Dengan penuh perhatian, Tim Medis TIMA Indonesia memeriksa kesehatan warga di Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT yang mengeluhkan masalah kesehatan akibat bencana gempa.
Gempa yang mengguncang Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung harus ditinggalkan, sementara warga harus beradaptasi dengan kondisi baru di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian.
Di tengah perjuangan masyarakat menghadapi masa pemulihan pascabencana, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia hadir memberikan perhatian melalui kegiatan bakti sosial kesehatan. Ada 2 lokasi yang pertama didatangi oleh tim relawan yakni, warga Dusun Wancang dan Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT, pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian Tzu Chi untuk membantu masyarakat yang terdampak, dengan memberikan pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan warga setelah mengalami situasi penuh tekanan akibat bencana.
Sebanyak 221 warga di Dusun Wancang dan 200 warga di Desa Riung mendapatkan pelayanan kesehatan dalam kegiatan tersebut. Tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan, memberikan pengobatan, serta mendengarkan berbagai keluhan yang dirasakan masyarakat selama berada di pengungsian.
Setelah terjadinya gempa, kondisi kesehatan warga menjadi salah satu perhatian utama. Perubahan lingkungan, cuaca yang tidak menentu, keterbatasan waktu istirahat, hingga aktivitas fisik selama proses penyelamatan dan evakuasi dapat memengaruhi kondisi tubuh masyarakat.
Attha, salah satu Tim Medis TIMA Indonesia, mengungkapkan bahwa keluhan kesehatan yang dirasakan warga berkaitan dengan situasi pengungsian, seperti perubahan cuaca, keterbatasan waktu istirahat, aktivitas fisik selama proses evakuasi, serta perubahan pola makan dan kondisi lingkungan selama berada di tempat pengungsian.
Selama pelayanan berlangsung, Tim Medis TIMA Indonesia menemukan sejumlah keluhan kesehatan yang banyak dialami warga. Jenis penyakit yang paling sering ditemui antara lain ISPA, myalgia, hipertensi, dan gastritis.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan situasi pengungsian, seperti perubahan cuaca, keterbatasan waktu istirahat, aktivitas fisik selama proses evakuasi, serta perubahan pola makan dan kondisi lingkungan selama berada di tempat pengungsian.
“Kalau dari sini obat-obat yang keluar kebanyakan hipertensi, mungkin karena stres tensi jadi naik sama batuk pilek, mungkin batuk pilek karena terpapar cuaca istirahat di tenda ini,” jelas Attha, salah satu Tim Medis TIMA Indonesia.
Bagi warga yang masih berada di pengungsian, pelayanan kesehatan menjadi kebutuhan penting. Selain membantu menangani keluhan fisik, perhatian yang diberikan juga menjadi penguat secara psikologis bagi masyarakat yang masih mengalami trauma akibat bencana.
Sudarman Lim, salah satu relawan Tzu Chi, memberikan koordinasi terkait baksos kesehatan dan menghibur warga di Desa Riung dengan bernyanyi bersama untuk menghilangkan rasa kesedihan akibat gempa yang melanda mereka.
Melihat Langsung Perjuangan Keluarga Yohanes
Di sela kegiatan pelayanan kesehatan, para relawan Tzu Chi juga melihat secara langsung kondisi rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa. Salah satu keluarga yang menjadi perhatian relawan adalah keluarga Yohanes Bosko (41) yang tinggal di Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT.
Selama sepuluh hari, Yohanes bersama ibu, istri, dan empat anaknya harus tinggal di dalam tenda pengungsian. Sebab, rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal mereka telah ambruk sebagian sehingga tidak dapat digunakan kembali. Dalam kondisi yang serba terbatas, ia tetap berusaha bertahan dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan mengutamakan keselamatan keluarganya.
Bagi Yohanes, kehilangan rumah bukanlah hal yang mudah. Namun, ia tetap bersyukur karena seluruh anggota keluarganya berhasil selamat dari bencana tersebut. Yohanes mendampingi istri Genoveva Satri (48) dan anaknya untuk mengikuti baksos kesehatan. Ia datang untuk memeriksakan kondisi kesehatan keluarganya.
Kondisi bagian dalam rumah Yohanes Bosko yang dinding rumahnya retak akibat diguncang gempa.
Dalam kondisi pascabencana, perhatian terhadap kesehatan anak menjadi salah satu hal yang penting baginya. Genoveva Satri berharap kondisi anaknya dapat terus dipantau dan mendapatkan penanganan yang tepat.
“Kalau saya, keluhan saya tadi mual sepertinya mau muntah. Terus dokter tadi periksa saya punya perut tidak apa, bagus. Adek yang kecil tadi dia kan stunting. Terus saya bilang begini, ‘dokter tolong periksa’. Karena saya punya anak dulu waktu umur empat bulan dia kena batuk, mulai dari situ dia punya berat badan tidak naik-naik,” ungkap Genoveva Satri.
Bagi Genoveva Satri, pemeriksaan kesehatan yang diberikan bukan hanya membantu mengetahui kondisi medis keluarganya, tetapi juga memberikan rasa aman dan ketenangan di tengah situasi sulit yang sedang dijalani.
Melalui kegiatan baksos kesehatan ini, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia hadir untuk warga dengan memberikan pelayanan kesehatan, perhatian, serta dukungan kemanusiaan. Ke depan, Tzu Chi juga akan memberikan bantuan lanjutan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak gempa.
Bagi warga yang mengalami duka akibat bencana, kehadiran para relawan menjadi sebuah pengingat bahwa masih ada kepedulian dan harapan di tengah masa sulit. “Perasaan saya lega, terbuka semua kami punya perasaan, rasa sedih kami tuh jadi gembira. Terima kasih banyak kepada bapak (relawan Tzu Chi) yang datang ini hari, kami selama ini sedih, karena kehadiran bapak kami merasa lega pikiran,” ucap haru Genoveva Satri.
Selama sepuluh hari, Yohanes bersama ibu, istri, dan empat anaknya harus tinggal di dalam tenda pengungsian. Sebab, rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal mereka telah ambruk sebagian sehingga tidak dapat digunakan kembali.
Kehadiran Tzu Chi di Kabupaten Manggarai menjadi bagian dari langkah bersama untuk menemani masyarakat dalam proses pemulihan, membawa bukan hanya bantuan kesehatan, tetapi juga semangat cinta kasih dan kepedulian bagi mereka yang terdampak bencana.
Pemandangan bangunan yang runtuh menjadi gambaran nyata dari dampak yang harus dihadapi masyarakat. Namun, di balik kehilangan tersebut, para relawan juga menemukan hal yang patut disyukuri, yaitu keselamatan keluarga yang masih terjaga.
“Hari ini sangat gan en (bersyukur) saya punya kesempatan, jadi saya melihat keluarga Yohanes dan Genoveva Satri. Rumahnya hancur, tapi juga tetap bersyukur keluarganya semua aman,” tutur Liwan Kho, salah satu relawan Tzu Chi.
Bagi relawan Tzu Chi, kehadiran di lokasi bencana bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga mendampingi masyarakat agar mereka merasa diperhatikan dan tidak menghadapi kesulitan ini sendirian.
Liwan Kho, salah satu relawan Tzu Chi, mengunjungi rumah keluarga Yohanes yang kondisinya telah ambruk sebagian karena diguncang gempa.
Dalam kondisi pascabencana, harapan untuk dapat kembali menjalani kehidupan secara normal menjadi kekuatan bagi masyarakat. Para relawan berharap seluruh warga terdampak di Flores dan NTT dapat segera bangkit serta kembali menjalani kehidupan yang aman dan sejahtera.
“Saya harap semua Pulau Flores umumnya dan desa-desa di NTT semuanya jauh dari bencana dan segera teratasi bencana ini, supaya masyarakat bisa kembali damai, sejahtera, dan aman sentosa,” tambahnya.
Harapan tersebut menjadi doa bersama agar masyarakat diberikan kekuatan dalam menghadapi masa pemulihan, serta agar bantuan dan dukungan dapat terus hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Editor: Metta Wulandari