Andre Zulman, Dept. Head Eksternal Relation Tzu Chi Indonesia, menjelaskan kepada Wapres Gibran capaian program pembangunan hunian tetap gotong royong pasca bencana di Sumatera Utara, Aceh, dan sumatera Barat.
Senyum bahagia terpancar dari wajah Rahima Simalungun (37) ketika Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka memasuki rumahnya di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, GOR Aek Parombunan, Kota Sibolga, Sumatera Utara, pada Jumat, 4 September 2026.
Bagi Rahima, kedatangan Wapres Gibran bukan sekadar kunjungan seorang pejabat negara. Momen itu menjadi kesempatan untuk memperlihatkan langsung rumah yang kini menjadi tempat keluarganya membangun kembali kehidupan setelah bencana.
Wapres Gibran datang ke Sibolga untuk meninjau sejumlah program pemulihan pascabencana di Sumatera Utara. Salah satu lokasi yang dikunjunginya adalah Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga, yang dibangun Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor.
Di dalam rumah Rahima, Wapres Gibran melihat sejumlah ruangan dan perabotan yang tersedia. Ia kemudian bertanya kepada Andre Zulman, Dept. Head Eksternal Relation Tzu Chi Indonesia, dan turut mendampi juga Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto.
“Ini perlengkapan semua dari Tzu Chi?” tanya Wapres Gibran.
“Benar, Pak. Kami memberikan sofa, kasur tidur, meja makan, bufet, bantal,” jawab Andre Zulman.
Perhatian terhadap perlengkapan rumah tersebut menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan tidak berhenti pada pembangunan hunian. Rumah juga dilengkapi kebutuhan dasar agar warga dapat langsung menempatinya dengan lebih nyaman.
Wapres Gibran melihat perabotan rumah tangga satu set meja makan, sofa, kasur, yang diberikan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kepada warga penghuni rumah.
Wapres Gibran kemudian menyapa Rahima.
“Bagaimana Ibu tinggal di sini? Nyaman?” tanya Wapres Gibran.
“Alhamdulillah, nyaman Bapak. Terima kasih banyak, Bapak sudah memperhatikan saya dan warga Sibolga,” jawab Rahima.
Rahima mengaku bersyukur mendapatkan rumah yang layak sekaligus perlengkapan untuk mengisi rumah tersebut. Ia pun menyampaikan apresiasinya kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan para relawan.
“Terima kasih ya Pak. Saya sangat berterima kasih sekali kepada Yayasan Buddha Tzu Chi dan relawannya yang ramah-ramah. Semoga terus berkembang Yayasan Buddha Tzu Chi dan semoga para relawannya sehat-sehat semua,” ujar Rahima dengan haru.
Kembali Memiliki Rasa Aman
Di kawasan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga, Rahima tidak sendiri. Sebanyak 200 unit rumah telah dibangun dan hingga kunjungan Wapres Gibran berlangsung, 114 kepala keluarga telah menempati hunian tersebut.
Bagi sebagian warga, perpindahan ke rumah baru menjadi titik penting setelah mereka kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Salah satunya Mardiani Jebua (25) warga Pinangsori Tapanuli Tengah. Bersama suaminya, Wistana El Harifah (28), yang bekerja sebagai pengemudi becak, Mardiani telah sekitar satu bulan menempati rumah baru tersebut.
Sebelumnya, mereka tinggal di pengungsian Gereja BNKP Aekorsik. Kini, kehidupan mereka perlahan mulai tertata kembali.
“Nyaman Pak, enak,” kata Mardiani ketika ditanya mengenai rumah barunya.
Andre Zulman, Dept. Head Eksternal Relation Tzu Chi Indonesia, mendampingi Wapres Gibran untuk melihat bagian dalam rumah yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, untuk warga terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara.
Rumah tersebut telah dilengkapi sofa, meja makan, kasur, dan sejumlah perlengkapan lainnya. Bagi keluarga muda itu, rumah baru memberikan rasa nyaman setelah rumah lama mereka tidak lagi dapat dibangun kembali.
Mardiani berharap pengalaman pahit akibat bencana tidak kembali terulang.
“Mudah-mudahan tidak ada lagi banjir, Pak,” ujarnya. Dengan suara penuh rasa syukur, Mardiani juga menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi.
“Saya mengucapkan terima kasih untuk Yayasan Buddha Tzu Chi karena telah membangun rumah ini kembali,” katanya.
Cerita serupa datang dari Belina Loli (38) yang juga warga Pinangsori dan rumahnya turut dikunjungi oleh Wapres Gibran. Ia tinggal bersama suami dan tiga anaknya. Suaminya bekerja sebagai petani karet dengan menggarap lahan milik orang lain.
Rumah lama mereka rusak akibat tanah longsor. Belina bahkan tidak berani kembali membangun rumah di lokasi tersebut karena masih terdapat kawasan perbukitan yang dikhawatirkan mengalami longsor.
Selama lebih dari dua bulan, keluarganya tinggal di rumah saudara. Ketika akhirnya mendapatkan hunian baru, perasaan aman mulai tumbuh kembali.
“Jadi, sudah lebih dari dua bulan kami di sini, kami merasa nyaman,” tutur Belina.
Meski jarak menuju tempat kerja menjadi lebih jauh, Belina merasa lokasi rumah barunya memberikan ketenangan karena tidak lagi berada di tengah kekhawatiran ancaman longsor.
“Terima kasih untuk rumah baru kami dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Kami bersyukur, kami berterima kasih. Kami sangat bahagia. Semoga Tuhan yang membalas semua kebaikan Yayasan Tzu Chi,” ucapnya.
Bukan Sekadar Membangun Rumah
Dalam kunjungannya ke tiga titik perumahan yang dibangun oleh Yayasan Tzu Chi, Wapres Gibran juga melihat perkembangan yang begitu cepat. Ia menyampaikan bahwa sebagian warga telah pindah ke rumah baru dan sertifikat rumah bertahap telah dibagikan. Fasilitas listrik dan air sudah berfungsi.
Secara simbolis, Gibran menyerahkan sertifikat rumah kepada lima warga Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga.
Gibran berharap pembangunan hunian bagi korban bencana di Sumatera Utara dapat segera dituntaskan. Sebagian unit yang dibangun Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia telah selesai dan sudah dihuni warga.
Dalam menyambut kedatangan Wapres Gibran relawan Tzu Chi Medan menyalurkan 200 paket sembako kepada warga perumahan yang berisi beras, minyak goreng, gula pasir dan susu.
Sekitar 30 menit berada di kawasan perumahan, rombongan Wapres kemudian melanjutkan perjalanan menuju Hapesong, Tapanuli Selatan.
Di tengah proses pembangunan hunian, kebutuhan dasar masyarakat juga menjadi perhatian. Relawan Tzu Chi membagikan paket sembako kepada penghuni perumahan maupun warga sekitar di sejumlah lokasi.
Total 2.000 paket sembako dibagikan dibeberapa wilayah Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi yaitu: Sibolga, Hapesong, Tapanuli Selatan, Hutagodang, Tapanuli Selatan, serta wilayah Tapanuli Tengah.
Bagi masyarakat yang sedang bangkit setelah bencana, bantuan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan. Rumah memberikan tempat berlindung, sementara sembako membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, proses pemulihan tidak berhenti ketika rumah selesai dibangun. Andre Zulman berharap warga dapat menjaga dan merawat rumah serta lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kami berharap masyarakat dapat menjaga dan merawat rumah yang telah dibangun. Saat ini, infrastruktur di kawasan ini juga masih dalam proses pembangunan oleh pemerintah dan perbaikannya dilakukan secara bertahap,” ujar Andre Zulman.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan, terlebih saat ini memasuki musim penghujan.
“Kami juga berharap masyarakat bisa menjaga kelestarian lingkungan dan merawat lingkungannya. Dengan kondisi sekarang, ditambah situasi musim penghujan, kita berharap masyarakat dapat mencegah adanya banjir dengan menjaga kelestarian lingkungan,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan warga menuju kehidupan yang lebih baik. Rumah baru perlu dirawat, lingkungan perlu dijaga, dan rasa kebersamaan perlu terus dipelihara.
Antusias warga yang mengantre dengan rapih untuk menukarkan kupon paket sembako sambil menunggu kehadiran Wapres Gibran Rakabuming Raka di perumahan Sibolga.
Hari itu, warga Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga dan Pinangsori, Tapanuli Tengah berdiri berjajar di depan rumah mereka menyambut kedatangan Wapres Gibran. Sebagian ingin bersalaman, sebagian lainnya mengabadikan momen melalui foto.
Kini, Rahima, Mardiani, Belina, dan ratusan keluarga lainnya memiliki rumah yang sehat dan nyaman untuk memulai kembali kehidupan. Setelah bencana mengubah banyak hal, sebuah rumah baru memberi mereka satu hal yang sangat berarti: kesempatan untuk kembali menatap masa depan.
Editor: Fikhri Fathoni