Para relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat memanen sejumlah sayuran, seperti terong ungu, cabai merah, daun bawang, daun singkong, serta sedikit bunga rosela yang berada di lahan belakang Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat.
Suasana di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, pagi itu terasa hangat. Sejak pukul 09.00 WIB, satu per satu relawan komunitas He Qi Jakarta Pusat datang membawa bungkusan dari rumah. Isinya bukan barang berharga, melainkan kulit jagung, kulit jeruk, daun-daunan, dan sisa sayuran yang biasanya berakhir di tempat sampah.
Di atas meja, sarung tangan, gunting, dan pisau kater telah disiapkan. Para relawan mulai memotong bahan-bahan tersebut menjadi bagian-bagian kecil. Sebagian bercanda dan tertawa, sementara yang lain sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang menyiapkan botol plastik bekas kemasan, ada pula yang mengolah bahan organik.
Hari itu, 16 September 2026, kegiatan relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Pusat tidak berhenti pada pengolahan sisa bahan organik. Dari lahan yang dirawat bersama, para relawan juga memanen sejumlah sayuran, seperti terong ungu, cabai merah, daun bawang, daun singkong, serta sedikit bunga rosela. Hasil panen sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa dari sesuatu yang dianggap tidak berguna, kehidupan baru dapat tumbuh.
Di balik kegiatan urban farming dan biopori ini ada Tiarlin Apridawati Agatha, relawan He Qi Jakarta Pusat yang berfokus pada bidang pelestarian lingkungan di Depo Pangeran Jayakarta.
“Saya relawan dari He Qi Jakarta Pusat. Saya lebih fokus di komunitas urban farming dan biopori di Depo Pangeran Jayakarta,” ujar Agatha.
Para relawan Tzu Chi dengan sukacita dan rasa puas bisa memanen cabai, daun bawang, dan lainnya dengan memanfaatkan sisa bahan organik yang terbuang yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai wujud melestarikan lingkungan pada Bumi.
Selain kegiatan pemilahan barang nonorganik yang masih dapat didaur ulang, depo tersebut kini juga menjadi tempat relawan belajar mengelola sampah organik sekaligus bercocok tanam. Gagasan itu mulai berkembang setelah banjir di Jakarta pada Februari 2026. Saat itu, Tiarlin Apridawati Agata, yang merupakan koordinator bidang pelestarian lingkungan He Qi Jakarta Pusat, berdiskusi dengan Ketua He Qi Jakarta Pusat, Johan Tando, mengenai kegiatan yang dapat dilakukan untuk lingkungan.
“Waktu itu saya diskusi dengan Ketua He Qi, Johan Shi Xiong, bagaimana kalau kita melakukan kegiatan biopori dan urban farming,” tutur Agatha.
Awalnya, kegiatan tersebut diarahkan untuk mengedukasi relawan Tzu Chi, komunitas, dan masyarakat mengenai pertanian organik. Sisa daun dan kulit buah yang dibawa relawan dari rumah maupun dikumpulkan dari pasar dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Tujuannya sederhana, yaitu menghasilkan tanaman yang dapat dikonsumsi dengan memanfaatkan pupuk organik dan tanpa penggunaan pupuk maupun pestisida kimia.
“Awalnya kita sebenarnya lebih mau melakukan kegiatan organik. Mengedukasi relawan Tzu Chi dan masyarakat untuk memproduksi pertanian organik yang bebas dari pestisida kimia dan pupuk kimia,” jelas Agatha.
Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang. Lahan di Depo Pangeran Jayakarta yang cukup luas tidak hanya menjadi tempat menanam sayuran, tetapi juga menjadi ruang belajar mengenai beragam jenis tanaman. Sayuran seperti tomat, cabai, daun bawang, kacang panjang, dan tanaman obat tumbuh berdampingan dengan tanaman buah, antara lain jambu biji, lengkeng, dan mangga.
Suasana kekeluargaan menjadi kekuatan tersendiri. Mereka bekerja sambil berbagi cerita, tertawa, dan saling menginspirasi.
Menariknya, para relawan juga mulai mengoleksi tanaman yang tergolong langka. Salah satunya Parijoto (Medinilla speciosa Blume). Ada pula berbagai tanaman obat seperti daun dewa (Gynura pseudochina). Koleksi tersebut diharapkan terus bertambah hingga mencapai sekitar 100 jenis tanaman.
“Kita menjadi pusat edukasi; kita ingin menjadi pusat museum tanaman. Jadi kita akan mengoleksi tanaman-tanaman yang sudah hampir punah,” ucap Agatha.
Bagi Agatha, keberadaan tanaman tidak hanya berkaitan dengan hasil panen. Jenis tanaman tertentu juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Karena itu, mereka turut menanam pohon seperti pohon gayam (Nocarpa fagifera), trembesi (Samanea saman), beringin (Ficus benjamina), dan pohon bambu (Bambusoideae ) yang menurut Agatha berkaitan dengan upaya menyimpan air dalam tanah.
Di sisi lain, kegiatan biopori menjadi cara sederhana untuk mengembalikan bahan organik ke dalam lingkungan. Prosesnya dimulai dari pengumpulan bahan. Relawan membawa sisa sayuran, batang tanaman, kulit buah, kulit jagung, dan daun-daunan dari rumah. Sebagian bahan juga diperoleh dari pasar tradisional.
Bahan-bahan tersebut kemudian dipotong kecil-kecil agar lebih mudah dimasukkan ke dalam botol plastik kemasan. Setelah itu, relawan menyiapkan botol plastik bekas berukuran 600 mililiter dan satu liter. Seluruh sisi botol dilubangi menggunakan solder sehingga bahan organik di dalamnya dapat berproses dan berinteraksi dengan media di sekitarnya.
Botol yang telah dilubangi kemudian diisi dengan potongan sayuran, kulit buah, kulit jagung, dan bahan organik lainnya. Dalam satu pot, digunakan dua botol biopori berukuran 600 mililiter.
Media dalam pot disusun dari batu ukuran sedang, ijuk, tanah yang sudah dicampur dengan sekam hitam, kemudian dua botol biopori dan tanaman. Setiap empat hari, kondisi bahan di dalam botol diperiksa. Jika volumenya berkurang, bahan organik kembali ditambahkan.
Setelah itu, tanaman dirawat seperti biasa. Disiram, dipantau, dan dirawat secara rutin. Tidak ada proses yang rumit, tetapi membutuhkan ketekunan dan kepedulian.

Relawan ada yang bertugas membolongkan botol-botol plastik menggunakan solder dan ada yang memasukkan potongan-potongan sisa kulit jagung, sayuran, dan kulit-kulit buah sebagai bahan biopori.
Aktivitas urban farming dan biopori biasanya dilakukan setiap hari Rabu bersama kegiatan relawan lainnya. Namun, khusus untuk mengurus tanaman dan mengolah bahan pupuk, para relawan dapat datang di luar jadwal tersebut. Dalam satu minggu, kegiatan bisa berlangsung hingga tiga kali.
Di balik rutinitas itu, suasana kekeluargaan menjadi kekuatan tersendiri. Para relawan telah memahami tugas masing-masing. Mereka bekerja sambil berbagi cerita, tertawa, dan saling menginspirasi. Kegiatan merawat tanaman akhirnya bukan sekadar pekerjaan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan.
Agatha mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan yang diberikan Ketua Relawan Komunitas He Qi Jakarta Pusat, Johan Tando sejak awal kegiatan. Menurutnya, ketika komunitas He Qi Pusat mengalami berbagai proses jatuh bangun, dukungan tersebut tetap hadir sehingga kegiatan dapat terus berkembang.
“Kami didukung sepenuhnya oleh Ketua He Qi Jakarta Pusat, Johan. Kami sangat Gan En. Dari awal kita sangat-sangat didukung oleh Johan. Dalam perjalanan waktu kita jatuh bangun, dukungan itu selalu ada,” ungkap Agatha.
Kini, hasil dari proses tersebut mulai terlihat. Panen terong ungu, cabai merah, daun bawang, daun singkong, dan rosela menjadi kebahagiaan sederhana bagi para relawan. Tanaman yang tumbuh dari lahan depo seolah menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah kecil.
Lebih jauh, Agatha berharap kegiatan ini tidak berhenti di Depo Pangeran Jayakarta. Ia ingin teknik urban farming dan biopori yang dipelajari para relawan dapat diterapkan di rumah masing-masing, kemudian menginspirasi lebih banyak orang.
“Kita berharap kegiatan urban farming dan biopori di Depo Pangeran Jayakarta ini bisa menginspirasi teman-teman relawan Tzu Chi di He Qi Jakarta Pusat dan relawan Tzu Chi di seluruh cabang dan kantor penghubung di Indonesia, terutama masyarakat umum,” ujar Agatha.
(Atas) Johan Tando, Ketua He Qi Jakarta Pusat, bersama Agata Shi Jie, Mardhiana Shi Jie, Yanti Shi Jie, Livi Shi Jie melakukan proses penanaman tanaman dalam pot. Susunan dalam pot adalah batu kerikil, serabut ijuk, dua botol biopori, dan tanah yang sudah dicampur dengan sekam hitam bersama dengan tanamannya.
Menurut Agatha, menjaga Bumi tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Mengolah sampah organik, menanam sayuran, merawat pohon, dan memanfaatkan lahan yang tersedia merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama.
“Jadi, ayo kita sama-sama selamatkan Bumi ini. Kita menanam dan kita memanfaatkan sampah-sampah organik ini, kita kembalikan ke Bumi, kita suburkan Bumi kita lagi,” ajak Agatha bersemangat.
Pagi pun beranjak siang. Sebagian hasil panen telah terkumpul, sementara pot-pot tanaman kembali dirapikan. Di ruang sudut Depo Pangeran Jayakarta, kehidupan terus tumbuh dari tanah yang dirawat dengan tangan-tangan relawan Tzu Chi dengan penuh kepedulian untuk Bumi.
Barangkali, itulah makna sederhana dari urban farming dan biopori: bukan hanya tentang menanam dan memanen, tetapi tentang belajar mengembalikan apa yang diambil dari bumi. Dari sepotong kulit buah, sehelai daun, dan sebotol plastik bekas, para relawan mencoba menumbuhkan sesuatu yang lebih besar. Kesadaran bahwa merawat Bumi dapat dimulai dari tempat komunitas, bahkan bisa dilakukan dari halaman rumah sendiri.
Editor: Fikhri Fathoni