Baksos dalam Kasih dan Pengetahuan

Jurnalis : Riani Purnamasari (He Qi Utara), Fotografer : Riani Purnamasari, Stephen Ang (He Qi Utara)
 
 

fotoInteraksi yang hangat dari para dokter Tzu Chi membuat para seniman bangunan terus membanjiri antrian baksos.

Tidak melakukan apa-apa sama sekali dalam hidup, merupakan tindakan menyia-nyiakan kehidupan. Terus - menerus bersumbangsih demi memberi manfaat bagi masyarakat, merupakan sebuah kehidupan yang indah dan sempurna. (Master Cheng Yen)

Minggu pagi tanggal 24 Juli 2010 lalu merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh para seniman bangunan di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Setiap bulan, He Qi Utara mengadakan baksos bagi para seniman bangunan di minggu keempat. Antrian yang panjang, semangat untuk datang lebih pagi dan asap dapur yang mengebul lebih awal dari biasanya adalah pemandangan yang kerap terjadi berciri khas baksos. Dengan teratur, para duifu (pemimpin kelompok) membimbing para seniman bangunan untuk memasuki kantin Aula Jing Si untuk mendengarkan tema dari baksos yang dilakukan. Karim Baharuddin, relawan yang menjadi pembawa acara dalam baksos hari itu mengambil tema “Pengetahuan Tentang Tzu Chi”. Tema yang diangkat bulan ini merupakan pengetahuan dasar Tzu Chi yang juga bertujuan mengingatkan kembali dasar-dasar Tzu Chi kepada para seniman bangunan maupun relawan Tzu Chi sendiri.

Agar Lebih Mengenal Tzu Chi
“Shixiong-Shijie, apa sih Tzu Chi itu?” tanya Karim memulai presentasinya bagi para seniman bangunan. “Tzu berarti memberikan kebahagiaan, Chi berarti menghilangkan penderitaan. Tzu Chi merupakan suatu organisasi amal kemanusiaan yang dipimpin oleh seorang Bikuni yang bernama Master Cheng Yen. Tzu Chi memiliki 3 tujuan, yaitu menyucikan hati manusia, membangun masyarakat yang damai dan sejahtera, dan menghindarkan dunia dari bencana,” jelas Karim.

Tzu Chi memiliki 4 misi utama dan 8 jejak langkah: Amal, Kesehatan, Pendidikan, Budaya Kemanusiaan, Pelestarian Lingkungan, Donor Sumsum Tulang Belakang, Relawan Komunitas, dan Bantuan Internasional. Di dalam misi pengobatan, Tzu Chi memiliki suatu wadah yang beranggotakan para dokter dari seluruh dunia. TIMA merupakan singkatan dari Tzu Chi International Medical Association yang turut berpartisipasi di dalam misi amal dan misi kesehatan yang dilakukan pada baksos hari itu. Tim TIMA yang dipimpin oleh drg. Linda, hari itu menurunkan 4 dokter umum, 2 suster dan 3 dokter gigi. Beberapa apoteker pun turut  berperan serta dan dengan cepat memberikan training kepada para relawan dari He Qi Utara yang membantu di bidang pemberian obat dari resep dan pengemasannya.

foto  foto

Ket : - Karim Baharuddin, relawan yang membawakan sosialisasi baksos hari itu, mengenalkan kepada para             seniman bangunan tentang siapakah Master Cheng Yen itu. (kiri)
         - Para relawan di apotik telah terlebih dahulu mendapat training dan pengarahan dari apoteker agar dapat             memberikan obat yang tepat bagi para seniman bangunan. (kanan)

Mencegah Lebih Baik dari Mengobati
 “Saya butuh vitamin, Dok”. “Saya gatel-gatel, Dok.” “Saya pusing sudah 3 hari, Dok.” Kata-kata itulah yang sering terdengar oleh para dokter hari itu. Dengan tingkat pekerjaan yang cepat dan berat, para seniman bangunan kurang memperhatikan kualitas hidupnya selama bekerja.Diagnosa yang akurat dan cepat pun diberikan oleh para dokter. “Wah, Bapak perlu mengurangi rokok, nih,” ujar seorang dokter kepada salah seorang pasiennya yang mengeluhkan penyakit batuknya yang tak kunjung berhenti.

Lambung adalah sumber pencernaan. Lambung adalah organ tubuh yang sangat penting dan merupakan kunci dan refleksi dari apa yang dimakan dan dicerna. Banyak makan makanan yang sehat dan tidak merokok adalah kunci kesehatan yang diberikan oleh para dokter. Baksos kesehatan hari itu berhasil melayani 215 pasien dari dokter umum dan 10 pasien dari dokter gigi. Para dokter pun turut bersumbangsih dengan nyata dalam menjalankan misi Tzu Chi.

foto  foto

Ket: - Para seniman bangunan dengan sabar mengantri gilirannya diperiksa oleh para dokter, baik dokter             umum maupun gigi. (kiri).
         - Momo, salah seorang relawan yang membantu di pengemasan dengan hati-hati menempatkan cara            pemakaian salep penyakit gatal yang menjadi salah satu resep terbanyak yang diberikan.. (kanan)

Terbagi menjadi tiga sesi bertemakan “Pengetahuan Tentang Tzu Chi”, para relawan Tzu Chi yang bertugas sejak pukul 8 pagi tak mengenal lelah ketika waktu menunjukkan tepat pukul 11 siang. Wajah yang bersahabat walau keringat mengucur tiada henti, tak meredupkan semangat kemanusiaan yang merupakan citra seorang insan Tzu Chi. Dengan berpegang teguh pada Master Cheng Yen untuk tidak menyia-nyiakan waktu, insan Tzu Chi terus berpartisipasi di dalam setiap kegiatannya. Hari itu ditutup oleh senyum yang merekah dari para seniman bangunan ketika kebutuhan mereka akan kesehatan terpenuhi.

  
 
 

Artikel Terkait

Meretas Jalan Menuju Kesembuhan

Meretas Jalan Menuju Kesembuhan

08 Juni 2009 Demi merengkuh kesembuhan atas penyakit yang diderita, banyak orang yang berupaya sekuat tenaga mencari pengobatan. Baik melalui pengobatan medis maupun alternatif. Tak jarang, jika sudah kepepet, barang-barang berharga pun dijual agar dapat membiayai pengobatan yang sedang dijalani.
Beras untuk Warga Bedah Kampung Makassar

Beras untuk Warga Bedah Kampung Makassar

16 Januari 2015

Dalam acara ini, warga tidak hanya sekedar mendapatkan beras cinta kasih yang dibagikan oleh Tzu Chi tetapi juga ingin menjalin jodoh baik di awal tahun 2015.

Waisak 2025: Merayakan Waisak dengan Semangat Berbagi Tanpa Pamrih (Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih)

Waisak 2025: Merayakan Waisak dengan Semangat Berbagi Tanpa Pamrih (Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih)

11 Mei 2025

Tzu Chi Indonesia merayakan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Dengan lebih dari 2.900 peserta, acara ini mengingatkan pentingnya perhatian benar. 

Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -