalan yang amblas di sisi rumahnya. Rumah mereka sama-sama hancur. Kini dua kepala keluarga ini menempati perumahan Adian Koting yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Di balik kesederhanaannya, Sutrisno adalah seorang petani kemenyan. Ia menggantungkan penghasilan keluarga dari pohon-pohon kemenyan yang tumbuh di perbukitan sekitar Adian Koting. Dalam setahun, getah kemenyan biasanya dipanen dua kali. Hasil panen tersebut kemudian dijual dengan harga sekitar Rp300.000 per kilogram.

Namun, penghasilan dari kemenyan tidak datang setiap bulan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sutrisno dan istrinya juga mengelola kebun sayur sederhana. Sebagian hasil panen digunakan untuk kebutuhan dapur keluarga, sementara sisanya dijual ke pasar. Jessy, yang sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga, turut membantu merawat kebun dan memanen sayuran.

Kehidupan mereka memang jauh dari kemewahan. Meski demikian, keluarga kecil ini selalu berusaha mencukupi kebutuhan dengan mengandalkan hasil bumi dan kerja keras sendiri. Karena itu, ketika tanah longsor menghancurkan rumah mereka, membangun kembali rumah secara mandiri bukanlah perkara mudah.

"Sebenarnya kami hanya hidup dari bertani. Untuk membangun rumah lagi tentu sangat berat bagi kami," ungkap Sutrisno.

Lebih dari yang Mereka Bayangkan
Pada Senin, 8 Juni 2026, penantian keluarga Sutrisno akhirnya terbayar. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyerahkan 67 unit rumah dari total 113 unit rumah yang dibangun bagi para penyintas bencana di Tapanuli Utara.

Saat menerima kunci rumah, Sutrisno dan Jessy masih merasa seperti bermimpi. Bukan hanya rumah yang mereka terima. Di dalam rumah telah tersedia berbagai perlengkapan rumah tangga, mulai dari tempat tidur, sofa, meja makan, bantal, hingga selimut.

"Yang paling membuat saya terkejut itu kasurnya. Tebal sekali dan bagus. Kami tidak menyangka ada semua ini. Saya pikir yayasan hanya memberikan rumah saja, itu pun sudah luar biasa," ujar Sutrisno sambil tersenyum.

Jessy pun mengaku memiliki perasaan yang sama. "Saya juga tidak menyangka. Waktu diberi tahu akan ada perlengkapan rumah tangga, saya kira yang sederhana saja. Ternyata bagus sekali. Senang kali saya," katanya.

Sutrisno menunjukkan sisa fondasi rumahnya yang tertimbun tanah dan pohon. Seluruh harta bendanya hanyut ke jurang yang berada di belakang rumahnya. Rumah lama Sutrisno sekitar 6 km dari perumahan Tzu Chi Adian Koting.

Bagi keluarga ini, bantuan tersebut bukan hanya soal kenyamanan. Kehadiran perabotan rumah tangga membuat mereka dapat langsung menempati rumah tanpa harus memikirkan biaya tambahan untuk membeli kebutuhan dasar.

Di tengah kebahagiaan menerima rumah baru, Sutrisno terlihat sibuk membantu warga lain yang juga menerima rumah. Ia ikut mengangkat furnitur dan membantu para lansia memindahkan barang-barang ke rumah masing-masing.

"Bantu-bantu saja, Pak. Apalagi ada nenek-nenek yang datang sendiri. Kasihan kalau harus angkat barang berat sendiri," ujarnya.

Baginya, bantuan yang diterima keluarganya adalah berkah yang patut disyukuri. Karena itu, ia ingin berbagi tenaga untuk membantu sesama penerima manfaat. Sikap sederhana itu menunjukkan bahwa kepedulian dapat tumbuh pada mereka yang pernah merasakan kesulitan.

Rumah Baru, Harapan Baru
Kini keluarga Sutrisno perlahan mulai menata kehidupan mereka kembali. Rumah baru yang berdiri di Desa Dolok Nauli bukan sekadar bangunan yang menggantikan rumah lama yang hilang diterjang longsor.

Rumah itu menjadi simbol harapan yang kembali tumbuh setelah bencana. Bagi Alvaro dan Nikolas, rumah tersebut akan menjadi tempat mereka belajar dan tumbuh. Bagi Sutrisno dan Jessy, rumah itu menjadi tempat untuk membangun kembali mimpi-mimpi yang sempat runtuh bersama longsoran tanah beberapa bulan lalu.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada semua Bapak dan Ibu yang telah membantu. Rumah dan semua perabotan ini akan kami gunakan sebaik-baiknya. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi keluarga kami," tutur Jessy.

Di tengah sejuknya perbukitan Tapanuli Utara, sebuah keluarga yang pernah kehilangan tempat tinggal kini kembali memiliki tempat untuk pulang. Dan dari rumah sederhana itu, harapan baru kembali dimulai.

Sutrisno bersama tetangga barunya makan bersama setelah membantu warga lainnya mengangkat perabotan rumah tangga yang diberikan oleh Tzu Chi.     
 

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Harapan Baru Penyintas Bencana: Tzu Chi Serahkan 67 Unit Rumah di Tapanuli Utara

Harapan Baru Penyintas Bencana: Tzu Chi Serahkan 67 Unit Rumah di Tapanuli Utara

09 Juni 2026

Setelah kehilangan rumah akibat banjir bandang dan tanah longsor, sebanyak 67 keluarga di Desa Dolok Nauli akhirnya menerima kunci rumah baru yang dibangun oleh Tzu Chi Indonesia.

Pembangunan Hunian Tetap di Aceh: Progres Pembangunan 500 Rumah di Aceh Tamiang

Pembangunan Hunian Tetap di Aceh: Progres Pembangunan 500 Rumah di Aceh Tamiang

12 Maret 2026

Relawan Tzu Chi Medan bersama pihak Pemerintah Daerah Aceh meninjau progres pembangunan 500 hunian tetap (huntap) di Desa Tanjung Seumantoh, Aceh Tamiang. 

Pembangunan Hunian Tetap di Sumatera Utara: Bergerak Cepat, Tzu Chi dan Pemerintah Tandatangani SPK

Pembangunan Hunian Tetap di Sumatera Utara: Bergerak Cepat, Tzu Chi dan Pemerintah Tandatangani SPK

09 Januari 2026

Memasuki awal tahun 2026, Tzu Chi mulai mengintensifkan konsolidasi pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak banjir di Sumatera.

Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -