Relawan Tzu Ching memotong daun dan sampah organik menjadi bagian-bagian kecil sebelum dimasukkan ke dalam botol plastik sebagai bagian dari praktik pembuatan biopori.
Pada Minggu, 16 Agustus 2026 para relawan Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi) dan Mahasiswa Bina Nusantara malakukan kegiatan gathering kebersamaan di Depo Pelestarian Lingkungan Pangeran Jayakarta. Kegiatan ini juga dihadiri relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat sekaligus menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengenalkan praktik urban farming dan pembuatan biopori kepada para peserta.
Nisa, selaku koordinator kegiatan, menyampaikan sambutan hangat kepada para peserta yang hadir. Ia menyambut kedatangan peserta dari Tzu Ching dan Universitas Bina Nusantara yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
“Selamat datang teman-teman sekalian di gathering Tzu Ching. Hari ini spesial karena kita juga kedatangan teman-teman dari Universitas Bina Nusantara (Binus). Selain mempererat kebersamaan, kegiatan hari ini juga menjadi kesempatan untuk lebih mengenal urban farming dan biopori,” ujar Nisa.
Sebelum kegiatan dimulai, para relawan Tzu Chi dan mahasiswa Binus mengikuti sesi materi mengenai pentingnya urban farming serta cara membuat biopori.
Relawan Tzu Chi menghancurkan kulit telur yang merupakan salah satu biopori.
Kebersamaan hari itu, diisi dengan diskusi dan tanya jawab, serta berbagai permainan, seperti memindahkan beras menggunakan sumpit dan memakan biskuit. Permainan tersebut diharapkan dapat mencairkan suasana, mempererat kedekatan, serta membangun kerja sama tim antara Tzu Ching dan para mahasiswa Universitas Bina Nusantara.
Permainan memindahkan beras menjadi pengalaman tersendiri bagi Jessica, salah satu relawan yang baru bergabung dengan barisan Tzu Ching. Melalui permainan tersebut, ia belajar pentingnya koordinasi dan ketenangan saat bekerja bersama pasangan tim.
"Dari kecil saya suka menonton DAAI TV dan mulai terinspirasi, dan kebetulan temen ku Asya sudah lebih dahulu bergabung di Tzu Chi, kegiatannya disini menambah pengalaman dan relasi, bisa lebih mengenal alam, tadi saat permainan melatih koordinasi dan ketenangan, sedih juga lihat beras jatuh, berasa banget berharganya sebutir beras, jadi lebih paham nasi harus dihabiskan, jadi harus menghargai makanan" tutur Jessica.
Relawan memunguti dedaunan dan sisa tumbuhan untuk diolah menjadi pupuk organik sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Mahasiswa Bina Nusantara sedang membuat dan mengisi wadah tanam vertikal dari botol plastik bekas menggunakan daun dan sisa tanaman sebagai media tanam.
Relawan Tzu Chi pun terlihat antusias membantu para adik-adik sekalian yang hadir, Tiarlin merupakan salah satu relawan yang telat bergelut dalam bidang ini.
“Urban farming merupakan kegiatan bercocok tanam di lingkungan perkotaan, sementara biopori membantu penyerapan air sekaligus mengolah sampah organik. Melalui kegiatan ini, kami berharap adik-adik dapat mempraktikkannya di lingkungan sekitar, sehingga sampah organik berkurang dan lingkungan menjadi lebih hijau dan sehat,” ujarnya sebelum memperagakan cara melakukan urban farming dan membuat biopori.
Jasmine, salah satu mahasiswi Binus yang saat ini sudah memasuki semester 6, ia mengikuti kegiatan ini juga merasa senang, "Saya baru pertama kali mengikuti kegiatan Tzu Chi ini, happy banget bisa hadir serta mempelajari urban farming dan biopori, banyak belajar disini, ini pengalaman pertama saya seru sekali, jika ada kesempatan saya bisa bergabung kembali disini,” ucap Jasmine.
Mengolah sampah organik menjadi salah satu langkah sederhana dalam menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini selaras dengan kata perenungan Master Cheng Yen, “Mengubah sampah menjadi emas, emas menjadi cinta kasih, cinta kasih menjadi aliran semangat jernih yang mengelilingi bumi,”
Editor: Nur Al Fajar Rumsari