Waisak Tzu Chi Perdana di Bagansiapiapi

Jurnalis : Wismina (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Kho Ki Ho (Tzu Chi Pekanbaru)

Kehadiran Sangha, pemuka agama, tokoh masyarakat, umat vihara maupun masyarakat umum telah memperagung prosesi pemandian rupang Buddha.

Bulan Mei tahun ini terasa begitu istimewa. Selain karena perjalanan Tzu Chi dalam menjalankan ikrarnya telah genap berusia 60 tahun, Tzu Chi Pekanbaru juga untuk pertama kalinya mengadakan peringatan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia di Kota Bagansiapiapi.

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, kehadiran para Sangha, pemuka agama, tokoh masyarakat, umat vihara, serta masyarakat umum turut memperagung prosesi pemandian rupang Buddha yang digelar di Sekolah Setia Budi. Sekitar 188 tamu undangan dan relawan hadir dalam acara Doa Bersama Waisak tersebut.

Para umat Vihara dan masyarakat umum dengan khidmat mengikuti peringatan Hari Raya Waisak 2026 yang berlokasi di Sekolah Setia Budi.

Para relawan Tzu Chi memanjatkan doa di depan Rupang Buddha dalam rangka memperingati Hari Raya Waisak 2026 yang dihadiri oleh 188 tamu undangan dan relawan.

Suasana malam itu dipenuhi ketenangan dan kekhusyukan. Para peserta mengikuti prosesi dengan penuh penghormatan dan rasa syukur. Dukungan dari pihak Sekolah Setia Budi juga menjadi salah satu faktor penting yang membantu kelancaran acara.

“Perasaan yang kita rasakan ini adalah ketenangan dan kedamaian. Harapan saya, kegiatan ini dapat menanam benih-benih kebaikan, membuka pikiran kita untuk selalu berpikir baik dan berbuat kebaikan,” ungkap Wilson, Kepala Perguruan Setia Budi, saat mengikuti prosesi pemandian rupang Buddha.

Setelah prosesi pemandian rupang Buddha selesai, acara dilanjutkan dengan perayaan Hari Ibu Internasional. Suasana haru dan sukacita pun semakin terasa ketika para peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan rasa cinta dan bakti kepada orang tua mereka.

Masyarakat umum berdoa di depan Rupang Buddha pada prosesi pemandian Rupang Buddha dengan menyentuh air suci dan mengambil bunga. Acara peringatan Waisak 2026 ini berlangsung di Sekolah Setia Budi.

Relawan Tzu Chi mendampingi seorang anak pada prosesi menyentuh air suci dan mengambil bunga pada prosesi pemandian rupang Buddha yang berlangsung di Sekolah Setia Budi.

Salah satu momen yang menyentuh datang dari Ka-Liong, putra relawan Swan Tjiok, yang sengaja pulang lebih awal dari Jakarta ke Bagansiapiapi demi menghadiri acara tersebut bersama keluarganya.

“Sangat kam un (terima kasih) kepada Tzu Chi karena saya mempunyai kesempatan untuk menunjukkan bakti kepada orang tua. Di usia saya yang sudah 40-an ini, saya bisa membasuh kaki orang tua dan merasakan betapa besar pengorbanan mereka. Tidak ada orang tua yang kedua, jadi selagi masih ada kesempatan, saya ingin menunjukkan bakti,” ungkap Ka-Liong dengan penuh haru.

Swan Tjiok pun tampak bahagia saat kedua anaknya membasuh kaki dirinya sebagai ungkapan cinta kasih dan rasa syukur. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Master Cheng Yen dan Tzu Chi yang telah menghadirkan momen penuh makna tersebut.

Charissa, seorang anak yang baru pertama kali membasuh kaki dan menyajikan teh hangat kepada mamanya, sangat bersyukur bisa berbakti kepada kedua orang tua yang telah merawat dan membimbingnya hingga dewasa.  

Kehangatan dan kasih sayang keluarga juga terlihat dari pengalaman Charissa, seorang pelajar yang hadir bersama ibunya. Bagi Charissa, mengikuti Doa Bersama Waisak sekaligus prosesi basuh kaki orang tua menjadi pengalaman pertamanya yang sangat menyentuh hati.

“Rasanya campur aduk. Sedih karena baru pertama kali melakukan ini, tetapi juga senang karena bisa membasuh kaki Mama,” ujar Charissa dengan suara lirih.

Ketika ditanya apakah dirinya pernah melakukan kesalahan kepada sang ibu, perlahan air mata mulai mengalir di pipinya. Dengan penuh haru, Charissa meminta maaf kepada ibunya atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

Melihat putrinya menangis, sang ibu pun berusaha menenangkan dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.

“Saya bersyukur memiliki anak seperti dia. Charissa sudah termasuk anak yang sangat baik,” ucap sang ibu sambil tersenyum haru.

Momen tersebut menghadirkan pemandangan kasih sayang antara anak dan orang tua yang begitu tulus dan menyentuh hati. Tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, kegiatan ini juga menjadi pengingat pentingnya menghargai orang tua, menumbuhkan rasa syukur, serta mempererat hubungan keluarga melalui cinta kasih dan kebajikan.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Merangkai Kehangatan dan Welas Asih dalam Tiga Perayaan

Merangkai Kehangatan dan Welas Asih dalam Tiga Perayaan

20 Mei 2026

Perayaan Waisak Tzu Chi Tanjung Balai Karimun berlangsung khidmat dan hangat menggabungkan peringatan Hari Waisak, Hari Ibu, dan 60 tahun Tzu Chi. Kegiatan ini menjadi refleksi cinta kasih, welas asih, dan kebersamaan generasi.

Merangkai Cinta dalam Kebersamaan Waisak, Hari Tzu Chi International, dan Hari Ibu Sedunia

Merangkai Cinta dalam Kebersamaan Waisak, Hari Tzu Chi International, dan Hari Ibu Sedunia

13 Mei 2026

Perayaan tiga hari besar di Tzu Chi Surabaya menghadirkan suasana hangat penuh cinta kasih, dalam penghormatan kepada ibu, serta semangat kebajikan yang menginspirasi seluruh peserta.

Waisak Tzu Chi 2018: Peringatan Hari Waisak di Rumah Baru

Waisak Tzu Chi 2018: Peringatan Hari Waisak di Rumah Baru

14 Mei 2018

Tahun ini, peringatan Hari Waisak, Hari Ibu, dan Hari Tzu Chi Sedunia dirayakan serentak oleh insan Tzu Chi di seluruh dunia pada Minggu 13 Mei 2018. Yayasan Buddha Tzu Chi Batam sangat bersyukur karena untuk pertama kalinya, perayaan tiga hari besar ini diadakan di ruangan ‘Jiang Jing Tang’, lantai 5 Aula Jing Si Batam yang baru rampung.

Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -