Waisak 2555: Tzu Chi Bandung
Jurnalis : Galvan (Tzu Chi Bandung), Fotografer : Galvan & Edy Kurniawan (Tzu Chi Bandung)|
|
| ||
| Tema dari hari Waisak itu sendiri adalah “Dalam ajaran mempraktikkan semangat Jing Si, Tzu Chi giat bersumbangsih, Mazhab Tzu Chi merupakan sebuah jalan Bodhisatwa di dunia. Mengembangkan kegiatan pelestarian lingkungan alam semesta berlimpah berkah, menyucikan hati manusia, alam semesta harmonis dan bersahabat.” Sementara makna dari waisak itu sendiri adalah membersihkan hati kita dari kekotoran batin, seperti sifat kesombongan, keangkuhan, kerakusan, kemarahan dan ketidaktahuan (ragu-ragu) agar semua makhluk hidup mencapai ke-Buddha-an dan mencapai pencerahan batin. Di samping itu, makna dari pemandian rupang Buddha adalah berharap hati cinta kasih dapat bangkit, dalam hati setiap orang terkandung rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Lubuk hati semua orang dapat disucikan, masyarakat aman dan sejahtera, dengan demikian dunia ini baru bisa terbebas dari bencana, inilah makna sebenarnya daripada acara pemandian rupang Buddha. Herman Widjaja selaku Ketua Tzu Chi Bandung mengungkapkan selain merayakan Waisak, Hari Tzu Chi dan Hari Ibu internasional, hari ini pun bertujuan untuk merekrut dan sekaligus memberi hormat kepada sang Buddha. Selain itu, para relawan dan donatur berkesempatan untuk menjernihkan atau menyucikan diri dari kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak disengaja. "Saya rasa acara ini cukup khidmat ya, mereka (relawan-red) itu dengan khidmat mengikuti upacara kita dan memang Tzu Chi sendiri punya ciri khas dalam melakukan upacaranya. Sederhana namun penuh khidmat, jadi ini yang kita mau adaptasikan bahwa walaupun dengan sederhana, tetapi jika kita menggunakan hati yang tulus maka kita akan mendapat kesenangan (batin),” ujar Herman.
Keterangan :
Acara tersebut berlangsung dari pukul 09.00 - 11.00 WIB, yang diikuti oleh 378 peserta yang terdiri dari relawan Tzu Chi, donatur dan masyarakat umum. Suasana khidmat begitu terasa pada perayaan Waisak di hari itu, diawali oleh 24 relawan Tzu Chi Bandung yang terdiri dari 12 Shixiong dan 12 Shijie sebagai penghantar pelita, air wangi dan bunga memasuki tempat pemandian rupang Buddha serta bersiap dalam posisi masing-masing dengan diiringi lagu Jing Ji Qing Cheng (Menjernihkan Pikiran dan Menenangkan Hati). Setelah diawali dan diakhiri oleh penghantar pelita tersebut, barulah para peserta melakukan prosesi pemandian rupang Buddha yang dibimbing langsung oleh relawan Tzu Chi. Ini dimaksudkan agar prosesi tersebut berjalan dengan sempurna dan diberkahi oleh Buddha. Prosesi pemandian rupang Buddha itu sendiri adalah dengan membungkukan badan hingga 90 derajat dan kedua telapak tangan menyentuh Air Wangi, setelah itu tegakan badan dan kembali membungkukan badan sampai 90 derajat untuk mengambil sekuntum bunga, lalu tegakkan badan dengan telapak tangan beranjali, setelah itu balikkan badan dan mundur dari posisi untuk meninggalkan tempat pemandian rupang Buddha. Khusyuk dan Khidmat
Keterangan :
Selain Ali, peserta lain pun merasakan ketenangan dan kecerahan hati setelah ikut dalam prosesi pemandian rupang Buddha, yaitu Budi Hartono (51). "Khidmat sekali. Saya juga merasakan aura yang penuh dengan cinta kasih dan merasakan keharmonisan bersama. Saya merasakan saya lebih damai dan timbul rasa cinta kasih yang lebih dalam kepada sesama manusia dan juga tidak memandang ras, suku dan agama. Dan saya mengharapkan cinta kasih ini bisa lebih menyebar ya, ke semua manusia. Selain itu saya berharap, menginginkan lebih banyak manusia, lebih banyak rekan-rekan tanpa membeda-bedakan golongan agama itu lebih peduli kepada sesama yang membutuhkan bantuan kemudian juga lebih menyayangi satu sama lain," harapnya. Hati yang penuh ketulusan mampu mengharukan langit dan bumi, dapat mengumpulkan keberuntungan yang penuh berkah. Dengan berdoa semoga semakin hari dunia semakin bebas dari bencana, batin manusia makin disucikan, dan semua dikaruniai badan sehat, aman dan sejahtera. Semoga cahaya kebijaksanaan dan welas asih Dharma Budha bisa menyinari alam semesta selamanya, membuat lahan batin setiap orang terang dan jernih. Di samping itu, harapan kita setelah menyelenggarakan prosesi pemandian rupang Buddha adalah agar masyarakat bisa merasakan keindahan agama, Buddha Dharma bisa berkembang, dan kita semua berjalan di jalan Bodhisatwa untuk menuju atau mencapai pencerahan agung. | |||
Artikel Terkait
Baksos Tzu Chi ke-141: Skill yang Mumpuni Dibarengi dengan Keramahan
30 Oktober 2023Sepekan berlalu namun Baksos Tzu Chi ke-141 di RS Pelamonia Makassar masih meninggalkan kesan mendalam bagi para pasien, bagi para relawan Tzu Chi, juga tim medis Tzu Chi. Umumnya masyarakat ingin agar Tzu Chi Makassar bisa menggelar bakti sosial kesehatan seperti ini lagi.
Letusan Merapi : Gambaran Alam Tak Menentu
29 Oktober 2010Sejak beberapa hari yang lalu Gunung Merapi yang terletak di DI Yogyakarta terus menunjukkan keaktifannya. Bahkan dalam waktu singkat status Merapi berubah begitu cepat dari siaga menjadi awas. Namun kondisi Merapi yang selalu ditutupi oleh kabut tebal, membuat banyak masyarakat menjadi tidak tahu detik-detik gunung itu mulai meletupkan awan panas.
Memaknai Kasih Sayang Ayah
20 Agustus 2026Kebersamaan Xun Fa Xiang di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng menjadi ruang perenungan tentang kasih sayang orang tua, khususnya sosok ayah. Melalui Dharma, film pendek, dan sharing pengalaman, para relawan diajak menyadari arti berbakti serta menghargai jalinan jodoh.










Sitemap