Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-157: Cinta Kasih Relawan Mengiringi Perjuangan Pasien Katarak

Jurnalis : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun), Fotografer : Abdul Rahim (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)

Para calon pasien operasi katarak dari Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Batu Kundur mengikuti screening tahap akhir di Tzu Chi Batam pada 18 Oktober 2026. Sebanyak 50 calon pasien menjalani pemeriksaan untuk memastikan kesiapan sebelum operasi.

Kesempatan untuk kembali melihat dengan lebih jelas menjadi harapan besar bagi setiap pasien katarak. Namun, di balik kesempatan tersebut, ada perjalanan panjang yang harus dilalui. Mulai dari pemeriksaan kesehatan, perjalanan menuju lokasi pengobatan, tindakan operasi, hingga pemeriksaan pascaoperasi, setiap tahapan membutuhkan kesabaran dan dukungan dari banyak pihak.

Melalui Bakti Sosial Kesehatan yang di selenggaralan Tzu Chi Batam, para pasien dari Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Batu Kundur mendapatkan kesempatan untuk menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Kota Batam, Kepulauan Riau. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pelayanan medis, tetapi juga perhatian kepada pasien dengan pendampingan relawan dengan penuh cinta kasih.

Setelah mengikuti skrining kesehatan tahap awal di daerah masing-masing, para calon pasien melanjutkan pemeriksaan ke tahap akhir di Tzu Chi Batam pada 18 Oktober 2026. Sebanyak 50 calon pasien mengikuti pemeriksaan tersebut, terdiri dari 27 orang dari Tanjung Balai Karimun dan 23 orang dari Tanjung Batu Kundur.

Pemeriksaan dilakukan secara bertahap, mulai dari pendaftaran dan pendataan pasien, pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan, pengukuran tekanan bola mata (TIO), pemeriksaan dokter mata, keratometri, biometri, pemeriksaan laboratorium, EKG atau rekam jantung, hingga konsultasi dokter.

Relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun senantiasa mendampingi para pasien selama rangkaian kegiatan bakti sosial kesehatan berlangsung. Setibanya di Batam, seorang relawan terlihat menuntun pasien yang mengalami kesulitan bergerak saat turun dari kapal.

Perjalanan panjang harus ditempuh para calon pasien dari luar Pulau Batam untuk mengikuti rangkaian Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi. Terlihat para calon pasien bersiap melanjutkan perjalanan darat dengan menaiki bus.

Setiap tahapan menjadi bagian penting untuk mengetahui kondisi kesehatan calon pasien sebelum menjalani tindakan operasi. Para calon pasien mengikuti pemeriksaan dengan penuh kesabaran, termasuk mereka yang harus menempuh perjalanan jauh dari berbagai wilayah dan pulau di Kepulauan Riau.

Setelah melalui pemeriksaan dan evaluasi medis, sebanyak 47 pasien dinyatakan layak menjalani operasi, terdiri dari 24 pasien asal Tanjung Balai Karimun dan 23 pasien asal Tanjung Batu Kundur.

Pasien dari Tanjung Batu Kundur berangkat lebih dahulu menuju Batam untuk menjalani operasi. Sementara itu, rombongan dari Tanjung Balai Karimun berangkat pada 23 Oktober 2026 bersama para relawan, pasien dan pendamping.

Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan dari Tanjung Balai Karimun tiba di Asrama Haji Batam pada malam hari. Para relawan membantu mengatur kamar dan memastikan setiap pasien mendapatkan tempat beristirahat sebelum menjalani operasi keesokan harinya.

Relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun membantu mendorong kursi roda seorang pasien yang mengalami kesulitan bergerak. Di setiap kesempatan, relawan senantiasa sigap memberikan bantuan dan memastikan para pasien mendapatkan pendampingan.

Bagi pasien, perjalanan ini tentu bukan hal yang mudah. Selain kondisi tubuh yang mulai lelah, ada pula rasa cemas menghadapi tindakan operasi. Karena itu, pendampingan relawan menjadi salah satu bentuk perhatian yang sangat berarti.

Hal tersebut dirasakan langsung oleh Tjhang Ngiat Song, yang mendampingi suaminya, Urbanus Subanwe Open, selama menjalani proses pengobatan.

“Kami sangat mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi dan semua relawan yang begitu luar biasa memberikan pelayanan dan cinta kasih kepada para pasien. Saya merasakan sendiri bagaimana relawan begitu tanggap, saling bekerja sama, dan berkoordinasi dengan baik, baik yang di sini maupun di Batam,” ungkap Tjhang.

Ia juga mengingat bagaimana para relawan membantu pasien sejak turun dari kendaraan hingga menjalani tahapan pengobatan. Baginya, perhatian tersebut memberikan rasa nyaman di tengah perjalanan yang cukup melelahkan.

Pada 24 Oktober 2026, pasien dari Tanjung Balai Karimun menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam. Sebelum matahari terbit, para relawan telah bersiap dan mendatangi kamar-kamar pasien untuk memastikan semuanya sudah bangun dan siap berangkat. Sebelum menuju rumah sakit, relawan juga membagi tugas agar proses pendampingan berjalan dengan tertib.

Sejak awal hingga menjelang operasi, relawan Tzu Chi senantiasa mendampingi pasien, memberikan perhatian dan semangat agar mereka merasa tenang dalam menjalani setiap tahapan pengobatan.

Setibanya di rumah sakit, pasien menjalani pendaftaran, pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, serta konsultasi dengan dokter. Dokter memberikan penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan sebelum pasien menandatangani persetujuan tindakan medis.

Satu per satu pasien kemudian dipersiapkan untuk memasuki ruang operasi. Bagi sebagian pasien, momen tersebut menghadirkan rasa cemas, terlebih ketika harus berpisah sementara dari keluarga atau pendamping.

Dalam suasana tersebut, relawan tetap hadir memberikan perhatian. Mereka mendampingi pasien maupun keluarga yang menunggu, dengan memberikan semangat, serta membantu memastikan kebutuhan selama proses berlangsung dapat terpenuhi.

Pengalaman yang mengesankan dari pendampingan relawan dirasakan Odilia Kastiana, salah satu pasien yang menjalani operasi katarak. Ia mengaku sempat merasa cemas sebelum operasi, tetapi perhatian para relawan membuatnya merasa tidak sendirian.

“Memang awalnya cemas juga, tetapi kami berdoa saja supaya Tuhan menguatkan kami sampai operasi selesai. Terima kasih banyak kepada para relawan. Setelah operasi, saya sampai ingin menangis karena relawan luar biasa membantu kami, seperti keluarga sendiri. Kami tidak bisa membalas apa pun, hanya bisa mendoakan para relawan,” tutur Odilia.

Odilia Kastiana, salah satu pasien, mengungkapkan rasa haru dan terima kasih atas perhatian serta bantuan para relawan Tzu Chi selama menjalani proses operasi katarak.

Perhatian Berlanjut hingga Pemeriksaan Pascaoperasi
Setelah tindakan operasi, perhatian terhadap kondisi pasien tetap berlanjut. Pada 25 Oktober 2026, para pasien menjalani pemeriksaan pascaoperasi di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Batam. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memantau kondisi mata dan memberikan arahan mengenai perawatan setelah operasi.

Selanjutnya, pada 31 Oktober 2026, pemeriksaan pascaoperasi kembali dilaksanakan di Kantor Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. Melalui pemeriksaan lanjutan tersebut, pasien mendapatkan pemantauan serta arahan dari tenaga medis agar proses pemulihan dapat berjalan dengan baik.

Tjhang Ngiat Song, yang mendampingi suaminya mengikuti baksos kesehatan, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia serta para relawan yang telah memberikan pelayanan.

Tjhang, yang mendampingi suaminya menjalani operasi katarak, berharap kegiatan bakti sosial kesehatan seperti ini dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak masyarakat yang membutuhkan memperoleh kesempatan mendapatkan bantuan.

“Semoga ke depannya semakin banyak orang yang membutuhkan dapat dilayani dan dibantu, sehingga mereka yang sebelumnya tidak bisa melihat bisa kembali melihat. Dari tidak bisa melihat menjadi bisa melihat, itu luar biasa. Tzu Chi benar-benar memberikan kebahagiaan dan membantu melepaskan penderitaan,” ungkapnya.

Rangkaian Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi Batam ini terlaksana melalui gotong royong relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu Kundur, Tzu Chi Batam, serta perwakilan tim medis TIMA Indonesia yang turut memberikan pelayanan kepada para pasien.

Kepedulian tidak berhenti pada saat pasien menjalani operasi. Perhatian terus diberikan melalui pendampingan dan pemeriksaan lanjutan. Sebab, bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi keterbatasan penglihatan, kehadiran orang-orang yang peduli dapat menjadi kekuatan untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-157: Hadirkan Harapan bagi Ratusan Pasien di Batam

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-157: Hadirkan Harapan bagi Ratusan Pasien di Batam

28 Oktober 2026

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-157 di RS Budi Kemuliaan Batam memberikan operasi gratis bagi 252 pasien katarak dan 47 pasien pterigium bagi masyarakat prasejahtera di Batam dan pulau sekitar.

Kepedulian Tzu Chi Batam Membuka Jalan Zulkifli untuk Lebih Giat Menafkahi Keluarga

Kepedulian Tzu Chi Batam Membuka Jalan Zulkifli untuk Lebih Giat Menafkahi Keluarga

03 November 2026

Katarak sempat menghambat aktivitas dan pekerjaan Zulkifli. Melalui bakti sosial Tzu Chi Batam bersama RSBK, ia mendapat operasi gratis dan harapan untuk kembali bekerja serta menafkahi keluarga.

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-157: Cinta Kasih Relawan Mengiringi Perjuangan Pasien Katarak

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-157: Cinta Kasih Relawan Mengiringi Perjuangan Pasien Katarak

04 November 2026

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi Batam membuka operasi katarak bagi pasien dari Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Batu Kundur, disertai pelayanan medis dan pendampingan penuh cinta kasih.

Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -