Situasi verifikasi dan pengundian nomor rumah yang berlangsung di Balai Desa Panton Labu Kecamatan Tanoh Jambo Aye, Aceh Utara yang berlangsung penuh sukacita. Tampak Muliawati tersenyum setelah mendapat undian nomor rumah.
Senyum bahagia dan rasa syukur menyelimuti wajah warga Desa Meunasah Bujok, Aceh Utara, saat satu per satu keluarga menerima kunci rumah yang telah lama mereka nantikan. Setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian akibat banjir bandang yang melanda pada Desember 2025 lalu, harapan baru akhirnya hadir melalui pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Pada 4 Juni 2026, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyerahkan 40 unit rumah dari total 100 unit hunian tetap yang dibangun untuk para penyintas bencana banjir di Aceh Utara. Rumah-rumah tersebut berdiri di Desa Meunasah Bujok dan menjadi simbol kebangkitan bagi keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat amukan banjir enam bulan lalu.
Sehari sebelumnya, Rabu (3/6/2026), Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga menggelar proses verifikasi dan pengundian nomor rumah bagi 100 kepala keluarga penerima manfaat. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Panton Labu, Kecamatan Tanoh Jambo Aye, Aceh Utara itu menjadi tahapan penting sebelum para penyintas menempati rumah baru mereka.

View lokasi rumah hunian tetap yang berada di Desa Meunasah Bujok, Aceh Utara ada 100 unit rumah bertipe 36 yang terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tamu, dapur, toilet, ruang makan, teras rumah dan halaman depan.
Hadir dalam kegiatan verifikasi dan pengundian nomor rumah Sekretaris Daerah Aceh Utara, Dayan Albar, S.Sos., M.A.P., yang mewakili Bupati Aceh Utara. Ia turut menyaksikan proses verifikasi dan pengundian nomor rumah sebagai bagian dari upaya memastikan bantuan diberikan secara transparan dan tepat sasaran.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatra Utara, Mujianto, mengatakan bahwa pembangunan hunian tetap ini merupakan bentuk komitmen untuk membantu masyarakat bangkit dari bencana secepat mungkin.
"Kami berusaha agar pembangunan hunian tetap dapat selesai secepatnya dan segera dimanfaatkan oleh masyarakat. Terima kasih kepada para relawan Tzu Chi dari Bireuen, Lhokseumawe, dan Medan yang dengan penuh ketulusan mendampingi proses pembangunan ini. Bagi kami, setiap hari sangat berarti. Jika pembangunan tertunda satu hari, maka ada masyarakat yang harus menunggu lebih lama untuk kembali memiliki rumah. Karena itu kami berupaya agar pembangunan berjalan cepat, tepat, dan berkualitas," ujar Mujianto.

Muliawati menandatangani Surat Kesepakatan Bersama (SKB) dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang dipandu oleh relawan Tzu Chi.
Tidak hanya membangun rumah, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga melengkapi setiap unit Huntap dengan berbagai kebutuhan dasar rumah tangga seperti tempat tidur, sofa, meja tamu, rak penyimpanan, dan perlengkapan lainnya. Dengan demikian, para penghuni dapat langsung menempati rumah mereka dengan lebih nyaman.
Menanti Rumah Baru di Tengah Keterbatasan
Bagi Lukmanda (34), kepastian mendapatkan rumah baru merupakan kabar yang telah lama ditunggu. Sejak rumahnya rusak berat diterjang banjir bandang pada Desember 2025 lalu, ia bersama istri dan anak-anaknya tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Meunasah Alue Ie Puteh.
Sebagai pekerja harian lepas, kehidupan Lukmanda tidak pernah mudah. Bencana yang merenggut rumahnya juga berdampak pada penghasilannya. Hingga kini ia masih berusaha mencari pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski demikian, semangatnya untuk bangkit tidak pernah padam.
"Terima kasih kepada Yayasan Tzu Chi. Saya, istri, dan anak-anak sudah tidak sabar menempati rumah ini. Selama tinggal di Huntara, kondisinya sangat panas. Siang hari kami sering berada di luar karena anak-anak merasa kurang nyaman di dalam. Sekarang kami punya harapan baru. Semoga keluarga kami bisa memulai kehidupan yang lebih baik," tutur Lukmanda.
Air Mata Bahagia
Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Muliawati (63). Saat berdiri di depan rumah barunya, ia tak mampu menyembunyikan rasa haru yang selama ini dipendam.
Rumah lamanya yang terbuat dari kayu rusak parah akibat terjangan banjir. Arus air yang begitu deras membuat bangunan rumahnya miring dan roboh. Harta benda yang dimilikinya pun ikut hanyut terbawa banjir.
Muliawati berada di depan rumah barunya yang berada di Blok H-13.
Dengan suara lirih dan mata yang berkaca-kaca, ia mengenang peristiwa yang mengubah hidupnya. "Dulu rumah saya sudah miring setelah diterjang banjir. Lama-lama roboh. Semua habis. Saya tidak punya uang untuk membangun lagi. Rasanya sedih sekali karena tidak punya rumah," kenang Muliawati.
Kini kesedihan itu perlahan berganti dengan rasa syukur. Rumah yang selama ini hanya menjadi impian Muliawati akhirnya berdiri nyata di hadapannya. "Saya senang sekali. Bangga rasanya punya rumah lagi. Dulu sedih karena tidak tahu harus tinggal di mana. Sekarang sudah ada tempat untuk pulang. Bahkan rumah ini sudah dilengkapi tempat tidur dan perabotan. Terima kasih banyak kepada Yayasan Tzu Chi yang sudah membantu kami," ujarnya bersukacita.
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M.,(berkopiah) bersama relawan Tzu Chi, perwakilan Koramil, Polsek, BPBD Aceh Utara, dan jajaran pemerintah daerah berkesempatan mengunjungi rumah Muliawati yang berada di Blok H-13.
Kebahagiaan Muliawati semakin lengkap ketika rumah barunya dikunjungi langsung oleh Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., bersama unsur Forkopimda, Koramil, Polsek, BPBD Aceh Utara, dan jajaran pemerintah daerah.
Pada acara serah terima kunci rumah, Bupati Aceh Utara menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia atas kepeduliannya kepada masyarakat yang terdampak bencana.
"Saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas kepeduliannya kepada masyarakat Aceh Utara yang terdampak bencana. Hari ini menjadi momen yang sangat mengharukan karena kita dapat melihat langsung masyarakat mulai kembali memiliki tempat tinggal yang layak," ujar Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M.,
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., juga merasa terharu bantuan yang diberikan tidak hanya berupa bangunan rumah, tetapi juga berbagai perlengkapan rumah tangga yang membuat para penghuni dapat langsung tinggal dengan nyaman. "Saya terkejut karena warga tidak hanya mendapatkan rumah, tetapi juga berbagai perlengkapan rumah tangga. Ini menunjukkan perhatian yang begitu besar kepada masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari musibah," katanya.
Sudah 6 bulan Muliawati tinggal di Hunian Sementara (Huntara) yang berada di Meunasah Alue Ie Puteh, Aceh Utara.
Penyerahan 40 unit rumah ini merupakan tahap pertama dari total 100 unit hunian tetap yang sedang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Desa Meunasah Bujok, Aceh Utara. Kehadiran rumah-rumah baru tersebut menjadi harapan baru bagi warga yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Dengan wajah penuh kebahagiaan, para penerima manfaat melihat satu per satu sudut rumah yang kini menjadi tempat tinggal baru bagi keluarga mereka. Sebanyak 40 warga yang telah menerima kunci rumah, langsung mengambil peralatan rumah tangga seperti dua unit spring bed, satu set meja makan, satu bufet, satu sofa, dan dua bantal.
Bagi warga penerima manfaat, rumah-rumah yang berdiri di Desa Meunasah Bujok bukan sekadar bangunan beton dan bata. Rumah-rumah itu adalah simbol kepedulian, harapan, dan semangat baru untuk melangkah ke masa depan. Setelah kehilangan tempat tinggal dan menjalani hari-hari dipengungsian, kini mereka kembali memiliki tempat untuk berkumpul bersama keluarga, membangun mimpi, dan menata kehidupan yang lebih baik.
Kondisi rumah Muliawati pasca diterjang banjir bandang pada Desember 2025 lalu. Selain rusak parah, harta bendanya juga ikut hanyut terbawa arus banjir.
Editor: Arimami Suryo A.