Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Janganlah Kondisi Luar Mempengaruhi Batin Kita

02 Desember 2019 Jurnalis : Henny Yohannes (He Qi Utara 2)
Fotografer : Henny Yohannes (He Qi Utara 2)


“Memuji seseorang itu kita harus ikhlas,” ucap Efi.

Pujian dan hinaan adalah dua keadaan duniawi yang mempengaruhi manusia. Ada beberapa hal ketika kita dipuji menjadi menyenangkan di telinga. Tetapi pujian yang berlebihan walaupun menyenangkan  bisa jadi itu hanyalah tipuan semata. Satu kata pujian dapat berdampak luas. Tetapi sebaliknya, jika kita mendapat hinaan kita sering merasa tertekan atau menderita. Saat batin kita terbelenggu dengan kemelekatan yang artinya adalah ketamakan, maka tentu kita tak akan mampu merelakan. Ketamakan terhadap ketenaran, keuntungan, kebahagiaan itu semua sangat melekat. Karena itu kita harus memiliki pikiran yang jernih dan bijaksana dan berlatih dengan merenungkan berapa lama pujian ini akan bertahan.

Memuji dengan Ikhlas
“Memuji relawan itu boleh atau tidak?”

“Tentu saja boleh, tetapi untuk memuji seseorang itu kita harus ikhlas,” jawab Efi dengan semangat di depan para relawan yang hadir di kegiatan bedah buku komunitas relawan He Qi Utara 2 Pluit Ai Xin pada Minggu, 24 November 2019. Efi pun memberi contoh saat beliau memuji tim konsumsi setelah selesai dari kegiatan. “Shixiong-Shijie, Gan En yaa, masakannya enak loh,” kata Efi,  “satu kalimat ini bisa membuat tim konsumsi merasa bahwa ada yang perhatian sama kita. Tetapi kita juga harus ingat, kita tidak boleh terlena terhadap pujian. Karena jika ada orang yang suka dengan pujian tiba-tiba dia tidak dapat pujian maka dia akan merasa menderita. Jadi apa yang orang bicarakan itu kita simpan, tapi janganlah di simpan untuk selamanya karena segala sesuatu yang terlalu happy atau sedih pun akan membuat kita menderita.”

Memahami Makna Bab 10 Pahala Melalui Isyarat Tangan

Variaty (baju biru di panggung) sedang memberi contoh gerakan membangkitkan kesabaran bagi yang penuh kebencian (kedua tangan menunjuk ke atas).


Melia membantu para relawan saat belajar shou yu Bab 10 Pahala.

Ruangan kaligrafi terlihat mulai terisi penuh bahkan kursi pun di tambah lagi di belakang. Tak kurang dari 27 relawan hadir saat itu. Semua relawan sangat antusias untuk mengikuti acara berikutnya yaitu Shou Yu (isyarat tangan). Siang itu peserta dibimbing oleh tim shou yu He Qi Utara 2 yaitu Variaty dan Melia. Tak lupa para relawan pun diajak untuk memahami arti dari setiap gerakan yang akan dilakukan. “Hari ini kita akan belajar gerakan 10 pahala yang akan ditampilkan untuk acara Pemberkahan Akhir Tahun 16 Februari 2020, acara ini merupakan persamuan sutra Wu Liang Yi Jing versi lanjutan Dharma, karena itu kita harus berlatih jika tidak bisa di sini kita boleh juga melakukan latihan di rumah masing-masing” ucap Variaty.

Belajar bersama menulis Sutra

“Setiap kegiatan merupakan berkah, dan berkah hanya sekali digarap,” ucap Kelvin.

Minggu, 24 November 19, sebanyak 27 relawan berkumpul di Gedung Gan En (ruang Kaligrafi) Tzu Chi Center Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara untuk belajar bersama dalam kegiatan bedah buku He Qi Utara 2.

Usai latihan shou yu kita pun melakukan latihan menulis sutra yang ada di buku Wu Liang Yi Jing (Sutra Makna Tanpa Batas). Kali ini kita meminta bantuan Kelvin, salah satu relawan termuda di ruangan ini. "Awal diminta Liena, saya bilang pikir-pikir dulu. Tetapi saya ingat dengan kata-kata Master Cheng Yen yaitu kita harus Lebih bersungguh hati, lakukan saja. Setiap kegiatan merupakan berkah, dan berkah hanya sekali digarap kalau kita tidak ambil saat ini kita harus ingat tekad awal masuk Tzu Chi kita apa. Dan juga kalau saya tolak jangan-jangan saya masih kurang menghargai berkah yang ada. Tetapi setelah saya menjalankan tanggung jawab ini saya merasakan happy, dan saya juga harus lebih banyak belajar lagi dalam tata cara menulis yang benar," ucap Kelvin sambil tersenyum .

Tibalah kita diakhir penghujung acara, dan saya pun memetik kesimpulan dari kegiatan hari ini tentang pujian atau hinaan. Jadi, mendapat pujian atau hinaan, kita harus seperti batu besar yang tegak dan tak akan tergerakkan oleh angin. Begitu pula dengan pikiran bijaksana yang berasal dari mendalami Dharma, tidak akan bergerak oleh pujian ataupun hinaan.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 365 kali


Berita Terkait


Inspirasi Luar Biasa dari Rumah Sakit Xindian

03 Oktober 2019

Mendalami Dharma dengan Cara Menyenangkan

22 Agustus 2019

Kebenaran Sejati

12 Maret 2019

Bahagia Membawa Berkah

07 Desember 2018

Bedah Buku: Memahami Empat Unsur Semu

21 September 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat