Anak Teratai Belajar Mengolah Sampah Organik melalui Biopori

Jurnalis : Susi Christine (He Qi Jakarta Pusat), Fotografer : Susi Christine (He Qi Jakarta Pusat)

Anak Teratai menyiapkan media yang akan digunakan dalam praktik pembuatan biopori sebagai bagian dari pembelajaran pelestarian lingkungan.

Pada Minggu pertama Oktober, tepatnya 4 Oktober 2026, sebanyak 27 relawan Tzu Chi dan 30 Anak Teratai berkumpul di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, He Qi Jakarta Pusat. Kegiatan bulanan yang berlangsung pukul 07.30–12.00 WIB ini mengajak Anak Teratai mengenal dan mempraktikkan pembuatan biopori melalui kegiatan urban farming.

Setelah melakukan pendaftaran, Anak Teratai memasuki ruang Fu Hui dan duduk bersama mentor masing-masing. Kegiatan diawali dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video mengenai pembuatan biopori yang diperkenalkan oleh tim Urban Farming He Qi Jakarta Pusat.

Usai menyimak penjelasan, Anak Teratai bersama para mentor menuju area praktik yang telah disiapkan oleh Agatha dan tim Urban Farming. Di sana, mereka belajar mengolah sampah organik menjadi pupuk alami sekaligus memanfaatkannya untuk menanam berbagai jenis tanaman.

Anak Teratai dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan tugas yang berbeda. Sebagian peserta, terutama anak laki-laki, membantu membuat lubang pada botol plastik dan galon bekas menggunakan solder dan gunting. Sementara itu, peserta lainnya memotong sisa sayuran dan kulit buah menjadi bagian-bagian kecil.

Botol plastik dan galon bekas dilubangi untuk mendukung proses pembuatan media tanam dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai.

Potongan sayuran yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam botol berlubang untuk membantu proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk alami.

Potongan sampah organik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah dilubangi. Botol-botol itu selanjutnya ditempatkan di dalam pot atau galon yang digunakan sebagai media tanam. Anak Teratai juga belajar menyiapkan lapisan media tanam berupa batu-batu kecil, ijuk, dan tanah. Setelah tanaman dan botol berisi sampah organik dimasukkan ke dalam galon yang bagian atasnya telah dipotong, media tanam disiram dengan air.

Tak hanya belajar mengolah sampah organik, Anak Teratai juga berkesempatan memanen sayuran yang tumbuh di area tersebut, seperti kacang panjang dan terong. Melalui praktik langsung ini, mereka belajar bahwa sisa bahan makanan dan barang bekas masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna bagi lingkungan.

Sera, PIC Anak Teratai, menjelaskan bahwa tema biopori dipilih untuk memperkenalkan pengetahuan baru kepada anak-anak. Ia berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan Anak Teratai mengenai pelestarian lingkungan dan mendorong lebih banyak orang untuk mengenal program tersebut.

Agatha, penggerak kegiatan biopori dalam program Urban Farming, berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan oleh Anak Teratai dalam kehidupan sehari-hari. “Semoga Anak Teratai bisa mengolah sampah organik menjadi pupuk alami untuk menanam sayuran, buah-buahan, maupun tanaman hias,” ungkap Agatha.

Ia juga berharap Anak Teratai terinspirasi untuk melakukan kegiatan urban farming dan membuat biopori dengan memanfaatkan galon atau botol bekas minuman. Dengan langkah sederhana tersebut, mereka dapat ikut mengurangi sampah sekaligus berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi.

Batu, ijuk, dan tanah disusun ke dalam galon bekas sebagai media tanam yang akan digunakan dalam praktik Urban Farming Biopori.

Anak Teratai memanen kacang panjang yang tumbuh di area Urban Farming setelah belajar mengenal proses penanaman dan perawatan tanaman.

Antusiasme juga dirasakan oleh Marcella Eliana (18), siswi kelas XII SMK Kristen Ramadi yang mengikuti kegiatan Urban Farming Biopori. Baginya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempelajari cara membuat pupuk sekaligus mengenal proses bercocok tanam.

“Saya ingin belajar bagaimana membuat pupuk dan bagaimana cara menjadi petani. Saya senang mengikuti kegiatan ini, walaupun agak melelahkan, karena ada manfaatnya. Saya berharap tanaman ini bisa bermanfaat bagi kita dan tumbuh dengan baik,” tuturnya.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama. Meski cuaca cukup panas dan rasa lelah mulai terasa, kebersamaan yang terjalin menghadirkan keceriaan di wajah para peserta. Bagi sebagian Anak Teratai, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama belajar menanam dengan memanfaatkan sampah organik sebagai pupuk alami. Melalui praktik sederhana ini, Anak Teratai diajak untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan memahami bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Dari Sampah Organik, Tumbuh Harapan Menjaga Bumi

Dari Sampah Organik, Tumbuh Harapan Menjaga Bumi

17 September 2026

Di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Pangeran Jayakarta, relawan He Qi Jakarta Pusat mengolah sampah organik menjadi bagian urban farming dan biopori dengan memanfaatkan limbah seperti kulit buah, daun, dan sisa sayuran.

Tzu Ching dan Mahasiswa BINUS Belajar Urban Farming dan Biopori

Tzu Ching dan Mahasiswa BINUS Belajar Urban Farming dan Biopori

19 Agustus 2026

Relawan Tzu Ching (muda-muda Tzu Chi) bersama mahasiswa Bina Nusantara mengikuti gathering kebersamaan sekaligus mengenal praktik urban farming dan biopori di Depo Pelestarian Lingkungan Pangeran Jayakarta.

Anak Teratai Belajar Mengolah Sampah Organik melalui Biopori

Anak Teratai Belajar Mengolah Sampah Organik melalui Biopori

16 Oktober 2026

Anak Teratai He Qi Jakarta Pusat belajar mengolah sampah organik menjadi pupuk melalui kegiatan Urban Farming Biopori. Dengan memanfaatkan botol dan galon bekas, mereka mengenal cara menanam sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -