Wihara Gendong dari Celengan Beras

Jurnalis : Apriyanto , Fotografer : Apriyanto
 
foto

Umat Buddha di Wihara Giri Santi Loka, Jepara, Jawa Tengah dengan antusias menyerahkan celengan bambu mereka kepada relawan Tzu Chi untuk digunakan membantu sesama yang membutuhkan.

Puluhan warga baik tua dan muda telah ramai memadati Wihara Giri Santi Loka yang berada persis di atas Gunung Celering. Karena letaknya di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut membuat wihara ini menjadi wihara tertinggi di wilayah Jepara. Hari itu, Minggu, 7 Juni 2009 adalah hari kunjungan relawan Tzu Chi dalam acara penyerahan celengan bambu dan pengenalan Tzu Chi lebih dekat. Serangkaian acara pun ditampilkan dari perkenalan antara relawan dengan warga, mulai dari pemutaran film hingga pertunjukan isyarat tangan yang dibawakan oleh para relawan. Di balik bangunannya yang terlihat baru, Wihara Giri Santi Loka sesungguhnya memiliki kisah tersendiri yang mencerminkan keuletan, kekompakan, dan semangat warga Dukuh Guwo dalam usaha memiliki tempat beribadah.

Celengan Beras
Berawal pada tahun 1966, Kamituo, seorang tokoh desa yang beragama Buddha memprakarsai untuk mengadakan kebaktian bagi warganya yang saat itu mayoritas beragama Buddha. Karena saat itu Dukuh Guwo belum memiliki tempat ibadah (wihara – red), maka puja bakti dilaksanakan di rumah Kamituo sendiri. Tetapi pada tahun 1972, sebanyak 35% warga Dukuh Gowo beralih keyakinan ke agama lain, termasuk Kamituo sendiri.

Karena Kamituo tidak lagi beragama Buddha, dan tidak adanya tempat untuk puja bakti, maka waktu itu warga membangun Cetia (wihara kecil -red) darurat, di atas lahan salah seorang warga bernama Nodirono Pailah. Waktu itu mereka hanya mampu membangun Cetia berukuran 4 x 6 meter—berdinding bambu, beratapkan daun rembulung, dan berlantaikan tanah. Cetia ini mereka namakan dengan sebutan Giri Santi Loka.

Karena jumlah warga yang ikut puja bakti jumlahnya semakin bertambah, maka beberapa tahun berikutnya Cetia ini mereka pindahkan ke sebelah selatan dari lokasi pertama, tepatnya di tanah milik Satimah. Bentuk bangunannya masih sama, masih berdinding bambu, beratapkan daun rembulung dan berlantai tanah. Hanya saja di lahan ini mereka bisa membangun Cetia dengan ukuran yang lebih luas yaitu, 6 x 8 meter. Setelah 3 tahun menempati lahan ini, ternyata kebutuhan akan daya tampung umat pun muncul kembali. Cetia Giri Santi Loka dirasa terlalu sempit untuk menampung umat Buddha yang minatnya semakin bertambah untuk mengikuti puja bakti.

Akhirnya dengan kesepakatan bersama dan atas kemurahan hati dari Kasim, Cetia ini dipindahkan dan dibangun kembali di atas lahan miliknya. Lama menempati di lahan ini hingga pada tahun 1985, warga Dukuh Guwo merasa perlu memiliki lahan yang dikhususkan untuk mendirikan sebuah wihara. Dengan dana yang dimiliki dari hasil sumbangan bersama, akhirnya warga mampu membeli sebidang tanah berukuran 12 x 10 meter seharga Rp 125.000. Lama-kelamaan, lahan-lahan yang berada di sisi Cetia dapat ikut terbeli, hingga akhirnya Cetia yang semula luasnya hanya 120 m2 kini bertambah menjadi 700 m2.

Dengan tersedianya lahan yang cukup luas, maka terbesitlah di benak para pengurus Cetia untuk membangun sebuah Vihara yang lebih layak. Tetapi untuk mewujudkan niat itu tidaklah mudah, terlebih kehidupan warga Dukuh Guwo yang mayoritas bekerja sebagai petani menjadi kesulitan tersendiri untuk menggalang dana yang jumlahnya sangat besar.

foto  foto

Ket : - Para relawan Tzu Chi yang berasal dari Pati, Jawa Tengah dengan lancar memperagakan bahasa isyarat
           tangan dalam salah satu sesi di acara kunjungan kasih di Wihara Giri Santi Loka, Jepara, Jawa Tengah. (kiri)
         - Dari kiri ke kanan: Kasipan, Sarwoto, dan Ashadi. Mereka adalah warga yang turut andil dalam usaha
           pembangunan Wihara Giri Santi Loka di Jepara, Jawa Tengah. (kanan)

Ashadi salah seorang pengurus, ia bersama beberapa pengurus lainnya mengusulkan agar setiap keluarga di Dukuh Gowo memiliki sebuah “bumbung” (celengan bambu). Mereka menyarankan kepada warga agar celengan bambu itu digantungkan di depan pintu rumah. Dan atas kesadarannya, warga diminta untuk menyumbangkan sesendok makan beras ke dalam celengan itu setiap sore.

Tanggal 25 Mei 1985 adalah awal dibangunnya Wihara Giri Santi Loka. Setelah satu minggu, celengan bambu itu rutin dikumpulkan oleh warga kepada pengurus Cetia. Beras yang terkumpul kemudian dijual dan uang hasil penjualannya digunakan untuk membeli bahan bangunan. Untuk jenis dan jumlahnya pun disesuaikan dengan uang yang dimiliki.

Memanggul dari Bawah
Dukuh Gowo pada tahun 80-an sangatlah berbeda dengan saat ini. Jalan aspal satu-satunya yang ada hanya sampai di Desa Blingoh yang jaraknya masih 3,5 Km lagi menuju Dukuh Guwo. Selebihnya adalah jalan tanah setapak yang menanjak dan berliku. Untuk mencapai Dukuh Guwo diperlukan waktu kurang lebih satu jam perjalanan dengan berjalan kaki. “Dulu itu ini masih jalan tanah, jalan aspal itu baru masuk kira-kira tahun 2002,” kata Ashadi.

Medan yang menanjak dan berliku tidaklah menyurutkan semangat para warga yang telah bersikeras ingin memiliki sebuah wihara. Dengan semangat yang dimiliki, setiap fajar warga mengangkut bahan-bahan bangunan dengan menggunakan bakul menuju tempat pembangunan wihara. Selama bertahun-tahun pembangunan Vihara ini dilaksanakan, selama itu pula warga mengangkut bahan-bahan bangunan dari Blingoh ke Guwo. “Dulu baik pasir, semen, batu merah, atau apa pun ini dari Blingoh. Setiap pagi, jam 4 pagi, warga umat Buddha ini, baik perempuan, (atau) laki-laki berbondong-bondong gendong material dari Blingoh yang berjarak 3 kilometer, sebelum adanya jalan tembus ini,” kata Suwoto yang waktu itu ia masih remaja saat turut serta dalam pembangunan wihara.

foto  foto

Ket : - Letaknya yang berada di pegunungan antara 600 meter di atas permukaan laut membuat wihara ini menjadi
           wihara tertinggi di Jepara. (kiri)
         - Suyadi, relawan Tzu Chi Pati saat membelah celengan bambu yang telah diserahkan oleh umat di Wihara
           Giri Loka, Jepara, Jawa Tengah. (kanan)

Menurut Ashadi, selain warga dewasa, anak-anak kecil juga turut mengambil andil dalam membawa bahan-bahan bangunan dari Blingoh. Hanya saja jarak tempuh mereka cuma separuh perjalanan dan material yang mereka bawa juga tidak sebanyak orang dewasa. Untuk memudahkan tugas, waktu itu Ashadi membagi warganya menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok memiliki tanggung jawab untuk membawa bahan bangunan dan dilaksanakan secara bergiliran. Selain itu, masing-masing kelompok juga aktif mengadakan arisan yang hasilnya disumbangkan untuk pembangunan wihara. Dengan usaha yang keras, akhirnya di tahun 1992 wihara ini terbangun walau hanya 30% —dinding dan atapnya saja. Disebabkan kebiasaan warga dalam membawa material yang digendong dari Blingoh ke Guwo, saat itu banyak warga yang akhirnya menjuluki wihara ini dengan sebutan Wihara Gendong.

Bertemu dengan Tzu Chi
Seiring berjalannya waktu dan masuknya jalan aspal hingga ke Dusun Blingoh, wihara ini berhasil menyelesaikan pembangunannya atas dukungan dari banyak umat Buddha di luar Jepara, Departemen Agama, dan Bupati Jepara sendiri.

Adanya infrastuktur yang memadai membuat keberadaan wihara ini lebih mudah untuk dijangkau dan juga berhubungan dengan berbagai organisasi lain. Menurut Winarso, pada 2007, saat itu Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mendistribusikan beras ke Jawa Tengah. Untuk memudahkan pembagian beras ini kepada yang membutuhkan secara mudah, maka waktu itu sejumlah tokoh umat Buddha di Jepara diundang untuk berkoordinasi dengan relawan Tzu Chi. Dalam pertemuan itu, Winarso memperkenalkan misi dan visi Tzu Chi. Baru setelah itu diadakan pelatihan kepada tokoh umat Buddha untuk menjadi relawan pembagian beras. Setelah semuanya siap, maka di bualan Mei pembagian beras itu dijalankan, atas dukungan dari tokoh-tokoh umat Buddha di Jepara, termasuk Kasipan, pengurus Wihara Giri Santi Loka yang saat itu ikut serta sebagai relawan pembagian beras.

Berawal dari pembagian beras inilah Tzu Chi kemudian menjalin hubungan yang baik dengan umat Buddha di desa Blingoh, Jepara, Jawa Tengah. Budaya kemanusiaan yang diperkenalkan oleh Tzu Chi mendapat tanggapan yang baik dari umat Buddha setempat. Salah satunya adalah celengan bambu. Pada tahap pertama yang turut berpartisipasi dalam celengan bambu adalah Wihara Semakalingga di Desa Blingoh. Sebanyak 30 orang umat turut berpartisipasi dalam menyumbangkan celengan bambu. “Lalu tahap kedua sekitar 8 bulan yang lalu jumlahnya mengalami peningkatan sebanyak 40 orang di Semakalingga itu. Untuk kali ini mungkin mendekati 100 peserta di Wihara Giri Santi Loka ini,” terang Kasipan. “Yang saya kagumi, (Yayasan) Buddha Tzu Chi membentuk relawan untuk membagikan beras kepada orang-orang di daerah pantai, khususnya bukan orang Buddha malah,” kata Ashadi dengan bangga menambahkan.

 

Artikel Terkait

Peletakan Batu Pertama Rumah Cinta Kasih Tzu Chi di Manado

Peletakan Batu Pertama Rumah Cinta Kasih Tzu Chi di Manado

28 Januari 2015 Bantuan rumah cinta kasih ini diberikan setelah melalui beberapa kali survei. Survei yang berulang-ulang dilakukan relawan agar bantuan ini tepat sasaran dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dari keluarga tersebut.
Berderma dalam Keterbatasan (Bag.1)

Berderma dalam Keterbatasan (Bag.1)

11 November 2011 Bersama sang istri ia mencari Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Gedung ITC Mangga Dua Lt. 6 Jakarta. Dari semula hanya berniat menjadi donatur, pasangan suami-istri yang menikah di tahun 2005 ini pun kemudian tak menampik ketika diajak untuk menjadi relawan oleh salah seorang staf di Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Kasih Natal di Panti Jompo Priangan

Kasih Natal di Panti Jompo Priangan

21 Desember 2012 Pada kesempatan ini, para relawan menampilkan isyarat yang berjudul “Satu Keluarga dan Sebuah Dunia yang Bersih. Para opa oma yang hadir turut memeragakan gerakan isyarat tangan ini sambil duduk manis.
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -