Rabu, 08 April 2020
Indonesia | English

Kamp 4 in 1 2019: Menumbuhkan Lingkaran Kebajikan

29 Juli 2019 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Anand Yahya, James Yip (He Qi Barat 2)


Huang Ming Yue, relawan Tzu Chi asal Taiwan berbagi kisah inspiratifnya sebagai relawan pemerhati di rumah sakit kepada 680 peserta Kamp 4 in 1 di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

“Nilai kehidupan kita itu dinilai dari manfaat atau kegunaan hidup kita bagi orang lain. Ketika kita dibutuhkan setiap saat, setiap detik oleh orang lain yang membutuhkan maka inilah nilai kehidupan kita yang berguna,” kata Huang Ming Yue Shijie, relawan Tzu Chi asal Taiwan dalam Kamp 4 in 1 Tzu Chi Indonesia, hari kedua, 28 Juli 2019.

Huang Ming Yue yang merupakan relawan pemerhati di Rumah Sakit Tzu Chi Taiwan berbagi kisah inspiratif kepada para relawan Tzu Chi Indonesia dengan tema Bertumbuh Dalam Berkah dan Kebijaksanaan. Huang Ming Yue sudah 28 tahun menjadi relawan pemerhati di rumah sakit. Seiring berjalannya waktu, berbagai kisah dan pengalaman yang terjadi menjadi bahan pembelajaran tersendiri baginya. “Dengan menjadi relawan di rumah sakit, banyak hal yang kita berikan, tetapi lebih banyak hal-hal yang kita dapatkan,” ungkapnya, “menjadi relawan pemerhati juga membutuhkan dedikasi, bekerja dengan dengan senang dan menerima dengan sukacita.”

Melakukan Banyak Hal
Dalam prosesnya, menjadi relawan pemerhati pasien di Rumah Sakit Tzu Chi setiap relawan nyatanya juga harus memberikan perhatian kepada keluarga pasien. Karena ketika ada anggota keluarga yang terkena penyakit maka sesungguhnya yang menderita bukan hanya pasien itu saja, tetapi juga seluruh anggota keluarganya. Karena itulah menurut Huang Ming Yue, menjadi relawan pemerhati itu juga harus bisa melakukan dan memerankan banyak hal: menjadi saudara, orang tua, teman, kakak, adik, dan bahkan terkadang menjadi kakek dan nenek.


Selama 30 tahun menjadi relawan pemerhati di rumah sakit, banyak kisah-kisah haru dan menyentuh yang dirasakan Huang Ming Yue, yang memperkaya batin dan perjalanan hidupnya.

Hal ini dirasakannya ketika mendampingi seorang ibu berusia 40 tahun yang mengidap penyakit jantung di ruangan paliatif (ruangan khusus bagi pasien agar dapat meringankan penderitaan). Detak jantung ibu itu amat lemah. Pasien tersebut merasa risau karena bulan depan merupakan ulang tahun anaknya yang ke-10 tahun. “Saya kemudian bilang kepadanya bolehkah ulang tahunnya kita percepat. Kita kemudian siapkan kue dan telur untuk merayakan ulang tahunnya,” kata Huang Ming Yue dan disambut dengan haru oleh pasien tersebut. Ibu ini memiliki 4 (empat) anak yang masih kecil-kecil.

Untuk menenangkan batin pasien tersebut, Huang Ming Yu berkata, “Saya tidak tahu apakah saya bisa menerima kehormatan dengan menjadi bagian dari keluarga Anda. Anda pasti khawatir akan anak-anak Anda. Andaikan usaha pengobatan ini gagal, kami akan dampingi anak-anak Anda sampai dewasa.” Tak lama kemudian, pasien tersebut meninggal dunia. Mulailah babak baru Huang Ming Yue berperan sebagai ibu bagi keempat anak pasien tersebut. Bersama-sama relawan lainnya mereka mendampingi dan memberikan penghiburan bagi keempatnya. Di hari Sabtu dan Minggu, anak-anak ini kerap datang ke rumah sakit. “Suatu hari, anak yang bungsu bilang kalau dia kangen sama Mamanya. Langsung saya bilang, ‘ayo saya gendong kamu. Saya jadi Mama kamu’,” kata Huang Ming Yue. Di rumah sakit pula anak-anak ini mengerjakan tugas sekolahnya dengan dibimbing para relawan. “Ada istri dokter-dokter kita yang menjadi relawan dan mengajari anak-anak ini,” kata Huang Ming Yue.

 

Pengalaman Huang Ming Yue sebagai relawan pemerhati di rumah sakit membuat banyak peserta terharu dan menitikkan air  mata.

Kini, keempat anak ini sudah menjadi relawan pemerhati juga di rumah sakit. Hal ini menciptakan lingkaran kebajikan yang baik, dimana mereka yang dulunya  mendapatkan pendampingan dan penghiburan kini justru mendampingi dan menghibur orang lain.

Menurut Huang Ming Yue, ada 4 hal yang harus dilakukan relawan pemerhati di rumah sakit. Pertama, yang didampingi dan diperhatikan adalah Satu Keluarga, bukan hanya pasien yang sakit saja, tetapi relawan juga harus memberi perhatian kepada seluruh anggota keluarganya. Kedua, Sepanjang Jalan, relawan mendampingi pasien dan keluarganya terus sampai keluarga ini bisa pulih dan mandiri. Ketiga, Seluruh Tim Guan Huai, semua relawan pemerhati dan tim medis (dokter dan perawat) bersatu hati dalam memberi perhatian kepada pasien dan keluarganya. Dan keempat, Pendampingan Secara Menyeluruh, artinya bukan hanya mengobati penyakitnya saja (jasmani), tetapi relawan Tzu Chi juga memperhatikan kebutuhan rohani pasien sehingga batinnya bisa menjadi lebih tenang dan damai dalam menjalani pengobatan.

Menjaga Komitmen Menjadi  Murid Master Cheng Yen
Di Indonesia, kisah-kisah inspiratif juga tak pernah sepi. Dalam wujud yang berbeda, kesungguhan hati para relawan terangkum dalam berbagai aktivitas dan cara yang berbeda-beda. Seperti yang dilakukan tiga bersaudara dari Tebing Tinggi: Elin Juwita dan Erik Wardi. Kedua kakak-beradik ini mengikuti jejak kedua orang tua mereka di Tzu Chi: Wardi dan Tjong Kwai Hiok (63). Wardi, sang ayah dulu adalah Ketua Tzu Chi Tebing Tinggi yang pertama. Jika pada tahun 2009, masa-masa awal benih Tzu Chi masuk di Tebing Tinggi ini Elin dan Erik hanya sebatas ikut-ikutan kegiatan sang ayah, kini keduanya sudah mantap melangkah di Jalan Tzu Chi dan menjadi murid Master Cheng Yen.

 

Elin Juwita dan Erik Wardi, dua orang kakak beradik asal Tebing Tinggi yang memantapkan tekad untuk menjadi Komite Tzu Chi di tahun 2019 ini.

Tahun 2019 ini, Elin dan Erik bahkan sudah membulatkan tekad untuk menjadi relawan Komite Tzu Chi yang akan dilantik oleh Master Cheng Yen. “Ini merupakan kesiapan kita untuk komit kepada Master Cheng Yen dalam mengikuti langkah Master di Jalan Bodhisatwa ini. Ini juga langkah awal kami untuk lebih bisa membina diri kami sendiri melalui ajaran Master Cheng Yen yang bisa dipraktikkan di Tzu Chi,” kata Elin. Elin dan Erik datang bersama 10 relawan Tzu Chi Tebing Tinggi lainnya.

Banyak perubahan diri yang dirasakan kedua kakak-beradik ini. Elin dan Erik yang berprofesi guru bahasa Inggris ini merasa selama berkegiatan dan melatih diri di Tzu Chi menjadi pribadi yang lebih sabar. “Kalo dulu murid salah kita langsung emosi, tetapi sekarang bisa mengajar lebih sabar,” kata Elin. Hal yang sama dirasakan Erik, yang juga mengajak istri dan anak-anaknya dalam berbagai kegiatan Tzu Chi di kotanya.


Jika dulu hanya mengikuti kegiatan Tzu Chi karena ajakan sang ayah, kini Elin sudah bisa merasakan dan memahami tujuan dan kebahagiaannya menjadi relawan.

Dari semula ikut kegiatan Tzu Chi karena ajakan sang ayah kini Elin dan Erik akhirnya bisa menemukan alasan dan tujuan mengapa mereka di Jalan Tzu Chi. “Tertarik karena di Tzu Chi kita bisa membantu dan menolong orang lain. Tapi awalnya belum ngerti Tzu Chi itu apa. Setelah dijalani dan tahu tujuannya ternyata bisa melatih diri kita. Dan yang paling besar itu sebenarnya mengubah tabiat diri kita sendiri,” kata Elin.

“Awalnya juga ikut-ikutan aja, tapi lama-lama kan merasa ini ladang berkah juga buat kita dan jodoh juga untuk menggarap ladang berkah. Secara pribadi akhirnya juga tertarik,” terang Erik.

Dengan kompak keduanya menjawab bahwa Dharma Master Cheng Yen lah yang meneguhkan niat dan tekad mereka. “Master Cheng Yen sudah membuka sebuah ladang berkah buat kita, dan kalau kita tidak garap maka yang rugi adalah kita sendiri,” tegas Elin. Karena itulah, untuk mengajak para relawan Tebing Tinggi memahami dan mendalami Dharma, Tzu Chi Tebing Tinggi mengadakan Xun Fa Xiang setiap hari (Senin – Jumat). Selain itu, ada juga kegiatan bedah buku  untuk memberi ruang kepada para relawan mengembangkan diri dan saling menginspirasi.


Wardi (kiri), Ketua Tzu Chi Tebing Tinggi pertama yang mengajak semua anggota keluarganya untuk menjadi barisan pertama relawan Tzu Chi di Tebing Tinggi.

Setiap pasien adalah kisah, dan setiap penerima bantuan juga memiliki ceritanya masing-masing. Menjadi relawan Tzu Chi membawa pengalaman tersendiri bagi Elin dan Erik, seperti bagaimana menghadapi orang dengan beragam karakter yang berbeda-beda yang semuanya memberikan pelajaran kehidupan. Keduanya juga sepakat bahwa masih perlu menggalang banyak hati di Tebing Tinggi. Dan modal itu sudah ada, dalam sesi Kamp 4 in 1 kali ini, ada satu materi khusus tentang pelestarian lingkungan yang dibawakan oleh relawan Tzu Chi Taiwan dan Australia. Kebetulan juga Tzu Chi Tebing Tinggi memiliki Depo Pelestarian Lingkungan yang menjadi salah satu titik untuk mengadakan kegiatan pelestarian lingkungan secara rutin. “Inspirasinya semoga kami di Tebing Tinggi juga bisa menggerakkan relawan lansia (berusia lanjut) untuk mengikuti kegiatan daur ulang. Terutama adalah relawan kita (Tebing Tinggi) bisa menggerakkan orang tuanya yang berusia lanjut untuk mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan,” kata Elin bersemangat.

Dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar maka cinta kasih yang ditanam akan lebih mudah menyebar. Setelah menyebar, tugas kita untuk merawatnya agar terus tumbuh dan berkembang. Jika bisa terus dilakukan maka lingkaran kebajikan ini akan terus berjalan.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 899 kali


Berita Terkait


Kamp 4 in 1 2019: Sentuhan Kasih di Tzu Chi Hospital

30 Juli 2019

Kamp 4 in 1 2019: Mempraktikkan Sepaham, Sepakat, dan Sejalan

30 Juli 2019

Kamp 4 in 1 2019: Bergerak Bersama, Membantu Sesama

29 Juli 2019

Kamp 4 in 1: Menjaga Diri dan Mengasihi Kehidupan

21 Agustus 2018

Kamp 4 in 1: Menggenggam Setiap Kesempatan

21 Agustus 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Saat membantu orang lain, yang paling banyak memperoleh keuntungan abadi adalah diri kita sendiri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat