Baksos Kesehatan Tzu Chi di Desa Simpak

Jurnalis : Yuliawati Yohanda (He Qi Tangerang), Fotografer : Vivi Angel, Ren Ren, Wey Alam, Mega, Catharine, Akuan (He Qi Tangerang)

Dr. Yanto sedang mengobati pasien dengan luka gigitan hewan peliharannya. pertama dibersihkan, diobati, lalu diedukasi untuk buka jahitan setelah seminggu.

Di Minggu pagi yang cerah, 14 Agustus 2022, sejak pukul 6 pagi para relawan Tzu Chi sudah mulai berdatangan ke Vihara Dharma Mulya, Desa Simpak, Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat. Kedatangan relawan untuk melaksanakan kegiatan Baksos Kesehatan Umum di desa binaan Tzu Chi Tangerang ini. Relawan dan Tim Medis Tzu Chi (TIMA) ada yang datang dari Jakarta dan juga Tangerang. Warga Desa Simpak yang sudah menjadi relawan abu putih pun tak ketinggalan, mereka turut membantu mempersiapkan segala sesuatunya agar pelaksanaan Baksos Kesehatan Umum dan Penuangan Celengan Bambu Tzu Chi ini berjalan dengan tertib dan lancar. Seperti biasa, kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan Prokes yang ketat, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan sebisa mungkin menghindari kerumunan.

Rata-rata warga menderita penyakit ISPA dan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Setelah mendapatkan pemeriksaan dari dokter, warga yang berobat juga mendapatkan obat sesuai dengan sakit yang dialaminya.

Di Desa Simpak, yang merupakan desa binaan Tzu Chi Tangerang, kegiatan penuangan celengan bambu Tzu Chi memang rutin diadakan setiap dua bulan sekali. Berhubung kali ini bertepatan dengan Bulan 7 Penuh Berkah maka kegiatan penuangan celengan bambu dibarengi dengan kegiatan Baksos Kesehatan Umum yang memang sudah sejak lama direncanakan. “Awalnya akan diadakan pula demo masak vegetarian, tetapi untuk menghindari banyak kerumunan dalam jangka waktu yang lama kegiatan ini ditunda,” terang Jap Miau Jung, relawan Tzu Chi Tangerang yang juga Ketua Fungsionaris Kegiatan dan koordinator penuangan celengan bambu.

Baksos Kesehatan Tzu Chi (umum) ini sendiri diadakan sebagai bentuk perhatian relawan Tzu Chi kepada warga Desa Simpak. Sebagai desa binaan, berbagai perhatian diberikan relawan kepada warga desa ini, mulai dari pembagian beras dan paket sembako, sosialisasi dan penuangan celengan bambu, hingga pembangunan jalan. (artikel terkait: https://www.tzuchi.or.id/inspirasi/kisah-humanis/jalan-cinta-kasih-di-kampung-simpak/112 dan https://www.tzuchi.or.id/read-berita/peresmian-jalan-cinta-kasih-di-kampung-simpak/9841). Selain itu, jauhnya fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dari pemukiman warga juga melatarbelakangi diadakannya baksos kesehatan umum ini.

Shijie Jap Miau Jung sedang membetulkan posisi masker seorang anak agar sesuai dengan petunjuk pemakaian yang tepat. Prokes diterapkan secara ketat dalam kegiatan ini.

Menurut Wey Alam, Wakil Ketua He Qi Tangerang, kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara Tim Medis Tzu Chi (TIMA: Tzu Chi International Medical Association) Indonesia, relawan Tzu Chi Tangerang, dan juga umat Vihara Dharma Mulya Simpak.

“Bulan 7 identik dengan Bulan Hantu, tetapi Master Cheng Yen (pendiri Tzu Chi) berkata bahwa setiap hari adalah hari baik, sehingga dengan mendapatkan kesempatan memberi berkah kepada orang lain otomatis kita pun sesungguhnya mendapatkan berkah juga,” kata Wey Alam yang juga Pembina Fungsionaris Kesehatan He Qi Tangerang.

Harapan Warga Binaan Desa Simpak
 

Lily seusai berobat dan mendapatkan obat juga turut bersumbangsih dengan menuangkan celengan bambu miliknya.

Ibu Lily (55 tahun) pasien antrian nomor 2 bertempat tinggal di Desa Sadangan. Ia berangkat bersama enam orang temannya dengan naik angkutan kota (Angkot) ke lokasi Baksos Kesehatan Tzu Chi. Sudah dua hari ini Lily mengalami batuk dan pilek, serta sakit lambungnya yang kerap kambuh. “Merasa sangat terbantu dengan adanya (baksos) pengobatan ini, apalagi bagi kami yang hidupnya pas-pas an saja,” ungkap Lily. Lily adalah orangtua tunggal, suaminya meninggal 7 tahun yang lalu, memiliki 4 orang anak yang semuanya bekerja sebagai buruh pabrik. Di tengah keterbatasannya, Lily masih menyempatkan diri untuk menyisihkan sisa uang belanjanya sehari-hari ke dalam celengan bambu Tzu Chi. Celengan bambu itu pun ia tuang setelah ia selesai diperiksa oleh dokter dan mendapatkan obat.

Ibu Ayin tengah diperiksa oleh dokter. Ayin mengaku sering sakit kepala dan persendiannya.

Warga lainnya yang mendapatkan layanan pengobatan adalah Ibu Ayin, yang sudah berusia 74 tahun. Ibu Ayin memiliki 7 orang anak, 6 sudah bekerja dan bekeluarga. Keenam anaknya ini tinggal mengontrak disekitar rumahnya, sedangkan Ibu Ayin tinggal dirumah warisan orangtuanya bersama anak ke-6 yang sedang mengganggur karena baru saja mengalami kecelakaan motor. Ibu Ayin mengeluh sakit kepala dan seluruh persendian, dan urat leher kaku-kaku.

Ibu Ayin sangat rajin beribadah di vihara. Ia ingin di hari tuanya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. “Sangat bersyukur dan tertolong bagi kita-kita yang kurang mampu dengan adanya baksos kesehatan umum ini. Banyak terima kasih keTzu Chi dan semua relawan Tzu Chi, semoga lebih maju lagi bagi Tzu Chi dan semuanya,” kata Ibu Ayin mendoakan.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Cinta Kasih untuk Warga Mandah

Cinta Kasih untuk Warga Mandah

10 Oktober 2023

Bakti sosial kesehatan umum untuk pertama kalinya dilakukan Komunitas Relawan Tzu Chi APP Sinar Mas Konverta Mitra Abadi (KMA) Lampung untuk warga Desa Mandah Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. 

Bersama Menyehatkan Warga Desa Kayu Ara

Bersama Menyehatkan Warga Desa Kayu Ara

14 Desember 2023

Bakti sosial pengobatan umum digelar pertama kali oleh relawan Tzu Chi di Xie Li Sumatra Selatan (Sumsel) 1 dari PT Bumi Sawit Permai untuk warga Desa Kayu Ara, Kecamatan Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir, Rabu (6/12/23). 

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-131: Menjangkau Masyarakat yang Betul-betul Membutuhkan

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-131: Menjangkau Masyarakat yang Betul-betul Membutuhkan

27 Juni 2022

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-131 di kota Palu pada 24-25 Juni 2022 betul-betul menjangkau masyarakat yang sangat membutuhkan. Armansyah (45) warga Palu Barat, salah satunya.

Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -