Rabu, 13 November 2019
Indonesia | English

Pemberkahan Awal Tahun 2017: Lebih Berbakti, Lebih Bersumbangsih

13 Februari 2017 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Arimami Suryo A

Pemberkahan Awal Tahun 2017 bagi masyarakat umum digelar pada Minggu, 12 Februari 2017. Karena jumlah peserta yang begitu banyak, pemberkahan dibagi dalam dua sesi dengan total peserta 4.220 orang.

Tabuhan tambur menggema, membuka Pemberkahan Awal Tahun 2017. Ribuan peserta dari masyarakat umum dan relawan yang memadati Aula Jing Si, Tzu Chi Center Pantai Indah Kapuk Jakarta terbawa keindahan bunyi yang rancak nan membahana. Para pengurus dan guru Sekolah Tzu Chi Indonesia dan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng menampilkannya sebagai penanda perjalanan Tzu Chi internasional yang telah menginjak 50 tahun.

Kegiatan pemberkahan digelar tiap tahun sebagai wujud terima kasih Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia atas sumbangsih semua donatur dan relawan. Karena itu melalui tayangan video, Tzu Chi juga memaparkan apa saja yang sudah Tzu Chi kerjakan selama satu tahun ini. Kali ini, pemberkahan mengangkat dua tema, yakni 50 tahun perjalanan Tzu Chi internasional dan tentang budi luhur orangtua seluas samudera.

Chia Wen Yu, Relawan Komite Tzu Chi sekaligus koordinator kegiatan ini mengatakan, Tzu Chi yang telah melewati tahun ke-50 akan terus bekerja keras agar lebih banyak orang yang dapat terbantu.

“Lima puluh tahun yang akan datang bagaimana kita mesti lebih lagi memberikan perhatian kepada masyarakat. Itu harapan saya, bagaimana menebarkan benih-benih cinta kasih. Semua orang ada kasih. Berilah perhatian kepada masyarakat yang kurang mampu atau yang perlu kita perhatikan,” ujarnya.

Kevin (tengah) begitu menyesal telah menyiakan kesempatan berbakti kepada orangtuanya. Drama ini dimainkan dengan apik di antaranya oleh para relawan dan murid Tzu Chi School.


Denna Haryanto (61) dan anaknya Vera Hidayat (35) berlinangan air mata saat menyaksikan drama. Keduanya mengambil pelajaran penting bahwa keluarga adalah prioritas utama.

Sementara itu budi luhur orangtua dituangkan dalam sebuah drama. Kevin, sang tokoh utama, merupakan seorang karyawan sukses. Kesibukan begitu melenakannya dari kewajiban berbakti kepada orangtua. Kevin tak sempat mencurahkan perhatian dan waktunya di hari-hari terakhir sang ibu. Penyesalan hanya tinggal penyesalan. Kini Kevin bertekad untuk mencurahkan perhatian bagi sang ayah agar tak menyesal untuk yang kedua kalinya.

Di bangku penonton, Denna Haryanto (61) dan anaknya Vera Hidayat (35) berlinangan air mata. Denna pun memeluk sang putri tercinta. Bagi Denna, drama tersebut mengingatkan agar sebagai seorang anak jangan sampai tak menggunakan waktu dan kesempatan untuk berbakti kepada orangtua.

“Ketika kita bisa berbakti, berbaktilah kepada orangtua. Sebanyak mungkin, dalam bentuk apapun. Jangan dilupakan orangtua yang sudah melahirkan. Syukurlah selama ini anak-anak saya sangat berbakti,” ujarnya.

Vera tersenyum haru mendengar ucapan sang ibu. Ia pun bertekad akan lebih berbakti lagi kepada orangtuanya agar tak timbul penyesalan di masa mendatang.

“Drama ini mengingatkan saya bahwa hidup manusia itu tidak kekal. Apalagi nenek saya juga baru meninggal 50 hari yang lalu. Saya ingat pengorbanannya hingga beliau tua, sampai 88 tahun. Nenek ingin agar keluarganya, generasi penerusnya terus rukun, damai, saling mengasihi,” kata Vera.

Sedih, haru dan rindu dirasakan Solihin Maulana (60) dan Ashary Nalasetya (59) di bangku penonton. Kakak beradik ini teringat dengan sang ayah yang telah meninggal dunia.


Asary mewakili sang ibu yang dilantik menjadi seorang komisaris kehormatan Tzu Chi. Sementara adiknya, Solihin mewakili sang ayah, almarhum Joky Nalasetya.

Wujud berbakti kepada orangtua juga ditunjukkan Solihin Maulana (60) dan Ashary Nalasetya (59). Kakak beradik ini datang ke Pemberkahan Awal Tahun untuk mewakili almarhum ayahnya Joky Nalasetya dan ibunya Lanny Tanuwijaya yang dilantik sebagai komisaris kehormatan Tzu Chi (Rong dong). Sang ayah yang telah meninggal pada Mei 2016 lalu sudah berniat untuk bersumbangsih dan menjadi seorang komisaris kehormatan Tzu Chi. Sementara sang ibu tidak bisa hadir karena sakit. Kakak beradik ini merasa lega telah menunaikan amanat orangtuanya.

“Kita sudah melaksanakan amanat, keinginan orang tua. Belum lama mama juga sudah sempat bertemu dengan Master Cheng Yen. Tadinya tidak bertemu, tapi saat mau pulang, diperpanjang lagi dua hari akhirnya bertemu juga. Mama usianya sekarang sudah 84, sedangkan papa meninggal di usia 90 lebih,” kata Ashary Nalasetya.

Ashary menambahkan, kedua orang tuanya berharap Tzu Chi Indonesia bisa terus berkembang untuk kemanusiaan.

Menyaksikan para penonton begitu terharu dengan pesan moral dari drama, Chia Wen Yu merasa sangat bersyukur. Relawan Komite Tzu Chi sekaligus koordinator kegiatan ini menilai pesan yang ingin Tzu Chi sampaikan dalam Pemberkahan Awal Tahun ini telah sampai dengan baik.

"Pemain terharu, tapi penonton juga sangat terharu. Apalagi juga ada lagu berjudul Apabila Kamu Tua. Wah saya lihat banyak yang terharu. Kita juga apresiasi banyak relawan Tzu Chi yang mempunyai keluarga yang sangat bahagia. Kita menghimbau yang belum berbakti ya berbaktilah karena masyarakat makin lama makin sibuk termasuk diri kita sendiri, baik sibuk sekolah, sibuk cari uang,” ujarnya.

Artikel dibaca sebanyak : 1937 kali


Berita Terkait


Bersatu Hati Menggarap Ladang Berkah

23 Januari 2019

PAT 2018: Memberikan yang Terbaik

20 Januari 2019

PAT 2018: Wu Liang Yi Jing, Peta Jalan Relawan Tzu Chi

20 Januari 2019

PAT 2018: Rumah Bersama Bagi Kemanusiaan

20 Januari 2019

PAT 2018: Teduhnya Persamuhan Sutra Makna Tanpa Batas

14 Januari 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat