Para relawan Tzu Chi melakukan kunjungan melihat kondisi Noval setelah pascaoperasi.
Perjalanan panjang dari Tanjung Penyembal, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, ditempuh pasangan Wawan Ezie Andrian dan Rani Fitri Anggraini bersama putranya, Noval Afandi (1), dengan membawa harapan besar. Noval terlahir dengan kondisi bibir sumbing. Sejak kelahirannya, kedua orang tua ini menyimpan harapan agar suatu hari putra mereka dapat menjalani operasi, tumbuh sehat, dan menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri seperti anak-anak lainnya.
Kemudian, kesempatan itu datang ketika sang ibu, Rani mendapatkan informasi mengenai bakti sosial kesehatan Tzu Chi ke-155 dari ketua RT di tempat tinggalnya.
“Mengedengar kabar itu saya senanng, akhirnya ada kesempatan untuk anak saya berobat, biar bisa sembuh,” ucap Rani.
Pada 1 Agustus 2026, Wawan dan Rani membawa Noval dari Dumai menuju Pekanbaru dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam. Perjalanan tersebut bukanlah hal yang mudah bagi keluarga Noval.
Keterbatasan biaya menjadi salah satu tantangan yang harus mereka hadapi. Ayah Noval sehari-hari bekerja sebagai sopir truk di perkebunan sawit. Namun, keinginan untuk memberikan kesempatan terbaik bagi putranya membuat mereka tetap melangkah. Pada 31 Juli, keluarga ini berangkat menuju Pekanbaru untuk datang melakukan screening kesehatan di Rs Awal Bros Hangtuah.
“Namanya usaha, walaupun ada kesusahan dari uang. Tapi karena tekad, jadi bisa datang dari Dumai pakai bus,” ujar Rani.
Namun, hasil pemeriksaan pada hari itu menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) Noval masih rendah. Ia perlu menjalani perawatan dan mendapatkan transfusi darah untuk meningkatkan kadar Hb sebelum dapat menjalani operasi. Kondisi tersebut menjadi tahapan yang perlu dilalui terlebih dahulu demi memastikan Noval siap menjalani tindakan medis.
Para relawan pemerhati, menyambut kedatang Noval dan kedua orang tuanya untuk melakukan operasi.
Relawan Tzu Chi, Lili, turut mendampingi Noval dan keluarganya saat menjalani perawatan. Bagi Lili, pendampingan tersebut meninggalkan kesan yang mendalam. “Saya sangat terharu melihat perjuangan orang tua demi anaknya. Mereka datang dari Dumai dan harus menyewa penginapan selama berada di Pekanbaru,” tutur Lili.
Berjuang Untuk Kesembuhan
Proses awal perawatan ternyata tidak mudah bagi Noval. Saat petugas medis hendak memasang infus, Noval merasa takut dan menangis hingga berontak. Beberapa kali percobaan pemasangan infus belum berhasil, sehingga tangan dan kakinya harus beberapa kali ditusuk jarum.
Melihat Noval yang masih begitu kecil harus melewati proses tersebut, Lili pun ikut merasa sedih. Ia terus mendampingi Noval dan keluarganya, memberikan dukungan agar mereka tetap kuat menjalani setiap tahapan perawatan.
“Saat mau diinfus, anak ini berontak. Saya sangat sedih melihat anak kecil ditusuk jarum untuk infus. Sampai kedua kaki dan tangannya dicoba, tetapi masih gagal,” kenang Lili.
Menjelang memasuki ruang operasi (OK), Noval mendapat pendampingan penuh perhatian dari para relawan yang turut menghibur dan menenangkan dirinya.
Upaya tersebut akhirnya berhasil setelah Noval dipindahkan ke ruang perawatan. Ia kemudian menjalani perawatan dan transfusi darah untuk meningkatkan kadar Hb sebelum dipersiapkan menjalani operasi.
Di tengah proses tersebut, Noval dan keluarganya kembali mendapat perhatian dan dukungan. Tzu Chi menanggung biaya selama masa rawat inap, sementara Rumah Sakit Awal Bros Hangtuah memberikan fasilitas kamar VIP dengan tarif kamar standar sebagai bentuk dukungan bagi Noval dan keluarga. Bagi Lili yang sejak awal mengikuti proses tersebut, kabar itu menghadirkan rasa lega sekaligus sukacita.
“Setelah mengetahui kondisinya sudah stabil, saya sangat bersukacita. Sampai akhirnya dia bisa dioperasi,” ujarnya.
Di balik seluruh perjuangan yang dilalui, harapan Rani sebenarnya sederhana: ia ingin Noval tumbuh sehat dan menjalani hari-harinya tanpa merasa berbeda dari teman-temannya. Sebagai seorang ibu, Rani tidak hanya memikirkan kondisi putranya hari ini, tetapi juga masa depan dan kehidupan Noval kelak agar tumbuh dengan lebih percaya diri.
“Kalau belum dioperasi, kadang sama kawan-kawan pasti minder, Harapannya semoga operasinya lancar, biar sembuh, biar sehat seperti anak-anak lainnya,” tutur Rani.
Hari Operasi Itu Tiba
Setelah melewati berbagai rangkaian pemeriksaan dan perawatan awal, hari yang dinantikan keluarga akhirnya tiba. Pada 8 Agustus 2026, Noval menjalani operasi bibir sumbing dengan didampingi keluarganya.
Ayah Noval tampak lega dan bersyukur melihat putranya telah selesai menjalani operasi dengan lancar.
“Alhamdulillah, Noval sehat dan operasinya berjalan lancar. Sejak kemarin kami terus berdoa agar operasinya berjalan dengan baik, dan akhirnya doa kami terwujud,” ungkap Wawan, ayah Noval, dengan penuh rasa syukur.
Ketika Lili kembali mengunjungi Noval setelah operasi, anak ceria yang selama proses perawatan telah menarik perhatiannya itu sedang tertidur. Di balik tidurnya, sebuah perjalanan panjang telah berhasil dilewati. “Anak ini sangat ceria dan mudah tertawa,” tutur Lili.
Sebuah Senyum untuk Masa Depan
Keluarga Noval turut mengungkapkan rasa syukur atas pendampingan dan pelayanan yang mereka terima selama menjalani seluruh proses pengobatan, dari pemeriksaan hingga tindakan operasi.
“Selama kami dirawat di Rumah Sakit Awal Bros, alhamdulillah pelayanannya sangat baik, baik dari pihak rumah sakit maupun Tzu Chi. Ada juga orang-orang baik yang membantu membayarkan kamar VIP. Kami sangat bersyukur Noval bisa menjalani operasi dan sekarang sudah bisa bersiap untuk pulang,” tutur Wawan, ayah Noval.
Saat menjalani screening, kadar Hb Noval rendah. Relawan mendampingi Noval untuk menjalani perawatan dan transfusi darah guna meningkatkan kadar Hb, sehingga ia dapat menjalani operasi pada minggu berikutnya.
Bagi keluarga Noval, bantuan yang diterima bukan hanya membuka jalan bagi putra mereka untuk menjalani operasi, tetapi juga menghadirkan rasa tenang karena mereka merasa tidak sendirian melewati proses yang tidak mudah. Kini, keluarga berharap Noval dapat tumbuh sehat dan menjalani hari-harinya dengan penuh sukacita seperti anak-anak lainnya.
“Setelah operasi ini alhamdulillah bagus. Harapannya Noval ke depannya seperti kawan-kawannya, seperti anak-anak yang lain,” ungkap Ayahnya.
Lili, relawan Tzu Chi Pekanbaru yang mendampingi Noval, juga memiliki harapan yang sama. Setelah menyaksikan langsung perjuangan Noval, mulai dari menjalani transfusi darah hingga akhirnya berhasil menjalani operasi, Lili menyimpan sebuah doa sederhana untuk ceria itu.
“Semoga Noval tumbuh menjadi anak yang ceria dan tidak minder lagi setelah menjalani operasi. Semoga dia dapat menjalani hari-harinya dengan lebih baik untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah,” tutur Lili.
Ayah Noval memasukkan koin ke dalam Celengan Bambu Tzu Chi sebagai wujud rasa syukur, berharap kesempatan dan bantuan yang mereka terima dapat terus berlanjut dan dirasakan keluarga-keluarga lain yang membutuhkan.
Perjalanan Noval dimulai dengan sebuah tekad dari orang tua yang membawanya menempuh perjalanan jauh dari Dumai demi mendapatkan pengobatan. Di sepanjang perjalanan itu, mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan biaya, kadar Hb Noval yang rendah, ketakutan Noval saat pemasangan infus, hingga harus menjalani transfusi darah. Hari demi hari pun mereka lalui dengan sabar, dan tidak menyerah menunggu kondisi Noval cukup baik untuk menjalani operasi.
Keluarga Noval juga berharap kesempatan dan bantuan yang mereka terima dapat terus hadir bagi keluarga-keluarga lain yang membutuhkan.
“Semoga ke depannya ada lagi yang seperti ini. Yang orang kesusahan, bibir sumbing atau apa, bisa dibantu lagi. Lebih banyak orang lagi.”
Kini Noval dapat kembali menjadi dirinya sendiri, ia seorang anak yang ceria dan mudah tertawa. Bedanya, kali ini ia membawa senyum baru dan harapan untuk tumbuh lebih percaya diri, melangkah tanpa rasa rendah diri menuju masa depan yang lebih cerah.
Editor : Nur Al Fajar Rumsari